Mag-log inKetua komite baru saja selesai melempar-lempar kode, aroma manja-mautnya masih beterbangan di udara ketika Kananta akhirnya menyerah pada kondisi. Ia mengangkat kedua tangan seperti tahanan yang baru ketangkap.
“Baik, Bu Komite. Saya minta maaf,” katanya hati-hati, menjaga intonasi supaya tidak menimbulkan harapan palsu. “Bumi tidak akan melakukannya lagi. Saya janji.” Entahlah, Bumi titisan anak seperti apa. Sejak kecil virus buaya daratnya sudah kelihatan. Bumi langsung interupsi. “Ayah, tapi—” “Diam.” Satu kata. Penuh tekanan. Penuh ancaman jenaka. Bumi langsung menutup mulut dan berdiri tegak seperti murid kena push-up. Ketua komite menghela napas panjang—panjang sekali sampai dua gunung kembar itu ikut bergerak ke atas dan ke bawah kayak roller coaster slow motion. “Kalau begitu, baiklah,” katanya sambil memiringkan kepala. “Tapi kalau butuh bantuan mendidik, nomor saya bisa dipakai kapan saja. Kapan saja, Pak Kananta.” Karena suara “kapan saja”-nya kedengarannya tidak sehat, Kananta langsung pura-pura tidak dengar. Guru-guru yang nonton dari sudut ruangan sudah mau pecah tawa. Sopir di luar pintu memegangi dada, berdoa supaya Pak Kananta tidak digoreng istrinya orang. Setelah 20 menit drama berakhir, Kananta akhirnya menyeret Bumi keluar dari ruang guru. Pulang. Sudah cukup kerusuhan hari ini. Kananta mengemudi sambil menggeleng-geleng lelah. Dirinya salah, ia kira apa yang diucapkan tidak akan dilakukan. Tapi anaknya benar-benar super nekat. “Bumi.” “Ya, Ayah?” “Tidak ada cium-cium teman sekolah lagi. Ngerti?” Bumi manyun. “Tapi mereka duluan yang minta cium—” “BUMI.” Anak itu langsung diam. Menatap jalanan. Lima detik kemudian ia nyeletuk lirih, “Kalau gitu … boleh cium kakak kelas?” “BU—MI—NO.” Bumi akhirnya menyerah. Sambil mengunyah permen, ia membuka HP dan tenggelam dalam dunianya. Kananta memang selalu menganggap bumi monster karena anak itu selalu saja menguji imannya. Menguji kesabarannya bahkan setiap hari ada saja gebrakan masalah yang dibuatnya. Baru beberapa meter mobil melaju, Kananta tiba-tiba melihat sesuatu di pinggir jalan. "Tidak ada cium, tidak ada berkelahi. Kecuali jika kamu dipukul lebih dulu maka balas!" Bumi hanya mengangguk, matanya terlalu fokus dengan ponsel. Seseorang berdiri di trotoar. Seseorang dengan kacamata bulat tipis, jas dokter. Zinia. Zinia sedang … menunggu tumpangan? Di pinggir jalan? Dengan rok selutut dan wajah yang jelas sedang tidak ingin membayar ojek online? Kananta langsung ngerem. Hampir loncat dari kursi. “Dokter?!” Zinia menoleh. Wajahnya datar. “Oh? Kamu,” katanya santai. “Mobilku mogok. Bengkel baru bisa datang 30 menit lagi.” “Dokter mau saya antar?” tanya Kananta. Dirinya berharap justru wanita itu akan menerima tumpangannya. Agar ia bisa mengetahui Di mana tempat tinggal dari sang mantan. Zinia melirik mobil, lalu melirik Kananta, lalu melirik Bumi di belakang yang asyik main game tanpa peduli dunia. "Saya, antar gratis," ujar Kananta. "Boleh,” jawabnya akhirnya. “Daripada aku keburu diculik om om cabul.” Kananta bukain pintu depan. Zinia naik—dan langsung duduk di kursi penumpang dengan rok yang … ya naik setengah senti karena desainnya memang niat. Paha mulus itu muncul, bersinar, memantulkan cahaya matahari. Kananta langsung tegang—bukan yang begitu—tapi tegang mental. Ini ujian hidup. Ini Ujian Nasional Danrologi bagian praktik. Zinia mengatur posisi duduk sambil mengibas rambut. “Tolong hati-hati bawa mobilnya, Kananta. Aku masih butuh hidup untuk terapi kamu minggu depan.” “Ah … iya, Dok.” Kananta benar-benar masih canggung, seperti dulu saat dirinya bujangan mendekati Zinia. Rasanya ingin menanyakan kabar, Tapi tidak untuk situasi saat ini. Bumi mengangkat kepala dari ponselnya. “Halo Bu Dokter! Ayah tadi digoda ibu komite lho!” KANANTA NYARIS NUBRUK POHON. Zinia melirik. “BUMI. Jangan ceritakan hal-hal privat di publik.” “Kenapa? Tapi memang benar bukan, ibu komite tadi sepertinya naksir ayah?" “Bumi—” “Katanya Ibu komite bisa mengurus yang kecil dan yang besar.” Zinia