LOGINLaura Azzahra Alibasyah, seorang gadis remaja yang terlahir dari keluarga harmonis. Namun, dimasa lalu terjadi suatu insiden yang menyebabkan Laura kehilangan ingatannya serta mengubah keseluruhan dari tatanan kehidupan Laura. Kepribadiannya yang sangat ceria, seketika berubah menjadi dingin. Laura berusaha untuk mendapatkan kembali ingatannya sekaligus mencari jawaban atas kebencian sang bunda pada dirinya. Dalam perjalanan kehidupan Laura, ia bertemu dengan sosok Rafael yang mengajarinya tentang arti kehidupan. Tapi, siapa sangka jika mereka dipermainkan oleh takdir. Apakah Laura bisa mendapatkan kembali ingatannya? Dan apa yang akan ia lakukan jika berhasil mendapatkan ingatan itu? Baca lika-liku kehidupan Laura dalam novel Not Allone.
View More"Selamat, Nak! Kamu hebat! Dad sangat bangga padamu!" puji Stephen Ignatius, menyerahkan sebuket bunga mawar merah dan kuning pada putrinya yang baru saja menyandang gelar Master of Bussiness Administration dengan predikat CUMLAUDE di salah satu universitas terkemuka di Ispanika.
Suatu wilayah yang terletak di Barat Daya Benua Evropi dan terkenal sebagai salah satu negeri penghasil kayu Cork terbanyak dan berkualitas tinggi. Bangunan-bangunan kota tertata sangat rapi dan bersih. Hampir semua warganya taat dengan peraturan yang ada.
"Terima kasih, Dad! Ini semua berkat dukungan Daddy," sahut sang putri menerima buket sambil memamerkan sederet giginya yang putih cemerlang.
Dihirupnya harum semerbak bunga mawar favoritnya yang mampu menenangkan dan meningkatkan suasana hati, sebelum pandangannya melirik ke berbagai arah.
"Di mana Mom dan Gretta?" tanyanya setelah tak menemukan sosok yang ia cari.
Dengan desah tertahan, Stephen mengusap lembut puncak kepala sang putri.
"Maafkan Dad tidak bisa membawa mereka kemari."
"Aku tahu. Aku mengerti," angguk sang putri tersenyum getir sembari mendekap lebih erat buket bunga dalam pelukan.
"Jangan sedih. Dad sudah menyiapkan hadiah spesial untukmu," hibur sang ayah yang tak tahan melihat senyum putrinya memudar.
"Benarkah? Di mana, Dad?" tanya sang putri antusias. Manik violetnya yang jernih tampak berkilat-kilat.
Tanpa menjawab pertanyaan, Stephen merangkul pundak sang putri dan menuntunnya pergi dari gedung pelaksanaan wisuda kelulusan. Senyumnya terus mengembang hingga membuat sang putri semakin penasaran.
"Mau ke mana, sih, Dad?"
Masih menjaga senyuman, Stephen terus membawa putrinya menuju area parkir.
"Loh, Dad? Kita pulang?" tanya sang putri menaikkan kedua alis saat mereka semakin dekat dengan mobil berwarna putih.
Bukannya menjawab, sang ayah justru membukakan pintu penumpang dan meminta putrinya masuk. Bibir mencebik tanda protes dilayangkan sang putri. Namun, ia tetap menuruti kemauan sang ayah tersayang.
"Apa ini?" gumamnya keheranan melihat sebuah kotak hitam berukuran sedang dan asing di atas kursi penumpang.
"Bukalah!" pinta sang ayah begitu duduk di kursi kemudi.
Tanpa banyak bertanya lagi, sang putri cepat-cepat membuka kotak hitam tersebut. Dan voila! Sebuah gaun lilac berbahan satin yang lembut, bertali mirip spaghetti dengan V-neck rendah dan desain punggung terbuka. Sangat elegan.
"I-ini ... untukku?" tanya sang putri menunjuk gaun dan dirinya bergantian. Pelupuk matanya berkedip-kedip, tak percaya.
