Share

After Midnight

Author: Yoru Akira
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-27 11:01:53

Valerius sempat menunjukkan binar harapan. Ia mengira Seraphina akan membelanya demi alasan politik.

"Ya, Sera! Beritahu dia! Jangan biarkan dia melakukan kegilaan ini!"

Seraphina menatap Valerius dengan tatapan yang jauh lebih dingin daripada pedang Killian.

"Jangan salah paham, Valerius. Aku tidak menyelamatkanmu karena aku peduli.

"Aku hanya tidak ingin tangan calon suamiku kotor oleh darah sampah sepertimu di dalam istana ini. Itu akan merusak rencana kepulangan kami."

Ia beral
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Pengakuan Sang Duchess

    Pertanyaan yang keluar dari bibir Killian membuat jemari Seraphina yang bertumpu di atas permukaan meja marmer mendadak terasa sedingin es. Labirin di dalam benaknya kembali berputar dengan kecepatan penuh. Sisi logis dan insting bertahannya yang telah terasah oleh penderitaan di masa lalu meneriakkan peringatan keras untuk berbohong. Ia bisa saja menciptakan kebohongan yang rapi—tentang jaringan mata-mata rahasia milik keluarga Astrea yang ia gerakkan sendiri, atau sekadar dalih bahwa itu adalah intuisi tajam seorang wanita. Namun, ketika ia menatap langsung ke dalam manik mata biru milik Killian, Seraphina terpaku. "Itu ...." Seraphina tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Perempuan itu termangu pada tatapan sang 'suami' yang begitu jernih, jujur, dan dipenuhi oleh rasa percaya yang teramat murni. Tidak ada sedikit pun kilat kecurigaan yang licik, manipulatif, atau haus darah seperti yang selalu ia lihat di mata Pangeran Valerius dalam kehidupan lalunya. Pria di

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Kecurigaan Sang Grand Duke

    "Kita pegang perut mereka, maka kita pegang kendali atas Valeranthia." Satu kalimat itu meluncur dari bibir Seraphina, dingin dan tak tergoyahkan. Memotong kesunyian ruang kerja Killian yang megah. Gema suaranya merayap di antara dinding batu dan pilar-pilar kokoh benteng Eisenhardt. Meninggalkan atmosfer yang mendadak terasa begitu pekat dan intimidatif."Kau yakin dengan rencanamu, Sera?""Tentu saja, Tuan Duke. Tak ada rencana paling ampuh selain memegang kendali atas perut rakyat yang kelaparan." Keheningan sempat menyelimuti ruangan selama beberapa detak jantung. Killian, sang penguasa Utara yang terkenal dingin dan tak tersentuh, terdiam. Namun, sedetik kemudian, ia melepaskan kekehan rendah yang sarat akan rasa puas—sebuah tawa yang jarang sekali didengar oleh siapa pun di wilayah ini. Pria itu melangkah mendekati meja marmer tempat peta kekaisaran terbentang. Sepasang matanya yang biru sedalam samudra menatap Seraphina dengan binar ketertarikan yang semakin dalam. "Itu s

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Datang Lebih Cepat

    Ritme wilayah Utara berubah. Dengan adanya Seraphina di sisi sang Duke Eisenhardt, mereka saling melengkapi dalam segala hal. Begitu juga pagi itu. Surat dari perbatasan wilayah barat datang lebih cepat dari dugaan Seraphina. "Yang Mulia Duke, ada surat dari wilayah perbatasan barat. Dikirim oleh Viscount Rembrandt dengan burung pengantar pos tercepat." Cedric menghadap sang Grand Duke sambil menberikan gulungan perkamen. "Wilayah Barat?" "Benar, Tuan." Killian menerima gulungan perkamen dari tangan Cedric. Pria itu membaca dengan cepat tulisan tangan yang sang penguasa perbatasan wilayah barat. "Apa ada sesuatu yang mendesak, Tuan?" Pria itu tak segera memberikan tanggapan. Ia justru menatap Cedric dengan raut muka yang tak sanggup diungkapkan. "Tuan." "Cedric, menurutmu... bagaimana seseorang bisa memprediksi masa depan dengan akurat?" tanya Killian hampir tak terdengar. "Maksud Anda, Tuan?" "Viscount Rembrandt merupakan satu dari beberapa penguasa yang setia m

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Kesepakatan!

    "Aku hanya memastikan kita tidak mati dua kali untuk alasan yang sama, Kak," sahut Seraphina tegas. "Jadi, bagaimana? Apakah kau siap menjadi Count Astrea yang baru?" Noah terdiam, membiarkan pertanyaan Seraphina menggantung di udara ringkih ruang makan. Namun, sebelum sang putra sulung sempat mengutarakan keputusannya, ketegangan berat yang mengikat ketiga bersaudara itu mendadak mencair. Langkah kaki yang mantap terdengar mendekat, disusul suara pintu ek luar yang terbuka perlahan. Killian melangkah masuk kembali ke dalam ruangan, memecah atmosfer intimidatif yang sempat mengurung mereka. Jubah bulu cerpelai miliknya tampak sedikit basah oleh sisa serpihan salju yang mulai mencair, namun ekspresi wajahnya sehangat senyum tipis yang ia sunggingkan saat melihat Seraphina. "Tawanan kita adalah tikus yang berisik," ujar Killian tanpa basa-basi, langsung mengalihkan atensi semua orang di sana. "Pangeran Valerius terus berteriak di sel bawah tanah, mengancam akan meratakan Eisenhard

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Merebut Takhta Astrea

    Seraphina mengerjapkan mata sejenak. Meski masih ada beberapa hal pelik yang mengganggu benaknya tentang misteri darah Lysander. Perempuan itu segera menarik kesadarannya kembali. Ia membuang jauh-jauh kabut keraguan tersebut. Lalu memantapkan fokusnya pada tujuan utama yang telah ia tetapkan sejak pertama kali terbangun di masa lalu. "Sejarah sudah mencatat kepemilikan takhta Valeranthia, Kakak. Astrea menjaganya selama beratus-ratus tahun hingga berganti kaisar sejak kaisar pertama mangkat," ucap Seraphina. Suaranya mengalun tenan. Namun, bergema penuh wibawa di antara pilar-pilar ruang makan. Ia melangkah mendekati jendela besar, menatap hamparan salju Utara sebelum melanjutkan. "Kita tidak bisa menutup mata lagi terkait hal itu. Mungkin selama ini, Astrea bersikap diam dan tak peduli terhadap kebusukan istana karena kita sendiri memiliki kepentingan untuk menjaga posisi aman." Jeremiah dan Noah menyimak dalam diam, membiarkan sang adik membeberkan kebenaran pahit ya

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Membangun Sekutu

    Seraphina masih belum bisa menguasai situasi sepenuhnya. Pikiran perempuan itu masih bercabang, melompat dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain. Terutama tentang darah sang ibu yang mengalir dalam nadi mereka. "Ada yang kau pikirkan, Sera?" tanya Jeremiah mengagetkan Seraphina. Ia hanya menoleh sesaat. Menggeleng pelan, lalu kembali tenggelam dalam labirin pikirannya yang berliku. 'Lysander,' bisik perempuan itu pada dirinya sendiri. Lysander bukanlah keluarga sembarangan. Di Kekaisaran Valeranthia, tak banyak yang tahu tentang asal-usul mereka yang sebenarnya. Catatan tentang mereka sengaja dikubur oleh waktu. Namun, keluarga itu sendiri meyakini sebuah kebenaran mutlak yang diturunkan lewat bisikan dari generasi ke generasi. Bahwa leluhur mereka adalah seorang makhluk suci yang memilih menyembunyikan diri dari sorotan dunia demi kedamaian. Darah Lysander adalah benih dari segala keajaiban yang ada di benua ini. Mereka adalah ibu ataupun ayah dari para penyihir hebat k

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Darah Kutukan

    Keheningan yang tercipta setelah kalimat Noah terasa begitu mencekik. Seraphina melangkah mundur satu tindak.Tangannya yang memegang selendang beludru bergetar hebat hingga porselen di atas meja di dekatnya berdenting halus. "K-kak... apa yang kau katakan?" bisik Seraphina.Suaranya nyaris hilang

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Ungkapan Noah

    Ketukan ritmis di pintu kayu ek luar akhirnya memecah keheningan kamar pengantin. Menandakan bahwa waktu bagi sang penguasa untuk bersembunyi dari dunia telah habis. "Sudah waktunya menyambut dunia baru, Duchess. Kau siap?" tanya Killian sebelum turun dari tempat tidur. Sebenarnya, ranjang megah

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Malam Perjamuan

    Perjamuan Agung pasca-pernikahan di aula utama Eisenhardt malam itu berlangsung dengan kemegahan yang menandingi pesta-pesta di Ibukota. Denting piala perak, aroma daging panggang berempah khas Utara, dan gelak tawa para bangsawan dari berbagai kerajaan kecil menciptakan ilusi kedamaian. Namu

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Ikatan yang Sah

    Langkah kaki kedua mempelai beriringan dengan ritme lambat organ pipa yang agung. Gema musik liturgi kuno itu merayap naik, memenuhi langit-langit kubah tinggi aula utama yang disangga oleh pilar-pilar batu hitam kokoh berlapis emas. Karpet beludru merah tua yang membentang di sepanjang aula teng

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status