langsung batuk tersedak udara. Kananta ingin teleportasi ke dimensi lain. “Ayah … hebat ya bisa membuat Ibu komite terpesona?” Bumi lanjutin polos. “Diam,” bisik Kananta sambil memegang kemudi erat-erat. Zinia mendengus kecil, melirik ke luar jendela dengan pipi samar memerah. Hening beberapa detik. Lalu Zinia bersuara, pelan tapi menusuk. “Rumahmu jauh dari klinik?” “Lumayan. Kenapa?” Ia memutar kepala, menatap Kananta dengan intensitas yang bisa membakar kaca mobil. “Aku butuh bicara sesuatu soal terapi kita.” Nada suaranya berubah. Lebih rendah. Lebih dalam. Lebih berbahaya. Kananta menelan ludah. Jantungnya jungkir balik lagi. “Bicara tentang apa?” Zinia tersenyum kecil. "Sepertinya lebih bagus jika kita bicarakan di apartemenku, sambil minum kopi dan istirahat sejenak?" Pucuk dicinta ulam pun tiba. Hati bahagia, Kananta. Memang itulah tujuan dirinya mengantarkan Zinia, agar bisa tahu di mana tempat tinggalnya. Hingga akhirnya 15 menit perjalanan, bumi pun sudah terlelap di kursi belakang. Mereka tiba di apartemen Zinia—dan wow. Apartemen itu terlalu rapi untuk manusia normal. Terlalu wangi untuk orang yang bangun kesiangan. Terlalu sunyi untuk seseorang yang katanya “sibuk”. Dengan kata lain Zinia jelas hidup sendiri. Atau minimal hidup dengan kehidupan yang sangat terjadwal. Kananta rasa yang dulu pernah hilang kini sepertinya mulai tumbuh lagi. “Ayo masuk,” katanya sambil membuka pintu dengan satu tangan, rok selutut itu ikut bergoyang pelan seperti mengundang bahaya. Kananta menggendong Bumi yang tertidur seperti karung beras edisi premium. Ia langsung merasa menua sepuluh tahun. “Tidurkan saja Bumi di kamarku. Biar kita bisa bicara di ruang tamu,” ucap Zinia sambil melangkah masuk dan menaruh tasnya. Kananta mengangguk dan melangkah ke arah kamar. Pintu kamar terbuka. Lampu lembut. Ranjang queen-size dengan sprei putih mulus tanpa kerutan. Semuanya serba minimalis—warna pastel, meja rias kecil, diffuser lavender. Dan kemudian … Kananta melihatnya. Di kursi dekat meja rias, tergeletak set lingerie warna maroon. Bra—lace tipis. Celana dalam—matching. Semuanya terlalu niat. Terlalu seksi. Terlalu “aku nggak nyangka kamu bakal datang tapi aku juga nggak protes.” Kananta langsung freeze. Langkahnya berhenti. Otaknya blank. Jantungnya sprint kayak atlit.Atmosfer di dalam apartemen itu sudah melampaui titik didih. Kananta bisa merasakan deru napas Zinia yang memburu di ceruk lehernya, sementara tangannya sudah mulai menjelajah lekuk pinggang yang terbalut kain sutra maroon yang tipis itu. Hasrat yang terkubur selama bertahun-tahun sejak mereka berpisah di masa kuliah kini meledak layaknya bendungan yang jebol. Zinia, dengan tatapan sayu dan bibir yang sedikit terbuka, benar-benar menjadi ujian terakhir bagi kewarasan Kananta.Namun, tepat saat Kananta hendak menunduk untuk mengklaim bibir merah itu, sebuah suara parau dan berat memecah keheningan dengan sangat tidak sopan."Ekhem!"Kananta mendengus kesal. Pikirannya langsung tertuju pada satu nama Rey. Si pengusik galak itu pasti kembali lagi untuk mengacaukan suasana. Tanpa menoleh, masih dengan posisi mendekap Zinia, Kananta membentak dengan nada tinggi."Rey! Diem dulu! Pergi sana, jangan ganggu konsentrasi orang!"Hening sejenak. Tapi sedetik kemudian, sebuah tangan dengan cengke
Brak! Brak! Brak!"ZINIA! BUKA PINTUNYA! GUE TAHU SI KUCING DIKEBIRI ITU ADA DI DALAM!"Suara gedoran pintu depan dan teriakan melengking Rey menghancurkan atmosfer panas itu dalam sekejap.Kananta melepaskan tautan bibir mereka, dahi mereka masih bersentuhan, napas keduanya memburu seperti pelari maraton.Kananta memejamkan mata, mengumpat dalam hati dengan segala macam nama binatang yang ia tahu."Si Mas Parkir itu," geram Kananta dengan gigi terkatup. "Kenapa dia selalu muncul di waktu yang paling tidak tepat?"Zinia tertawa kecil di tengah napasnya yang sesak, wajahnya merah padam. "Cepat pakai baju yang benar, Nanta. Kalau dia melihat kita begini, apartemen ini bisa jadi TKP pembunuhan."Kananta menghela napas berat, mencoba meredam gejolak di dadanya yang baru saja mencapai titik didih. Ia menatap Zinia sekilas—wanita itu sedang terburu-buru merapatkan handuk dan mengenakan bathrobe tebal."Biar aku yang u
Pagi harinya, dapur apartemen itu dipenuhi aroma telur gosong. Kananta berdiri di depan kompor dengan daster... eh, maksudnya kaos oblong yang sudah agak melar."Ayah, ini telur atau aspal? Asin banget!" keluh Bumi sambil menusuk-nusuk telur dadar di piringnya dengan garpu plastik.Kananta berdehem, berusaha menjaga wibawa. "Bumi, ini namanya telur dadar rasa telur asin. Inovasi kuliner di tengah krisis ekonomi keluarga kita."Bumi menatap ayahnya datar. "Ayah, telur asin itu bentuknya bulat, warnanya tosca, dan ada cap stempelnya. Bukan gepeng dan hitam di pinggirnya kayak gini!""Itu kan kalau masih ada kulitnya. Ini versi deconstructed, Nak. Sudah, makan saja. Biar otaknya pintar kayak Ayah," kilah Kananta meski dalam hati ia sendiri ingin membuang masakan itu ke tempat sampah.Setelah memastikan Bumi menghabiskan susunya, Kananta melirik ke pintu keluar. Jiwa lelakinya yang sejak semalam merasa "tergantung" mendadak punya ide brilian.
Dapur kecil itu mendadak terasa seperti oven. Bukan karena kompor yang menyala, tapi karena jarak antara Kananta dan Zinia yang hanya tersisa beberapa inci.Zinia sedang serius memotong bawang, tapi gerakannya yang lincah justru membuat Kananta susah menelan ludah. Keringat tipis mulai muncul di pelipis Zinia, mengalir perlahan melewati leher jenjangnya yang putih, lalu menghilang di balik kerah blusnya yang sedikit terbuka karena kancing atasnya terlepas.Jiwa lelaki Kananta yang sudah lama "puasa" rasanya meronta-ronta di dalam dada."Nanta, pegang ini," perintah Zinia pelan.Kananta menurut, tangannya meraih gagang wajan, tapi sengaja menyentuh punggung tangan Zinia. Hangat. Lembut. Dan sedikit lembap.Zinia tidak menarik tangannya. Dia justru menoleh, menatap Kananta dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum tipis tersungging di bibirnya yang kemerahan tanpa gincu berlebih."Tangan kamu gemetar, Nanta. Kenapa? Takut kena minyak
Kananta masih bergeming di kursinya, memandangi pintu yang baru saja tertutup setelah Zinia pergi. Bayangan gerakan Zinia saat membungkuk tadi masih menempel di kornea matanya seperti lem Korea.Sial, Zinia makan apa sih selama kita pisah? batin Kananta. Dulu dia kurus krempeng, sekarang ... lekukannya benar-benar definisi "bahaya" bagi pria yang sedang dalam masa penyembuhan mental seperti dirinya."Ayah, kok bengong? Matanya mau lepas ya?" tegur Bumi sambil menyenggol lengan Kananta."Eh, enggak. Ayah cuma ... lagi menghitung sisa kerupuk," kilah Kananta sambil berdehem keras, berusaha mengusir imajinasi liar tentang mantan kekasihnya yang sudah bertransformasi jadi "Aura Kasih versi Medis" itu.Begitu Bumi kembali asyik dengan kartun di televisi, wajah Kananta berubah total. Kehangatan di matanya hilang, digantikan oleh tatapan sedingin es yang sanggup membuat direktur bank manapun gemetar.Ia mengambil ponsel cadangan dari laci d
Kananta mematung. Kata-kata Rey barusan bukan cuma menusuk, tapi seolah-olah menguliti harga dirinya sampai ke tulang."Maksudnya?" Kananta mengerutkan kening, masih sambil mendekap Bumi yang lehernya terkulai lemas karena ngantuk berat."Maksudnya, jangan mikir aneh-aneh," potong Rey ketus. Ia menyandarkan tubuh di tembok lorong apartemen sambil bersedekap."Itu unit kosong punya sepupuku. Zinia yang mohon-mohon supaya kamu nggak tidur di pinggir jalan kayak gelandangan elit. Jadi, simpan fantasi living together kamu itu di kantong piyama."Zinia menghela napas panjang, wajahnya tampak sangat lelah."Nanta, masuk dulu. Kasihan Bumi, dia butuh kasur yang layak. Masalah tagihan dan lain-lain, kita bahas besok setelah kepalamu dingin."Kananta mengangguk pelan."Makasih, Zin. Dan ... makasih juga, Mas Penjaga Parkir."Rey hampir saja melempar kunci motornya kalau saja Zinia tidak melotot ke arahnya.Unit apartemen itu ternyata jauh lebih mewah dari yang Kananta bayangkan. Minimalis, mas







