Home / Urban / Rayuan Maut Para Tetanggaku / Bab 30. Pria Itu Lagi

Share

Bab 30. Pria Itu Lagi

last update Last Updated: 2025-08-21 20:41:21

Aku berlari menuju terminal, jantungku berdegup kencang, bukan cuma karena capek tapi juga karena suara Nadira yang terisak di telepon tadi. Udara malam Jakarta terasa pengap, bercampur aroma asap knalpot dan makanan dari warung pinggir jalan yang masih buka.

Lampu-lampu neon di sekitar terminal berkedip-kedip, menerangi kerumunan kecil orang yang lalu-lalang, sebagian buru-buru mengejar bus, sebagian lagi duduk lesu di trotoar dengan tas di samping mereka.

Aku sampai di depan konter yang Nadira sebutkan, tapi dia tidak ada di sana. Mataku menyisir sekitar, mencari sosoknya di antara orang-orang yang berjalan cepat atau berdiri sambil main ponsel.

Di dekat konter, ada toilet umum dengan pintu kayu yang sudah usang, catnya mengelupas. Mungkin dia di sana?

Aku melangkah mendekat, berhati-hati karena luka di lenganku masih terasa nyeri setiap kali bergerak. Punggungku juga masih memar, membuatku meringis setiap melangkah.

Saat aku mendekati pintu toilet, tiba-tiba ada tangan yang menep
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 191. Hasrat yang terperangkap

    Aku menjatuhkan tubuhku di sofa apartemen dengan napas yang masih tidak beraturan. Langit-langit ruangan seolah berputar, namun bukan karena pusing, melainkan karena bayang-bayang yang terus menghantuiku.Sial. Kenapa pikiranku jadi sejauh ini? Wajah Sabrina yang berkeringat saat latihan tadi, lekuk tubuh Tante Diana yang bugar, hingga aroma sabun dari kulit lembap Mbak Susi... semuanya berputar-putar menciptakan imajinasi kotor yang tidak bisa kukendalikan."Ada apa denganku?" geramku sambil memukul bantal sofa. Aku selalu bangga dengan kontrol diriku sebagai seorang atlet. Tapi hari ini, aku merasa seperti remaja yang baru mengenal hormon.Berharap air dingin bisa membilas semua pikiran sampah ini, aku segera menuju kamar mandi. Kucuran air shower yang menusuk kulit sempat membuatku tenang sejenak. Namun, gairah itu tidak benar-benar padam, ia hanya bersembunyi di balik kesadaran tipisku.Setelah selesai mandi dan merasa lebih segar, sebuah ketukan kembali terdengar di pintu. Dengan

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 190. Gairah yang tiba-tiba muncul

    Setelah menghabiskan sarapan sehat pemberian Nenek Asih yang luar biasa lezat, aku merasa memiliki energi tambahan. Aku memutuskan untuk membereskan apartemen. Debu-debu sisa asap semalam aku bersihkan hingga lantai marmer itu mengilat kembali. Bagiku, kebersihan tempat tinggal adalah cerminan ketenangan pikiran, dan pagi ini aku butuh pikiran yang sangat tenang.Tepat saat aku sedang mengelap meja kerja, ponselku bergetar di atas sofa. Nama Sabrina muncul di layar."Halo, Sab?" sapaku."Kak Bima! Selamat pagi!" suara cerianya langsung memenuhi telingaku. "Kak, Papa tanya kapan Kakak bisa mulai melatih lagi di rumah? Papa bilang tubuhnya sudah mulai terasa kaku karena kelamaan libur gym. Kakak bisa datang hari ini?"Aku tersenyum. Tawaran ini adalah berkah di saat aku sedang mencari jalan untuk mandiri secara finansial. "Bisa, Sab. Kebetulan pagi ini jadwal Kakak kosong. Jam sembilan Kakak meluncur ke sana, ya?""Asyik! Aku tunggu ya, Kak. Kebetulan hari ini aku baru ada jadwal kuliah

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 189. Kebakaran tengah malam

