Share

Rayuan Maut Dokter Cantikku
Rayuan Maut Dokter Cantikku
Penulis: AgilRizkiani

Antrian Andrologi

Penulis: AgilRizkiani
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-06 20:58:16

“Nomor lima puluh, ya, Pak?”

Kananta mengangguk tanpa suara. Map pasien di tangan seolah bata panas yang baru keluar dari tungku. Ruang tunggu klinik andrologi terasa seperti ruang sidang hukuman—semua mata seolah mengawasinya, seolah tahu rahasia yang dia sembunyikan.

Baru duduk lima menit, seorang ibu-ibu dengan aroma minyak kayu putih yang menyengat langsung mendekat, mencondongkan tubuh sampai hidungnya hampir bersentuhan dengan pipinya.

“Mas ganteng,” katanya dengan nada yang diklaim ‘pelan’ tapi volumenya sekeras sirine kebakaran, “datang ke sini karena suka jajan, ya?”

Kananta tersedak, ludahnya tercekik di tenggorokan. “B-bukan. Nggak. Saya cuma periksa rutin.”

“Oh, rutin jajan?” Ibu itu menaikkan alis dengan ekspresi yang seolah dia tahu segalanya. “Saya ngerti kok. Anak sekarang banyak yang begitu. Tubuh Mas ini atletis banget. Cocok banget jadi gigolo, lho. Duitnya gede, ya?”

Tertawa pecah dari semua sudut ruangan. Seorang abang baju biru batuk-batuk menahan ngakak sampai wajahnya kemerahan.

Kananta langsung menutup muka dengan map pasien. “Bu, suaranya bisa dikecilin nggak? Tolong, ya.”

“Maaf, Mas,” katanya dengan nada sopan—tapi lalu langsung meningkatkan suaranya sampai seratus desibel, “Mas butuh uang banget, yaaaa?!”

Seorang pria yang lagi minum air langsung nyembur, cairan itu terbang ke meja depan. Semua orang makin ngakak kencang.

Kananta merosot ke kursi, punggungnya melekat di sandaran. “Ya Tuhan … tolong turunkan meteor di tempat ini.”

Seorang bapak paruh baya dengan kumis putih duduk di sebelahnya, menepuk bahunya dengan kekerasan yang pas. “Santai, Mas. Semua pasien pertama kali kayak gitu. Grogi banget. Karena dokternya cantik soalnya.”

“Maksudnya?” Kananta melotot.

“Dokter androlog barunya cewek. Cantik abis. Tegas. Banyak pasien bilang puas banget.”

“Puas apanya?!”

“Ya puas … pelayanan lah, Mas.” Bapak itu kedip-kedip nakal, matanya berbinar. “Pelayanan yang komprehensif.”

Brengsek. Kananta mau menyindir tapi bibirnya kaku.

Tiba-tiba pengeras suara berbunyi, bunyinya seperti lonceng kematian.

“Bapak Kananta Maherza, ruang dua. Dokter Zinia menunggu.”

Jantung Kananta seolah mogok sejenak, lalu berdebar kencang sampai dia bisa merasakannya di telinganya.

Ia berdiri lambat, langkahnya seperti orang yang menuju tiang gantungan. Saat sampai di depan pintu ruangan, seorang kakek keluar dengan wajah cerah seperti habis dapat BLT tiga kali lipat ditambah bonus sembako.

“Wah! Dokternya cantik banget!” seru si kakek sambil melompat-lompat sedikit. “Tangan beliau nyentuh saya, langsung dug dug dug! Semangat hidup saya naik lagi kayak muda-muda!”

“Bukan jantungnya, Kek,” teriak seorang pasien dari balik pintu, “itu cuma efek placebo!”

Satu ruangan meledak ngakak. Kananta memejamkan mata, jari-jari memegang gagang pintu sampai putih.

Ia masuk, menutup pintu rapat-rapat seolah mau menutup semua kebodohan di luar. Dan tubuhnya langsung membeku.

Jas putih yang rapi. Kacamata tipis di hidung yang mancung. Ekspresi tenang yang mematikan—seolah dia bisa membaca semua pikiran yang berlarian di kepala Kananta.

“Selamat siang, Pak Kananta. Silakan duduk.”

Suara itu. Tatapan itu. Semuanya terlalu akrab.

“ … Zinia?”

Dokter itu mengangkat wajah dari kertas yang dia baca, tersenyum tipis sampai ada kerut di sudut mata. “Oh. Kamu masih ingat.”

Kananta terpaku di tempatnya, mata tak bisa bergerak. “Kamu, berubah.”

“Berubah lebih baik, mudah-mudahan,” jawab Zinia. Ia merapikan sanggul yang rapi di belakang kepala dengan jari yang ramping, menggeser kacamatanya sedikit ke bawah, lalu berdiri. “Kamu terlihat lebih tua.”

“Terima kasih. Kamu terlihat … jauh. Beda.”

“Beda bagaimana?” Zinia mendekat dua langkah, jarak antara mereka sekarang cuma beberapa sentimeter. Udara di ruangan tiba-tiba terasa padat.

“Beda semua,” gumamnya lirih, lidahnya kaku.

“Penjelasan yang sangat ilmiah, Pak Kananta.” Zinia tertawa kecil, suaranya merdu tapi ada nada menyakitkan. “Silakan duduk. Kita mulai kerja.”

Kananta duduk dengan kecepatan yang terlalu cepat, kursinya bersuara ‘krek’. Zinia mengambil map pasiennya dengan ujung jarinya, seolah tak mau menyentuhnya langsung. “Keluhan apa?”

“Tidak ada.”

“Oh?” Zinia menaikkan satu alis, matanya menyipit seperti laser. “Jadi ke sini buat apa? Nostalgia ke klinik androlog?”

Kananta terbatuk keras, tenggorokannya terasa kering. “Ini pemeriksaan rutin.”

“Rutin jajan?” Zinia balik menyerang, bibirnya sedikit memutar. “Seperti yang ibu itu katakan tadi?”

“Bukan! Astaga jangan mulai dulu, ya.”

“Oh, jadi kamu mudah tersinggung sekarang.” Zinia menulis sesuatu di map dengan pena yang cepat. “Dulu kamu lebih lucu. Bisa ngebalik omongan orang tanpa marah.”

“Aku lucu? Dulu kamu … lebih kecil.”

Zinia berhenti menulis. Matanya menatapnya dengan tegas, seolah mau menusuk. “Apanya?”

“Bukan … bukan gitu.” Kananta panik, mata membolak-balik. “Maksudku kamu sekarang lebih gede … eh … dewasa.”

“Bagian mana?” Zinia menyilangkan tangan di depan dada, jas putihnya sedikit menegang.

“Semua,” jawab Kananta tanpa sadar, mata sudah tak bisa lepas dari lekuk tubuh Zinia. Dulu, dia adalah gadis manis dengan tubuh kurus yang selalu pakai baju lebar. Sekarang dia adalah wanita dewasa dengan lekuk yang menggoda. Dadanya membusung sempurna di balik jas, pinggulnya melengkung indah, dan kakinya jenjang terbungkus stocking hitam yang membuat mata terjepit.

Zinia tersenyum. “Baik. Kita lanjut pemeriksaan tekanan darah. Biar aku lihat apakah ‘semua’ itu bikin tekananmu naik.”

Ia mendekat lagi, langkahnya lembut tapi pasti. Lampu ruangan seolah lebih fokus ke dua orang itu, membuat bayangan mereka saling bertumpuk. Zinia meraih lengan Kananta yang tergulung, memasang manset tensimeter dengan gerakan yang profesional.

“Tarik napas.”

Tangan Zinia menyentuh kulitnya—lembut, tapi membuat kanvas kulit Kananta terbakar. Dia menarik napas dengan susah payah.

“Buang napas.”

Kananta menegang seperti tiang listrik yang terhubung arus, otot-ototnya kaku semuanya.

“Kamu kaku banget,” komentar Zinia.

“Aku tidak kaku.”

“Kamu kaku bahkan sebelum aku sentuh. Lihat, tangannya kamu bergetar.”

“Itu fitnah.”

Zinia memompa manset perlahan, tekanan meningkat perlahan-lahan. “Tensi naik. 140/90. Apa karena aku?”

“Tidak.”

“Yakin?” Dia mendekat lebih jauh, napasnya menyentuh telinga Kananta.

“Tidak.”

Zinia tertawa kecil, suaranya merdu tapi membuat bulu kuduk berdiri. “Oke. Itu cukup. Kita pindah ke kursi pemeriksaan.”

“Harus sekarang?” Kananta melihat kursi yang berwarna biru muda di sudut ruangan, seolah itu adalah lubang buang sampah.

“Atau mau aku periksa di ruang tunggu? Biar semua orang lihat seberapa ‘tidak kaku’ kamu?” Zinia menunjuk pintu dengan dagu, ekspresinya tak tertandingi.

“Tidak.” Kananta berdiri dengan enggan, langkahnya berat. Saat Zinia berjalan ke arah kursi pemeriksaan, kemeja cream yang dia pakai di dalam jas—dua kancing atasnya terlepas tanpa dia sadari—benar-benar memperlihatkan lekuk dada yang membusung seperti gunung yang menantang.

Kananta menelan ludah. Ini bukan pemeriksaan, tapi penyiksaan medis level mantan ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Malam Panas

    Brak! Brak! Brak!"ZINIA! BUKA PINTUNYA! GUE TAHU SI KUCING DIKEBIRI ITU ADA DI DALAM!"Suara gedoran pintu depan dan teriakan melengking Rey menghancurkan atmosfer panas itu dalam sekejap.Kananta melepaskan tautan bibir mereka, dahi mereka masih bersentuhan, napas keduanya memburu seperti pelari maraton.Kananta memejamkan mata, mengumpat dalam hati dengan segala macam nama binatang yang ia tahu."Si Mas Parkir itu," geram Kananta dengan gigi terkatup. "Kenapa dia selalu muncul di waktu yang paling tidak tepat?"Zinia tertawa kecil di tengah napasnya yang sesak, wajahnya merah padam. "Cepat pakai baju yang benar, Nanta. Kalau dia melihat kita begini, apartemen ini bisa jadi TKP pembunuhan."Kananta menghela napas berat, mencoba meredam gejolak di dadanya yang baru saja mencapai titik didih. Ia menatap Zinia sekilas—wanita itu sedang terburu-buru merapatkan handuk dan mengenakan bathrobe tebal."Biar aku yang u

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Penawar Kananta

    Pagi harinya, dapur apartemen itu dipenuhi aroma telur gosong. Kananta berdiri di depan kompor dengan daster... eh, maksudnya kaos oblong yang sudah agak melar."Ayah, ini telur atau aspal? Asin banget!" keluh Bumi sambil menusuk-nusuk telur dadar di piringnya dengan garpu plastik.Kananta berdehem, berusaha menjaga wibawa. "Bumi, ini namanya telur dadar rasa telur asin. Inovasi kuliner di tengah krisis ekonomi keluarga kita."Bumi menatap ayahnya datar. "Ayah, telur asin itu bentuknya bulat, warnanya tosca, dan ada cap stempelnya. Bukan gepeng dan hitam di pinggirnya kayak gini!""Itu kan kalau masih ada kulitnya. Ini versi deconstructed, Nak. Sudah, makan saja. Biar otaknya pintar kayak Ayah," kilah Kananta meski dalam hati ia sendiri ingin membuang masakan itu ke tempat sampah.Setelah memastikan Bumi menghabiskan susunya, Kananta melirik ke pintu keluar. Jiwa lelakinya yang sejak semalam merasa "tergantung" mendadak punya ide brilian.

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Pria Bokek

    Dapur kecil itu mendadak terasa seperti oven. Bukan karena kompor yang menyala, tapi karena jarak antara Kananta dan Zinia yang hanya tersisa beberapa inci.Zinia sedang serius memotong bawang, tapi gerakannya yang lincah justru membuat Kananta susah menelan ludah. Keringat tipis mulai muncul di pelipis Zinia, mengalir perlahan melewati leher jenjangnya yang putih, lalu menghilang di balik kerah blusnya yang sedikit terbuka karena kancing atasnya terlepas.Jiwa lelaki Kananta yang sudah lama "puasa" rasanya meronta-ronta di dalam dada."Nanta, pegang ini," perintah Zinia pelan.Kananta menurut, tangannya meraih gagang wajan, tapi sengaja menyentuh punggung tangan Zinia. Hangat. Lembut. Dan sedikit lembap.Zinia tidak menarik tangannya. Dia justru menoleh, menatap Kananta dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum tipis tersungging di bibirnya yang kemerahan tanpa gincu berlebih."Tangan kamu gemetar, Nanta. Kenapa? Takut kena minyak

