Home / Sci-Fi / Reality Reloaded / Chapter 5: Jejak Cahaya

Share

Chapter 5: Jejak Cahaya

Author: odead
last update Last Updated: 2024-12-01 02:39:29

Setelah berhasil keluar dari lantai 48, Aldo dan Sita kembali ke lantai kantor mereka dengan napas yang masih tersengal. Wajah mereka menampilkan kelelahan dan kebingungan. Namun, di balik semua itu, ada juga rasa penasaran yang tidak bisa mereka abaikan. Apa yang sebenarnya mereka temukan di Menara Polaris, dan apa arti dari sinkronisasi energi yang terus meningkat?

Aldo menyalakan laptopnya begitu mereka tiba di meja kerja. Ia membuka peta yang sebelumnya ditampilkan oleh hologram di lantai 48. Peta itu menunjukkan titik terang di beberapa lokasi di Kota Arkavia, termasuk satu titik besar yang berada di luar Menara Polaris. Lokasi itu menarik perhatian Aldo.

"Ini dia," kata Aldo sambil menunjuk layar. "Titik ini adalah tujuan kita berikutnya."

Sita memandang layar itu dengan serius. "Lo yakin kita harus ke sana? Kita bahkan nggak tahu apa yang bakal kita temuin."

Aldo mengangguk. "Gue nggak tahu apa yang ada di sana, tapi ini satu-satunya petunjuk yang kita punya. Gue rasa ini lebih dari sekadar program. Kalau ini beneran sesuatu yang penting, kita harus cari tahu."

Sita menghela napas panjang. "Baiklah. Kalau begitu, kita harus pastikan ini aman. Gue nggak mau kita ketangkap atau kena masalah."

Aldo setuju. Mereka memutuskan untuk berangkat setelah jam kerja selesai. Lokasi itu terletak di pinggiran Arkavia, di sebuah area yang jarang dikunjungi. Tidak ada informasi apa pun tentang tempat itu di internet, hanya sebuah nama: Kompleks Industri Solaris.

.....................

Setelah matahari terbenam, Aldo dan Sita naik taksi menuju lokasi itu. Jalan-jalan di pinggiran kota jauh lebih sepi dibandingkan pusat kota Arkavia. Lampu jalan redup, dan gedung-gedung tua serta gudang kosong menghiasi pemandangan sepanjang perjalanan.

Ketika mereka tiba di Kompleks Industri Solaris, suasana menjadi semakin aneh. Tempat itu tampak seperti kawasan industri yang sudah lama ditinggalkan. Beberapa bangunan besar berdiri dengan cat yang terkelupas dan jendela yang pecah. Namun, di tengah-tengah kompleks, ada satu bangunan yang masih menyala. Cahaya biru samar memancar dari dalam, seolah memanggil mereka untuk mendekat.

"Itu pasti tempatnya," kata Aldo sambil menunjuk bangunan bercahaya itu.

Sita menatap bangunan itu dengan waspada. "Kenapa gue ngerasa ini kayak perangkap?"

Aldo mengangguk. "Gue juga ngerasa begitu. Tapi kita nggak punya pilihan lain."

Mereka mendekati bangunan itu dengan hati-hati. Aldo mencoba membuka pintu utama, tetapi pintu itu terkunci. Namun, seperti sebelumnya, suara dalam kepala Aldo terdengar lagi.

"Ding! Misi Baru: Aktifkan akses ke ruang utama. Petunjuk: Gunakan kemampuan Analisis Sistem."

Aldo terdiam sejenak, lalu mencoba mengingat kemampuan baru yang ia dapatkan di lantai 48. "Kemampuan Analisis Sistem... Mungkin ini bisa membantu," gumamnya.

Ia menutup matanya dan mencoba fokus. Tiba-tiba, sebuah layar virtual muncul di depan matanya, menampilkan diagram pintu yang terkunci. Diagram itu menunjukkan mekanisme kunci elektronik di dalam pintu. Aldo melihat ada jalur energi yang terhubung ke panel di samping pintu.

"Ada panel di sini," kata Aldo sambil menunjuk bagian dinding yang hampir tersembunyi. Ia membuka panel itu dan menemukan kabel-kabel yang terhubung ke sistem pengunci.

Sita, yang memegang senter kecil, membantunya melihat lebih jelas. "Bisa lo buka, Do?"

Aldo mengangguk. Dengan pengalaman bertahun-tahun sebagai programmer dan teknisi, ia berhasil membypass sistem pengunci dalam waktu singkat. Pintu itu akhirnya terbuka dengan bunyi desis pelan.

.....................

Di dalam bangunan, mereka disambut oleh pemandangan yang mengejutkan. Ruangan itu dipenuhi oleh perangkat teknologi canggih yang terlihat jauh lebih maju daripada apa yang mereka lihat di lantai 48 Menara Polaris. Monitor besar menampilkan data yang terus bergerak, sementara mesin-mesin besar berdengung pelan di sudut ruangan.

Namun, yang paling mencolok adalah sebuah perangkat besar di tengah ruangan. Perangkat itu berbentuk seperti portal, dengan lingkaran logam yang dipenuhi simbol-simbol bercahaya. Cahaya biru yang mereka lihat dari luar berasal dari lingkaran ini.

"Apa ini?" tanya Sita dengan suara hampir berbisik.

Aldo mendekati portal itu dengan hati-hati. Sebuah konsol terletak di depan perangkat, dengan layar yang menunjukkan teks yang tidak ia mengerti. Namun, ketika ia mendekat, suara dalam kepalanya terdengar lagi.

"Ding! Sinkronisasi Energi 95%. Aktifkan portal untuk melanjutkan misi."

Aldo memandang Sita. "Gue rasa ini alasan kenapa kita dibawa ke sini."

Sita menggelengkan kepala. "Lo serius mau nyalain ini? Kita bahkan nggak tahu ini buat apa!"

Aldo menatap portal itu dengan tekad. "Gue harus tahu. Gue nggak bisa mundur sekarang."

Dengan hati-hati, Aldo menekan tombol di konsol. Portal itu mulai bergetar, dan cahaya biru semakin terang. Lingkaran logam itu perlahan-lahan berputar, menciptakan suara yang menyerupai dengungan halus. Lalu, sebuah layar hologram muncul di atas portal, menampilkan peta kota Arkavia.

Namun, kali ini peta itu berbeda. Titik-titik bercahaya yang sebelumnya hanya beberapa kini bertambah banyak, tersebar di seluruh kota. Titik terbesar berada di lokasi yang tidak dikenal di pinggiran kota, bahkan lebih jauh dari tempat mereka berada sekarang.

"Ding! Misi Baru: Pergilah ke lokasi akhir untuk menyelesaikan sinkronisasi. Hadiah: Rahasia Sistem."

Aldo menatap layar hologram dengan alis berkerut. "Lokasi akhir... Rahasia Sistem... Apa maksud semua ini?"

Sebelum mereka bisa merenung lebih jauh, suara berat tiba-tiba terdengar dari sudut ruangan. "Kalian tidak seharusnya ada di sini."

Aldo dan Sita berbalik dengan cepat. Seorang pria tinggi dengan jas laboratorium berdiri di depan mereka. Wajahnya dingin, dan matanya memandang mereka dengan tajam. "Apa yang kalian lakukan dengan portal itu?"

Aldo mencoba menjawab, tetapi pria itu memotong. "Kalian sudah memicu sesuatu yang tidak kalian pahami. Tinggalkan tempat ini sekarang, atau kalian akan menghadapi konsekuensinya."

Sita menarik lengan Aldo. "Do, kita harus pergi sekarang."

Namun, sebelum mereka bisa bergerak, portal itu mengeluarkan cahaya yang sangat terang, hampir menyilaukan. Ruangan itu bergetar hebat, dan udara terasa seperti berdenyut. Aldo menatap portal itu dengan takjub, sementara suara dalam kepalanya terdengar lagi.

