LOGINAldo terbangun pagi itu dengan tubuh yang terasa kaku. Lehernya sakit karena posisi tidur yang aneh, bersandar di meja kerjanya sepanjang malam. Cahaya dari layar laptop yang masih menyala menyilaukan matanya yang belum sepenuhnya terbuka. Ketika ia menatap layar, sebuah pesan aneh yang tidak ia ingat menuliskannya terpampang jelas:
"Selamat Datang di Level 1. Misi Anda Dimulai."
Aldo mengerutkan kening. Ia mengingat malam sebelumnya, saat ia menulis kode untuk proyek pribadi tentang sistem gamifikasi dalam kehidupan. Namun, ia yakin tidak pernah menambahkan fitur pesan semacam itu. Dengan rasa penasaran, Aldo membaca pesan itu lagi. Ia mencoba membedah kodenya, tetapi tidak menemukan apa pun yang mencurigakan.
"Bug? Atau mungkin aku lupa menyimpannya sebelum tertidur?" pikir Aldo sambil meregangkan tubuh.
Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, dan Aldo tahu ia harus bergegas jika tidak ingin terlambat ke kantor. Ia mematikan laptopnya, menyimpan kebingungan itu untuk nanti. Setelah mandi dan mengenakan pakaian kerja, ia melangkah keluar dari apartemennya di kompleks Arkavia Heights.
Namun, ketika ia baru saja menutup pintu apartemen, suara aneh terdengar di kepalanya.
"Ding! Misi Baru: Ucapkan selamat pagi kepada tetangga. Hadiah: 10 XP."
Aldo terhenti. Ia melihat sekeliling, mencoba mencari asal suara itu. Apakah ia bermimpi? Tidak ada orang lain di lorong apartemen, dan suara itu terdengar jelas di dalam kepalanya. Ia menggelengkan kepala, mencoba mengabaikannya.
Namun, saat ia bertemu Bu Narti, tetangga sebelahnya yang sedang menyiram tanaman di koridor, dorongan untuk mengikuti perintah itu muncul tanpa ia sadari.
"Selamat pagi, Bu Narti," katanya dengan senyum kecil.
Bu Narti menoleh, terkejut sejenak, lalu tersenyum. "Wah, pagi-pagi kok ramah sekali, Mas Aldo. Pagi juga!"
Saat itu, suara itu terdengar lagi.
"Ding! Selamat! Anda mendapatkan 10 XP."
Aldo membeku. Suara itu benar-benar nyata, dan ia mulai merasa ada sesuatu yang sangat salah. Dengan langkah cepat, ia menuju stasiun Arkavia Rail, berusaha mengabaikan apa yang baru saja terjadi.
Saat ia menunggu kereta di peron, suara itu kembali terdengar.
"Ding! Misi Baru: Bantu seseorang yang membutuhkan. Hadiah: 20 XP."
Aldo menoleh ke kanan dan kiri, mencoba mencari siapa yang berbicara, tetapi sekali lagi, tidak ada siapa pun. Ia mulai merasa sedikit gelisah, tetapi tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang pria tua sedang kesulitan membawa tas beratnya menaiki tangga peron.
"Apa-apaan ini? Tidak mungkin ini nyata," gumam Aldo.
Namun, dorongan untuk membantu pria tua itu begitu kuat hingga ia akhirnya mendekat. "Pak, boleh saya bantu bawa tasnya?" tanyanya.
Pria tua itu tersenyum lega. "Oh, terima kasih, Nak. Saya sudah capek dari tadi."
Aldo membawa tas pria itu sampai ke peron atas. Ketika selesai, suara itu kembali terdengar di kepalanya.
"Ding! Selamat! Anda mendapatkan 20 XP."
Aldo memegang kepalanya, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. "Ini seperti… seperti game. Tapi ini dunia nyata," gumamnya pelan. Ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya sampai ia bisa memeriksa kodenya lebih dalam.
