Masuk“Kenapa gue bisa sampai mimpiin dia sih?” gerutuku, merasa frustasi.
Aku melirik jam dinding, sudah pukul enam lebih.
Aku segera berlari ke kamar mandi, gara-gara mimpi sialan itu hampir saja aku kesiangan.
Mimpi itu terasa sangat nyata, kalau saja suara alarm jam weker tidak berbunyi, pasti pagi ini aku bisa mimpi basah.
Setelah selesai mandi, aku sarapan roti tawar sisa kemarin, lalu buru-buru keluar apartemen menuju halte bus. Saat melewati unitnya, jantungku berdetak kencang, takutnya tahu-tahu dia nongol membuka pintu.
Gara-gara memikirkan itu, membuat bulu kudukku berdiri dan aku segera berlari menuju lift.
Sampai di kantor, aku langsung duduk di meja dan menyalakan komputer. Tapi pikiranku masih melayang ke mimpi tadi.
Ardi, yang seperti biasa datang tepat waktu, langsung mendekatiku dengan kopi di tangan. “Pagi, Bim! Kok muka lo kusut gitu, gak mungkin kan nonton bokep sampai pagi? Atau masih mikirin lu sebenernya anak konglomerat?”
Aku menggeleng, tapi dalam hati aku berfikir, mungkin aku bisa cerita sedikit ke Ardi. Siapa tahu dia bisa membantuku dan memberikan saran.
“Eh, Di. Gue mau tanya. Kalau lu kenal cewek, terus sampai kebawa mimpi, itu tandanya apa?”
Ardi langsung nyengir lebar, matanya berbinar seperti menemukan mainan baru. “Wah, wah, wah! Akhirnya lo punya gebetan baru ya? Itu tandanya lo naksir, Bim! Atau minimal, nafsu lo lagi tinggi-tingginya sama dia. Cerita dong, siapa ceweknya? Cantik? Bodynya gimana?”
Aku menggeleng sambil tertawa kecil, tapi agak canggung. “Apaan sih. Gue cuma penasaran aja. Maksud gue, gue baru kenal dia, tapi mimpi gue tadi malam ... gila, rasanya kayak nyata.”
Ardi duduk di tepi mejaku, menyilangkan tangan. “Itu artinya lo beneran naksir sama dia, lo harus deketin dia, Bim!”
“Gimana caranya?” tanyaku polos, seperti orang yang sama sekali tidak punya pengalaman dengan percintaan.
“Lah kok lo mendadak bloon sih. Kemaren deketin RIna aja bisa,” kata Ardi sambil tertawa. “Gini, gue dulu juga pernah awalnya cuma mimpi doang, tapi gue langsung gerak gak diem aja. Kebetulan dia anak kampus gue, jadi gue ajak ngopi, chat setiap hari, terus boom! Jadian.”
Aku mengernyit, berfikir sejenak. “Tapi cewek ini beda, Di. Gue gak tahu gimana cara deketinnya. Dia ... kayaknya lebih berpengalaman gitu, gue takut salah langkah.”
Ardi tertawa lepas, menepuk pundakku. “Beda gimana? Semua cewek sama aja, Bim. Lo harus yakin. Emangnya dia cewek mana? Orang kantor bukan?”
“Bukan anak kantor.” Aku menggeleng pelan sambil tersenyum kecut. “Dia tetangga gue di apartemen.”
Ardi mendekat, matanya menyipit penuh intrik. “Wah, tetangga? Makin gampang dong! Lo bisa sering-sering modus kan.”
Aku kembali menggeleng. “Gue malah takut nanti jadi masalah di sana.”
Ardi berdecak pelan. “Gak akan lah. Udah gede gini masak masih ngurusin urusan orang lain.”
“Ya kan siapa tau. Gue kan pendatang juga di situ,” sanggahku lagi.
“Yaelah, mereka juga pendatang paling.” Dia berhenti sejenak, lalu mencondongkan tubuhnya padaku. “Atau mau gua ajarin sesuatu gak?”
“Apaan?” tanyaku sedikit penasaran.
Ardi langsung membisikkan sesuatu di telingaku. Kata-katanya membuatku langsung membelalak.
“Gila lu? Yang bener aja, masa gue begitu?!” kataku agak keras, tapi buru-buru melirik sekitar agar tidak ada yang mendengar.
Ardi nyengir lebar. “Udah gak apa-apa, siapa tahu berhasil, kan?”
Aku menggelengkan kepala, tapi dalam hati aku berfikir. Cara Ardi terdengar gila, tapi ... agak menantang juga.
**
Sore itu, aku pulang ke apartemen dengan kepala penuh pikiran. Aku teringat obrolan dengan Ardi tadi, mungkin aku bisa memakai caranya.
Dia membisikan sesuatu yaitu dengan pura-pura numpang ke toilet karena toiletku lagi rusak atau diperbaiki kedengarannya memang konyol, tapi entah kenapa aku penasaran.
“Kalau gue coba, kira-kira dia bakal sadar gak ya kalau gue cuma modus?” gumamku dalam hati.
Aku duduk di sofa, sambil ngupas jeruk berusaha melupakan semuanya.
Tapi tiba-tiba, terdengar suara pintu apartemen diketuk.
Tok! Tok! Tok!
Suaranya tidak terlalu keras, dengan agak malas, aku bangun dan membuka pintu. Dan seketika, aku terkejut setengah mati. Aku sedang memikirkannya, tapi tiba-tiba orangnya muncul.
Nadira berdiri di sana, tersenyum manis sambil bawa sekotak bolu kukus yang wangi.
“Halo, Mas Bima! Ini buat Mas, sebagai ucapan terima kasih kemarin. Maaf ya, baru sempet bikin sekarang.”
Aku terpaku, mataku langsung ke arah kotak itu, tapi justru aku menatap ke arah lain. Tepat di atas kotak bolu itu, terdapat bolu yang sepertinya lebih lembut dan kenyal.
Hari ini dia memakai daster pres body yang sangat tipis, yang menempel ketat di lekuk tubuhnya.
Aku bisa melihat dengan jelas, dia tidak memakai bra. Bentuk dada besarnya terlihat samar-samar di balik kain tipis itu, naik turun pelan saat dia bernapas.
Glek!
Aku menelan ludah, lalu berusaha fokus ke wajahnya.
“Eh, Nadira. Makasih ya, padahal nggak usah repot-repot,” kataku sambil menerima kotak itu dengan tangan sedikit gemetar.
Nadira tersenyum lebih lebar, matanya menatapku tajam. Aku sadar dia memperhatikan arah pandanganku ini, aku berusaha tidak melihat bolunya yang lain tapi nyatanya justru aku semakin melotot ke arahnya.
Sepertinya memang sengaja, dia berniat memperlihatkan bolu putihnya padaku, bukan bolu kukus yang ia bawa.
Saat aku benar-benar melihat bolu putihnya, dia langsung meluruskan postur tubuhnya, membuat daster itu semakin pres dan memperlihatkan bentuk pinggang rampingnya.
“Ah, nggak repot kok, Mas. Lagian, Mas kemarin udah bener-bener membantuku. Kalau nggak ada Mas, aku pasti kesusahan," katanya sambil sengaja menarik daster di bagian dadanya, sehingga sebagian buah dadanya terlihat.
Aku tersenyum kaku, berusaha tidak melihatnya, “Iya, Nadira. Senang bisa bantu.”
“Kalau bolunya kurang nanti bilang aja ya, Mas. Aku kasih lagi nanti,” katanya sambil sedikit membusungkan dadanya.
Aku buru-buru menggelengkan kepala, “Eh nggak kok, ini udah cukup.”
