แชร์

After Midnight

ผู้เขียน: Yoru Akira
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-27 11:01:53

Valerius sempat menunjukkan binar harapan. Ia mengira Seraphina akan membelanya demi alasan politik.

"Ya, Sera! Beritahu dia! Jangan biarkan dia melakukan kegilaan ini!"

Seraphina menatap Valerius dengan tatapan yang jauh lebih dingin daripada pedang Killian.

"Jangan salah paham, Valerius. Aku tidak menyelamatkanmu karena aku peduli.

"Aku hanya tidak ingin tangan calon suamiku kotor oleh darah sampah sepertimu di dalam istana ini. Itu akan merusak rencana kepulangan kami."

Ia beral
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Perjamuan Makan Malam yang Dingin

    Malam itu, aula perjamuan Eisenhardt berubah menjadi panggung sandiwara yang menyesakkan. Cahaya dari lilin-lilin raksasa memantul pada porselen mahal dan perak yang berkilauan. Namun, ketegangan yang menggantung di udara jauh lebih tajam daripada pisau daging para pelayan. Killian duduk di kursi kebesarannya dengan keanggunan seorang predator. Di sampingnya, kursi yang seharusnya menjadi milik Seraphina dibiarkan kosong. Sementara Liza duduk di kursi berikutnya—terlalu dekat dengan sang Grand Duke. Bahkan Duchess Sophia lagi-lagi memilih tak hadir di meja makan hanya karena sudah mulai muak dengan sikap Killian. Wanita itu bahkan merasa malu sebagai ibu dari pria yang kini dianggap plin-plan oleh banyak orang. "Anggur yang luar biasa, Tuan Duke," suara Demarcus memecah kesunyian. Nadanya mengandung tantangan yang tak disembunyikan. "Tapi, aku bukannya datang jauh-jauh dari Ibukota hanya untuk minum. Di mana Seraphina? Mengapa putriku tidak menyambut ayahnya?" Killian men

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Keluarga Mempelai

    Sore itu, gumpalan salju mulai turun dengan lebih rapat, menutupi jalanan berbatu yang menuju ke jantung Kastil Eisenhardt. Di tengah kesunyian Utara yang menggigit, gemerincing lonceng dari kereta-kereta kuda mewah mulai terdengar. Dua kereta kuda dengan lambang keluarga Astra berhenti tepat di halaman megah kastil. Kereta pertama, yang berhias ukiran emas paling rumit, mengangkut Demarcus von Astrea dan istrinya, Lilian. Suasana di dalam kabin kereta itu jauh lebih dingin daripada udara di luar sana. Demarcus duduk tegak, tangannya mencengkeram tongkat kayu ebony dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam ke arah dinding batu kastil yang kokoh, seolah ingin meruntuhkannya hanya dengan tatapan mata. "Kau yakin tetap ingin memberikan mereka restu, Demarcus?" bisik Lilian pelan. Suaranya bergetar, antara rasa cemas dan dingin yang menembus mantel bulunya. "Para bangsawan sudah berkumpul. Jika kau menunjukkan penolakanmu secara terang-terangan...

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Hadiah Sang Pangeran

    Siang itu, langit di atas wilayah Utara tampak kelabu muram. Seolah-olah awan sengaja menumpuk untuk menyembunyikan rencana besar yang tengah berdenyut di balik dinding batu Eisenhardt. Badai salju belum sepenuhnya mengamuk. Namun, serpihan es mulai turun perlahan. Menusuk kulit siapa pun yang berani berada di luar tanpa perlindungan."Awan seperti menyimpan badai yang tak terduga dari mana asalnya," gumam Seraphina mengamati arakan awan dari balik jendela kamarnya.Sementara di gerbang belakang kastil yang biasanya dijaga ketat, sebuah peti kayu kecil dengan ukiran matahari perak yang halus baru saja tiba diantar oleh seorang kurir.Penjaga yang bertugas saat itu hanya melirik sekilas, lalu membiarkan kurir yang membawa peti itu lewat begitu saja. Semua itu bukan karena kelalaian, melainkan hasil dari instruksi rahasia Killian yang telah membuka celah keamanan secara sengaja. Peti itu berpindah tangan ke seorang pelayan yang telah disuap mahal oleh Liza. Sebelum akhirnya mendarat