"Ding! Sinkronisasi Energi 100%. Sistem aktif sepenuhnya. Selamat datang di Realitas Baru."

Cahaya dari portal itu tiba-tiba menelan mereka berdua, meninggalkan ruangan itu dalam keheningan. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Reality Reloaded   Chapter 40: Data dalam Gelap

    Suara helikopter yang menderu di atas langit Distrik Barat perlahan menjauh, namun ketegangan di dalam basemen tua sebuah toko perbaikan jam yang terbengkalai itu sama sekali tidak memudar. Cahaya hanya berasal dari pendar biru layar holografik Aldo dan senter kecil yang dipegang Sita. Di ruangan sempit yang berbau minyak pelumas dan debu itu, Aldo, Bima, dan Sita berusaha mengatur napas, menyadari bahwa hidup mereka sebagai warga negara biasa telah berakhir tepat saat Menara Jam itu runtuh.“Bim, kau masih punya sisa energi?” tanya Aldo pelan. Matanya tidak lepas dari data yang mengalir deras di hadapannya.Bima mendengus, sambil mengusap sisa debu di wajahnya. “Level 11 membuatku merasa seperti monster, Do. Luka-lukaku sembuh total, tapi mental duniaku masih kacau. Aku merasa bukan lagi manusia biasa.” Bima segera membuka layar statusnya, menyadari ia memiliki 5 poin statistik bebas dari kenaikan levelnya barusan. Tanpa banyak bicara, ia memasukkan seluruh poin itu ke Kekuatan, memb

  • Reality Reloaded   Chapter 39: Realitas yang Terungkap

    Suara gemuruh dari bawah tanah Distrik Barat terdengar seperti raungan raksasa yang terbangun dari tidur panjangnya. Tanah bergetar hebat, meretakkan aspal jalanan tua di sekitar Menara Jam. Aldo, Bima, dan Sita berhasil melompat keluar dari pintu rahasia tepat sebelum tangga spiral di belakang mereka runtuh tertimbun puing beton. Debu tebal menyelimuti udara, bercampur dengan uap panas dari pipa-pipa yang pecah di bawah sana."Lari! Jangan menoleh!" teriak Aldo sambil menarik lengan Sita.Ledakan besar akhirnya pecah. Menara Jam yang telah berdiri selama puluhan tahun itu miring perlahan sebelum akhirnya ambruk ke arah komplek pasar yang kosong. Hantaman bangunannya menciptakan gelombang debu yang menyapu jalanan. Laboratorium rahasia Nexora Tech kini terkubur selamanya, namun rahasia yang mereka temukan di sana baru saja memulai badai yang lebih besar.Setelah berlari beberapa blok jauhnya, ketiganya berhenti di sebuah gang sempit untuk mengatur napas. Aldo menyandarkan punggungnya

  • Reality Reloaded   Chapter 38: Protokol Pemusnahan

    Alpha Glitch tidak memberikan waktu bagi Bima dan Sita untuk sekadar memikirkan strategi. Dengan satu hentakan kaki yang kuat, lantai laboratorium yang terbuat dari logam sintetis retak, memancarkan gelombang energi ungu yang menyapu ruangan. Sosok setinggi tiga meter itu bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi ukurannya, mengayunkan pedang kembar energinya tepat ke arah terminal tempat Aldo sedang bekerja."Bima, hadang dia!" teriak Aldo tanpa mengalihkan pandangan dari layar holografik. Jari-jarinya bergerak secepat kilat, menyuntikkan baris-baris kode virus ke dalam inti server Nexora.Bima meraung, mengaktifkan seluruh poin statistik bebas yang ia miliki dari kenaikan level sebelumnya. Ia mengalokasikan 5 poin tersebut ke Kekuatan, membuat otot-ototnya menegang hingga batas maksimal.[Bima Sakti - Distribusi Poin Statistik Terkonfirmasi:]Kekuatan: 26 -> 31Dengan pipa baja yang berpendar biru terang, Bima menghantamkan senjatanya ke salah satu pedang Alpha Glitch. Be

