LOGINSemenjak kejadian di Danau Suci dan kepulangannya ke kediaman Mahapatih Yudistira, kehidupan Cempaka perlahan menemukan ritme baru. Tak ada lagi gemuruh lift jatuh atau kesendirian pekat yang mencekat dada. Kini, tiap fajar menyingsing, riuk halus para pelayan dan derap teratur sepatu bot prajurit penjaga menjadi melodi harinya.
Di tengah kesibukan kediaman yang megah, Mahapatih Yudistira bertindak bagai perisai pelindung. Ia tak pernah menuntut Cempaka bertindak bagai putri bangsawan sempurna. Kasih sayangnya tulus, seolah berusaha membayar rasa bersalah atas masa lalu yang tak Cempaka ketahui. Ditemani Mbok Rara yang telaten mengajarinya tata krama, Cempaka mulai merajut kehangatan keluarga—sesuatu yang sangat ia rindukan di dunia asalnya saat teringat adiknya, Noah. Namun, ketenangan itu mendadak koyak tatkala gema kentongan istana bertalu-talu menggelegar dari ibu kota. Derap kuda utusan membawa kabar gempur yang membakar seisi Kerajaan Pertiwi. Baginda Raja Dwinata Karyayudha mengumumkan Sayembara Calon Permaisuri Kerajaan. Seluruh putri dari Fraksi Panji Merah maupun Panji Putih diundang untuk mengikuti seleksi ketat. Bagi para bangsawan, ini bukan sekadar urusan takdir cinta, melainkan panggung perebutan takhta dan pengaruh politik puncak. Siang itu, sebuah lontar berstempel emas tiba di meja Mahapatih Yudistira. Setelah membacanya, raut sang Mahapatih berubah keruh. Ia melangkah menuju kediaman putrinya, mengetuk pintu kayu mengukir dengan jemari yang bergetar pelan. "Cempaka," panggil Yudistira lembut seraya duduk di hadapannya. "Kabar sayembara itu telah tiba. Nama putri Mahapatih tentu berada di urutan teratas daftar peserta." Yudistira menggenggam jemari Cempaka, menatapnya dengan binar mata seorang ayah yang cemas. "Namun Ayah tegaskan, Ayah tidak akan pernah menjadikanmu alat politik Panji Merah. Jika kau tak ingin melangkah ke istana, Ayah yang akan menghadapi Baginda Raja." Dada Cempaka berdesir hangat. Kontras dengan orang tua di dunia asalnya yang mengabaikannya demi pekerjaan, Yudistira begitu menghargai kebebasannya. "Terima kasih, Ayah. Berikan aku waktu untuk memikirkannya," bisik Cempaka. Sementara itu, di balik tembok tinggi istana, persiapan sayembara berlangsung megah. Pangeran Antasena Bratajaya—putra sulung sang Raja sekaligus perwujudan Panji Merah—terlibat langsung dalam memantau kesiapan acara. Berdiri anggun di pendapa dengan jubah gelap beraksen merah-emas, sikap Antasena tampak begitu tenang dan penuh wibawa. Para pejabat kerajaan kagum pada keramahan sang Pangeran Sulung. Namun di balik raut tenangnya, bayangan Cempaka terus bersemayam di pikiran Antasena. Ia mengingat jelas tatapan bingung namun berani dari gadis itu saat mereka bertemu di kediaman Yudistira, serta aroma familiar yang memancar dari dirinya. Bagi Antasena, Cempaka bukan sekadar calon peserta; gadis itu adalah takdir yang ingin ia miliki sepenuhnya. Sore harinya, Antasena berkunjung ke kediaman Mahapatih dengan dalih mengantarkan dokumen keamanan sayembara. Pertemuan berlanjut hangat di ruang tamu utama. "Putrimu pasti akan menjadi pusat perhatian di sayembara nanti, Mahapatih," tutur Antasena santai seraya menyesap tehnya. Yudistira menghela napas panjang. "Itulah yang paling kukhawatirkan. Cempaka baru saja sembuh dari musibah di danau. Aku tak ingin dia merasa terpaksa." Antasena menyunggingkan senyum tipis yang penuh pesona. "Keputusan memang harus berada di tangannya. Anda adalah ayah yang luar biasa, Mahapatih." Usai perbincangan, Antasena melangkah keluar menuju kereta kencananya. Namun sebelum naik, ia menghentikan langkah dan menoleh ke arah jendela kamar Cempaka di lantai atas. Tatapan matanya yang tajam melunak, memancarkan kepemilikan dan obsesi yang tersembunyi rapat di balik keramahannya. Antasena sadar, sayembara ini akan memancing perhatian banyak pria bangsawan, termasuk adiknya sendiri, Pangeran Andikara dari Panji Putih. Namun Antasena tidak berniat mengalah. Ia tidak perlu menyusun rencana licik atau menculik Cempaka hari ini. "Belum..." bisik Antasena amat pelan pada angin sore. "Belum saatnya." Ia tahu kapan harus bersabar. Bagi sang Pangeran Panji Merah, giliran waktunya akan tiba. Ketika panggung sayembara dibuka, ia akan memastikan Cempaka bertekuk lutut dan tak akan pernah berpaling ke mana pun. Kereta Antasena bergerak meninggalkan pelataran. Dari balik tirai kamarnya, Cempaka memperhatikan kereta itu menghilang di belokan jalan. Tangannya menggenggam erat gaun sutranya saat benaknya memproses semua kenyataan yang mengepungnya. Gugatan ramalan kucing ajaib kembali berngiang menembus relung jiwanya: “Satukan panji merah yang penuh amarah dan panji putih yang dibutakan. Cegah kehancuran Kerajaan Pertiwi.” Kini Cempaka mengerti. Sayembara Permaisuri ini bukanlah sekadar ajang perjodohan bangsawan, melainkan pusaran konflik tempat Panji Merah dan Panji Putih akan saling bertabrakan. Antasena dengan amarah dan ambisinya yang terselubung, serta Andikara dengan ketenangan dan rahasia panji putihnya yang dibutakan. Cempaka mengepalkan jemarinya mantap. Jika mengikuti sayembara ini adalah satu-satunya cara untuk melangkah ke pusat kekuasaan Kerajaan Pertiwi, menyatukan kedua pangeran bersaudara itu, dan membuka jalan pulang demi menemui adiknya, Noah... maka ia tidak akan melarikan diri. "Aku akan ikut sayembara itu," gumam Cempaka dengan binar mata penuh tekad, siap melangkah ke dalam panggung intrik Kerajaan Pertiwi. — Bersambung —Hari-hari menuju sayembara semakin dekat. Di seluruh penjuru Kerajaan Pertiwi, persiapan terus dilakukan secara masif. Para keluarga bangsawan berlomba menjahit pakaian terbaik dan memanggil guru tata krama. Namun di balik riuk persiapan tersebut, Cempaka justru merasa semakin gelisah.Sejak beberapa hari terakhir, ada tatapan tak kasatmata yang terus mengawasinya. Setiap kali ia menyusuri taman kediaman Mahapatih Yudistira, bulu kuduknya meremang, namun saat menoleh tak ada siapa-siapa.Rupanya bukan hanya Cempaka yang merasakannya. Pangeran Andikara dari Panji Putih mulai mencermati gerak-gerik kakak kandungnya, Pangeran Antasena dari Panji Merah. Beberapa kali Andikara mendapati Antasena berdiri dalam diam di batas taman kediaman Yudistira. Ada obsesi dan kegelapan terselubung di dalam sorot mata Pangeran Sulung itu.Suatu sore, saat berjalan berdampingan di taman belakang, Andikara menghentikan langkahnya. Pangeran berambut putih itu merogoh balik jubahnya dan mengulurkan sebuah l
Semenjak kejadian di Danau Suci dan kepulangannya ke kediaman Mahapatih Yudistira, kehidupan Cempaka perlahan menemukan ritme baru. Tak ada lagi gemuruh lift jatuh atau kesendirian pekat yang mencekat dada. Kini, tiap fajar menyingsing, riuk halus para pelayan dan derap teratur sepatu bot prajurit penjaga menjadi melodi harinya.Di tengah kesibukan kediaman yang megah, Mahapatih Yudistira bertindak bagai perisai pelindung. Ia tak pernah menuntut Cempaka bertindak bagai putri bangsawan sempurna. Kasih sayangnya tulus, seolah berusaha membayar rasa bersalah atas masa lalu yang tak Cempaka ketahui. Ditemani Mbok Rara yang telaten mengajarinya tata krama, Cempaka mulai merajut kehangatan keluarga—sesuatu yang sangat ia rindukan di dunia asalnya saat teringat adiknya, Noah.Namun, ketenangan itu mendadak koyak tatkala gema kentongan istana bertalu-talu menggelegar dari ibu kota. Derap kuda utusan membawa kabar gempur yang membakar seisi Kerajaan Pertiwi. Baginda Raja Dwinata Karyayudha men