Saat ia tiba di kantor Nexora Tech, Aldo merasa lega karena suasana kantor sedikit mengalihkan pikirannya. Ia duduk di meja kerjanya dan membuka email seperti biasa. Di sana, ia menemukan daftar tugas harian dari Pak Arman. Tugas utamanya hari itu adalah memperbaiki bug di modul pembayaran klien utama.
"Setidaknya ini sesuatu yang aku mengerti," gumam Aldo, mencoba menenangkan diri.
Namun, saat ia mulai mengetik baris pertama kode perbaikan, suara itu terdengar lagi.
"Ding! Misi Baru: Selesaikan satu baris kode. Hadiah: 15 XP."
Aldo berhenti mengetik. Ia memandang sekeliling, memastikan tidak ada yang memperhatikan. "Ini sudah mulai keterlaluan," pikirnya. Tapi rasa penasaran mengambil alih. Ia menyelesaikan satu baris kode dan menekan tombol simpan.
"Ding! Selamat! Anda mendapatkan 15 XP."
Aldo menutup laptopnya dengan cepat dan mencoba menarik napas panjang. Apa pun yang sedang terjadi, ini lebih dari sekadar kebetulan. Ia memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan Sita, satu-satunya orang yang cukup ia percaya.
Saat makan siang, mereka duduk di kantin kantor. Aldo menatap Sita dengan serius. "Gue perlu cerita sesuatu, tapi janji jangan ketawa."
Sita mengerutkan kening. "Oke, apa sih, Do? Kok serius banget?"
Aldo menceritakan apa yang ia alami sepanjang pagi—dari suara aneh di kepalanya hingga sistem XP yang tampaknya mengikuti setiap tindakannya. Ia bahkan menyebutkan bagaimana suara itu memberi misi yang terkait dengan apa yang ia lakukan.
Sita terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. "Lo serius, Do? Ini kayak cerita game RPG, tahu nggak?"
"Gue tahu kedengarannya gila, tapi gue nggak bercanda, Sit. Gue beneran dengar suara itu, dan setiap kali gue selesaikan misi, gue dapet XP."
Sita mencoba menahan tawanya, tetapi melihat keseriusan di wajah Aldo, ia mulai percaya bahwa ini bukan lelucon. "Kalau gitu, mungkin lo terlalu kecapean atau kebanyakan kerja sama kode lo. Kadang otak kita bisa nge-prank kita sendiri."
Aldo menggeleng. "Gue juga mikir gitu, tapi ini terasa nyata. Bahkan, kayaknya ini ada hubungannya sama program yang gue buat semalam."
Sita memandang Aldo dengan lebih serius. "Program lo? Maksud lo, kode buat sistem game yang lo ceritain kemarin itu?"
"Iya," jawab Aldo. "Tapi nggak mungkin program itu bisa memengaruhi gue secara fisik atau mental. Itu cuma simulasi."
Mereka terdiam sejenak. Sita akhirnya berkata, "Kalau gitu, lo harus cari tahu lebih banyak. Mungkin ada sesuatu yang nggak lo sadari tentang program itu."
Sore itu, Aldo mencoba bekerja seperti biasa, tetapi suara notifikasi itu terus muncul setiap kali ia menyelesaikan sesuatu. Meski ia masih bingung, bagian kecil dari dirinya mulai merasa terbiasa. Bahkan, ia merasa sedikit bangga setiap kali "level" virtualnya bertambah.
Namun, saat pulang kerja, hal yang lebih aneh terjadi. Ketika Aldo membuka laptopnya di rumah untuk memeriksa program itu, ia menemukan baris kode baru yang tidak pernah ia tulis:
"Integrasi berhasil. Sistem aktif. Realitas disinkronkan."
Jantung Aldo berdegup kencang. Ia mencoba mengingat apakah ia pernah menambahkan baris itu sebelumnya, tetapi ia yakin tidak. Baris itu tampak seperti sesuatu yang muncul dengan sendirinya.