"Tentu saja, Acasha," ujar sang ayah tampak puas melihat reaksi putrinya yang terperangah. Sesuai ekspektasi.
"Ini ... indah sekali," takjub Acasha membentangkan gaun barunya di udara.
Bibirnya sedikit terbuka dan bergerak tanpa suara seolah mengucapkan kata "wow" sebagai ungkapan kekagumannya.
"Terima kasih, Dad. Aku sangat menyukainya."
"Syukurlah. Sekarang kita pulang dan bersiap-siap untuk hadiah berikutnya," sahut sang ayah kembali merebut perhatian Acasha dari gaun yang masih menggantung di udara.
"Ada hadiah lagi??"
Kini bola matanya membulat sebulat bola pingpong.
"Dad yakin, kamu pasti akan sangat suka," ujar Stephen sembari mengemudikan mobil, menembus keramaian kota yang didominasi warna merah kecoklatan di penghujung musim gugur.
Keadaan rumah terlihat sepi saat Stephen dan Acasha tiba. Tak ada seorang pun yang menyambut kedatangan mereka, padahal dapat dipastikan ada seorang ibu dan seorang gadis remaja di dalam sana.
Aroma harum pai apel menyeruak di udara, menyapa hidung dua orang manusia yang tengah dilanda rasa lapar. Acasha dan Stephen pun saling melempar pandangan. Sedetik kemudian, mereka kompak menuju aroma tersebut berasal.
"Wah, harum sekali! Jadi, ini alasan Mom tidak datang ke acara wisuda Acasha?" ujar Stephen melahap sepotong pai apel yang sudah diletakkan di atas piring dengan suka cita.
"Hmm. Benar-benar lezat," ungkapnya memuji, kemudian memberikan potongan selanjutnya pada Acasha.
Acasha tersenyum, lalu menyambut pai apel yang masih hangat itu ke dalam mulut.
"Sangat lezat," pujinya mengangguk-angguk. "Terima kasih, Mom."
"Ya .... sebenarnya aku membuat pai ini untuk Gretta. Aku harap, dia tidak keberatan kamu mencicipinya sedikit," cibir Varra Ignatius seketika membuat lumatan pai tertahan di kerongkongan sang gadis yang baru saja merayakan kelulusannya.
"Mom!" gertak Stephen dengan suara rendah.
"Apa? Memang benar, kok! Sudahlah. Dia sudah lulus, kan? Sudah dapat hadiah juga, kan? Apa salahnya aku membuatkan pai apel untuk putri kesayanganku?" timpal Varra melirik sinis buket bunga mawar dan kotak hitam yang dibawa gadis beriris violet itu.
"Setidaknya, berikan ucapan selamat, Mom! Ini hari kelulusannya," ucap Stephen masih menjaga suaranya tetap rendah.
"Benarkah? Lalu, kapan dia akan lulus dari sini?"
"Mom!"
Seketika Acasha menahan lengan sang ayah.
"Sudah, Dad. Tidak apa-apa," lirihnya tersenyum tipis.
Varra yang melihat respon Acasha pun memutar bola mata, seolah mengejek. Lalu, melenggang pergi menjauh dari meja makan.
Stephen mendesah perlahan. "Maafkan sikap Mom, ya, Sayang."
"Iya, Dad. Jangan khawatir. Eum ... Acasha masuk ke kamar sekarang, Dad," pamit Acasha setelah melihat gurat ketegangan di wajah sang ayah mulai mengendur.
Baru lima langkah berjalan, Stephen memanggil putrinya. "Acasha ...."
"Yes, Dad?" sahut Acasha memalingkan wajah ke belakang.
"Jangan lupa nanti malam."
"Tentu."
Setengah berlari Acasha melewati anak tangga. Ia melesat masuk dan menutup pintu kamar rapat-rapat. Langkah kakinya melambat saat dirinya sampai di tepian ranjang miliknya.
Bruk.
