LOGIN“Jadi gimana, kamu mau gak jadi pacarku?” Sayangnya, ucapan itu bukanlah untukku. Sang pelaku adalah Kyohei, temanku sejak kecil. Ia menembak Minami, teman kelas kami di lorong sepi sekolah. Aku tak mengerti apa yang terjadi kali ini, karena dari sudut pandangku jelas-jelas kami sempat bertatapan tadi. Kenapa aku merasa seakan ia sengaja menunggu kehadiranku ya..
View More"Hei cantik!"
"Kaget eh! Santai aja dong.. Kamu itu mencolok kok, gak usah sambil ditegaskan gitu kehadiranmu.." Kyohei terkekeh mendengar ucapanku, "kenapa ngelamun? Jangan-jangan, karena gak ada wali yang dateng di upacara tadi ya? Gak masalah lah gak penting begituan. Ada aku juga di sekolah ini,” lanjutnya dengan penuh percaya diri. Siswa berwajah tengil tapi tampan itu adalah sahabatku. Kami sudah berteman sejak kecil dan payahnya, aku menyimpan rasa untuknya. Aku memendam perasaanku karena takut pertemanan kami akan hancur. “Aku, bakal ada di sisi kamu sampai waktu yang tak terhingga. Dimanapun, kapanpun kamu butuh, aku akan melesat seketika hoho~" "Kamu mau aku pura-pura percaya, atau pura-pura gak denger aja nih?" "Jangan diragukan gitu dong." "Aku gak bisa percaya omongan orang. Omongan diri sendiri aja gak bisa kupercaya kok." "Gapapa, kalo aku bisa deh dipercaya. Aku jamin ga akan tinggalin kamu." Kyohei berhenti di depanku. Kali ini, ia menyodorkan jari kelingkingnya tepat di depan wajahku. Kepalaku mendongak memandang matanya sebelum menautkan jari kelingkingku disana. Indah bukan? Tapi segala keindahan itu tak berlangsung lama, karna saat ini aku tengah menahan air mata dengan sesak dari balik tembok. "Jadi gimana, kamu mau gak jadi pacarku?" "Heeee??? Serius??" "Serius lah, ngapain bercandaan segala." Aku memutar otak mendengar percakapan Kyohei dan Minami. Dari sudut pandangku, aku dan Kyohei sempat bertatapan, tapi kenapa aku merasa seperti ia sengaja menungguku. Apa yang sebenarnya terjadi?? Kedua mataku mulai terbendung air. Aku hanya terpikir satu tempat, toilet. Berlari sambil mendongakkan kepala, kujaga air mataku agar tak jatuh membasahi kertas tugas yang kugenggam. Tapi… BRAAAKKKKKK!!!!!!!! Aku bertabrakan dengan seseorang, "Yuuki?" "A- maaf, aku minta maaf banget tolong jaga kertas berserakan ini sebentar!" Ucapku buru-buru lari ke toilet yang sudah berada di depan. Sesampainya, aku langsung mencuci mukaku. Harusnya tak selama itu bukan? Sayangnya, air mata ini terus keluar dengan derasnya. "Maaf ya, lama.. Makasih banget udah ditungguin." "Gapapa, nih..” Ia berikan kertas tugas yang sudah ia rapikan, “ini mau buat tugas kelas kan?" tanyanya kemudian. "Iya, anu.. kamu..." Bodohnya, aku tak tahu siapa namanya walau kami satu kelas. Ia memperkenalkan dirinya sambil tertawa tipis. Entah apa yang lucu, tapi ya intinya aku jadi tahu nama dia, Souta itulah namanya. Kami mengobrol sampai akhirnya Souta mengajakku untuk masuk ekstra musik. Tapi obrolan kami terputus setelah sampai kelas. Aku mengambil kapur untuk menulis pesan yang pak Yoshida titipkan dan berkata, "Ini tugasnya, bisa diambil sendiri ya di depan. Terima kasih." Kuambil tugas untukku dan kembali ke meja. Karena aku duduk di belakang Kyohei, otomatis aku melewatinya. Mata kami sempat saling bertatapan tapi ia menghindar dengan ketusnya. Setelah semua orang mengambil