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Di Depan Para Tamu

    Cahaya matahari pagi yang pucat menembus jendela aula utama. Namun, suasana di dalamnya jauh dari kata hangat. Seraphina berdiri di tengah ruangan. Dikelilingi oleh para pelayan yang sedang sibuk memasang dekorasi lili putih pilihan Liza. Di sudut aula, beberapa tamu undangan dari keluarga bangsawan sekutu sedang berbincang pelan. Mengamati situasi dengan tatapan menghakimi. "Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah seharusnya Seraphina von Astrea yang menjadi calon pengantin Duke Killian?" Bisik-bisik mulai terdengar. "Seharusnya memang begitu, tapi sepertinya, Grand Duke sedang berpaling. Kalau aku jadi dia, aku juga pasti memilih daun muda yang bergairah ketimbang... bekas Putra Mahkota yang terbuang itu." "Benar, bukankah itu juga termasuk hinaan bagi Grand Duke Killian? Seharusnya dia bisa mendapatkan pengantin yang lebih baik ketimbang cuma bekas Putra Mahkota." Bisikan-bisikan itu semakin liar. Seraphina sama sekali tak menanggapi. Justru itulah yang ia harapkan. Dengan be

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Gairah Sang Grand Duke

    Setelah drama koridor yang menguras emosi itu berakhir, Killian memastikan Liza telah masuk ke kamarnya dengan rasa percaya diri yang meluap. Namun, begitu pintu kamar gadis itu tertutup, topeng ketenangan Killian retak seketika. Dengan langkah yang ditekan agar tak bersuara, ia menyusuri lorong rahasia di balik dinding perpustakaan yang langsung menghubungkan ke kamar utama calon Duchess-nya. Di dalam kamar yang hanya diterangi oleh satu lilin yang hampir habis, Seraphina sedang duduk di tepi ranjang. Perempuan itu baru saja menyeka sisa minyak angin di bawah matanya ketika pintu rahasia di balik lemari buku berderit terbuka. "Tuan Duke?" Killian melangkah masuk dengan napas yang memburu. Penampilannya tak lagi kaku dengan baju zirah. Pria itu hanya mengenakan kemeja linen putih yang kancing atasnya terbuka. Memperlihatkan pangkal dadanya yang kokoh. Dipadu dengan celana kulit hitam yang membungkus kaki panjangnya dengan sempurna. Aura pria itu tampak gelap, jauh lebih

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Mimpi Buruk di Ambang Pernikahan

    Tiga hari menuju hari pernikahan yang seharusnya menjadi puncak aliansi Utara, atmosfer di Kastil Eisenhardt terasa seperti permukaan danau yang membeku. Tenang di atas, namun menyimpan tekanan mematikan di bawahnya. Seraphina berdiri di depan jendela kamarnya yang berembun. Menatap pekatnya malam yang seolah menjadi cermin bagi rencana besarnya. Ketukan halus di bingkai jendela luar membuatnya sedikit bergeser. Seorang pemuda bermantel hitam pekat, nyaris menyatu dengan kegelapan, muncul di sana. Mata-mata kepercayaan Seraphina. "Katakan," bisik Seraphina setelah membuka sedikit celah jendela. Udara dingin Utara langsung menyerbu masuk. "Kereta kuda dengan lambang matahari perak—milik Pangeran Valerius—telah terlihat sepuluh mil dari perbatasan, Lady. "Mereka bergerak dalam pengawalan rahasia, namun panjinya tak bisa menipu mata saya," lapor sang pemuda dengan napas beruap. Seraphina menarik napas dalam. Membiarkan oksigen dingin itu memenuhi paru-parunya. "Hanya ker

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Pengepungan

    Salju turun dengan keanggunan yang mematikan. Menyapu jejak roda kereta kuda Seraphina seolah alam sendiri berusaha menyembunyikan dosanya malam itu. Ini musim semi, tapi salju tiba-tiba turun sejak rombongan Grand Duke Killian meninggalkan ibukota semalam.Waktu itu pun, cuacanya pun sama. Salju

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Pencopotan Gelar Putra Mahkota

    Kabar tentang pencopotan gelar putra mahkota menyebar dengan cepat ke seluruh istana. Bahkan hanya menunggu waktu beberapa saat untuk tersebar keluar tembok kekaisaran.Gelombang rakyat di luar gerbang istana kekaisaran mulai beriak. Mereka menuntut agar Kaisar Benedict segera mengesahkan keputusan

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Pelarian

    "Kaptenmu terlihat ragu, Grand Duke!" ucap Seraphina dengan nada sinis.Ia baru saja diragukan oleh seorang prajurit di bawah komando Grand Duke Killian. Tentu saja. Dia hanyalah seorang perempuan. Tapi perempuan ini adalah seorang calon permaisuri yang sempurna, sebelum Valerius dibutakan oleh c

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Pembatalan Pertunangan

    Seraphina menerima dokumen itu dengan tangan yang mantap. Ia menatap segel lilin merah yang baru saja membebaskannya dari belenggu Valerius. "Saya akan melakukan apa yang perlu dilakukan untuk kestabilan kekaisaran, Yang Mulia," jawab Seraphina, memberikan jawaban ambigu yang disukai para politis

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status