Tubuhnya terempas bersamaan dengan buket bunga dan kotak hitam di kanan-kirinya, di atas ranjang. Dalam posisi telungkup, Acasha terisak tanpa suara. Menumpahkan bongkahan kesedihan yang sejak tadi tertahan. Begitu berat dan menyesakkan dada.
Dalam tangisnya, Acasha terus memikirkan ucapan Varra. Sejak kecil, ia sudah merasa diperlakukan sangat berbeda oleh ibunya dan hanya sang ayah yang selalu berada di sisinya.
Acasha pernah berpikir bahwa perbedaan fisiknyalah penyebab Varra dan Gretta menjaga jarak darinya. Tak jarang, mereka juga bersikap kurang menyenangkan. Tapi, Acasha tak pernah mengeluh dan menahan kesedihannya dengan topeng senyuman karena ia tak ingin membuat Stephen khawatir.
Dan kini, ia sudah lulus. Sudah seharusnya ia hidup mandiri dan meringankan beban kedua orang tuanya. Selain itu, Acasha sangat ingin merasakan pelukan hangat dan belaian lembut dari ibunya, seperti Gretta. Ya. Acasha sedikit iri dan menginginkan kasih sayang dari Varra.
Perlahan, isak tangisnya mereda. Disekanya bulir-bulir yang membasahi kedua pipi. Acasha pun bangkit sembari menghela dalam-dalam aroma mawar yang menenangkan.
"Hah ... Begini lebih baik," gumamnya merasa lebih lega. Dalam hatinya pun Acasha menguatkan tekad. "Benar. Aku harus segera mendapatkan pekerjaan dan membahagiakan Mom, Dad, juga Gretta. Dengan begitu, kuharap, Mom tidak lagi marah padaku."
***
"Loh?! B-bagaimana bisa?? Tidak. Aku yakin tadi masih bersih. Kenapa ... kenapa sekarang seperti ini??"
Acasha panik membolak-balikkan gaun satin miliknya yang sudah ternoda tumpahan cat minyak warna hijau dan hitam hampir setengah bagian. Padahal, ia hanya pergi sebentar untuk mandi dan ketika ia kembali, tiba-tiba saja gaun elegan yang semula berwarna lilac itu, kini sudah tak terlihat seperti gaun, tapi kain lap bekas alas mengecat.
Acasha terduduk lesu di lantai, menggenggam gaun pemberian ayah yang tak lagi indah. Cat minyak yang masih basah pun menempel di kedua telapak tangannya.
Sedih, kesal, dan marah merongrong benaknya. Dalam satu entakan, Acasha bangkit dan menenteng gaun keluar kamar, menuju pintu kamar bercat merah di seberang kamarnya.
Tok tok tok.
Acasha menunggu si empu kamar membuka pintu. Tapi, tidak ada tanda-tanda suara dari dalam.
"Gretta, bisakah kamu buka pintunya?" panggil Acasha mengetuk pintu untuk kedua kali.
"Sedang apa di situ?" celetuk gadis berambut cokelat sebahu yang tiba-tiba muncul di puncak anak tangga.
Acasha memutar badan dan menunjukkan gaun yang sudah tak jelas rupanya.
"Kamu 'kan yang melakukan ini?" tanya Acasha tanpa menahan diri.
