MasukKali ini pulang fisioterapi membuat kananta sedikit lebih tenang, walaupun tadi ada sedikit gangguan dari sang mantan yang benar-benar tidak diharapkan.
Seperti jelangkung yang datang tidak diundang, tapi berperawakan seperti kuyang! "Ayah!" Monster kecil itu berlari memeluknya. Bumi, putra sematawayang yang didapatkan dengan begitu sangat sulit. Tiga kali gagal dalam proses bayi tabung. Menghabiskan banyak sekali uang, tapi Kananta bersyukur karena memiliki anak seceria lincah dan juga cerdas Bumi. "Wah, wah anak ayah. Ada apa ini sepertinya bahagia sekali?" Kananta dengan satu tangan saja mampu mengangkat tubuh putranya itu. Membawanya ke sofa panjang yang berada di ruang tamu. "Ayah tau tidak? Hari ini aku berhasil mencium tiga gadis di kelas. Hebat kan aku?" Bumi mengangkat kedua alisnya, seolah-olah apa yang dia lakukan itu adalah hal yang sangat membanggakan. Kananta terperangah, dirinya tidak menyangka ternyata Bumi se-playboy itu padahal masih kecil. Dulu ia sepertinya tidak begitu. "Wow, benar-benar keren anak ayah. Lanjutkan Nak besok kalau bisa gadis kamu cium dan sama missnya tentunya," ujar Kananta. Belum sempat menutup mulut tiba-tiba saja telinganya sudah dijewer ia meringis kesakitan dan melihat jika sang ibu tengah melototinya. "Kamu, ini Kanan bukannya memberikan contoh yang baik malah memporak-porandakan pikiran anakmu!" Sejak Bumi masih bayi, ia yang selalu mengurusnya bahkan tumbuh kembang anak itu pun dirinya yang menyaksikan tanpa bantuan baby sitter apalagi Maya. "Bumi, kamu ke kamar sekarang istirahat. Ada yang mau Oma bicarakan dengan ayahmu." Kananta melihat anaknya yang berlari ke kamar dengan begitu sangat bahagia, lalu kedua orang tuanya langsung saja duduk. Sepertinya dirinya akan disidang lagi? Menghela napas yang begitu sangat panjang lalu menepuk kepala. "Aku salah apa lagi ini, sampai-sampai harus disidang berulang kali?" Apa Maya berulah lagi? Gosip apa yang disebar sekarang? Kedua orang tua dari Kananta pun ia tersenyum. Selalu menyerahkan sebuah berkas-berkas. "Ini adalah saham-saham perusahaan, sekarang menjadi hak milik kamu. Setelah kamu bercerai dengan Maya barulah Papa berani menyerahkannya." Ya, sudah bukan rahasia lagi jika orang tuanya memang tidak pernah setuju saat ia menikah dengan Maya. Bahkan dirinya pun harus hidup pantang-panting dan seluruh tabungannya habis untuk mengikuti gaya hedon dari mantan istrinya itu. Kananta membacanya dengan detail matanya terperangah jadi selama ini dirinya adalah CEO. Seperti drama Cina, yang sering dirinya tonton tentang orang miskin Yang ternyata selama ini adalah seorang CEO itu adalah dirinya. Mimpi apa ia semalam? "Ma, tampar aku Ma! Biar aku merasa ini benar-benar nyata!" Papa Kananta langsung saja menoyor kepala anaknya itu dengan begitu sangat keras. "Dasar, bodoh. Sudah punya anak pun kamu masih bersikap seperti ini Kanan, pantas aja dulu kamu dijadikan keset oleh mantan istrimu itu!" Kananta menyeringai. Tak menyangka padahal selama ini, dirinya hanya tahu jika ayahnya itu hanya pemilik toko di beberapa kota saja tak menyangka jika memiliki saham di perusahaan bahkan pemiliknya. "Jadi selama ini Mama, Papa sengaja menyembunyikan ini semua dari anak tunggal yang tampan ini?" Papa Kananta hanya menggeleng, "Seandainya kamu, dulu tidak menikah dengan Maya. Sudah dari lama kamu menjadi seorang CEO. Bukan babysitter!" Kananta tersenyum langsung saja memeluk kedua orang tuanya dengan begitu sangat bahagia. Jalannya semakin mulus untuk membuat sang mantan istri menyesal. Setelah dirinya sembuh, ia yakin Maya akan memohon-mohon meminta kembali lagi. *** Dua minggu kemudian .... Kananta datang dengan perasaan campur aduk. Ia masih merasa malu dan bersalah atas kejadian sebelumnya, tapi juga penasaran dengan kelanjutan terapi ini. Ia tidak bisa memungkiri, ada sesuatu yang menariknya pada Zinia, sesuatu yang lebih dari sekadar rasa terima kasih. Saat masuk, Zinia menyambutnya dengan senyum tipis, bersikap profesional seperti biasa. Namun, Kananta bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya, sedikit lebih lembut, sedikit lebih tertarik. Mereka kembali ke ruang terapi, di mana manekin wanita itu masih berdiri tegak. Kananta menelan ludah, merasa gugup saat melihatnya. "Hari ini, kita akan melanjutkan terapi sentuhan," ucap Zinia dengan tenang. "Tapi kali ini, aku ingin kau lebih fokus pada sensasi yang kamu rasakan. Jangan terlalu memikirkan apa yang seharusnya kau lakukan, tapi biarkan dirimu terbawa oleh perasaanmu." Kananta mengangguk, mencoba untuk mengikuti instruksi Zinia. Ia mendekati manekin itu dengan ragu-ragu, lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh payudaranya. "Harus seperti ini?" Ia sedikit grogi. Zinia mengangguk. "Ya." Awalnya ragu, memejamkan mata berusaha mengikuti instruksi yang diberikan oleh Zinia. Saat menyentuh payudara manekin itu, tiba-tiba Kananta membayangkan Zinia. Ia membayangkan wajah Zinia yang cantik dan lembut, senyumnya yang menawan, dan tatapannya yang penuh perhatian. Apalagi Minggu yang lalu ia bisa, melihat jelas ukuran dari dada sang dokter cantik. "Rasakan," bisik Zinia, suaranya serak. Kananta tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa memejamkan matanya, menikmati setiap sensasi yang menjalar di tubuhnya. Ia merasa seperti berada di ambang jurang, di mana ia harus memilih antara menyerah pada godaan dan mempertahankan kendali dirinya. Pada mantan istrinya saja ia tidak bisa merasakan hal seperti ini. Tapi dengan membayangkan Zinia? Mengapa justru dirinya seperti gigolo? "Aku … aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan," ucap Kananta, dengan suara yang bergetar. "Lakukan apa yang kamu inginkan," bisik Zinia, dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Lakukan apa yang membuatmu bahagia." Tanpa menunggu lebih lama lagi, Kananta terbuai dan mulai meraba payudara manekin itu dengan lebih intens. Ia membayangkan Zinia ada di hadapannya, membiarkannya menyentuh tubuhnya dengan bebas. Namun, saat Kananta semakin terbawa suasana, tiba-tiba Zinia menghentikannya.Brak! Brak! Brak!"ZINIA! BUKA PINTUNYA! GUE TAHU SI KUCING DIKEBIRI ITU ADA DI DALAM!"Suara gedoran pintu depan dan teriakan melengking Rey menghancurkan atmosfer panas itu dalam sekejap.Kananta melepaskan tautan bibir mereka, dahi mereka masih bersentuhan, napas keduanya memburu seperti pelari maraton.Kananta memejamkan mata, mengumpat dalam hati dengan segala macam nama binatang yang ia tahu."Si Mas Parkir itu," geram Kananta dengan gigi terkatup. "Kenapa dia selalu muncul di waktu yang paling tidak tepat?"Zinia tertawa kecil di tengah napasnya yang sesak, wajahnya merah padam. "Cepat pakai baju yang benar, Nanta. Kalau dia melihat kita begini, apartemen ini bisa jadi TKP pembunuhan."Kananta menghela napas berat, mencoba meredam gejolak di dadanya yang baru saja mencapai titik didih. Ia menatap Zinia sekilas—wanita itu sedang terburu-buru merapatkan handuk dan mengenakan bathrobe tebal."Biar aku yang u
Pagi harinya, dapur apartemen itu dipenuhi aroma telur gosong. Kananta berdiri di depan kompor dengan daster... eh, maksudnya kaos oblong yang sudah agak melar."Ayah, ini telur atau aspal? Asin banget!" keluh Bumi sambil menusuk-nusuk telur dadar di piringnya dengan garpu plastik.Kananta berdehem, berusaha menjaga wibawa. "Bumi, ini namanya telur dadar rasa telur asin. Inovasi kuliner di tengah krisis ekonomi keluarga kita."Bumi menatap ayahnya datar. "Ayah, telur asin itu bentuknya bulat, warnanya tosca, dan ada cap stempelnya. Bukan gepeng dan hitam di pinggirnya kayak gini!""Itu kan kalau masih ada kulitnya. Ini versi deconstructed, Nak. Sudah, makan saja. Biar otaknya pintar kayak Ayah," kilah Kananta meski dalam hati ia sendiri ingin membuang masakan itu ke tempat sampah.Setelah memastikan Bumi menghabiskan susunya, Kananta melirik ke pintu keluar. Jiwa lelakinya yang sejak semalam merasa "tergantung" mendadak punya ide brilian.
Dapur kecil itu mendadak terasa seperti oven. Bukan karena kompor yang menyala, tapi karena jarak antara Kananta dan Zinia yang hanya tersisa beberapa inci.Zinia sedang serius memotong bawang, tapi gerakannya yang lincah justru membuat Kananta susah menelan ludah. Keringat tipis mulai muncul di pelipis Zinia, mengalir perlahan melewati leher jenjangnya yang putih, lalu menghilang di balik kerah blusnya yang sedikit terbuka karena kancing atasnya terlepas.Jiwa lelaki Kananta yang sudah lama "puasa" rasanya meronta-ronta di dalam dada."Nanta, pegang ini," perintah Zinia pelan.Kananta menurut, tangannya meraih gagang wajan, tapi sengaja menyentuh punggung tangan Zinia. Hangat. Lembut. Dan sedikit lembap.Zinia tidak menarik tangannya. Dia justru menoleh, menatap Kananta dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum tipis tersungging di bibirnya yang kemerahan tanpa gincu berlebih."Tangan kamu gemetar, Nanta. Kenapa? Takut kena minyak
Kananta masih bergeming di kursinya, memandangi pintu yang baru saja tertutup setelah Zinia pergi. Bayangan gerakan Zinia saat membungkuk tadi masih menempel di kornea matanya seperti lem Korea.Sial, Zinia makan apa sih selama kita pisah? batin Kananta. Dulu dia kurus krempeng, sekarang ... lekukannya benar-benar definisi "bahaya" bagi pria yang sedang dalam masa penyembuhan mental seperti dirinya."Ayah, kok bengong? Matanya mau lepas ya?" tegur Bumi sambil menyenggol lengan Kananta."Eh, enggak. Ayah cuma ... lagi menghitung sisa kerupuk," kilah Kananta sambil berdehem keras, berusaha mengusir imajinasi liar tentang mantan kekasihnya yang sudah bertransformasi jadi "Aura Kasih versi Medis" itu.Begitu Bumi kembali asyik dengan kartun di televisi, wajah Kananta berubah total. Kehangatan di matanya hilang, digantikan oleh tatapan sedingin es yang sanggup membuat direktur bank manapun gemetar.Ia mengambil ponsel cadangan dari laci d
Kananta mematung. Kata-kata Rey barusan bukan cuma menusuk, tapi seolah-olah menguliti harga dirinya sampai ke tulang."Maksudnya?" Kananta mengerutkan kening, masih sambil mendekap Bumi yang lehernya terkulai lemas karena ngantuk berat."Maksudnya, jangan mikir aneh-aneh," potong Rey ketus. Ia menyandarkan tubuh di tembok lorong apartemen sambil bersedekap."Itu unit kosong punya sepupuku. Zinia yang mohon-mohon supaya kamu nggak tidur di pinggir jalan kayak gelandangan elit. Jadi, simpan fantasi living together kamu itu di kantong piyama."Zinia menghela napas panjang, wajahnya tampak sangat lelah."Nanta, masuk dulu. Kasihan Bumi, dia butuh kasur yang layak. Masalah tagihan dan lain-lain, kita bahas besok setelah kepalamu dingin."Kananta mengangguk pelan."Makasih, Zin. Dan ... makasih juga, Mas Penjaga Parkir."Rey hampir saja melempar kunci motornya kalau saja Zinia tidak melotot ke arahnya.Unit apartemen itu ternyata jauh lebih mewah dari yang Kananta bayangkan. Minimalis, mas
Bumi menggeliat pelan di kamar, lalu tiba-tiba muncul di ambang pintu ruang tamu sambil garuk-garuk mata—masih setengah ngantuk, rambut acak-acakan kayak singa kecil baru bangun tidur.“Ayah?”Rey dan Zinia otomatis menoleh bersamaan.Kananta membeku.Rey melotot.Dan Bumi—anak kecil polos tanpa dosa—langsung memeluk kaki Kananta begitu melihat ayahnya duduk di sofa.“Ayah! Aku aku mimpi buruk!"Hening.Hening memalukan.Hening yang levelnya setara tabrakan dua galaksi.Rey mengedip. Sekali.Dua kali.Ketiga kalinya, dia ngomong, suaranya turun satu oktaf.“Dia … punya anak?”Zinia mencubit batang hidungnya. “Iya, itu Bumi. Anaknya Kananta.”Bumi menatap Rey dengan polos, tanpa filter. “Om siapa? Musuh ayah?”Rey tersedak batuk udara. “Ha—apa?!”Kananta buru-buru mengangkat Bumi ke pangkuan, wajahnya merah padam. “Astaga, Bumi, jangan bilang sembarangan!”“Emang muka Omnya serem,” bisik Bumi—dan sayangnya terdengar seisi ruangan.Rey terdiam.Matanya melirik ke Zinia. “Jadi pasienmu b