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Gagal Fokus

    Kananta masih bergeming di kursinya, memandangi pintu yang baru saja tertutup setelah Zinia pergi. Bayangan gerakan Zinia saat membungkuk tadi masih menempel di kornea matanya seperti lem Korea.Sial, Zinia makan apa sih selama kita pisah? batin Kananta. Dulu dia kurus krempeng, sekarang ... lekukannya benar-benar definisi "bahaya" bagi pria yang sedang dalam masa penyembuhan mental seperti dirinya."Ayah, kok bengong? Matanya mau lepas ya?" tegur Bumi sambil menyenggol lengan Kananta."Eh, enggak. Ayah cuma ... lagi menghitung sisa kerupuk," kilah Kananta sambil berdehem keras, berusaha mengusir imajinasi liar tentang mantan kekasihnya yang sudah bertransformasi jadi "Aura Kasih versi Medis" itu.Begitu Bumi kembali asyik dengan kartun di televisi, wajah Kananta berubah total. Kehangatan di matanya hilang, digantikan oleh tatapan sedingin es yang sanggup membuat direktur bank manapun gemetar.Ia mengambil ponsel cadangan dari laci d

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Pura-Pura

    Kananta mematung. Kata-kata Rey barusan bukan cuma menusuk, tapi seolah-olah menguliti harga dirinya sampai ke tulang."Maksudnya?" Kananta mengerutkan kening, masih sambil mendekap Bumi yang lehernya terkulai lemas karena ngantuk berat."Maksudnya, jangan mikir aneh-aneh," potong Rey ketus. Ia menyandarkan tubuh di tembok lorong apartemen sambil bersedekap."Itu unit kosong punya sepupuku. Zinia yang mohon-mohon supaya kamu nggak tidur di pinggir jalan kayak gelandangan elit. Jadi, simpan fantasi living together kamu itu di kantong piyama."Zinia menghela napas panjang, wajahnya tampak sangat lelah."Nanta, masuk dulu. Kasihan Bumi, dia butuh kasur yang layak. Masalah tagihan dan lain-lain, kita bahas besok setelah kepalamu dingin."Kananta mengangguk pelan."Makasih, Zin. Dan ... makasih juga, Mas Penjaga Parkir."Rey hampir saja melempar kunci motornya kalau saja Zinia tidak melotot ke arahnya.Unit apartemen itu ternyata jauh lebih mewah dari yang Kananta bayangkan. Minimalis, mas

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Insiden

    Bumi menggeliat pelan di kamar, lalu tiba-tiba muncul di ambang pintu ruang tamu sambil garuk-garuk mata—masih setengah ngantuk, rambut acak-acakan kayak singa kecil baru bangun tidur.“Ayah?”Rey dan Zinia otomatis menoleh bersamaan.Kananta membeku.Rey melotot.Dan Bumi—anak kecil polos tanpa dosa—langsung memeluk kaki Kananta begitu melihat ayahnya duduk di sofa.“Ayah! Aku aku mimpi buruk!"Hening.Hening memalukan.Hening yang levelnya setara tabrakan dua galaksi.Rey mengedip. Sekali.Dua kali.Ketiga kalinya, dia ngomong, suaranya turun satu oktaf.“Dia … punya anak?”Zinia mencubit batang hidungnya. “Iya, itu Bumi. Anaknya Kananta.”Bumi menatap Rey dengan polos, tanpa filter. “Om siapa? Musuh ayah?”Rey tersedak batuk udara. “Ha—apa?!”Kananta buru-buru mengangkat Bumi ke pangkuan, wajahnya merah padam. “Astaga, Bumi, jangan bilang sembarangan!”“Emang muka Omnya serem,” bisik Bumi—dan sayangnya terdengar seisi ruangan.Rey terdiam.Matanya melirik ke Zinia. “Jadi pasienmu b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status