Compartilhar

Bab 5

Autor: Apiz
last update Data de publicação: 2026-05-24 13:53:10

Pendar biru itu tidak pernah berkedip. Cahayanya konstan, dingin, dan menembus lapisan kaca kristal setebal setengah meter yang menyusun dinding silinder menara utama.

Di luar sana, sejauh mata memandang, langit tidak lagi berwarna abu-abu polusi atau biru cerah alami. Langit telah digantikan oleh jaring-jaring heksagonal raksasa yang berpendar redup. Itulah Dom Magnetik. Sebuah kubah energi kinetik yang memenjarakan sekaligus melindungi sisa-sisa peradaban di bawahnya.

Di puncak menara, atmosfernya begitu steril hingga aroma udara yang dihirup terasa terlalu bersih, hampir mendekati rasa hampa. Lantai marmer putih buatan yang dilapisi resin antipolimer memantulkan bayangan struktur ruangan dengan presisi sempurna. Di tengah ruangan yang luasnya menyerupai lapangan bola itu, sebuah struktur mekanis mencuat dari lantai.

Bentuknya tidak menyerupai kursi kerajaan abad pertengahan. Itu adalah jalinan serat karbon, tabung-tabung mikro-fluida, dan ribuan kabel optik yang berdenyut seirama dengan detak jantung pria yang duduk di atasnya.

Rajendra memiliki gurat garis wajah yang tegas, namun ada kelelahan teramat dalam yang terukir di kantung matanya.

Sepasang matanya yang hitam legam menatap hamparan monitor holografik yang melayang di sekelilingnya, menampilkan grafik tekanan atmosfer, kadar oksigen murni, dan distribusi air terfiltrasi untuk lima distrik utama.

"Laporan selatan kota selesai, Yang Mulia," sebuah suara sintetis yang datar bergema dari interkom fusi di lengannya.

Rajendra tidak menjawab. Tetapi tetap menggerakkan jemarinya di udara, menggeser grafik pasokan air bersih. Angka-angka di sana menunjukkan penurunan sebesar 0,4% akibat pembusukan membran filter di sektor pemukiman bawah.

Sesaat, kilatan keraguan melintas di matanya, namun segera digantikan oleh tatapan dingin yang biasa dia tunjukkan kepada dunia.

sebuah anomali muncul di monitor holografik nomor tujuh.Pendaran biru pada grafik Dom Magnetik di sektor sektor 04. Wilayah pelabuhan lama yang kini kering, perlahan menunjukkan fluktuasi yang tidak wajar.

Ada penurunan frekuensi magnetik sebesar 0,003%. Angka itu sangat kecil, hampir tidak kentara bagi mata manusia biasa, namun bagi Rajendra, itu adalah sebuah alarm bahaya.

"Komputer, analisis penurunan fluks di Sektor 04," perintah Rajendra. Suaranya terdengar parau akibat jarang digunakan untuk berbicara dengan manusia sejati.

"Analisis gagal," jawab suara kecerdasan buatan menara, "Terjadi interferensi gelombang mikro terlokalisasi. Sumber gangguan tidak teridentifikasi."

Rajendra menyipitkan matanya. Mencurigai setiap perubahan yang yerjadi. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

Dom Magnetik dirancang untuk bertahan dari serangan luar, namun sistem jaringannya terhubung melalui node bawah tanah di dalam kota. Jika ada gangguan dari dalam, itu berarti ada sabotase.

Rajendra berdiri dari singgasananya. Mantel panjangnya yang terbuat dari serat karbon ringan menyapu lantai marmer dengan bunyi desis halus. Ia berjalan menuju tepi ruangan, menatap ke bawah, ke arah kota yang merayap di bawah kakinya seperti koloni semut digital.

Di bawah sana, di antara gang-gang sempit yang diterangi lampu neon murah, jutaan orang hidup dalam kedisiplinan yang dipaksakan. Mereka membencinya, dia tahu itu. Setiap hari ada coretan dinding yang mengutuk namanya, menyebutnya sebagai "Pencuri Langit."

Namun mereka tidak tahu alternatifnya. Mengira keadaan tidak pernah berubah dan tidak tahu bahwa di luar kubah ini, bumi telah menjadi gurun radioaktif dan beracun akibat perang tak berkesudahan yang dipicu oleh negara-negara luar setelah komunikasi terputus.

Tiba-tiba, lampu di dalam ruangan menara kristal itu berkedip.

Ini adalah kejadian pertama dalam enam tahun. Sistem daya Menara Utama didukung oleh reaktor fusi dingin yang memiliki redundansi lima lapis. Mustahil bagi lampu untuk berkedip kecuali ada interupsi langsung pada inti sistem.

"Rajendra..."

Sebuah suara berbisik dari sistem audio ruangan. Itu bukan suara robot sintetis milik komputernya. Itu adalah suara manusia.

Suara seorang wanita, bergaung dengan distorsi statis yang berat. Rajendra berbalik dengan cepat, tangannya langsung menyentuh panel kontrol di pergelangan tangannya, siap mengaktifkan sistem keamanan perimeter menara yang mematikan.

"Siapa ini? Bagaimana kamu bisa menembus enkripsi quantum jaringan ini?"

"Kamu terlalu lama berada di atas sana, Rajendra," suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas. Ada nada kekecewaan yang mendalam di dalamnya.

"Kamu membangun menara ini untuk melihat dunia, tapi kamu lupa bagaimana caranya melihat manusia."

"Identifikasi dirimu, atau aku akan mengisolasi oksigen di sektor tempat asal sinyalmu dalam waktu tiga detik," ancam Rajendra dingin. Jemarinya melayang di atas tombol eksekusi holografik.

"Sektor 04, sub-level 3. Lakukan saja jika kamu ingin membunuh satu-satunya orang yang tahu apa yang terjadi pada Varian T02," jawab suara itu tenang.

Rajendra terpaku. Tangannya membeku di udara.

Varian T02. Itu adalah kode rahasia yang tidak pernah dipublikasikan. Itu adalah mutasi teoritis yang ia prediksi enam tahun lalu di laboratorium tua. Sebuah varian yang ia takuti akan muncul jika virus T01 bermutasi di lingkungan yang kaya akan radiasi elektromagnetik.

Sesuatu yang disembunyikan dari semua orang, alasan sebenarnya mengapa harus membangun Dom Magnetik. Bukan hanya untuk melindungi kota dari misil, melainkan untuk mengurung sesuatu agar tidak menyebar ke seluruh dunia atau sebaliknya.

"Siapa kamu? Mustahil menara ini bisa dengan mudah terbuka." bisik Rajendra, kali ini tanpa nada mengancam. Hanya ada rasa ingin tahu.

"Namaku Satya. Aku adalah asisten pertama dan terahkor laboratoriummu, orang yang kamu tinggalkan di reruntuhan ketika kamu memilih untuk menjadi dewa perang."

Menara Utama memiliki lift pneumatik raksasa yang dapat meluncur ke dasar bumi dalam hitungan detik, namun Rajendra memilih menggunakan kapsul transport senyap untuk menuju Sektor 04.

Tak pernah dan sama sekali tidak memiliko rasa takut, Rajendra pergi sendiri, tanpa pengawal mekanisnya.

Sesuatu di dalam dirinya, sisa-sisa dari bocah dua puluh tahun yang idealis, menuntutnya untuk menghadapi misteri ini sendirian.

Sektor 04 adalah kontras mutlak dari kemegahan menaranya. Di sini, atmosfer steril digantikan oleh bau karat, air asin yang menguap, dan keringat manusia. Lorong-lorong sub-level dipenuhi oleh pipa-pipa besar yang mengalirkan air limbah untuk didaur ulang.

Pendaran biru dari Dom di atas kepala hampir tidak menembus tempat ini, digantikan oleh lampu-lampu pijar kuning yang berkedip-kedip.

Rajendra berjalan melewati kerumunan cleniX yang mengenakan pakaian pelindung usang.

Tidak ada yang mengenali wajahnya, di dunia kegelapan, Rajendra hanyalah sebuah nama abstrak, sebuah simbol tirani yang wajahnya jarang ditampilkan secara langsung di ruang publik demi alasan keamanan.

Rajendra mengikuti pelacak sinyal di pergelangan tangannya hingga tiba di sebuah pintu besi berat yang tertutup rapat, berlabel Gudang Filtrasi B-12.

Rajendra menyentuh panel pintu. Menggunakan kode bypass absolutnya, pintu itu berdesis terbuka, menumpahkan uap hangat yang berbau ozon.

Di dalam ruangan yang dipenuhi oleh tangki-tangki silinder raksasa, seorang wanita duduk di depan sebuah konsol komputer rakitan yang terhubung langsung ke salah satu kabel pakan utama Dom Magnetik.

Lamat-lamat dari kejauhan nampak sosok wanita dengan jubah serba hitam pekat mendekatinya, namun matanya yang tajam memancarkan kecerdasan yang tidak bisa disembunyikan.

"Satya?" seru panggilan Rajendra dengan lantang memanggilnya dari kejauhan.

Dia memang Satya yang sama dari masa lalunya. Tetapi garis wajahnya telah dikeraskan oleh waktu dan penderitaan di bawah kubah.

"Kamu datang sendiri," kata Satya tanpa menoleh, jemarinya masih menari di atas kibor mekanis kuno. "Tiran yang berani."

"Bagaimana kamu bisa bertahan hidup dari pengeboman enam tahun lalu?" tanya Rajendra, melangkah mendekat namun tetap menjaga jarak aman.

"Karena aku tidak berada di laboratorium saat misil-misil itu datang," Satya membalikkan badan, menatap langsung ke mata Rajendra.

"Aku sedang berada di fasilitas penyimpanan bawah tanah, mencoba menyelamatkan sampel sisa yang kamu abaikan saat kamu sibuk membangun mainan satelitmu."

"Mainan ini telah menyelamatkan tiga juta nyawa di kota ini dari kehancuran total, Elena!" suara Rajendra meninggi, ada nada defensif yang jarang ia tunjukkan.

"Menyelamatkan mereka?" Satya hanya tertawa kecil, suara tawa yang pahit. "Atau menjadikan mereka kelinci percobaan dalam tabung kaca raksasamu ini?"

Satya hanya berdiri dan menunjuk ke arah salah satu monitor rakitannya. Di sana, grafik Dom Magnetik tidak lagi menampilkan struktur heksagonal yang stabil, melainkan pola gelombang fraktal yang terus berubah, membentuk struktur spiral yang menyerupai untaian DNA.

"Aku tahu apa yang kamu lakukan, Rajendra," katanya dengan suara berbisik yang mengintimidasi. "Kamu membohongi seluruh dunia. Kamu membohongi pemerintah, militer asing, bahkan orang-orang di dalam kubah ini. Kamu hanya kelinci kecil yang berambisi ingin menghidupkan kembali harapan yang telah terkubur lama di masa lalu."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 30

    Rasa sakit yang jujur itu mendadak terenggut oleh getaran seismik yang maha dahsyat. Tanah gembur tempat Malik dan Zhafirah terkapar tidak lagi sekadar bergeser, melainkan berguncang hebat seolah-olah fondasi bumi sedang dicabut dari akarnya. Pendaran putih keemasan yang baru saja mereka kira sebagai fajar kebebasan mendadak terdistorsi, memelintir menjadi warna merah menyala yang pekat dan berbau sulfur tajam."Malik! Ini belum berakhir!" jerit Zhafirah, kuku-kukunya mencengkeram reruntuhan beton saat tubuhnya nyaris terlempar ke dalam celah menganga yang baru saja membelah lantai silinder.Di atas mereka, di tengah runtuhnya reaktor inti, tubuh Madam Amy yang sempat retak tidak hancur. Justru, retakan di kulit porselennya memancarkan lava digital berwarna jingga pekat. Rajendra berdiri di belakangnya, eksoskeletonnya telah meleleh dan menyatu dengan panel kendali darurat yang tersembunyi di dinding magma baja. Setengah wajah manusianya yang tersisa kini terkunci dalam seringai kegil

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 29

    Langkah kaki Malik terasa begitu ringan di atas hamparan rumput yang basah oleh embun pagi. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah gembur dan kehidupan baru yang sangat menenangkan. Di sampingnya, Zhafirah tersenyum lebar, membiarkan jemarinya bertautan erat dengan jemari Malik. Dunia luar yang mereka mimpikan, sebuah bumi yang bersih, hijau, dan bebas dari belenggu logam, kini terbentang sejauh mata memandang."Rasanya seperti mimpi, Malik," bisik Zhafirah, suaranya bergetar oleh kebahagiaan yang selama ini tabu untuk mereka rasakan. "Matahari ini... rasanya begitu hangat di kulitku."Malik menghentikan langkahnya. Ia menatap Zhafirah, lalu beralih menatap telapak tangannya sendiri yang bersih tanpa cacat luka bakar. Sesuatu yang ganjil mendadak melintas di sudut terjauh logikanya. Kehangatan ini. Sinar matahari fajar itu memapar kulitnya dengan intensitas yang sangat stabil. Terlalu stabil. Tidak ada fluktuasi angin yang alami. Tidak ada partikel debu sekecil apa pun yang mengganggu

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 28

    Napas Malik terasa sangat tipis, nyaris tak kentara di balik dada bidangnya yang dipenuhi luka bakar akibat radiasi plasma. Zhafirah berlutut di atas tanah yang perlahan mulai mendingin, mendekap kepala Malik di pangkuannya. Tangannya gemetar hebat. Sisa-sisa air mata mengalir di pipinya yang kotor oleh debu mesosfer, membasuh luka goresan yang didapatnya selama pertempuran akhir melawan MinnerX00.Di atas mereka, langit bersalin rupa. Jutaan fragmen cahaya putih keemasan—sisa-sisa dari kesadaran Rajendra yang telah terbebas dari belenggu kecerdasan buatan korup, turun seperti salju musim semi yang hangat. Setiap kali partikel cahaya itu menyentuh tanah, kegelapan dan karat logam yang meracuni bumi selama dua abad luruh, digantikan oleh tunas-tunas hijau yang membelah permukaan fana."Malik... demi Tuhan, bertahanlah," bisik Zhafirah, suaranya parau, pecah oleh keputusasaan. "Kubahnya sudah hancur. Rajendra sudah bebas. Kita menang, Malik. Jangan tinggalkan aku sekarang!"Malik membu

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 27

    Suasana di dalam Null-Zone semakin bergetar hebat. Pita aurora merah darah yang bergulung di atas kepala mereka mulai memilin diri, membentuk pusaran pusaran energi kinetik yang siap melemparkan kembali kedua remaja itu ke dalam realitas yang hancur.Kakek Fasyad mengangkat tongkat resonator sub-atomnya tinggi-tinggi. Pendar cahaya perak mulai merambat naik dari ujung kakinya, sebuah pertanda bahwa energi trans-dimensi miliknya sudah mencapai batas maksimal untuk mempertahankan mereka di ruang sunyi ini."Tunggu, Kakek! Jangan usir kami dulu!" teriak Malik, suaranya parau menembus dengungan kosmik yang kian memekakkan telinga.Malik melangkah maju, mencengkeram lengan jubah kuantum Kakek Fasyad. Genggamannya begitu erat, menyalurkan rasa penasaran yang amat besar sekaligus keputusasaan yang membakar dadanya. Ada satu potongan teka-teki yang terasa janggal, sebuah nama yang menjadi poros dari seluruh kiamat plasma yang baru saja mereka saksikan di dimensi luar."Kakek belum menceritaka

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 26

    Kilatan itu merobek realitas. Suara ledakannya begitu dahsyat hingga berubah menjadi keheningan absolut yang memekakkan telinga. Gelombang kejut berdaya ledak besar milik MinnerX00 memancar keluar, siap mengatomisasi apa saja yang tersisa dalam radius puluhan kilometer. Zhafirah bisa merasakan molekul tubuhnya mulai meregang, bersiap melebur bersama partikel plasma yang membakar atmosfer. Di dekatnya, Malik yang masih terluka parah hanya bisa membelalakkan mata, menanti akhir dari takdir mereka.Namun, tepat sebelum maut merenggut kesadaran mereka, sebuah retakan dimensi vertikal terbuka di udara.Dari dalam celah kosmik itu, muncul sesosok pria tua dengan jubah berteknologi jalinan serat quantum yang berpendar redup. Kakek Fasyad. Sosok misterius yang dulu hadir saat masa kritis Malik, kembali menembus pembatas ruang dan waktu. Dengan satu entakan tongkat resonator sub-atom miliknya, Kakek Fasyad membalikkan vektor tekanan gelombang kejut plasma. Sebuah kubah pelindung transparan mem

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab25

    Zhafirah langsung terjerembab ke dalam ruang gelap yang dingin, memuntahkan cairan bening bercampur bercak darah ke permukaan logam. Monitor bio-metrik di dadanya berkedip liar, memancarkan bunyi sensor berfrekuensi tinggi yang memekakkan telinga. Angka indikator sinkronisasi sarafnya merosot tajam ke zona merah di bawah 15 persen."Zhafirah!" Timothy berlutut cepat, jemarinya menari di atas panel pergelangan tangan Zhafirah untuk menyuntikkan serum penstabil sinapsis. "Jangan memaksakan diri! Otakmu mengalami overload memori karena paksaan integrasi Zirah Aoro!""Malik..." Zhafirah mencengkeram kerah jaket Timothy, matanya membelalak dipenuhi ketakutan yang murni. "Kau tidak mengerti... MinnerX00 bukan sekadar robot. Rajendra menanamkan kesadaran kolektif distopia ke dalamnya. Malik... Malik tidak akan selamat tanpa pasokan daya inti dari zirah ini!"Di atas permukaan, hujan abu besi turun menyelimuti permukaan kota bawah tanah yang perlahan hancur total.Malik terengah-engah, berlu

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status