tugas, Kyohei meminta perhatian semua orang di depan kelas. Nyatanya aku dan Kyohei yang selalu berdua, anak lain melihat ke arahku saat Kyohei menyatakan dia berpacaran. Kreekkk.. Suara kursi terdorong dari tempat duduk Minami. Ia melangkah ke depan dan berdiri di samping Kyohei. "Haii, Minami baru aja loh di tembak Kyohei!!" Serunya, ya seru sendiri sih. Yang lain kaget dengan situasi yang ada. Karna tak mendapat satupun respon dari anak kelas, Minami kembali berbicara. "Heeeee, kok sepi banget. Salah ya kalo Minami jadian sama Kyohei??" "Haaa?? Enggak lah, enggak kan temen-temen??” Canggungnya satu kelas menjawabi Kyohei diiringi tawa pahit. Aku mengetuk kursi Kyohei saat ia kembali duduk. Dengan maksud memberinya selamat walau hati tersayat. Ah gila, ini tiba-tiba banget loh, Hei.. Padahal dulu katamu bakal langsung ngasih tahu aku kalo ada orang yang kamu suka. Tapi dipikir-pikir, aku juga yang pertama tahu sih, dari telingaku. ... Mendekati jam pulang, pak Yoshida masuk kelas. "Yooo!!! Udah selesai kan tugasnya?? Ayo sini kumpulin kumpulin.." "Heeeeee!?!!" "Baru juga berapa jam pak!!" "Hmm. Ya udah, yang selesai maju kumpulin, yang belum selesai nanti bisa nyusul. Yuuki, kamu udah selesai?" "Belum pak." "Oke, selesaikan.. Karna kamu tadi sudah bawa tugas, nanti gantian yang lain ya yang bawa ke ruang guru." Souta mengulurkan tangan kanannya mengetuk tepian mejaku. Ternyata dia melanjutkan ajakannya tadi tentang ekstra. Aku berterus terang kalau masih ragu, tapi dia bilang, “Gapapa, anggep kunjungan aja dulu. Nanti gampang mau mutusin gimana.” Tertawan akan ucapannya, aku setuju dan memasukkan semua barangku bersiap piket kelas sebelum pergi. "Ehh- emang ga masalah kamu bawa sendirian, bisa aja berat loh." Tanya Yamazaki saat aku menawarkan diri untuk membuang sampah. "Santai aja. Percayain ke aku, tah aku mau ke ruang musik." "Ahaha ya oke deh. Makasih ya.. Kalo gitu aku bersihin papan tulis." "Oke. Aku duluan ya." "Ya.." Aku membawa dengan santai kantong sampah yang cukup besar ini. Beratnya tak seberapa dibanding sampah yang dulu ada dirumahku. Dulu aku selalu bersama nenek di rumah. Aku yang hanya sekolah dan main saja membuat sampah kami tertumpuk. Sungguh, waktu yang sangat kurindukan.. "Keburu gak ya. Jangan-jangan Souta udah pulang duluan.." Kataku sambil memilah sampah, tiba-tiba.. "Yuu~ki~~!!" Bersambung..“Kyohei!” satu teman terdengar memanggil dengan lantangnya. Orang itu adalah Takumi. Ia berlari ke arah Kyohei yang berbalik setelah namanya dipanggil.“Aduh-““Makanya gak usah lari. Situ ke sini doang juga.”“Hehe,” ujar Takumi terkekeh memegangi ujung kakinya yang tersandung, “gosip panas itu bener adanya?”Kyohei menghela panjang nafasnya. Dia hanya diam tak beri jawaban.“Kok bisa sih? Kenapa? Soal Yuuki? Trus Minami gimana, bukannya kalian masih pacaran? Atau udah putus? Kok gak cerita-cerita sii?!” Langkah Kyohei berhenti. Keningnya berkerut dan tangannya mengacak kasar rambut yang tadi rapi itu.“Udah selesai pertanyaanmu?”Seakan tahu dirinya menyebalkan saat ini, Takumi cengengesan mendengar Kyohei bertanya padanya. Mau marah Kyohei pun tak bisa, biar bagaimana, Takumi ini cukup sering bersamanya. Dia juga butuh teman curhat saat ini. Diajaklah Takumi untuk ke atap, agar dia bisa bercerita dengan leluasa di sana.