"Gimana kabar lo di sana?" Tanya seorang cowok dengan perawakan tinggi itu, ia meletakkan benda pipih berteknologi di telinganya, "Semuanya lancar, kan?" Tanyanya kemudian."He'em, gue baik." Jawabnya sekilas sebelum melanjutkan kalimatnya, "Vc ya, gue pen tau lo lagi ngapain sekarang."Akbar mangut-mangut, mengiyakan permintaan sang pujaan hati. Ia menekan ikon video call di layar ponselnya. Tidak berselang lama, monitor ponsel menampilkan sosok seorang gadis dengan rambut di kuncir kuda, berjalan santai di selasar gedung."Di mana, beb?" Cowok yang kerap di sapa Akbar memulai obrolan video tersebut, "sama Laura?"Kinan hanya mengangguk, lantas menggeser ponselnya hingga kamera menangkap sosok gadis yang sedang asik mengotak atik benda pipih berteknologi tinggi tersebut. "Habis kuliah nih, mau balik asrama.""Rafael mana, Bar?" Laura mendekatkan diri pada Kinan, ikut bergabung dalam obrolan kedua pasangan jarak jauh itu. "Dia sibuk, kah?""Rafael?" Kal
Nyonya besar keluarga Alibasyah itu memasuki ruangan seorang dokter yang tidak lain adalah putranya sendiri, Laurel. Wanita paruh baya tersebut melihat perubahan raut wajah penghuni ruangan, seperti nampak tidak ingin di kunjungi olehnya.Wanita paruh baya yang tidak lain adalah Indah, berjalan perlahan ke arah Laurel, lantas mendudukkan dirinya di kursi yang biasa di duduki oleh tamu yang berkunjung ke ruang kerja sang dokter. "Apa ... kamu tidak senang melihat Bunda berkunjung, Nak?"Laurel menatap sekilas, lantas mengalihkan pandangannya, berharap bahwa perasaan gundahnya pun ikut teralihkan, "Bunda ngapain di sini?" Ujarnya datar tanpa menunjukkan raut wajah apapun."Ah, Bunda hanya ingin melihat kamu saja," Indah menatap lekat manik mata Laurel, berusaha membaca isi pikiran yang lawan bicaranya. "Rasanya sudah lama Bunda tidak melihat kamu, rasanya ada yang hilang. Kamu sudah sangat jarang pulang ke rumah, Rel.""Belakangan ini aku cukup sibuk, Bun. Maaf," Laure
Dengan perasaan hancur, Aletta mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Hatinya panas, seakan ada baja panas yang tengah di redam di dalamnya. Gadis itu tidak bisa mengendalikan emosi yang kian membesar, menciptakan luka yang kelak menggangu pikiran.Matanya terasa panas hingga beberapa bulir bening berhasil meloloskan diri dari pelupuk mata yang indah itu. Pandangan Aletta mulai memburam akibat hambatan dari bulir bening tersebut, ia memutuskan untuk membawa mobilnya ke tempat yang sepi untuk menghindari kecelakaan beruntun yang berpotensi terjadi.Mobilnya mulai melambat kala memasuki jalanan hutan yang jarang di lalui penduduk lokal. Gadis dengan rambut yang di sanggul itu menepikan mobilnya, lantas menunduk ke arah setir mobil.Tangisnya tidak dapat ia sembunyikan lagi. Bulir-bulir bening itu berdesakan seakan tidak sabar untuk keluar dari pelupuk mata, hingga menciptakan lembab di area mata indahnya. Gadis itu menumpahkan segala tangis yang terdenga
Lenggang, hanya beberapa bunyi mendesing dari kenderaan yang sesekali lewat di jalanan itu. Tempat yang sunyi, tetapi damai untuk seseorang yang bisa saja mempunyai beban pikiran. Setidaknya, tempat itu jauh dari hiruk dan pikuknya dunia.Cowok dengan potongan rambut comma layaknya cowok Korea itu duduk termenung sembari menatap kosong hamparan danau yang membentang indah. Entah apa yang sedang menganggu pikirannya, cowok itu hanya terus menatap kosong ke arah danau. Bahkan, ia tidak menyadari kehadiran orang lain di dekatnya."Sepertinya kamu sedang dalam masalah, Rafael. Kamu bisa berbagi masalahnya denganku, kamu tahu? Aku pendengar sejati, loh." Cewek dengan rambut yang di sanggul itu menatap Rafael sejenak sebelum akhirnya ikut menatap danau.Suara itu membuyarkan lamunan Rafael, membuatnya kembali pada kenyataan dan tersadar bahwa ada orang lain di sekitarnya. Untuk sedetik berlalu, Rafael di buat terkejut karena kehadiran yang terkesan tiba-tiba, atau mungkinkah i
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore