Share

Bab 83. Resign

Penulis: Galaxybimasakti
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-31 19:14:19

Beberapa hari ini, lembur jadi rutinitas. Pulang malam, kadang pukul dua belas. Untung ada Ardi yang mengantarku, atau Mbak Renata kalau kita pulang bareng. Tapi aku tidak mau merepotkan terus. Live streaming pun terhenti. Bahkan di hari weekend, Pak Hadi memintaku untuk tetap kerja karena proyek Bandung harus segera selesai.

Kerja di hari weekend hanya diberikan makanan tapi gaji bulanan tetap sama, tidak bertambah sama sekali. Malah aku harus mengeluarkan uang, jadi aku putuskan hari itu aku akan resign. Memang sudah aku rencanakan beberapa hari yang lalu.

Kerja capek dari pagi sampai malam tapi penghasilannya tetap sama, sementara aku terpaksa harus pinjam uang pada Mbak Dini untuk sekolah Alisa yang sebentar lagi lulus. Yang sudah tahu aku akan resign cuma Ardi, aku sudah membuat surat pengunduran diri dengan alasan aku akan kerja dikampung halamanku agar bisa merawat ibu.

Hari itu di kantor, sekitar pukul sebelas siang aku ke ruangannya pak Hadi.

"Iya, Bim, ada apa?" tanya Pak Ha
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 186. Kebohongan yang menyakitkan

    Aku baru saja mematikan mesin motor, namun pikiranku masih tertinggal di dua tempat yang berbeda: rumah sederhana di Bandung yang penuh dengan kebencian terpendam, dan rumah megah di Menteng yang dibangun di atas pondasi rahasia."Kak Bima? Kok malah bengong di parkiran?" suara Sabrina membuyarkan lamunanku.Gadis itu melangkah mendekat dengan senyum ceria yang selalu berhasil membuat hatiku sedikit lebih ringan. Ia mengenakan jaket hoodie kebesaran yang membuatnya tampak jauh lebih muda."Baru pulang dari Menteng, Sab," jawabku sambil melepas helm."Gimana makan malamnya? Tante Sarah itu orangnya emang ramah banget, kan? Dia sahabat dekat Mamaku juga," ucap Sabrina dengan nada polos.Aku tertegun sejenak. Tante Sarah. Nama itu kini terukir di kepalaku sebagai sosok yang baik namun tragis karena dibohongi. "Iya, dia sangat baik. Malah aku merasa nggak enak hati sudah merepotkan beliau."Sabrina tertawa kecil, ia menggandeng lenganku saat kami berjalan menuju lift. "Ngapain nggak enak?

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 185. Pergi ke Bandung

    Pagi itu, udara Bandung yang sejuk menyambutku saat aku memacu motorku memasuki jalanan aspal menuju rumah Ibu. Perjalanan dari Jakarta yang memakan waktu beberapa jam tidak terasa melelahkan karena pikiranku jauh lebih sibuk daripada deru mesin motor di bawahku. Ada kegelisahan yang tak kunjung padam sejak kejadian di kantor notaris tempo hari.Saat aku sampai di depan rumah, Ibu sedang menyapu halaman. Ia tampak terkejut melihatku turun dari motor dengan jaket yang masih berdebu. Meskipun aku membawakan beberapa buah tangan dan mencoba tersenyum sehangat mungkin, mimik wajah Ibu tetap datar. Ada sesuatu yang kaku dalam tatapannya, seolah ia selalu memasang tameng setiap kali aku pulang membawa aura Jakarta."Kamu pulang nggak bilang-bilang, Bim," ucap Ibu tanpa ekspresi sambil menerima plastik buah dari tanganku. Ia tidak memelukku, hanya berbalik masuk ke dalam rumah.Aku terdiam sejenak di samping motorku. Rencana yang kususun sepanjang jalan—tentang bagaimana aku akan menjelaskan

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 184. Kebenaran hidupk

    Aku terdiam, tenggorokanku terasa tersumbat. "Aku masih bingung, Om... maksudku, Ayah. Semua ini terlalu cepat.""Aku tahu. Kita punya banyak waktu untuk bicara nanti. Sekarang, ada seseorang yang menunggumu di bawah," ucap Om Adrian sambil tersenyum tipis.Aku turun ke lobi dengan perasaan yang campur aduk. Di sana, di dekat pintu keluar, berdiri Sabrina. Ia tidak lagi mengenakan masker atau topi. Ia berdiri dengan anggun, matanya berbinar saat melihatku."Kak Bima!" ia berlari dan memelukku di tengah keramaian lobi gedung. Kali ini, ia tidak perlu berpura-pura marah. Ia tidak perlu sembunyi."Semua sudah berakhir, Sab," bisikku di telinganya."Terima kasih sudah berjuang, Kak. Aku tahu Kakak orang baik," sahutnya sambil melepaskan pelukan dan menatapku dengan penuh cinta.Setelah badai di kantor notaris mereda dan Citra serta Laras digelandang oleh pihak kepolisian, suasana Jakarta terasa berbeda bagiku. Ketegangan yang selama ini mengikat pundakku perlahan mengendur, namun digantik

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 183. Permainan berakhir

    Pagi hari tiba dengan begitu cepat. Aku hanya tidur sekitar dua jam setelah keluar dari unit Laras. Tubuhku terasa berat, bukan karena kelelahan pasca-kontes, melainkan karena beban rahasia yang kini kusimpan di dalam tas ranselku yaitu map biru berisi dokumen asli milik Om Adrian.Tepat pukul tujuh pagi, sebuah kegaduhan terdengar dari koridor. Aku menempelkan telinga ke pintu."Bima! Bima, buka pintunya!" suara Laras terdengar melengking, penuh dengan nada panik yang tak terbendung. Gedoran di pintuku semakin keras.Aku menarik napas panjang, memasang wajah tanpa dosa, lalu membuka pintu. Laras berdiri di sana dengan rambut berantakan dan wajah pucat pasi. Ia masih mengenakan gaun tidur yang kulihat semalam, hanya ditutupi oleh outer tipis."Ada apa, Ras? Pagi-pagi sudah teriak," kataku dengan suara serak yang dibuat-buat."Dokumen itu... Map biru di lemariku... Kamu lihat, kan? Kamu yang mengambilnya, kan?!" Laras merangsek masuk, matanya liar mencari ke seluruh sudut ruang tamu ap

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 182. Nafsu tertahan Laras

    Pintu unit Laras tertutup dengan bunyi klik yang halus, namun bagiku suara itu terdengar seperti gerendel penjara. Aroma pengharum ruangan beraroma musk dan cendana langsung menyambutku, menciptakan atmosfer yang berat dan sensual.Laras tidak membuang waktu; ia segera berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada pintu, menatapku dengan mata yang sayu namun penuh gairah."Suamiku baru saja mengabari, urusannya di luar kota memakan waktu lebih lama. Mungkin seminggu lagi baru pulang," bisik Laras dengan suara serak. "Jadi, malam ini hanya ada aku, kamu, dan piala kemenanganmu itu, Bima."Aku meletakkan tas olahragaku di lantai. "Kamu tampak sudah sangat siap, Ras," kataku, berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang meski jantungku berdegup kencang karena harus bersandiwara dalam situasi sedekat ini.Laras melangkah mendekat. Ia mengenakan lingerie sutra tipis yang nyaris tidak menyembunyikan lekuk tubuhnya. Tangannya yang lentur mulai menjalar ke dadaku, menelusuri garis otot pectoral yang

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 181. Lomba body kontes

    Akhirnya tiba saatnya, hari yang di tunggu-tunggu selama ini akhirnya tiba. Aku merasa gugup karena ini pertama kalinya aku mengikuti body kontes. Aku tidak berharap bisa menang, aku hanya mencari pengalaman.Gedung pertunjukan pusat kota itu sudah dipenuhi oleh riuh rendah penonton dan dentuman musik house yang membakar semangat. Aroma tanning cream dan minyak otot menyengat di area belakang panggung, tempat puluhan pria bertubuh atletis sedang melakukan persiapan terakhir.Di tengah hiruk-pikuk itu, aku berdiri diam, memejamkan mata sambil memompa otot bahuku menggunakan resistance band."Rileks, Bim. Ototmu sudah 'pecah' semua definisinya. Tinggal jaga mentalmu tetap tajam di atas panggung," Mas Putra berbisik sambil membantuku mengoleskan lapisan terakhir minyak agar otot-ototku tampak lebih tegas di bawah lampu sorot.Aku menarik napas panjang. Di balik tirai sana, aku tahu ada dua kelompok orang yang menungguku. Kelompok pertama adalah para "ular" yang ingin merayakan kemenangan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status