MasukAku baru saja mematikan mesin motor, namun pikiranku masih tertinggal di dua tempat yang berbeda: rumah sederhana di Bandung yang penuh dengan kebencian terpendam, dan rumah megah di Menteng yang dibangun di atas pondasi rahasia."Kak Bima? Kok malah bengong di parkiran?" suara Sabrina membuyarkan lamunanku.Gadis itu melangkah mendekat dengan senyum ceria yang selalu berhasil membuat hatiku sedikit lebih ringan. Ia mengenakan jaket hoodie kebesaran yang membuatnya tampak jauh lebih muda."Baru pulang dari Menteng, Sab," jawabku sambil melepas helm."Gimana makan malamnya? Tante Sarah itu orangnya emang ramah banget, kan? Dia sahabat dekat Mamaku juga," ucap Sabrina dengan nada polos.Aku tertegun sejenak. Tante Sarah. Nama itu kini terukir di kepalaku sebagai sosok yang baik namun tragis karena dibohongi. "Iya, dia sangat baik. Malah aku merasa nggak enak hati sudah merepotkan beliau."Sabrina tertawa kecil, ia menggandeng lenganku saat kami berjalan menuju lift. "Ngapain nggak enak?
Pagi itu, udara Bandung yang sejuk menyambutku saat aku memacu motorku memasuki jalanan aspal menuju rumah Ibu. Perjalanan dari Jakarta yang memakan waktu beberapa jam tidak terasa melelahkan karena pikiranku jauh lebih sibuk daripada deru mesin motor di bawahku. Ada kegelisahan yang tak kunjung padam sejak kejadian di kantor notaris tempo hari.Saat aku sampai di depan rumah, Ibu sedang menyapu halaman. Ia tampak terkejut melihatku turun dari motor dengan jaket yang masih berdebu. Meskipun aku membawakan beberapa buah tangan dan mencoba tersenyum sehangat mungkin, mimik wajah Ibu tetap datar. Ada sesuatu yang kaku dalam tatapannya, seolah ia selalu memasang tameng setiap kali aku pulang membawa aura Jakarta."Kamu pulang nggak bilang-bilang, Bim," ucap Ibu tanpa ekspresi sambil menerima plastik buah dari tanganku. Ia tidak memelukku, hanya berbalik masuk ke dalam rumah.Aku terdiam sejenak di samping motorku. Rencana yang kususun sepanjang jalan—tentang bagaimana aku akan menjelaskan
Aku terdiam, tenggorokanku terasa tersumbat. "Aku masih bingung, Om... maksudku, Ayah. Semua ini terlalu cepat.""Aku tahu. Kita punya banyak waktu untuk bicara nanti. Sekarang, ada seseorang yang menunggumu di bawah," ucap Om Adrian sambil tersenyum tipis.Aku turun ke lobi dengan perasaan yang campur aduk. Di sana, di dekat pintu keluar, berdiri Sabrina. Ia tidak lagi mengenakan masker atau topi. Ia berdiri dengan anggun, matanya berbinar saat melihatku."Kak Bima!" ia berlari dan memelukku di tengah keramaian lobi gedung. Kali ini, ia tidak perlu berpura-pura marah. Ia tidak perlu sembunyi."Semua sudah berakhir, Sab," bisikku di telinganya."Terima kasih sudah berjuang, Kak. Aku tahu Kakak orang baik," sahutnya sambil melepaskan pelukan dan menatapku dengan penuh cinta.Setelah badai di kantor notaris mereda dan Citra serta Laras digelandang oleh pihak kepolisian, suasana Jakarta terasa berbeda bagiku. Ketegangan yang selama ini mengikat pundakku perlahan mengendur, namun digantik
Pagi hari tiba dengan begitu cepat. Aku hanya tidur sekitar dua jam setelah keluar dari unit Laras. Tubuhku terasa berat, bukan karena kelelahan pasca-kontes, melainkan karena beban rahasia yang kini kusimpan di dalam tas ranselku yaitu map biru berisi dokumen asli milik Om Adrian.Tepat pukul tujuh pagi, sebuah kegaduhan terdengar dari koridor. Aku menempelkan telinga ke pintu."Bima! Bima, buka pintunya!" suara Laras terdengar melengking, penuh dengan nada panik yang tak terbendung. Gedoran di pintuku semakin keras.Aku menarik napas panjang, memasang wajah tanpa dosa, lalu membuka pintu. Laras berdiri di sana dengan rambut berantakan dan wajah pucat pasi. Ia masih mengenakan gaun tidur yang kulihat semalam, hanya ditutupi oleh outer tipis."Ada apa, Ras? Pagi-pagi sudah teriak," kataku dengan suara serak yang dibuat-buat."Dokumen itu... Map biru di lemariku... Kamu lihat, kan? Kamu yang mengambilnya, kan?!" Laras merangsek masuk, matanya liar mencari ke seluruh sudut ruang tamu ap
Pintu unit Laras tertutup dengan bunyi klik yang halus, namun bagiku suara itu terdengar seperti gerendel penjara. Aroma pengharum ruangan beraroma musk dan cendana langsung menyambutku, menciptakan atmosfer yang berat dan sensual.Laras tidak membuang waktu; ia segera berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada pintu, menatapku dengan mata yang sayu namun penuh gairah."Suamiku baru saja mengabari, urusannya di luar kota memakan waktu lebih lama. Mungkin seminggu lagi baru pulang," bisik Laras dengan suara serak. "Jadi, malam ini hanya ada aku, kamu, dan piala kemenanganmu itu, Bima."Aku meletakkan tas olahragaku di lantai. "Kamu tampak sudah sangat siap, Ras," kataku, berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang meski jantungku berdegup kencang karena harus bersandiwara dalam situasi sedekat ini.Laras melangkah mendekat. Ia mengenakan lingerie sutra tipis yang nyaris tidak menyembunyikan lekuk tubuhnya. Tangannya yang lentur mulai menjalar ke dadaku, menelusuri garis otot pectoral yang
Akhirnya tiba saatnya, hari yang di tunggu-tunggu selama ini akhirnya tiba. Aku merasa gugup karena ini pertama kalinya aku mengikuti body kontes. Aku tidak berharap bisa menang, aku hanya mencari pengalaman.Gedung pertunjukan pusat kota itu sudah dipenuhi oleh riuh rendah penonton dan dentuman musik house yang membakar semangat. Aroma tanning cream dan minyak otot menyengat di area belakang panggung, tempat puluhan pria bertubuh atletis sedang melakukan persiapan terakhir.Di tengah hiruk-pikuk itu, aku berdiri diam, memejamkan mata sambil memompa otot bahuku menggunakan resistance band."Rileks, Bim. Ototmu sudah 'pecah' semua definisinya. Tinggal jaga mentalmu tetap tajam di atas panggung," Mas Putra berbisik sambil membantuku mengoleskan lapisan terakhir minyak agar otot-ototku tampak lebih tegas di bawah lampu sorot.Aku menarik napas panjang. Di balik tirai sana, aku tahu ada dua kelompok orang yang menungguku. Kelompok pertama adalah para "ular" yang ingin merayakan kemenangan