Namun, tiba-tiba dia justru berkata, “Atau aku kasih sekarang aja gimana? Biar gak nunggu nanti-nanti lagi.”
Aku mengernyitkan dahi, tiba-tiba aku merasa aneh. Rasanya tubuhku langsung panas dingin, kakiku terasa membeku sama sekali tidak bisa bergerak. “M–maksudnya gima—”
Belum selesai aku bicara, Nadira justru langsung mendorong tubuhku masuk sambil mencium bibirku dengan rakus. Tangannya menarik belakang kepalaku, agar aku tidak melepaskan ciumannya.
“Hmpp …”
Aku terdiam, tenggorokanku terasa tersumbat. "Aku masih bingung, Om... maksudku, Ayah. Semua ini terlalu cepat.""Aku tahu. Kita punya banyak waktu untuk bicara nanti. Sekarang, ada seseorang yang menunggumu di bawah," ucap Om Adrian sambil tersenyum tipis.Aku turun ke lobi dengan perasaan yang campur aduk. Di sana, di dekat pintu keluar, berdiri Sabrina. Ia tidak lagi mengenakan masker atau topi. Ia berdiri dengan anggun, matanya berbinar saat melihatku."Kak Bima!" ia berlari dan memelukku di tengah keramaian lobi gedung. Kali ini, ia tidak perlu berpura-pura marah. Ia tidak perlu sembunyi."Semua sudah berakhir, Sab," bisikku di telinganya."Terima kasih sudah berjuang, Kak. Aku tahu Kakak orang baik," sahutnya sambil melepaskan pelukan dan menatapku dengan penuh cinta.Setelah badai di kantor notaris mereda dan Citra serta Laras digelandang oleh pihak kepolisian, suasana Jakarta terasa berbeda bagiku. Ketegangan yang selama ini mengikat pundakku perlahan mengendur, namun digantik
Pagi hari tiba dengan begitu cepat. Aku hanya tidur sekitar dua jam setelah keluar dari unit Laras. Tubuhku terasa berat, bukan karena kelelahan pasca-kontes, melainkan karena beban rahasia yang kini kusimpan di dalam tas ranselku yaitu map biru berisi dokumen asli milik Om Adrian.Tepat pukul tujuh pagi, sebuah kegaduhan terdengar dari koridor. Aku menempelkan telinga ke pintu."Bima! Bima, buka pintunya!" suara Laras terdengar melengking, penuh dengan nada panik yang tak terbendung. Gedoran di pintuku semakin keras.Aku menarik napas panjang, memasang wajah tanpa dosa, lalu membuka pintu. Laras berdiri di sana dengan rambut berantakan dan wajah pucat pasi. Ia masih mengenakan gaun tidur yang kulihat semalam, hanya ditutupi oleh outer tipis."Ada apa, Ras? Pagi-pagi sudah teriak," kataku dengan suara serak yang dibuat-buat."Dokumen itu... Map biru di lemariku... Kamu lihat, kan? Kamu yang mengambilnya, kan?!" Laras merangsek masuk, matanya liar mencari ke seluruh sudut ruang tamu ap
Pintu unit Laras tertutup dengan bunyi klik yang halus, namun bagiku suara itu terdengar seperti gerendel penjara. Aroma pengharum ruangan beraroma musk dan cendana langsung menyambutku, menciptakan atmosfer yang berat dan sensual.Laras tidak membuang waktu; ia segera berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada pintu, menatapku dengan mata yang sayu namun penuh gairah."Suamiku baru saja mengabari, urusannya di luar kota memakan waktu lebih lama. Mungkin seminggu lagi baru pulang," bisik Laras dengan suara serak. "Jadi, malam ini hanya ada aku, kamu, dan piala kemenanganmu itu, Bima."Aku meletakkan tas olahragaku di lantai. "Kamu tampak sudah sangat siap, Ras," kataku, berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang meski jantungku berdegup kencang karena harus bersandiwara dalam situasi sedekat ini.Laras melangkah mendekat. Ia mengenakan lingerie sutra tipis yang nyaris tidak menyembunyikan lekuk tubuhnya. Tangannya yang lentur mulai menjalar ke dadaku, menelusuri garis otot pectoral yang
Akhirnya tiba saatnya, hari yang di tunggu-tunggu selama ini akhirnya tiba. Aku merasa gugup karena ini pertama kalinya aku mengikuti body kontes. Aku tidak berharap bisa menang, aku hanya mencari pengalaman.Gedung pertunjukan pusat kota itu sudah dipenuhi oleh riuh rendah penonton dan dentuman musik house yang membakar semangat. Aroma tanning cream dan minyak otot menyengat di area belakang panggung, tempat puluhan pria bertubuh atletis sedang melakukan persiapan terakhir.Di tengah hiruk-pikuk itu, aku berdiri diam, memejamkan mata sambil memompa otot bahuku menggunakan resistance band."Rileks, Bim. Ototmu sudah 'pecah' semua definisinya. Tinggal jaga mentalmu tetap tajam di atas panggung," Mas Putra berbisik sambil membantuku mengoleskan lapisan terakhir minyak agar otot-ototku tampak lebih tegas di bawah lampu sorot.Aku menarik napas panjang. Di balik tirai sana, aku tahu ada dua kelompok orang yang menungguku. Kelompok pertama adalah para "ular" yang ingin merayakan kemenangan
Saat ini aku akan kembali fokus latihan, sebentar lagi saatnya lomba body kontes tiba. Walaupun pikiranku tidak menentu, tapi aku harus tetap semangat.Saat ini aku lebih fokus untuk melakukan siaran live di tok-tok dari pada harus berurusan dengan wanita-wanita di apartemen ini. Sementara itu demi misi ini, aku tidak melatih Om Adit dan Sabrina untuk sementara waktu, sampai situasinya kembali aman.Lantai gym Mas Putra masih terasa dingin saat aku tiba pukul lima pagi. Suara besi yang beradu dan aroma karet dari lantai beban menjadi satu-satunya pelipur lara bagi batinku yang sedang berperang. Esok adalah hari di mana Body Contest tingkat nasional itu digelar ajang yang seharusnya menjadi puncak prestasiku, namun kini terasa seperti sebuah misi penebusan dosa."Fokus, Bim! Jangan biarkan beban di pikiranmu lebih berat dari beban di tanganmu!" seru Mas Putra, suaranya menggelegar di tengah kesunyian pagi.Aku sedang berada di tengah sesi leg day yang brutal. Beban leg press sudah menc
Pak Andri membawaku ke luar, menjauh dari kerumunan orang. Aku berdiri di hadapan Pak Andri, pria yang kini menjadi satu-satunya peganganku untuk mengungkap kebenaran. Amarahku yang tadinya meledak-ledak kini mulai mendingin, berganti dengan perhitungan yang dingin dan tajam."Kalau begitu aku akan segera bertindak, Om. Citra harus segera di hancurkan," kataku penuh amarah."Jangan dulu hancurkan sekarang. Kita tidak bisa menyerang mereka secara langsung, Bima," ucap Pak Andri pelan, suaranya tenang namun sarat akan pengalaman. "Citra bukan wanita sembarangan. Dia memiliki akses ke banyak hal, termasuk orang-orang yang bisa mencelakaimu dalam sekejap. Jika kau menggunakan rekaman itu sekarang, dia bisa berkelit atau bahkan melenyapkan bukti itu sebelum sampai ke tangan hukum."Aku mengepalkan tangan, menatap lantai marmer yang dingin. "Tapi Om, dia sudah menghancurkan hidupku. Dia membakar tempat kerjaku, dia menjebakku dengan uang, dan dia membuatku membenci ayah kandungku sendiri."







