Share

Komite Sekolah

Author: AgilRizkiani
last update Last Updated: 2025-11-24 21:15:31

Namun, saat Kananta semakin terbawa suasana, tiba-tiba Zinia menghentikannya.

“Stop.”

Suaranya terdengar seperti rem tangan ditarik mendadak di tikungan. Kananta berhenti freeze dengan pose tangan masih nemplok di dada si manekin—pose yang kalau difoto, bisa masuk grup WA keluarga dan bikin Mama pingsan.

Zinia mendekat. Sangat dekat. Aroma parfumnya—mahal, segar, sedikit mint—mengikis sisa-sisa kewarasan yang masih tersisa di kepala Kananta.

“Kananta,” ucapnya sambil menatap lurus ke matanya, “sekencang itu kamu imajinasinya?”

Kananta menelan ludah. “Sa-saya cuma fokus pada sensasi?”

Berusaha mencari alasan yang tentu saja mimik wajahnya seperti buku dengan tulisan capslock semua.

“Fokus?” Zinia mengangkat alis.

“Kamu dari tadi ngelus kayak orang lagi nyari koin jatuh.”

Wajah Kananta memanas. Ini bukan terapi. Ini roasting session. Beginilah rasanya jika dokter yang menangani mantan yang pernah tersakiti.

Mantan yang ia tinggalkan untuk menikahi wanita durjana. Mungkin memang benar penyesalan datangnya terakhir, seandainya saja ia dulu memilih untuk tetap bersama dengan Zinia mungkin ia sudah sembuh dari dulu.

“Tapi setidaknya ada progres,” lanjut Zinia sambil mengamati gerakan tangannya. “Meski agak terlalu bersemangat. Manekinnya sampai geser tiga senti, loh.”

“Astaga,” Kananta menutup muka.

“Aku kayak orang kesurupan hormon.” Entahlah ternyata berimajinasi itu sangatlah menyenangkan. Dia kira terapi itu menyeramkan, ternyata justru ah sudahlah.

Zinia mengedikkan bahu. “Ya namanya juga terapi andrologi. Yang penting kamu bisa kendalikan diri bukan manekinnya kamu banting.”

Kananta cuma bisa pasrah. Kalau ada lubang, dia udah nyemplung.

Zinia memutar tubuh, mengambil tablet catatan medisnya. “Oke. Untuk sesi berikutnya, aku ingin kamu—”

BRAK.

Pintu ruang terapi terbuka dengan suara seperti meteor jatuh. Keduanya menoleh bersamaan.

Dan berdirilah di sana … Bumi.

Kananta heran, mengapa putranya bisa tahu ia ada di sini?

Dengan napas ngos-ngosan dan rambut berantakan, seperti baru kabur dari tawuran kantin TK.

“Ayah!!!” pekiknya. “Miss sekolah bilang … AYAH HARUS DATANG SEKARANG!”

Ada suster, satpam bahkan supir yang mengikutinya dari belakang. Lari Bumi seperti kilat yang tidak bisa ditangkap.

Kananta langsung panik. “Kenapa? Kamu berkelahi lagi?”

Dirinya yang tengah berbaring pun langsung saja duduk.

“Bukan!” Bumi mengangkat dadanya bangga. “Aku … aku berhasil cium LIMA gadis hari ini! Tapi salah satunya anak ketua komite dan ayahnya tentara.”

Kananta langsung pucet. “Ya ampun, Bumi, kamu mencari mati? Kamu mau ayah dipecah jadi sate?”

Tak menyangka jika ada saja gebrakan yang dilakukan oleh putranya itu. Memang Bumi pantas disebut sebagai monster.

Zinia memegangi kening. “Astaga … DNA siapa yang lebih dominan di anak ini?”

Kananta menunjuk dirinya tanpa malu. “Jelas bukan ibunya.”

Tak akan rela anak yang dirinya besarkan sejak bayi harus mengikuti jejak ibunya.

Zinia mendengus. “Jelas.”

“Ayah harus ke sekolah sekarang! Ketua komitenya marah. Tadi dia ngelempar kursi, Ayah! Kuat banget! Aku pikir komite itu orang baik!”

Kananta melirik ke arah sopir yang mengantarkan anaknya, memang ia selalu memberitahu sopir kemanapun dirinya pergi karena ya seperti ini putranya selalu membuat masalah.