    Malam telah larut, dan Jakarta mulai meredupkan bisingnya. Aku baru saja terlelap selama dua jam setelah kelelahan mengedit video konten pertamaku. Namun, di tengah lelapnya tidur, aku merasakan sesuatu yang tidak beres.Hidungku menangkap aroma yang sangat tidak asing yaitu bau sesuatu yang terbakar, tajam dan menyesakkan.Aku tersentak bangun. Jantungku berdegup kencang. Pikiran pertamaku adalah sabotase. Apakah Citra mengirim orang untuk membakar unitku?Aku segera melompat dari tempat tidur dan berlari menuju dapur. Nihil. Kompor mati, tidak ada kabel yang berasap. Namun, bau gosong itu semakin menyengat. Aku melangkah cepat menuju pintu keluar.Saat kubuka pintu apartemenku, lorong sudah mulai diselimuti kabut tipis berwarna kelabu. Aroma itu berasal dari unit di sebelah kanan, tepat di depan unitku.Tanpa membuang waktu, aku berlari ke pintu itu dan menggedornya dengan keras."Permisi! Ada orang di dalam? Kebakaran! Buka pintunya!" teriakku sekuat tenaga.Aku menempelkan telinga

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 188. Masalah semakin banyak

    Siang hari, suasana apartemenku tidak lagi sesunyi biasanya. Di atas meja ruang tamu, berserakan beberapa kotak yang baru saja tiba dari jasa pengiriman daring.Sebuah tripod yang kokoh, ring light berdiameter besar, serta mikrofon nirkabel yang disarankan oleh Ardi kini berada di hadapanku. Aku menatap benda-benda itu dengan perasaan campur aduk; antara ragu dan harapan yang membuncah.Uang tabunganku yang tersisa kugunakan untuk modal ini. Aku teringat kata-kata Ardi semalam: "Bim, orang nggak beli cuma karena otot lo gede, tapi karena mereka percaya sama cerita dan edukasi lo."Aku mulai merakit perlengkapan itu satu per satu. Fokusku hanya satu: Ibu dan Alisa. Aku tidak ingin lagi terjebak dalam dilema identitasku atau tawaran-tawaran yang terasa seperti utang budi. Aku ingin setiap rupiah yang kukirim ke Bandung adalah hasil keringatku sendiri, bukan dari saku pria yang masih harus menyembunyikan identitasku demi menjaga perasaan orang lain.Setelah semua alat siap, aku memutuska

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 187. Tidak tega

    Mobil mewah Tante Sarah melaju tenang menembus kemacetan Jakarta. Di dalamnya, aku duduk dengan perasaan yang tidak menentu. Tante Sarah terus bercerita tentang betapa bahagianya dia melihat Om Adrian pulih, sementara aku hanya menanggapi dengan senyum tipis yang dipaksakan. Ada beban yang tiba-tiba terasa sangat berat di pundakku setelah melihat ketulusan wanita ini.Kami sampai di sebuah mall eksklusif di kawasan Jakarta Selatan. Di toko peralatan olahraga kelas atas, Tante Sarah tampak sangat antusias memilihkan treadmill terbaik untuk Om Adrian."Bima, menurut kamu yang ini bagus tidak? Adrian suka yang fiturnya lengkap, tapi dokternya bilang jangan terlalu berat dulu," tanya Tante Sarah sambil menunjuk salah satu alat."Ini sudah sangat bagus, Tante. Kecepatannya bisa diatur dengan halus, cocok untuk pemulihan jantung," jawabku.Tepat saat kami sedang menunggu pelayan toko menyiapkan berkas pembayaran, seorang pria tua berpakaian rapi dengan rambut yang sudah memutih berjalan men

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 186. Kebohongan yang menyakitkan

    Aku baru saja mematikan mesin motor, namun pikiranku masih tertinggal di dua tempat yang berbeda: rumah sederhana di Bandung yang penuh dengan kebencian terpendam, dan rumah megah di Menteng yang dibangun di atas pondasi rahasia."Kak Bima? Kok malah bengong di parkiran?" suara Sabrina membuyarkan lamunanku.Gadis itu melangkah mendekat dengan senyum ceria yang selalu berhasil membuat hatiku sedikit lebih ringan. Ia mengenakan jaket hoodie kebesaran yang membuatnya tampak jauh lebih muda."Baru pulang dari Menteng, Sab," jawabku sambil melepas helm."Gimana makan malamnya? Tante Sarah itu orangnya emang ramah banget, kan? Dia sahabat dekat Mamaku juga," ucap Sabrina dengan nada polos.Aku tertegun sejenak. Tante Sarah. Nama itu kini terukir di kepalaku sebagai sosok yang baik namun tragis karena dibohongi. "Iya, dia sangat baik. Malah aku merasa nggak enak hati sudah merepotkan beliau."Sabrina tertawa kecil, ia menggandeng lenganku saat kami berjalan menuju lift. "Ngapain nggak enak?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status