Ia mencoba menonaktifkan program, tetapi setiap kali ia melakukannya, pesan yang sama muncul: "Sistem sedang berjalan. Tidak dapat dihentikan."
Malam itu, Aldo terjaga hingga larut, memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apakah ini hanya kesalahan kode? Atau apakah sesuatu yang lebih besar sedang bekerja di balik layar?
Ketika akhirnya ia memutuskan untuk tidur, sebuah notifikasi terakhir muncul di layar laptopnya:
"Ding! Misi Baru: Bersiaplah. Perjalanan baru akan dimulai."
Aldo hanya bisa memandang layar itu dengan rasa takut bercampur penasaran. Ia tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Suara helikopter yang menderu di atas langit Distrik Barat perlahan menjauh, namun ketegangan di dalam basemen tua sebuah toko perbaikan jam yang terbengkalai itu sama sekali tidak memudar. Cahaya hanya berasal dari pendar biru layar holografik Aldo dan senter kecil yang dipegang Sita. Di ruangan sempit yang berbau minyak pelumas dan debu itu, Aldo, Bima, dan Sita berusaha mengatur napas, menyadari bahwa hidup mereka sebagai warga negara biasa telah berakhir tepat saat Menara Jam itu runtuh.“Bim, kau masih punya sisa energi?” tanya Aldo pelan. Matanya tidak lepas dari data yang mengalir deras di hadapannya.Bima mendengus, sambil mengusap sisa debu di wajahnya. “Level 11 membuatku merasa seperti monster, Do. Luka-lukaku sembuh total, tapi mental duniaku masih kacau. Aku merasa bukan lagi manusia biasa.” Bima segera membuka layar statusnya, menyadari ia memiliki 5 poin statistik bebas dari kenaikan levelnya barusan. Tanpa banyak bicara, ia memasukkan seluruh poin itu ke Kekuatan, memb
Suara gemuruh dari bawah tanah Distrik Barat terdengar seperti raungan raksasa yang terbangun dari tidur panjangnya. Tanah bergetar hebat, meretakkan aspal jalanan tua di sekitar Menara Jam. Aldo, Bima, dan Sita berhasil melompat keluar dari pintu rahasia tepat sebelum tangga spiral di belakang mereka runtuh tertimbun puing beton. Debu tebal menyelimuti udara, bercampur dengan uap panas dari pipa-pipa yang pecah di bawah sana."Lari! Jangan menoleh!" teriak Aldo sambil menarik lengan Sita.Ledakan besar akhirnya pecah. Menara Jam yang telah berdiri selama puluhan tahun itu miring perlahan sebelum akhirnya ambruk ke arah komplek pasar yang kosong. Hantaman bangunannya menciptakan gelombang debu yang menyapu jalanan. Laboratorium rahasia Nexora Tech kini terkubur selamanya, namun rahasia yang mereka temukan di sana baru saja memulai badai yang lebih besar.Setelah berlari beberapa blok jauhnya, ketiganya berhenti di sebuah gang sempit untuk mengatur napas. Aldo menyandarkan punggungnya
Alpha Glitch tidak memberikan waktu bagi Bima dan Sita untuk sekadar memikirkan strategi. Dengan satu hentakan kaki yang kuat, lantai laboratorium yang terbuat dari logam sintetis retak, memancarkan gelombang energi ungu yang menyapu ruangan. Sosok setinggi tiga meter itu bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi ukurannya, mengayunkan pedang kembar energinya tepat ke arah terminal tempat Aldo sedang bekerja."Bima, hadang dia!" teriak Aldo tanpa mengalihkan pandangan dari layar holografik. Jari-jarinya bergerak secepat kilat, menyuntikkan baris-baris kode virus ke dalam inti server Nexora.Bima meraung, mengaktifkan seluruh poin statistik bebas yang ia miliki dari kenaikan level sebelumnya. Ia mengalokasikan 5 poin tersebut ke Kekuatan, membuat otot-ototnya menegang hingga batas maksimal.[Bima Sakti - Distribusi Poin Statistik Terkonfirmasi:]Kekuatan: 26 -> 31Dengan pipa baja yang berpendar biru terang, Bima menghantamkan senjatanya ke salah satu pedang Alpha Glitch. Be