“Mau kuantar pulang? Kebetulan kereta kencanaku tidak jauh dari sini,” tawar Pangeran Andikara lembut, memecah hening yang sempat tercipta di pelataran kediamannya.Cempaka tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. “Baiklah, jika Pangeran tidak keberatan, aku sangat berterima kasih.”Andikara membalas senyuman itu dengan binar hangat di matanya. Langkah mereka beriringan menyusuri jalan setapak berkerikil halus hingga tiba di hadapan sebuah kereta kencana megah berukir benang emas. Pangeran berambut putih itu mempersilakan Cempaka naik terlebih dahulu sebelum ia ikut menyusul duduk di hadapannya. Tak lama, roda kayu berlapis besi itu berderit halus, membawa mereka meluncur membelah jalanan utama menuju pusat kota Kerajaan Pertiwi.Dari balik jendela kecil berukir di sisi kereta, Cempaka tak henti-hentinya memandangi pemandangan luar dengan binar takjub. Kemegahan ibu kota membentang luas di hadapannya. Gerbang batu raksasa berdiri kokoh mengapit jalan utama, sementara panji-panji kerajaa
Lengan kokoh Pangeran Andikara terasa mantap saat menopang pinggang Cempaka, menahan tubuh gadis itu dari benturan keras ke tanah basah. Untuk beberapa detik yang bergetar hebat, jarak di antara mereka begitu dekat. Cempaka dapat merasakan hembusan napas hangat sang pangeran melintasi wajahnya, sementara bau harum kayu cendana dan samar aroma danau menguar dari jubah putih mewahnya.Mata Cempaka terkunci pada sepasang manik mata Pangeran Andikara yang tajam dan tenang—sebening kristal di balik helai rambut putih sehalus sutra yang melambai ditiup angin. Jantung Cempaka berpacu liar. Bukan sekadar karena keterkejutan usai lolos dari maut di dalam lift jatuh dan terlempar ke dunia asing ini, melainkan karena kehangatan nyata dari telapak tangan pria yang sama sekali tidak ia kenal.Pangeran Andikara menarik tubuh Cempaka dengan cekatan namun penuh kesopanan, membantunya berdiri tegak. Setelah memastikan pijakan gadis itu stabil, sang pangeran mundur satu langkah, mengibaskan tepi jubah
Sinar lampu pijar di lorong gedung bertingkat itu memantul suram di atas lantai granit. Langkah kaki Cempaka terdengar berirama, pelan dan teratur, menyusuri koridor korporat yang kian sepi. Jarum jam dinding telah menunjuk pukul sepuluh malam, membawa serta sisa-sisa letih yang menggayuti pundaknya sepanjang hari. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada kehangatan kecil yang berdenyut setiap kali ia membayangkan senyum adiknya, Noah—satu-satunya alasan ia bertahan melewati hari-hari yang melelahkan.Di ujung lorong, denting halus bel indikator memecah keheningan, disusul suara gesekan mekanis saat pintu lift meluncur terbuka. Cempaka melangkah masuk ke dalam ruang berlapis dinding besi stainless yang dingin. Ia membalikkan badan, menekan tombol lantai dasar, lalu membiarkan pintu perlahan tertutup, mengisolasi dirinya dari riuk rendah sisa pekerjaan kantor.Di dalam kabin yang lengang, ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan ponsel pintar. Layar kaca itu menyala terang, menampilkan pesa