Kananta sudah mau nangis. “Nak, komite itu bukan Komnas Anak.”

"Komnas Anak, dia tidak akan marah jika anak gadisnya aku cium berulang kali?"

Kananta, sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Putranya itu selalu saja di luar dugaan.

"Tidak seperti itu konsepnya, Bumi."

Anak itu berkecak pinggang dengan kedua pipi memerah dan juga keringat di dahi. Benar-benar seperti pria sejati yang tengah membela harga diri saja.

Zinia menyilangkan tangan, menatap Kananta seperti dokter yang sudah terlalu sering menghadapi pasien bodoh. “Kanan, kamu pergi sana sebelum kamu digoreng komite.”

Kananta buru-buru berdiri. Tapi sebelum ia sempat mengambil tas, Zinia tiba-tiba menahan lengannya.

“Kananta.”

Ia menoleh. Zinia menatapnya lama—ada sesuatu yang lain di sana. Bukan profesionalitas. Bukan canggung. Bukan marah.

Sesutu yang … lebih dari itu.

“Kita belum selesai,” ucap Zinia pelan, suaranya rendah, hampir seperti bisikan yang merayap ke lehernya. “Sesi berikutnya akan lebih intens.”

Jantung Kananta langsung salto.

“Jadi … jangan hilang. Aku belum selesai mengurus kamu.”

Kananta tersenyum—atau lebih tepatnya tersentak-sentak menahan degup jantung liar.

“Tentu, Dokter.”

Saat ia keluar bersama Bumi, Zinia berdiri di pintu, memandang punggung mereka dengan tatapan rumit.

***

Kananta baru turun dari mobil, napasnya masih ngos-ngosan karena drama tadi. Ia memegang pundak kecil Bumi yang tampak tidak bersalah meski sudah mencium lima gadis dan hampir menyinggung suami tentara.

Begitu melangkah masuk ke ruang guru, suasananya tegang—seperti ruang sidang. Para guru melongo ke arah mereka.

Dan di tengah ruangan, berdiri ketua komite.

Astaga.

Wanita itu bukan sekadar seksi.

Dia seperti MILF versi deluxe limited edition.

Rambut terurai, rok pensil ketat, blus putih yang yah, butuh penguatan struktural.

Begitu melihat Kananta?

Matanya langsung membesar seperti lampu sorot konser K-Pop.

“Wow,” gumamnya sambil mengedip pelan.

“Ayahnya Bumi … seperti dewa Yunani turun dari Olympus.”

Bumi langsung cengar-cengir bangga.

“Aku kan anaknya, Bu. Wajar kalau tampan.”

Kananta hanya bisa menepuk dahinya.

Ketua komite yang tadinya marah seperti macan betina kini berubah jadi kucing rumahan yang baru lihat ikan segar. Langkahnya mendekat—sangat mendekat.

Dan setiap langkahnya diiringi goyangan dua gunung kembarnya yang bergetar seperti efek gempa skala kecil.

“Pak Kananta ya?” Suaranya mendayu.

“Wah, saya kaget sekali. Saya pikir ayah Bumi yaaa biasa-biasa saja.”

Kananta cuma bisa cengengesan bingung. “Hehe saya yah begini adanya.”

Wanita itu mendekat lagi.

Dekat sekali.

Sampai parfum mawar mahalnya menghantam hidung Kananta.

“Boleh bicara lebih pribadi?” tanyanya sambil menggoyangkan tubuh sedikit—dan dua hal di depan dadanya ikut bergelombang seperti jello goyang kompetisi.

Bumi menatap itu semua dengan polos.

“Bu, itu kenapa kayak mau jatuh? Perlu aku pegangin?”

Ketua komite hampir tersedak napas.

Guru-guru menahan tawa.

Kananta ingin mati di tempat.

“Eh, Bu Komite.” Kananta mencoba menahan jarak.

“Masalahnya apa ya? Saya dengar Bumi mencium teman kelasnya?”

Ketua komite tiba-tiba berubah dramatis.

“Oh, iya! Iya! Masalah itu!”

Nada suaranya mendadak tinggi, tapi tetap manja.

“Anak saya salah satu yang dicium, Pak.”

