MasukBrak! Brak! Brak!"ZINIA! BUKA PINTUNYA! GUE TAHU SI KUCING DIKEBIRI ITU ADA DI DALAM!"Suara gedoran pintu depan dan teriakan melengking Rey menghancurkan atmosfer panas itu dalam sekejap.Kananta melepaskan tautan bibir mereka, dahi mereka masih bersentuhan, napas keduanya memburu seperti pelari maraton.Kananta memejamkan mata, mengumpat dalam hati dengan segala macam nama binatang yang ia tahu."Si Mas Parkir itu," geram Kananta dengan gigi terkatup. "Kenapa dia selalu muncul di waktu yang paling tidak tepat?"Zinia tertawa kecil di tengah napasnya yang sesak, wajahnya merah padam. "Cepat pakai baju yang benar, Nanta. Kalau dia melihat kita begini, apartemen ini bisa jadi TKP pembunuhan."Kananta menghela napas berat, mencoba meredam gejolak di dadanya yang baru saja mencapai titik didih. Ia menatap Zinia sekilas—wanita itu sedang terburu-buru merapatkan handuk dan mengenakan bathrobe tebal."Biar aku yang u
Pagi harinya, dapur apartemen itu dipenuhi aroma telur gosong. Kananta berdiri di depan kompor dengan daster... eh, maksudnya kaos oblong yang sudah agak melar."Ayah, ini telur atau aspal? Asin banget!" keluh Bumi sambil menusuk-nusuk telur dadar di piringnya dengan garpu plastik.Kananta berdehem, berusaha menjaga wibawa. "Bumi, ini namanya telur dadar rasa telur asin. Inovasi kuliner di tengah krisis ekonomi keluarga kita."Bumi menatap ayahnya datar. "Ayah, telur asin itu bentuknya bulat, warnanya tosca, dan ada cap stempelnya. Bukan gepeng dan hitam di pinggirnya kayak gini!""Itu kan kalau masih ada kulitnya. Ini versi deconstructed, Nak. Sudah, makan saja. Biar otaknya pintar kayak Ayah," kilah Kananta meski dalam hati ia sendiri ingin membuang masakan itu ke tempat sampah.Setelah memastikan Bumi menghabiskan susunya, Kananta melirik ke pintu keluar. Jiwa lelakinya yang sejak semalam merasa "tergantung" mendadak punya ide brilian.
Dapur kecil itu mendadak terasa seperti oven. Bukan karena kompor yang menyala, tapi karena jarak antara Kananta dan Zinia yang hanya tersisa beberapa inci.Zinia sedang serius memotong bawang, tapi gerakannya yang lincah justru membuat Kananta susah menelan ludah. Keringat tipis mulai muncul di pelipis Zinia, mengalir perlahan melewati leher jenjangnya yang putih, lalu menghilang di balik kerah blusnya yang sedikit terbuka karena kancing atasnya terlepas.Jiwa lelaki Kananta yang sudah lama "puasa" rasanya meronta-ronta di dalam dada."Nanta, pegang ini," perintah Zinia pelan.Kananta menurut, tangannya meraih gagang wajan, tapi sengaja menyentuh punggung tangan Zinia. Hangat. Lembut. Dan sedikit lembap.Zinia tidak menarik tangannya. Dia justru menoleh, menatap Kananta dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum tipis tersungging di bibirnya yang kemerahan tanpa gincu berlebih."Tangan kamu gemetar, Nanta. Kenapa? Takut kena minyak
Kananta masih bergeming di kursinya, memandangi pintu yang baru saja tertutup setelah Zinia pergi. Bayangan gerakan Zinia saat membungkuk tadi masih menempel di kornea matanya seperti lem Korea.Sial, Zinia makan apa sih selama kita pisah? batin Kananta. Dulu dia kurus krempeng, sekarang ... lekukannya benar-benar definisi "bahaya" bagi pria yang sedang dalam masa penyembuhan mental seperti dirinya."Ayah, kok bengong? Matanya mau lepas ya?" tegur Bumi sambil menyenggol lengan Kananta."Eh, enggak. Ayah cuma ... lagi menghitung sisa kerupuk," kilah Kananta sambil berdehem keras, berusaha mengusir imajinasi liar tentang mantan kekasihnya yang sudah bertransformasi jadi "Aura Kasih versi Medis" itu.Begitu Bumi kembali asyik dengan kartun di televisi, wajah Kananta berubah total. Kehangatan di matanya hilang, digantikan oleh tatapan sedingin es yang sanggup membuat direktur bank manapun gemetar.Ia mengambil ponsel cadangan dari laci d
Kananta mematung. Kata-kata Rey barusan bukan cuma menusuk, tapi seolah-olah menguliti harga dirinya sampai ke tulang."Maksudnya?" Kananta mengerutkan kening, masih sambil mendekap Bumi yang lehernya terkulai lemas karena ngantuk berat."Maksudnya, jangan mikir aneh-aneh," potong Rey ketus. Ia menyandarkan tubuh di tembok lorong apartemen sambil bersedekap."Itu unit kosong punya sepupuku. Zinia yang mohon-mohon supaya kamu nggak tidur di pinggir jalan kayak gelandangan elit. Jadi, simpan fantasi living together kamu itu di kantong piyama."Zinia menghela napas panjang, wajahnya tampak sangat lelah."Nanta, masuk dulu. Kasihan Bumi, dia butuh kasur yang layak. Masalah tagihan dan lain-lain, kita bahas besok setelah kepalamu dingin."Kananta mengangguk pelan."Makasih, Zin. Dan ... makasih juga, Mas Penjaga Parkir."Rey hampir saja melempar kunci motornya kalau saja Zinia tidak melotot ke arahnya.Unit apartemen itu ternyata jauh lebih mewah dari yang Kananta bayangkan. Minimalis, mas
Bumi menggeliat pelan di kamar, lalu tiba-tiba muncul di ambang pintu ruang tamu sambil garuk-garuk mata—masih setengah ngantuk, rambut acak-acakan kayak singa kecil baru bangun tidur.“Ayah?”Rey dan Zinia otomatis menoleh bersamaan.Kananta membeku.Rey melotot.Dan Bumi—anak kecil polos tanpa dosa—langsung memeluk kaki Kananta begitu melihat ayahnya duduk di sofa.“Ayah! Aku aku mimpi buruk!"Hening.Hening memalukan.Hening yang levelnya setara tabrakan dua galaksi.Rey mengedip. Sekali.Dua kali.Ketiga kalinya, dia ngomong, suaranya turun satu oktaf.“Dia … punya anak?”Zinia mencubit batang hidungnya. “Iya, itu Bumi. Anaknya Kananta.”Bumi menatap Rey dengan polos, tanpa filter. “Om siapa? Musuh ayah?”Rey tersedak batuk udara. “Ha—apa?!”Kananta buru-buru mengangkat Bumi ke pangkuan, wajahnya merah padam. “Astaga, Bumi, jangan bilang sembarangan!”“Emang muka Omnya serem,” bisik Bumi—dan sayangnya terdengar seisi ruangan.Rey terdiam.Matanya melirik ke Zinia. “Jadi pasienmu b







