Home / Romansa / Red White Cinderella / BAB 1 - Gadis Takdir Pertiwi

Share

Red White Cinderella
Red White Cinderella
Author: Red white cinderella

BAB 1 - Gadis Takdir Pertiwi

last update publish date: 2026-09-20 13:09:12

Sinar lampu pijar di lorong gedung bertingkat itu memantul suram di atas lantai granit. Langkah kaki Cempaka terdengar berirama, pelan dan teratur, menyusuri koridor korporat yang kian sepi. Jarum jam dinding telah menunjuk pukul sepuluh malam, membawa serta sisa-sisa letih yang menggayuti pundaknya sepanjang hari. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada kehangatan kecil yang berdenyut setiap kali ia membayangkan senyum adiknya, Noah—satu-satunya alasan ia bertahan melewati hari-hari yang melelahkan.

Di ujung lorong, denting halus bel indikator memecah keheningan, disusul suara gesekan mekanis saat pintu lift meluncur terbuka. Cempaka melangkah masuk ke dalam ruang berlapis dinding besi stainless yang dingin. Ia membalikkan badan, menekan tombol lantai dasar, lalu membiarkan pintu perlahan tertutup, mengisolasi dirinya dari riuk rendah sisa pekerjaan kantor.

Di dalam kabin yang lengang, ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan ponsel pintar. Layar kaca itu menyala terang, menampilkan pesan singkat yang baru saja masuk dari Noah:

“Mbak Cempaka pulang jam berapa? Noah tungguin ya, jangan lupa janji kita!”

Senyum tipis dan tulus terukir di bibir Cempaka. Jemarinya dengan cepat menari di atas papan ketik virtual, merangkai balasan penuh kasih.

"Iya, Noah. Ini Mbak sudah di jalan pulang. Tunggu bentar ya, Mbak nggak akan terlambat," bisiknya pelan, seolah suaranya mampu menembus sekat ruang dan waktu untuk menenangkan sang adik.

Namun, tepat sebelum jemarinya menekan tombol kirim—

GUBRAK!

Guncangan dahsyat mendadak menghantam kabin dari atas. Tubuh Cempaka terempas keras ke dinding besi, membuat ponselnya terlepas dari genggaman dan menghantam lantai hingga berkeping-keping.

Sreeek... KRAK!

Lampu penerangan berkedip liar beberapa kali sebelum akhirnya padam total. Kegelapan pekat yang membungkam langsung menelan seluruh ruang. Suara derit besi yang beradu nyaring dan raungan kabel baja yang meregang putus bergempa memekakkan telinga dari langit-langit kabin.

“A-apa yang terjadi?!” jerit Cempaka, napasnya tersangkut di tenggorokan saat lantai di bawah kakinya mendadak melenyap begitu saja.

Kabin lift itu terlepas dari tumpuannya, meluncur jatuh bebas ke dasar lorong dengan kecepatan yang mengerikan. Gravitasi menarik tubuh Cempaka dengan paksa, menekan dadanya hingga rasa sesak mencekat jalan napas. Dinding besi bergetar hebat di sekelilingnya, memantulkan gemuruh angin menderu yang memekakkan.

“Tolong! Siapa pun... tolong!” Cempaka meraba-raba kegelapan dengan panik, mencari pegangan, namun hanya hampa dan dingin yang ia dapati. Maut mengintai di setiap detik, dan bayangan wajah Noah tiba-tiba melintas begitu nyata di benaknya.

Ingatannya tertarik ke sore tadi di rumah minimalis mereka.

“Gimana kalau nanti malam kita makan di luar? Kan Noah ulang tahun yang kesepuluh!” ajak Cempaka riang, menghampiri meja makan.

Noah mendongak, matanya berbinar penuh harap. “Wah, benarkah, Mbak?”

Cempaka lantas bergegas menemui sang ibu yang sibuk dengan tumpukan berkas kantor. “Ma, malam ini kita makan di luar, yuk? Rayain ulang tahun Noah.”

Tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya, sang ibu menjawab dingin, “Duh, Cempaka... Mama banyak pekerjaan. Malam ini Mama harus lembur.”

Cempaka beralih pada ayahnya yang sedang merapikan tas kerja. “Kalau Papa? Bisa luangkan waktu sebentar, Pa?”

“Papa tidak bisa,” sahut sang ayah datar tanpa menatapnya. “Ada janji golf dengan relasi bisnis. Mana mungkin Papa batalkan demi hal sepele.”

Senyum di wajah Noah seketika runtuh, berganti tatapan sendu yang teramat dalam. Anak itu menunduk, memeluk lututnya di sudut ruangan dengan pundak yang bergetar. “Mbak... apakah Ayah dan Ibu benar-benar tidak menyayangi kita?”

Kala itu, Cempaka berlutut, merengkuh bahu kecil adiknya dengan penuh keyakinan. “Jangan pernah berpikiran seperti itu, Noah. Apapun yang terjadi, Mbak akan selalu ada untuk kamu. Kamu sangat berharga buat Mbak.”

Janji itu... janji yang belum sempat ia tepati sepenuhnya.

Di tengah hantaman maut dan jerit besi yang memekakkan telinga, ketakutan Cempaka tiba-tiba melebur menjadi tekad yang menyala-nyala. “Aku tidak boleh mati di sini! Aku sudah berjanji pada Noah. Aku harus hidup!”

Seketika, di tengah kegelapan pekat kabin yang jatuh, sepasang pendar cahaya ganjil muncul. Dua manik mata berbeda warna—biru jernih dan keemasan—menatapnya lekat. Sesosok kucing berbulu putih bersih melangkah tanpa suara, memancarkan aura agung yang tak masuk akal di ruang sempit itu.

“Apakah kau ingin pasrah begitu saja pada takdirmu?” suara halus itu bergema langsung di dalam benak Cempaka.

Cempaka terkesiap menatap makhluk ajaib tersebut. “Siapa kau? Selamatkan aku!”

“Aku bisa menyelamatkan nyawamu,” jawab kucing itu elegan, mengibaskan ekornya. “Namun, kau harus menerima takdir baru. Kau harus menyatukan panji merah yang penuh amarah dan panji putih yang dibutakan di Kerajaan Pertiwi. Cegah kehancuran di sana, dan kau akan bisa kembali kepada adikmu.”

Tanpa keraguan sedikit pun, Cempaka mengangguk tegas. “Aku terima! Selamatkan aku!”

Blasss!

Kilatan cahaya putih menyilaukan mata. Gemuruh lift yang jatuh lenyap seketika, berganti dengan sensasi dingin air yang merendam seluruh tubuhnya. Paru-paru Cempaka menuntut udara dengan liar. Ia mengayunkan tangan sekuat tenaga, membelah kedalaman air hingga kepalanya menyembul di permukaan danau yang tenang.

Dengan sisa tenaga, ia berenang ke tepi dan terbaring di atas rumput basah, terengah-engah meraup oksigen. Namun, kebingungan langsung melanda saat ia menyadari pakaian kasualnya telah berubah menjadi gaun panjang berlapis kain mewah bermotif rumit yang berkilauan tertimpa cahaya matahari.

Riuk suara menggema dari sekeliling. Puluhan warga berbusana tradisional kedaerahan berkerumun, menatapnya dengan takjub tak percaya.

“Lihat! Sang Hyang telah menjawab doa-doa kita!” teriak seorang warga dengan suara bergetar. “Dewi Kesuburan! Dewi Kesuburan telah dikirimkan ke Kerajaan Pertiwi!”

Seketika, seluruh penduduk bersujud di tanah, menunjukkan rasa hormat tertinggi. Cempaka terpaku di tempatnya, lidahnya kelu tak sanggup bersuara.

Di tengah keheningan penuh takzim itu, langkah kaki yang tenang terdengar mendekat. Sosok pria berpostur tegap menembus barisan warga. Rambut putih panjangnya terurai elok hingga melewati bahu, kontras dengan kulit porselennya yang bersih tanpa cela. Ia mengenakan jubah putih panjang dengan sulaman emas mewah di tepiannya, memancarkan wibawa kepemimpinan yang luar biasa.

“Pangeran Andikara...” bisik para warga penuh rasa segan.

Pria itu berhenti tepat di hadapan Cempaka. Sepasang matanya yang tajam menatap lekat, mengamati kebingungan di wajah sang gadis. Tanpa kata, Pangeran Andikara merendahkan tubuhnya, lalu mengulurkan tangan kokohnya ke hadapan Cempaka.

Cempaka mencoba berdiri untuk menyambut uluran itu, namun kakinya yang masih lemas justru tergelincir di atas tanah basah tepi danau.

“Ah—!”

Sebelum tubuhnya membentur tanah, gerakan cepat sang pangeran menyergapnya. Lengan kokoh terbungkus jubah putih itu menopang pinggang Cempaka dengan sigap, menariknya rapat dalam satu dekapan yang hangat.

Di antara heningnya angin danau dan ratusan pasang mata yang menyaksikan, pandangan mereka terkunci—menyaksikan awal dari lembaran takdir penuh intrik yang harus mereka hadapi bersama.

— Bersambung —

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Red White Cinderella    BAB 5 - Perdamaian kedua Panji

    Hari-hari menuju sayembara semakin dekat. Di seluruh penjuru Kerajaan Pertiwi, persiapan terus dilakukan secara masif. Para keluarga bangsawan berlomba menjahit pakaian terbaik dan memanggil guru tata krama. Namun di balik riuk persiapan tersebut, Cempaka justru merasa semakin gelisah.Sejak beberapa hari terakhir, ada tatapan tak kasatmata yang terus mengawasinya. Setiap kali ia menyusuri taman kediaman Mahapatih Yudistira, bulu kuduknya meremang, namun saat menoleh tak ada siapa-siapa.Rupanya bukan hanya Cempaka yang merasakannya. Pangeran Andikara dari Panji Putih mulai mencermati gerak-gerik kakak kandungnya, Pangeran Antasena dari Panji Merah. Beberapa kali Andikara mendapati Antasena berdiri dalam diam di batas taman kediaman Yudistira. Ada obsesi dan kegelapan terselubung di dalam sorot mata Pangeran Sulung itu.Suatu sore, saat berjalan berdampingan di taman belakang, Andikara menghentikan langkahnya. Pangeran berambut putih itu merogoh balik jubahnya dan mengulurkan sebuah l

  • Red White Cinderella    Bab 4 - Sesuatu di Pertiwi

    Semenjak kejadian di Danau Suci dan kepulangannya ke kediaman Mahapatih Yudistira, kehidupan Cempaka perlahan menemukan ritme baru. Tak ada lagi gemuruh lift jatuh atau kesendirian pekat yang mencekat dada. Kini, tiap fajar menyingsing, riuk halus para pelayan dan derap teratur sepatu bot prajurit penjaga menjadi melodi harinya.Di tengah kesibukan kediaman yang megah, Mahapatih Yudistira bertindak bagai perisai pelindung. Ia tak pernah menuntut Cempaka bertindak bagai putri bangsawan sempurna. Kasih sayangnya tulus, seolah berusaha membayar rasa bersalah atas masa lalu yang tak Cempaka ketahui. Ditemani Mbok Rara yang telaten mengajarinya tata krama, Cempaka mulai merajut kehangatan keluarga—sesuatu yang sangat ia rindukan di dunia asalnya saat teringat adiknya, Noah.Namun, ketenangan itu mendadak koyak tatkala gema kentongan istana bertalu-talu menggelegar dari ibu kota. Derap kuda utusan membawa kabar gempur yang membakar seisi Kerajaan Pertiwi. Baginda Raja Dwinata Karyayudha men

  • Red White Cinderella    BAB 3 - Orang yang tidak terduga

    “Mau kuantar pulang? Kebetulan kereta kencanaku tidak jauh dari sini,” tawar Pangeran Andikara lembut, memecah hening yang sempat tercipta di pelataran kediamannya.Cempaka tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. “Baiklah, jika Pangeran tidak keberatan, aku sangat berterima kasih.”Andikara membalas senyuman itu dengan binar hangat di matanya. Langkah mereka beriringan menyusuri jalan setapak berkerikil halus hingga tiba di hadapan sebuah kereta kencana megah berukir benang emas. Pangeran berambut putih itu mempersilakan Cempaka naik terlebih dahulu sebelum ia ikut menyusul duduk di hadapannya. Tak lama, roda kayu berlapis besi itu berderit halus, membawa mereka meluncur membelah jalanan utama menuju pusat kota Kerajaan Pertiwi.Dari balik jendela kecil berukir di sisi kereta, Cempaka tak henti-hentinya memandangi pemandangan luar dengan binar takjub. Kemegahan ibu kota membentang luas di hadapannya. Gerbang batu raksasa berdiri kokoh mengapit jalan utama, sementara panji-panji kerajaa

  • Red White Cinderella    BAB 2 - Awal baru di Negeri Asing

    Lengan kokoh Pangeran Andikara terasa mantap saat menopang pinggang Cempaka, menahan tubuh gadis itu dari benturan keras ke tanah basah. Untuk beberapa detik yang bergetar hebat, jarak di antara mereka begitu dekat. Cempaka dapat merasakan hembusan napas hangat sang pangeran melintasi wajahnya, sementara bau harum kayu cendana dan samar aroma danau menguar dari jubah putih mewahnya.Mata Cempaka terkunci pada sepasang manik mata Pangeran Andikara yang tajam dan tenang—sebening kristal di balik helai rambut putih sehalus sutra yang melambai ditiup angin. Jantung Cempaka berpacu liar. Bukan sekadar karena keterkejutan usai lolos dari maut di dalam lift jatuh dan terlempar ke dunia asing ini, melainkan karena kehangatan nyata dari telapak tangan pria yang sama sekali tidak ia kenal.Pangeran Andikara menarik tubuh Cempaka dengan cekatan namun penuh kesopanan, membantunya berdiri tegak. Setelah memastikan pijakan gadis itu stabil, sang pangeran mundur satu langkah, mengibaskan tepi jubah

  • Red White Cinderella    BAB 1 - Gadis Takdir Pertiwi

    Sinar lampu pijar di lorong gedung bertingkat itu memantul suram di atas lantai granit. Langkah kaki Cempaka terdengar berirama, pelan dan teratur, menyusuri koridor korporat yang kian sepi. Jarum jam dinding telah menunjuk pukul sepuluh malam, membawa serta sisa-sisa letih yang menggayuti pundaknya sepanjang hari. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada kehangatan kecil yang berdenyut setiap kali ia membayangkan senyum adiknya, Noah—satu-satunya alasan ia bertahan melewati hari-hari yang melelahkan.Di ujung lorong, denting halus bel indikator memecah keheningan, disusul suara gesekan mekanis saat pintu lift meluncur terbuka. Cempaka melangkah masuk ke dalam ruang berlapis dinding besi stainless yang dingin. Ia membalikkan badan, menekan tombol lantai dasar, lalu membiarkan pintu perlahan tertutup, mengisolasi dirinya dari riuk rendah sisa pekerjaan kantor.Di dalam kabin yang lengang, ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan ponsel pintar. Layar kaca itu menyala terang, menampilkan pesa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status