Tangga spiral yang tersembunyi di bawah fondasi Menara Jam itu terasa seperti lorong menuju perut bumi yang dingin dan lembap. Dindingnya tidak lagi terbuat dari bata kuno yang kasar, melainkan dilapisi oleh polimer sintetis berwarna abu-abu metalik yang mampu meredam getaran suara dan radiasi energi. Saat Aldo, Bima, dan Sita menuruni undakan demi undakan, lampu-lampu sensor di langit-langit menyala satu per satu, memancarkan cahaya putih steril yang menciptakan kontras tajam dengan kegelapan di atas sana."Tempat ini terlalu canggih untuk sekadar gudang rahasia di distrik tua," bisik Bima. Ia mencengkeram pipa bajunya erat-erat, matanya yang tajam terus waspada. Sebagai pengguna Level 9, ia merasakan kekuatan fisiknya jauh lebih solid, namun ketidakpastian di bawah sini membuatnya tetap tegang.Aldo memimpin di depan, matanya yang memiliki [Kecerdasan: 33] terus memindai aliran data yang merayap di sirkuit dinding. Ia bisa merasakan sisa resonansi energi dari inti Chronos-01 yang ma
Putaran bilah energi di punggung Chronos-01 menciptakan badai statis yang menyayat udara. Setiap pedang cahaya itu bergetar pada frekuensi tinggi, sanggup membelah beton semudah memotong kertas. Udara di dalam menara jam terasa semakin tipis, terionisasi oleh radiasi energi ungu yang meluap dari tubuh sang penjaga."Bertahan di posisi!" seru Aldo, suaranya bergema melalui tautan mental Sinkronisasi Grup.Chronos-01 melesat. Gerakannya bukan lagi sekadar mekanis, melainkan perpaduan antara kecepatan mesin dan manipulasi ruang. Dalam sekejap, ia sudah berada di hadapan Bima, mengayunkan dua bilah energi secara menyilang.Bima bereaksi dengan insting yang tajam. Berkat bonus 15\% dari kemampuan Aldo, Kekuatan fisiknya kini terasa seperti mesin hidrolik. Ia mengangkat pipa baja berpendar biru miliknya, menahan hantaman pedang energi tersebut.CRAAAK!Percikan api digital memenuhi ruangan. Bima terdorong mundur, kaki-kakinya meninggalkan parit di lantai kayu tua menara. "Aldo! Bilahnya ter
Chronos-01 tidak memberikan kesempatan bagi Aldo dan timnya untuk sekadar menarik napas. Begitu protokol pembersihan dinyatakan aktif, mata merah di wajah logamnya berpendar terang. Seluruh menara jam kembali bergetar, namun kali ini bukan karena roda gigi yang berputar, melainkan karena frekuensi energi yang dipancarkan langsung dari tubuh sang penjaga. Gelombang elektromagnetik yang sangat kuat menyapu ruangan, membuat rambut Aldo berdiri dan kulitnya terasa kesemutan."Sita, Bima! Bersiap!" Aldo berteriak sambil membuka antarmuka sistemnya dengan kecepatan yang hanya bisa dicapai oleh seseorang dengan [Kecerdasan: 31].Aldo tahu bahwa melawan musuh Level 15 dengan statistik dasar Level 10 adalah bunuh diri. Ia harus bertindak strategis. Masih ada lima poin statistik bebas yang tersisa dari kenaikan levelnya barusan. Tanpa ragu, ia mengalokasikan tiga poin ke Kelincahan untuk memastikan ia bisa menghindari serangan mematikan Chronos, dan dua poin sisanya ke Kecerdasan untuk memperku







