Masuk“Anak gadun katanya hahaha.” Sontak Ardi tertawa lebih keras. “Gila sih, ini udah kayak sinetron yang suka ditonton ibu-ibu.”
Aku ikut tertawa, meski ada sedikit rasa aneh yang menggelitik di dadaku. Candaanku tadi tentang ibuku yang mungkin simpanan orang kaya terdengar terlalu konyol atau keterlaluan, tapi entah kenapa, ucapan itu terasa seperti menyentuh sesuatu yang tak diinginkan.
“Tapi nggak mungkin sih, bapak gue aja orang kampung sebelah. Dari gue bayi sampe dia meninggal pas gue kelas 2 SMA aja itu bapak sama ibu gue kayak orang kecintaan terus. Mana mungkin ibu gue jadi simpanan gadun,” kataku, masih sambil tersenyum, mencoba menepis pikiran itu.
Ardi mengangguk, tapi matanya masih menyipit nakal.
“Tapi, gimana kalau ternyata itu beneran?” tanyanya, nadanya setengah bercanda, setengah serius. Dia mencondongkan tubuh ke arahku, alisnya terangkat. “Maksud gue bukan soal ibu lo sama gadun, tapi soal lo anak konglomerat.”
“Dibilang bapak gue aja orang kampung sebelah. Dia cuma tukang kayu, mana mungkin konglomerat.” kataku sambil menatap Ardi dengan serius.
Namun, Ardi seperti masih kekeh pada pemikirannya. “Eh bukan gitu, kalau ternyata ibu lo yang orang kaya, tapi mungkin diusir dari keluarganya, kan bisa aja.”
Aku terdiam, masih menatap Ardi dengan serius sambil mengernyitkan dahi. Tapi, aku langsung menggeleng cepat, tawa kecil keluar dari mulutku. “Ngaco lo. Ibu gue juga orang kampung situ, nggak ada cerita aneh-aneh.”
Namun, ketika Ardi ingin kembali bersuara, tiba-tiba seseorang lebih dulu bersuara.
“Pagi semua, nanti kita ada meeting setelah makan siang ya,” katanya dengan tegas.
Dia adalah Renata Fransiska, leader tim kami, sosok yang disegani. Wajahnya yang cantik tapi tegas, dengan rambut panjang hitam yang selalu tersisir rapi, membuatnya terlihat seperti wanita yang tak bisa diganggu.
Hari ini, dia mengenakan blazer biru tua dan rok pensil yang memperlihatkan postur tubuhnya yang proporsional.
“Pagi, Mbak,” sapaku dan Ardi bersamaan.
Ardi buru-buru kembali ke mejanya, sementara aku juga langsung fokus pada layar komputer.
Tapi meski aku berusaha fokus pada pekerjaan, ucapan Ardi tadi seperti meninggalkan jejak di pikiranku.
Aku teringat tatapan ibuku yang selalu cemas setiap membahas orang kaya, seolah ada rahasia yang disimpan rapat-rapat. Tapi aku buru-buru mengusir pikiran itu.
‘Itu cuma candaan, Bim. Gak usah terlalu serius,’ gumamku dalam hati.
Kemudian aku langsung fokus pada pekerjaanku. Namun, lagi-lagi pikiranku tidak bisa fokus.
**
Sore menjelang malam, aku pulang ke apartemen dengan langkah lelah. Langit kota sudah jingga, dan suara klakson mobil mulai mereda.
Saat aku melangkah ke koridor lantai apartemenku, mataku tak sengaja melirik ke pintu unit Nadira.
Aku berhenti sejenak, menatap pintu itu lebih lama dari yang kuinginkan.
“Dia di apartemennya gak ya? Atau jangan-jangan dia lagi buat video baru?” pikirku bertanya-tanya.
Itu semua membuat jantungku berdegup lebih kencang, tapi aku buru-buru menggeleng dan masuk ke unitku sendiri.