Bumi mengangkat tangan. “Yang berambut kepang? Yang pipinya wangi stroberi?”

“Ya itu!”

Ketua komite memegangi dada—lebih tepatnya gunung-gunung itu sampai naik-turun dengan dramatis.

“Tapi yaaa .…”

Ia menatap Kananta dari atas ke bawah tanpa malu.

“Kalau saya lihat ayahnya saya jadi maklum.”

“Bu, maksudnya?”

Ketua komite mendekat lagi, mencondongkan badan begitu rendah sampai Kananta refleks memundurkan kepala.

“Kalau ayahnya tampan begini… gen-nya kuat sekali ya.”

Ia melirik ke tubuh Kananta dari bahu sampai pinggang.

“Pantas anaknya … agresif.”

Kananta tersedak udara.

“Bu, ini SD, bukan ajang gosip dewasa.”

Ketua komite malah memainkan ujung rambutnya sambil mendesah kecil.

“Pak Kananta kalau Bumi butuh bimbingan saya bisa bantu. Saya sering mengurus anak-anak kecil.”

Lalu ia menatapnya dari bawah ke atas.

“Tapi … saya juga bisa mengurus yang besar.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Malam Panas

    Brak! Brak! Brak!"ZINIA! BUKA PINTUNYA! GUE TAHU SI KUCING DIKEBIRI ITU ADA DI DALAM!"Suara gedoran pintu depan dan teriakan melengking Rey menghancurkan atmosfer panas itu dalam sekejap.Kananta melepaskan tautan bibir mereka, dahi mereka masih bersentuhan, napas keduanya memburu seperti pelari maraton.Kananta memejamkan mata, mengumpat dalam hati dengan segala macam nama binatang yang ia tahu."Si Mas Parkir itu," geram Kananta dengan gigi terkatup. "Kenapa dia selalu muncul di waktu yang paling tidak tepat?"Zinia tertawa kecil di tengah napasnya yang sesak, wajahnya merah padam. "Cepat pakai baju yang benar, Nanta. Kalau dia melihat kita begini, apartemen ini bisa jadi TKP pembunuhan."Kananta menghela napas berat, mencoba meredam gejolak di dadanya yang baru saja mencapai titik didih. Ia menatap Zinia sekilas—wanita itu sedang terburu-buru merapatkan handuk dan mengenakan bathrobe tebal."Biar aku yang u

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Penawar Kananta

    Pagi harinya, dapur apartemen itu dipenuhi aroma telur gosong. Kananta berdiri di depan kompor dengan daster... eh, maksudnya kaos oblong yang sudah agak melar."Ayah, ini telur atau aspal? Asin banget!" keluh Bumi sambil menusuk-nusuk telur dadar di piringnya dengan garpu plastik.Kananta berdehem, berusaha menjaga wibawa. "Bumi, ini namanya telur dadar rasa telur asin. Inovasi kuliner di tengah krisis ekonomi keluarga kita."Bumi menatap ayahnya datar. "Ayah, telur asin itu bentuknya bulat, warnanya tosca, dan ada cap stempelnya. Bukan gepeng dan hitam di pinggirnya kayak gini!""Itu kan kalau masih ada kulitnya. Ini versi deconstructed, Nak. Sudah, makan saja. Biar otaknya pintar kayak Ayah," kilah Kananta meski dalam hati ia sendiri ingin membuang masakan itu ke tempat sampah.Setelah memastikan Bumi menghabiskan susunya, Kananta melirik ke pintu keluar. Jiwa lelakinya yang sejak semalam merasa "tergantung" mendadak punya ide brilian.

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Pria Bokek

    Dapur kecil itu mendadak terasa seperti oven. Bukan karena kompor yang menyala, tapi karena jarak antara Kananta dan Zinia yang hanya tersisa beberapa inci.Zinia sedang serius memotong bawang, tapi gerakannya yang lincah justru membuat Kananta susah menelan ludah. Keringat tipis mulai muncul di pelipis Zinia, mengalir perlahan melewati leher jenjangnya yang putih, lalu menghilang di balik kerah blusnya yang sedikit terbuka karena kancing atasnya terlepas.Jiwa lelaki Kananta yang sudah lama "puasa" rasanya meronta-ronta di dalam dada."Nanta, pegang ini," perintah Zinia pelan.Kananta menurut, tangannya meraih gagang wajan, tapi sengaja menyentuh punggung tangan Zinia. Hangat. Lembut. Dan sedikit lembap.Zinia tidak menarik tangannya. Dia justru menoleh, menatap Kananta dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum tipis tersungging di bibirnya yang kemerahan tanpa gincu berlebih."Tangan kamu gemetar, Nanta. Kenapa? Takut kena minyak

