Home / Urban / Rayuan Maut Para Tetanggaku / Bab 181. Lomba body kontes

Share

Bab 181. Lomba body kontes

last update Last Updated: 2026-01-05 20:54:42

Akhirnya tiba saatnya, hari yang di tunggu-tunggu selama ini akhirnya tiba. Aku merasa gugup karena ini pertama kalinya aku mengikuti body kontes. Aku tidak berharap bisa menang, aku hanya mencari pengalaman.

Gedung pertunjukan pusat kota itu sudah dipenuhi oleh riuh rendah penonton dan dentuman musik house yang membakar semangat. Aroma tanning cream dan minyak otot menyengat di area belakang panggung, tempat puluhan pria bertubuh atletis sedang melakukan persiapan terakhir.

Di tengah hiruk-pikuk itu, aku berdiri diam, memejamkan mata sambil memompa otot bahuku menggunakan resistance band.

"Rileks, Bim. Ototmu sudah 'pecah' semua definisinya. Tinggal jaga mentalmu tetap tajam di atas panggung," Mas Putra berbisik sambil membantuku mengoleskan lapisan terakhir minyak agar otot-ototku tampak lebih tegas di bawah lampu sorot.

Aku menarik napas panjang. Di balik tirai sana, aku tahu ada dua kelompok orang yang menungguku. Kelompok pertama adalah para "ular" yang ingin merayakan kemenangan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 188. Masalah semakin banyak

    Siang hari, suasana apartemenku tidak lagi sesunyi biasanya. Di atas meja ruang tamu, berserakan beberapa kotak yang baru saja tiba dari jasa pengiriman daring.Sebuah tripod yang kokoh, ring light berdiameter besar, serta mikrofon nirkabel yang disarankan oleh Ardi kini berada di hadapanku. Aku menatap benda-benda itu dengan perasaan campur aduk; antara ragu dan harapan yang membuncah.Uang tabunganku yang tersisa kugunakan untuk modal ini. Aku teringat kata-kata Ardi semalam: "Bim, orang nggak beli cuma karena otot lo gede, tapi karena mereka percaya sama cerita dan edukasi lo."Aku mulai merakit perlengkapan itu satu per satu. Fokusku hanya satu: Ibu dan Alisa. Aku tidak ingin lagi terjebak dalam dilema identitasku atau tawaran-tawaran yang terasa seperti utang budi. Aku ingin setiap rupiah yang kukirim ke Bandung adalah hasil keringatku sendiri, bukan dari saku pria yang masih harus menyembunyikan identitasku demi menjaga perasaan orang lain.Setelah semua alat siap, aku memutuska

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 187. Tidak tega

    Mobil mewah Tante Sarah melaju tenang menembus kemacetan Jakarta. Di dalamnya, aku duduk dengan perasaan yang tidak menentu. Tante Sarah terus bercerita tentang betapa bahagianya dia melihat Om Adrian pulih, sementara aku hanya menanggapi dengan senyum tipis yang dipaksakan. Ada beban yang tiba-tiba terasa sangat berat di pundakku setelah melihat ketulusan wanita ini.Kami sampai di sebuah mall eksklusif di kawasan Jakarta Selatan. Di toko peralatan olahraga kelas atas, Tante Sarah tampak sangat antusias memilihkan treadmill terbaik untuk Om Adrian."Bima, menurut kamu yang ini bagus tidak? Adrian suka yang fiturnya lengkap, tapi dokternya bilang jangan terlalu berat dulu," tanya Tante Sarah sambil menunjuk salah satu alat."Ini sudah sangat bagus, Tante. Kecepatannya bisa diatur dengan halus, cocok untuk pemulihan jantung," jawabku.Tepat saat kami sedang menunggu pelayan toko menyiapkan berkas pembayaran, seorang pria tua berpakaian rapi dengan rambut yang sudah memutih berjalan men

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 186. Kebohongan yang menyakitkan

    Aku baru saja mematikan mesin motor, namun pikiranku masih tertinggal di dua tempat yang berbeda: rumah sederhana di Bandung yang penuh dengan kebencian terpendam, dan rumah megah di Menteng yang dibangun di atas pondasi rahasia."Kak Bima? Kok malah bengong di parkiran?" suara Sabrina membuyarkan lamunanku.Gadis itu melangkah mendekat dengan senyum ceria yang selalu berhasil membuat hatiku sedikit lebih ringan. Ia mengenakan jaket hoodie kebesaran yang membuatnya tampak jauh lebih muda."Baru pulang dari Menteng, Sab," jawabku sambil melepas helm."Gimana makan malamnya? Tante Sarah itu orangnya emang ramah banget, kan? Dia sahabat dekat Mamaku juga," ucap Sabrina dengan nada polos.Aku tertegun sejenak. Tante Sarah. Nama itu kini terukir di kepalaku sebagai sosok yang baik namun tragis karena dibohongi. "Iya, dia sangat baik. Malah aku merasa nggak enak hati sudah merepotkan beliau."Sabrina tertawa kecil, ia menggandeng lenganku saat kami berjalan menuju lift. "Ngapain nggak enak?

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 185. Pergi ke Bandung

    Pagi itu, udara Bandung yang sejuk menyambutku saat aku memacu motorku memasuki jalanan aspal menuju rumah Ibu. Perjalanan dari Jakarta yang memakan waktu beberapa jam tidak terasa melelahkan karena pikiranku jauh lebih sibuk daripada deru mesin motor di bawahku. Ada kegelisahan yang tak kunjung padam sejak kejadian di kantor notaris tempo hari.Saat aku sampai di depan rumah, Ibu sedang menyapu halaman. Ia tampak terkejut melihatku turun dari motor dengan jaket yang masih berdebu. Meskipun aku membawakan beberapa buah tangan dan mencoba tersenyum sehangat mungkin, mimik wajah Ibu tetap datar. Ada sesuatu yang kaku dalam tatapannya, seolah ia selalu memasang tameng setiap kali aku pulang membawa aura Jakarta."Kamu pulang nggak bilang-bilang, Bim," ucap Ibu tanpa ekspresi sambil menerima plastik buah dari tanganku. Ia tidak memelukku, hanya berbalik masuk ke dalam rumah.Aku terdiam sejenak di samping motorku. Rencana yang kususun sepanjang jalan—tentang bagaimana aku akan menjelaskan

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 184. Kebenaran hidupk

    Aku terdiam, tenggorokanku terasa tersumbat. "Aku masih bingung, Om... maksudku, Ayah. Semua ini terlalu cepat.""Aku tahu. Kita punya banyak waktu untuk bicara nanti. Sekarang, ada seseorang yang menunggumu di bawah," ucap Om Adrian sambil tersenyum tipis.Aku turun ke lobi dengan perasaan yang campur aduk. Di sana, di dekat pintu keluar, berdiri Sabrina. Ia tidak lagi mengenakan masker atau topi. Ia berdiri dengan anggun, matanya berbinar saat melihatku."Kak Bima!" ia berlari dan memelukku di tengah keramaian lobi gedung. Kali ini, ia tidak perlu berpura-pura marah. Ia tidak perlu sembunyi."Semua sudah berakhir, Sab," bisikku di telinganya."Terima kasih sudah berjuang, Kak. Aku tahu Kakak orang baik," sahutnya sambil melepaskan pelukan dan menatapku dengan penuh cinta.Setelah badai di kantor notaris mereda dan Citra serta Laras digelandang oleh pihak kepolisian, suasana Jakarta terasa berbeda bagiku. Ketegangan yang selama ini mengikat pundakku perlahan mengendur, namun digantik

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 183. Permainan berakhir

    Pagi hari tiba dengan begitu cepat. Aku hanya tidur sekitar dua jam setelah keluar dari unit Laras. Tubuhku terasa berat, bukan karena kelelahan pasca-kontes, melainkan karena beban rahasia yang kini kusimpan di dalam tas ranselku yaitu map biru berisi dokumen asli milik Om Adrian.Tepat pukul tujuh pagi, sebuah kegaduhan terdengar dari koridor. Aku menempelkan telinga ke pintu."Bima! Bima, buka pintunya!" suara Laras terdengar melengking, penuh dengan nada panik yang tak terbendung. Gedoran di pintuku semakin keras.Aku menarik napas panjang, memasang wajah tanpa dosa, lalu membuka pintu. Laras berdiri di sana dengan rambut berantakan dan wajah pucat pasi. Ia masih mengenakan gaun tidur yang kulihat semalam, hanya ditutupi oleh outer tipis."Ada apa, Ras? Pagi-pagi sudah teriak," kataku dengan suara serak yang dibuat-buat."Dokumen itu... Map biru di lemariku... Kamu lihat, kan? Kamu yang mengambilnya, kan?!" Laras merangsek masuk, matanya liar mencari ke seluruh sudut ruang tamu ap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status