  • Reality Reloaded   Chapter 37: Bayang-Bayang di Balik Inti

    Tangga spiral yang tersembunyi di bawah fondasi Menara Jam itu terasa seperti lorong menuju perut bumi yang dingin dan lembap. Dindingnya tidak lagi terbuat dari bata kuno yang kasar, melainkan dilapisi oleh polimer sintetis berwarna abu-abu metalik yang mampu meredam getaran suara dan radiasi energi. Saat Aldo, Bima, dan Sita menuruni undakan demi undakan, lampu-lampu sensor di langit-langit menyala satu per satu, memancarkan cahaya putih steril yang menciptakan kontras tajam dengan kegelapan di atas sana."Tempat ini terlalu canggih untuk sekadar gudang rahasia di distrik tua," bisik Bima. Ia mencengkeram pipa bajunya erat-erat, matanya yang tajam terus waspada. Sebagai pengguna Level 9, ia merasakan kekuatan fisiknya jauh lebih solid, namun ketidakpastian di bawah sini membuatnya tetap tegang.Aldo memimpin di depan, matanya yang memiliki [Kecerdasan: 33] terus memindai aliran data yang merayap di sirkuit dinding. Ia bisa merasakan sisa resonansi energi dari inti Chronos-01 yang ma

  • Reality Reloaded   Chapter 36: Inti dari Waktu

    Putaran bilah energi di punggung Chronos-01 menciptakan badai statis yang menyayat udara. Setiap pedang cahaya itu bergetar pada frekuensi tinggi, sanggup membelah beton semudah memotong kertas. Udara di dalam menara jam terasa semakin tipis, terionisasi oleh radiasi energi ungu yang meluap dari tubuh sang penjaga."Bertahan di posisi!" seru Aldo, suaranya bergema melalui tautan mental Sinkronisasi Grup.Chronos-01 melesat. Gerakannya bukan lagi sekadar mekanis, melainkan perpaduan antara kecepatan mesin dan manipulasi ruang. Dalam sekejap, ia sudah berada di hadapan Bima, mengayunkan dua bilah energi secara menyilang.Bima bereaksi dengan insting yang tajam. Berkat bonus 15\% dari kemampuan Aldo, Kekuatan fisiknya kini terasa seperti mesin hidrolik. Ia mengangkat pipa baja berpendar biru miliknya, menahan hantaman pedang energi tersebut.CRAAAK!Percikan api digital memenuhi ruangan. Bima terdorong mundur, kaki-kakinya meninggalkan parit di lantai kayu tua menara. "Aldo! Bilahnya ter

  • Reality Reloaded   Chapter 35: Harmoni di Ambang Batas

    Chronos-01 tidak memberikan kesempatan bagi Aldo dan timnya untuk sekadar menarik napas. Begitu protokol pembersihan dinyatakan aktif, mata merah di wajah logamnya berpendar terang. Seluruh menara jam kembali bergetar, namun kali ini bukan karena roda gigi yang berputar, melainkan karena frekuensi energi yang dipancarkan langsung dari tubuh sang penjaga. Gelombang elektromagnetik yang sangat kuat menyapu ruangan, membuat rambut Aldo berdiri dan kulitnya terasa kesemutan."Sita, Bima! Bersiap!" Aldo berteriak sambil membuka antarmuka sistemnya dengan kecepatan yang hanya bisa dicapai oleh seseorang dengan [Kecerdasan: 31].Aldo tahu bahwa melawan musuh Level 15 dengan statistik dasar Level 10 adalah bunuh diri. Ia harus bertindak strategis. Masih ada lima poin statistik bebas yang tersisa dari kenaikan levelnya barusan. Tanpa ragu, ia mengalokasikan tiga poin ke Kelincahan untuk memastikan ia bisa menghindari serangan mematikan Chronos, dan dua poin sisanya ke Kecerdasan untuk memperku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status