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Gagal Fokus

    Kananta masih bergeming di kursinya, memandangi pintu yang baru saja tertutup setelah Zinia pergi. Bayangan gerakan Zinia saat membungkuk tadi masih menempel di kornea matanya seperti lem Korea.Sial, Zinia makan apa sih selama kita pisah? batin Kananta. Dulu dia kurus krempeng, sekarang ... lekukannya benar-benar definisi "bahaya" bagi pria yang sedang dalam masa penyembuhan mental seperti dirinya."Ayah, kok bengong? Matanya mau lepas ya?" tegur Bumi sambil menyenggol lengan Kananta."Eh, enggak. Ayah cuma ... lagi menghitung sisa kerupuk," kilah Kananta sambil berdehem keras, berusaha mengusir imajinasi liar tentang mantan kekasihnya yang sudah bertransformasi jadi "Aura Kasih versi Medis" itu.Begitu Bumi kembali asyik dengan kartun di televisi, wajah Kananta berubah total. Kehangatan di matanya hilang, digantikan oleh tatapan sedingin es yang sanggup membuat direktur bank manapun gemetar.Ia mengambil ponsel cadangan dari laci d

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Pura-Pura

    Kananta mematung. Kata-kata Rey barusan bukan cuma menusuk, tapi seolah-olah menguliti harga dirinya sampai ke tulang."Maksudnya?" Kananta mengerutkan kening, masih sambil mendekap Bumi yang lehernya terkulai lemas karena ngantuk berat."Maksudnya, jangan mikir aneh-aneh," potong Rey ketus. Ia menyandarkan tubuh di tembok lorong apartemen sambil bersedekap."Itu unit kosong punya sepupuku. Zinia yang mohon-mohon supaya kamu nggak tidur di pinggir jalan kayak gelandangan elit. Jadi, simpan fantasi living together kamu itu di kantong piyama."Zinia menghela napas panjang, wajahnya tampak sangat lelah."Nanta, masuk dulu. Kasihan Bumi, dia butuh kasur yang layak. Masalah tagihan dan lain-lain, kita bahas besok setelah kepalamu dingin."Kananta mengangguk pelan."Makasih, Zin. Dan ... makasih juga, Mas Penjaga Parkir."Rey hampir saja melempar kunci motornya kalau saja Zinia tidak melotot ke arahnya.Unit apartemen itu ternyata jauh lebih mewah dari yang Kananta bayangkan. Minimalis, mas

  • Rayuan Maut Dokter Cantikku    Insiden

    Bumi menggeliat pelan di kamar, lalu tiba-tiba muncul di ambang pintu ruang tamu sambil garuk-garuk mata—masih setengah ngantuk, rambut acak-acakan kayak singa kecil baru bangun tidur.“Ayah?”Rey dan Zinia otomatis menoleh bersamaan.Kananta membeku.Rey melotot.Dan Bumi—anak kecil polos tanpa dosa—langsung memeluk kaki Kananta begitu melihat ayahnya duduk di sofa.“Ayah! Aku aku mimpi buruk!"Hening.Hening memalukan.Hening yang levelnya setara tabrakan dua galaksi.Rey mengedip. Sekali.Dua kali.Ketiga kalinya, dia ngomong, suaranya turun satu oktaf.“Dia … punya anak?”Zinia mencubit batang hidungnya. “Iya, itu Bumi. Anaknya Kananta.”Bumi menatap Rey dengan polos, tanpa filter. “Om siapa? Musuh ayah?”Rey tersedak batuk udara. “Ha—apa?!”Kananta buru-buru mengangkat Bumi ke pangkuan, wajahnya merah padam. “Astaga, Bumi, jangan bilang sembarangan!”“Emang muka Omnya serem,” bisik Bumi—dan sayangnya terdengar seisi ruangan.Rey terdiam.Matanya melirik ke Zinia. “Jadi pasienmu b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status