“Bima, stop. Jangan mikirin dia mulu lah,” gumamku, menutup pintu dengan sedikit lebih keras dari biasanya.
Di dalam apartemen, aku mencoba mengalihkan perhatian dengan rutinitas biasa mandi, makan malam sederhana dari nasi dan telur goreng, lalu membuka laptop untuk memeriksa jadwal gym akhir pekan. Tapi saat aku berbaring di ranjang, pikiran tentang Nadira kembali menghantuiku.
Aku teringat bagaimana liarnya dia di video-video miliknya, gerakannya yang penuh hasrat dan sangat agresif, tatapannya yang seolah menembus layar, dan suaranya yang lembut tapi menggoda.
Tanpa sadar, tanganku meraih ponsel, dan aku membuka situs itu lagi. Aku mencari akun milik Nadira yang memiliki nama “NadySas”.
Aku ragu sejenak, tapi jari-jariku seolah punya kehendak sendiri. Aku klik salah satu videonya. Di layar, Nadira muncul dengan pakaian minim, duduk di sofa merah yang kini kukenali dengan baik.
Dia bergerak dengan penuh percaya diri, tangannya menyusuri tubuhnya sendiri, dan suaranya berbisik, “Ahh, kita senang-senang yuk malam ini …"
Aku menelan ludah, merasa darahku memanas. Tapi aku buru-buru mematikan ponsel, melemparkannya ke samping ranjang.
“Lo ngapain sih, Bima?” kataku pada diri sendiri, frustrasi.
Aku tak boleh terjebak dalam ini. Dia tetanggaku, jangan sampai aku buat masalah di sini kalau terbawa nafsu. Tempat ini yang paling murah dan dekat dengan kantor, kalau aku harus pindah karena bermasalah di sini, uang dari mana lagi buat aku bayar sewa?
Aku memejamkan mata, mencoba tidur, tapi bayangan Nadira tak juga pergi.
Apa aku harus melampiaskan hasratku dulu, agar aku bisa tenang?
Namun, tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggilku, suara itu terdengar mesra dan manja.
"Mas Bima … Mas ..."
Aku sangat mengenali suara itu.
Itu Nadira!
Aku langsung menoleh ke arah pintu kamarku. Dan seketika aku terkejut melihat Nadira berdiri di sana.
Dia berdiri dengan tatapan sayu, mengenakan pakaian "dinas" yang benar-benar menggoda iman.
“Nadira … kok bisa masuk ke sini?” tanyaku terbata, sambil cepat-cepat bangkit dari ranjang.
Namun, tiba-tiba dia sudah duduk di tepi ranjangku, menggenggam tanganku, matanya penuh kehangatan, bukan penuh hasrat seperti biasanya.
“Mas Bima, gimana sih. Kan tadi kamu yang suruh aku ke sini, kamu yang kasih aku password pintu apartemen kamu juga," katanya, suaranya lembut seperti angin.
Aku membelalakkan mata terkejut. Seketika aku menarik tanganku dari genggamannya. “Aku? Mana mungkin aku bilang begitu!”
Aku memang benar-benar tidak mengatakan apapun padanya. Bertemu saja belum hari ini.
Nadira menggenggam tanganku lagi, kali ini sambil mengusap lembut. “Ah kamu pasti lupa ya?”
Nadira mendorong tubuhku pelan untuk mengubah posisi dudukku jadi tidur. Dorongan yang mendadak itu membuatku tidak bisa menahan tubuhku.
“Ayo tidur, tadi kan kamu bilang kamu gak bisa tidur, Mas. Makanya kamu suruh aku ke sini buat kelonin kamu,” katanya sambil mulai mengambil posisi tidur di sampingku, tubuhnya miring menatap ke arahku.
Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Tubuhku mendadak terasa kaku, pikiranku seperti kosong.
Sementara Nadira terus mengusap dadaku. Posisinya yang seperti itu membuatku bisa melihat jelas belahan dadanya yang mulus itu. Perlahan aku mengalihkan pandanganku ke wajah Nadira.
Dan tiba-tiba, dia menunduk sambil memejamkan matanya.
Dia mau menciumku?!
Refleks aku ikut memejamkan mata.
Namun tiba-tiba—
KRING!!
Suara jam weker membuatku membuka mata lagi. Aku tersentak dan langsung duduk di ranjang dengan napas tersengal. Cahaya pagi menyelinap melalui tirai, dan aku menggosok wajahku, masih bingung.
“Hah? Gue mimpi?” gerutuku, jantungku masih berdegup kencang.
Aku terdiam, tenggorokanku terasa tersumbat. "Aku masih bingung, Om... maksudku, Ayah. Semua ini terlalu cepat.""Aku tahu. Kita punya banyak waktu untuk bicara nanti. Sekarang, ada seseorang yang menunggumu di bawah," ucap Om Adrian sambil tersenyum tipis.Aku turun ke lobi dengan perasaan yang campur aduk. Di sana, di dekat pintu keluar, berdiri Sabrina. Ia tidak lagi mengenakan masker atau topi. Ia berdiri dengan anggun, matanya berbinar saat melihatku."Kak Bima!" ia berlari dan memelukku di tengah keramaian lobi gedung. Kali ini, ia tidak perlu berpura-pura marah. Ia tidak perlu sembunyi."Semua sudah berakhir, Sab," bisikku di telinganya."Terima kasih sudah berjuang, Kak. Aku tahu Kakak orang baik," sahutnya sambil melepaskan pelukan dan menatapku dengan penuh cinta.Setelah badai di kantor notaris mereda dan Citra serta Laras digelandang oleh pihak kepolisian, suasana Jakarta terasa berbeda bagiku. Ketegangan yang selama ini mengikat pundakku perlahan mengendur, namun digantik
Pagi hari tiba dengan begitu cepat. Aku hanya tidur sekitar dua jam setelah keluar dari unit Laras. Tubuhku terasa berat, bukan karena kelelahan pasca-kontes, melainkan karena beban rahasia yang kini kusimpan di dalam tas ranselku yaitu map biru berisi dokumen asli milik Om Adrian.Tepat pukul tujuh pagi, sebuah kegaduhan terdengar dari koridor. Aku menempelkan telinga ke pintu."Bima! Bima, buka pintunya!" suara Laras terdengar melengking, penuh dengan nada panik yang tak terbendung. Gedoran di pintuku semakin keras.Aku menarik napas panjang, memasang wajah tanpa dosa, lalu membuka pintu. Laras berdiri di sana dengan rambut berantakan dan wajah pucat pasi. Ia masih mengenakan gaun tidur yang kulihat semalam, hanya ditutupi oleh outer tipis."Ada apa, Ras? Pagi-pagi sudah teriak," kataku dengan suara serak yang dibuat-buat."Dokumen itu... Map biru di lemariku... Kamu lihat, kan? Kamu yang mengambilnya, kan?!" Laras merangsek masuk, matanya liar mencari ke seluruh sudut ruang tamu ap
Pintu unit Laras tertutup dengan bunyi klik yang halus, namun bagiku suara itu terdengar seperti gerendel penjara. Aroma pengharum ruangan beraroma musk dan cendana langsung menyambutku, menciptakan atmosfer yang berat dan sensual.Laras tidak membuang waktu; ia segera berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada pintu, menatapku dengan mata yang sayu namun penuh gairah."Suamiku baru saja mengabari, urusannya di luar kota memakan waktu lebih lama. Mungkin seminggu lagi baru pulang," bisik Laras dengan suara serak. "Jadi, malam ini hanya ada aku, kamu, dan piala kemenanganmu itu, Bima."Aku meletakkan tas olahragaku di lantai. "Kamu tampak sudah sangat siap, Ras," kataku, berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang meski jantungku berdegup kencang karena harus bersandiwara dalam situasi sedekat ini.Laras melangkah mendekat. Ia mengenakan lingerie sutra tipis yang nyaris tidak menyembunyikan lekuk tubuhnya. Tangannya yang lentur mulai menjalar ke dadaku, menelusuri garis otot pectoral yang
Akhirnya tiba saatnya, hari yang di tunggu-tunggu selama ini akhirnya tiba. Aku merasa gugup karena ini pertama kalinya aku mengikuti body kontes. Aku tidak berharap bisa menang, aku hanya mencari pengalaman.Gedung pertunjukan pusat kota itu sudah dipenuhi oleh riuh rendah penonton dan dentuman musik house yang membakar semangat. Aroma tanning cream dan minyak otot menyengat di area belakang panggung, tempat puluhan pria bertubuh atletis sedang melakukan persiapan terakhir.Di tengah hiruk-pikuk itu, aku berdiri diam, memejamkan mata sambil memompa otot bahuku menggunakan resistance band."Rileks, Bim. Ototmu sudah 'pecah' semua definisinya. Tinggal jaga mentalmu tetap tajam di atas panggung," Mas Putra berbisik sambil membantuku mengoleskan lapisan terakhir minyak agar otot-ototku tampak lebih tegas di bawah lampu sorot.Aku menarik napas panjang. Di balik tirai sana, aku tahu ada dua kelompok orang yang menungguku. Kelompok pertama adalah para "ular" yang ingin merayakan kemenangan
Saat ini aku akan kembali fokus latihan, sebentar lagi saatnya lomba body kontes tiba. Walaupun pikiranku tidak menentu, tapi aku harus tetap semangat.Saat ini aku lebih fokus untuk melakukan siaran live di tok-tok dari pada harus berurusan dengan wanita-wanita di apartemen ini. Sementara itu demi misi ini, aku tidak melatih Om Adit dan Sabrina untuk sementara waktu, sampai situasinya kembali aman.Lantai gym Mas Putra masih terasa dingin saat aku tiba pukul lima pagi. Suara besi yang beradu dan aroma karet dari lantai beban menjadi satu-satunya pelipur lara bagi batinku yang sedang berperang. Esok adalah hari di mana Body Contest tingkat nasional itu digelar ajang yang seharusnya menjadi puncak prestasiku, namun kini terasa seperti sebuah misi penebusan dosa."Fokus, Bim! Jangan biarkan beban di pikiranmu lebih berat dari beban di tanganmu!" seru Mas Putra, suaranya menggelegar di tengah kesunyian pagi.Aku sedang berada di tengah sesi leg day yang brutal. Beban leg press sudah menc
Pak Andri membawaku ke luar, menjauh dari kerumunan orang. Aku berdiri di hadapan Pak Andri, pria yang kini menjadi satu-satunya peganganku untuk mengungkap kebenaran. Amarahku yang tadinya meledak-ledak kini mulai mendingin, berganti dengan perhitungan yang dingin dan tajam."Kalau begitu aku akan segera bertindak, Om. Citra harus segera di hancurkan," kataku penuh amarah."Jangan dulu hancurkan sekarang. Kita tidak bisa menyerang mereka secara langsung, Bima," ucap Pak Andri pelan, suaranya tenang namun sarat akan pengalaman. "Citra bukan wanita sembarangan. Dia memiliki akses ke banyak hal, termasuk orang-orang yang bisa mencelakaimu dalam sekejap. Jika kau menggunakan rekaman itu sekarang, dia bisa berkelit atau bahkan melenyapkan bukti itu sebelum sampai ke tangan hukum."Aku mengepalkan tangan, menatap lantai marmer yang dingin. "Tapi Om, dia sudah menghancurkan hidupku. Dia membakar tempat kerjaku, dia menjebakku dengan uang, dan dia membuatku membenci ayah kandungku sendiri."