Angin bertiup cukup kencang di waktu ini. Dua atau tiga daun bahkan terlempar di lantai koridor sekolah berkali-kali. Memanas situasi, jadi semakin mencekam di antara Shima dan Kyohei yang sedang berhadapan sampai detik ini.“Gak usah banyak tingkah dan memaksakan diri demi deket lagi sama Yuuki. Kamu itu udah gak pantes buat jadi temennya!” ucap ketus Shima. Dengan wajah yang datar, amarah tetap tersorot dari dua matanya.“Apa urusanmu? Aku temen dia dari kecil, kamu yang pendatang kan? Sedihnya dia, bahagianya dia, ada aku di sampingnya.”“Gila. Gak waras emang pikiranmu ya!”“Gila? Kamu gak sih yang gila? Apa hakmu menentukan siapa yang boleh temenan sama Yuuki!”Shima sampai menganga mulutnya. Dia pasti berpikir bagaimana bisa ada orang yang gak tahu malu kaya manusia satu ini. “Kamu, sama Minami. Udah berapa kali kalian nyakitin Yuuki hah?!”Emosi Shima semakin meluap, dia bahkan tak peduli ada orang lain atau tidak di sekit
“Aku bener-bener ga paham. Apa yang terjadi dengan persahabatan kami, itu semua gara-gara Minami?”“Dimana letak kesalahanku atau Kyohei, sampai dia berbuat sesuka hati gini?”Yuuki terus mengoceh walaupun televisi di depannya berbunyi cukup keras. Dia bisa bergumam dengan santai karena saat ini hanya ada dirinya sendiri di kos.Saat pintu tiba-tiba terbuka, tatapan matanya langsung beralih ke arah itu. Hikaru muncul dan sempat terdiam, melihat Yuuki yang menatapnya. “Sendirian Kak?” tanya Yuuki basa-basi sebagai pemanis obrolan. Hikaru sedikit gagap menjawabnya. Lalu, orang itu bertanya dimana Ryo, dia memastikan bahwa dirinya tak berduaan saja di rumah ini.Setelah Yuuki menjawabnya, si Hikaru langsung gerak cepat memakai sepatunya lagi sambil berkata, “Ah iya, aku lupa beli sesuatu. Aku pergi dulu ya,” katanya tanpa melihat lawan bicaranya dengan jelas.Yuuki mengiyakan pamitan Hikaru tetapi pintu itu sudah tertutup saking cepatnya
“Selamat ya udah menang lagi!!”Shima tertawa, tangannya membentuk tanda peace mendengar ucapan itu dari Hiromi. Dia menatap Yuuki kemudian. Senyum yang tadi ditujukan untuk Shima telah memudar kini, tinggal lamunan terukir di wajah itu.Shima berbisik kala ia mendekati Hiromi, “Dia kenapa?” tanyanya. “Nanti aku ceritain,” jawab Hiromi. Mereka bertiga pergi dari arena lomba untuk membeli minum. Setelahnya, Shima memisahkan diri karena harus kembali ke kelasnya. Biar begitu dia sudah janjian untuk bertemu dengan Hiromi sepulang sekolah.Yuuki banyak diam setelah dia pergi dengan Kyohei. Hiromi sebenarnya sangat penasaran, tapi dia tidak setega itu untuk bertanya. Jadi, hari itu dia membiarkan Yuuki untuk larut dalam perasaannya dan pulang sendirian begitu saja.Sementara Yuuki pulang, saat ini Shima tengah duduk mendengarkan Hiromi bercerita. Titik-titik embun es di gelas berisi americano itu terus menetes di jari Shima. Dinginnya diacuhkan. Dia
Ryo terengah-engah di depan kos. Dia berlari cepat karena baterai ponselnya mau habis. Sedangkan dia sedang menonton acara favoritnya secara live. Niat Ryo mengejar waktu. Namun, seseorang mengajaknya bicara tiba-tiba. "Kamu tinggal sini juga?" tanya orang itu
Bagaimana Yuuki bisa mengenal dan akrab dengan siswa seperti itu? Pertanyaan itu pasti sedang terngiang-ngiang di pikiran Kyohei. Dirinya tak tenang, ia sangat penasaran. Namun, gerak-geriknya terbatasi. Dia belum bisa menemukan celah saat Minami lengah. "Kamu tahu, ada s
Kring kriing .. “Hei, pesanan kita udah jadi tuh ambil gih!” pinta Minami sembari ia ketuk lembut meja. Si pacar, Kyohei malah asik melirik ke depan cafe mengikuti langkah seseorang yang Minami sendiri tak sempat melihatnya siapa dia. ‘Bukan Yuuki kan?’ batin si cant
“Gak bisa dateng tepat waktu ya?” “Mika, baru kali ini juga dia telat, kamu-“ “Gapapa Ka, emang aku yang salah. Maaf ya, kalian jadi nunggu.” Karena bos di tempat kerja sedang terlambat menggantikanku, aku jadi telat untuk datang kerja kelompok
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore