Home / Romansa / Red White Cinderella / BAB 5 - Perdamaian kedua Panji

Share

BAB 5 - Perdamaian kedua Panji

last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-21 10:09:23

Hari-hari menuju sayembara semakin dekat. Di seluruh penjuru Kerajaan Pertiwi, persiapan terus dilakukan secara masif. Para keluarga bangsawan berlomba menjahit pakaian terbaik dan memanggil guru tata krama. Namun di balik riuk persiapan tersebut, Cempaka justru merasa semakin gelisah.

Sejak beberapa hari terakhir, ada tatapan tak kasatmata yang terus mengawasinya. Setiap kali ia menyusuri taman kediaman Mahapatih Yudistira, bulu kuduknya meremang, namun saat menoleh tak ada siapa-siapa.

Rupanya bukan hanya Cempaka yang merasakannya. Pangeran Andikara dari Panji Putih mulai mencermati gerak-gerik kakak kandungnya, Pangeran Antasena dari Panji Merah. Beberapa kali Andikara mendapati Antasena berdiri dalam diam di batas taman kediaman Yudistira. Ada obsesi dan kegelapan terselubung di dalam sorot mata Pangeran Sulung itu.

Suatu sore, saat berjalan berdampingan di taman belakang, Andikara menghentikan langkahnya. Pangeran berambut putih itu merogoh balik jubahnya dan mengulurkan sebuah liontin perak berhias batu bening.

"Ini untukmu, Cempaka. Pakailah sebagai pelindung," ujar Andikara tenang.

"Pelindung?" Cempaka mengernyit. "Kau selalu seserius ini?"

"Jangan pernah melepaskannya," balas Andikara tanpa senyum, mengabaikan godaan Cempaka.

Cempaka akhirnya mengalungkan liontin itu di lehernya. Ia tak menyadari bahwa liontin tersebut telah dibubuhi sihir pelacak oleh ahli sihir kerajaan atas permintaan Andikara—sebuah antisipasi atas naluri buruknya terhadap sang kakak.

Malamnya, kediaman Mahapatih sunyi mencekat. Cempaka duduk di dekat jendela kamarnya ketika batu pada liontin di lehernya mendadak berdenyut hangat. Sebelum ia sempat berteriak, sebuah bayangan bergerak cepat menembus jendela, membekap mulutnya, dan membawanya tenggelam dalam kegelapan.

Saat membuka mata, Cempaka mendapati dirinya terkurung di dalam ruangan batu yang dingin dan lembap. Derap langkah kaki teratur mendekat. Pintu kayu tebal berderit terbuka, menampilkan sosok Pangeran Antasena. Wajah sang pangeran tak lagi memancarkan ramah tamah, melainkan kelelahan emosional yang mendalam.

"Maafkan aku, Cempaka..." bisik Antasena lirih.

Cempaka mundur bersandar pada dinding dingin. "Kenapa kau membawaku ke sini, Antasena?!"

"Aku sudah mencoba menunggu sayembara itu... Tapi aku sadar aku tak bisa mempertaruhkanmu pada takdir yang ambigu," aku Antasena, suaranya bergetar. "Aku menculikmu karena aku tak tahu cara lain untuk memilikimu."

"Kau gila! Ini bukan cara menyayangi seseorang!" tegas Cempaka.

BRAK!

Pintu utama bangunan batu runtuh dihantam gelombang sihir. Sosok tinggi berambut putih melangkah masuk dengan aura dingin yang memotong udara. Pangeran Andikara berdiri di sana, matanya terkunci pada pendar bening liontin di leher Cempaka.

"Lepaskan dia, Antasena," perintah Andikara tajam.

Antasena tertawa getir. "Kau selalu menemukan cara menggagalkanku, Adikara! Sejak kecil kau selalu disanjung sebagai Panji Putih yang suci, sementara aku dipandang sebagai Panji Merah yang dipenuhi amarah!"

"Aku tidak pernah menganggapmu saingan!" potong Andikara, mengepalkan tangannya erat.

"Tapi kerajaan ini memisahkan kita! Rakyat membagi kita!" raung Antasena. Pedangnya terhunus, memancarkan aura merah membara. Andikara turut menarik pedang peraknya.

Pertarungan sengit pecah di dalam ruangan sempit itu. Gemerincing besi yang beradu memancarkan percikan api. Dengki, cemburu, dan luka lama belasan tahun meledak dalam sabetan pedang kedua pangeran bersaudara.

"BERHENTI!" jerit Cempaka, namun suaranya tenggelam dalam gemuruh benturan baja.

Tiba-tiba, sebuah bisikan gaib bergaung jernih langsung di dalam benak Cempaka: “Kau tidak datang untuk memilih salah satu panji, Cempaka... Kau hadir untuk menyatukan keduanya.”

Penglihatan Cempaka mendadak terbuka lebar. Kucing ajaib itu benar. Ia berlari tanpa ragu, menerobos tepat ke tengah-tengah persilangan pedang kedua pangeran!

"Cempaka, mundur!" teriak Andikara panik, menghentikan sabetannya seperseratus detik sebelum merobek kulit Cempaka. Antasena turut menahan pedangnya dengan napas tersengal.

"Cukup!" bentak Cempaka, air mata keharuan dan ketegasan mengalir di pipinya. Ia menatap Antasena, lalu beralih pada Andikara. "Kalian adalah saudara! Apakah amarah dan ego panji ini harus diakhiri dengan saling membunuh?"

Napas kedua pangeran itu memburu, menatap gadis yang berdiri di antara ujung pedang mereka.

"Kerajaan Pertiwi bukan milik Panji Merah, dan bukan milik Panji Putih!" tegas Cempaka. "Kerajaan ini milik kalian berdua! Jika kalian butuh jembatan untuk menghentikan perang saudara ini... biarkan aku yang menanggungnya."

Kedua pangeran terpaku. Cempaka mengusap air matanya dan melanjutkan dengan suara mantap. "Batalkan sayembara konyol itu. Aku bersedia menjadi Permaisuri Kerajaan Pertiwi—bukan untuk salah satu dari kalian, melainkan untuk mendampingi kalian berdua menyatukan negeri ini."

Keheningan melingkupi ruangan batu tersebut. Penyesalan perlahan merayap di wajah Antasena. Pedangnya terlepas, jatuh berdenting ke lantai. "Adikara... maafkan aku," bisiknya retak.

Andikara menyarungkan pedangnya, menatap sang kakak dengan mata yang melunak. "Aku juga minta maaf, Kak."

Dua pangeran itu perlahan berpelukan dalam kepasrahan, meluruhkan dinding permusuhan yang telah bertahun-tahun membendung darah persaudaraan mereka. Panji Merah dan Panji Putih akhirnya luluh di bawah keteguhan hati seorang gadis dari dunia asing.

Beberapa hari kemudian, kabar agung mengguncang seluruh penjuru Kerajaan Pertiwi. Baginda Raja Dwinata Karyayudha secara resmi membatalkan sayembara dan mengumumkan penyatuan kembali dua wilayah.

Di atas alun-alun istana yang megah, dua bendera raksasa dikibarkan berdampingan—Panji Merah dan Panji Putih—berkibar harmonis diterpa angin sore. Di hadapan ribuan rakyat yang bersorak haru, Cempaka dinobatkan sebagai Permaisuri Penjelas Persatuan, berdiri di antara Pangeran Antasena dan Pangeran Andikara yang kini berdampingan sebagai pilar kerajaan.

Mahapatih Yudistira berdiri di barisan depan dengan mata berkaca-kaca, menatap putrinya dengan kebanggaan luar biasa.

Saat sorak-sorai rakyat membahana, suara lembut sang kucing putih kembali bergema hangat di telinga Cempaka: “Tugasmu telah usai, Cempaka. Takdir Kerajaan Pertiwi telah pulih, dan pintu menuju duniamu telah terbuka.”

Cempaka memejamkan mata. Di dalam kegelapan batinnya, bayangan senyum Noah—adik kecilnya yang menunggunya di rumah—terbit begitu terang dan nyata.

Ketika Cempaka membuka mata, ia menatap langit sore Pertiwi yang indah untuk terakhir kalinya, menyunggingkan senyum tulus bagi dua pangeran yang telah berdamai. Ia tahu, tugasnya menyatukan tanah ini telah genap, dan kini saatnya ia melangkah pulang memeluk adiknya.

— Bersambung —

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Red White Cinderella    BAB 5 - Perdamaian kedua Panji

    Hari-hari menuju sayembara semakin dekat. Di seluruh penjuru Kerajaan Pertiwi, persiapan terus dilakukan secara masif. Para keluarga bangsawan berlomba menjahit pakaian terbaik dan memanggil guru tata krama. Namun di balik riuk persiapan tersebut, Cempaka justru merasa semakin gelisah.Sejak beberapa hari terakhir, ada tatapan tak kasatmata yang terus mengawasinya. Setiap kali ia menyusuri taman kediaman Mahapatih Yudistira, bulu kuduknya meremang, namun saat menoleh tak ada siapa-siapa.Rupanya bukan hanya Cempaka yang merasakannya. Pangeran Andikara dari Panji Putih mulai mencermati gerak-gerik kakak kandungnya, Pangeran Antasena dari Panji Merah. Beberapa kali Andikara mendapati Antasena berdiri dalam diam di batas taman kediaman Yudistira. Ada obsesi dan kegelapan terselubung di dalam sorot mata Pangeran Sulung itu.Suatu sore, saat berjalan berdampingan di taman belakang, Andikara menghentikan langkahnya. Pangeran berambut putih itu merogoh balik jubahnya dan mengulurkan sebuah l

  • Red White Cinderella    Bab 4 - Sesuatu di Pertiwi

    Semenjak kejadian di Danau Suci dan kepulangannya ke kediaman Mahapatih Yudistira, kehidupan Cempaka perlahan menemukan ritme baru. Tak ada lagi gemuruh lift jatuh atau kesendirian pekat yang mencekat dada. Kini, tiap fajar menyingsing, riuk halus para pelayan dan derap teratur sepatu bot prajurit penjaga menjadi melodi harinya.Di tengah kesibukan kediaman yang megah, Mahapatih Yudistira bertindak bagai perisai pelindung. Ia tak pernah menuntut Cempaka bertindak bagai putri bangsawan sempurna. Kasih sayangnya tulus, seolah berusaha membayar rasa bersalah atas masa lalu yang tak Cempaka ketahui. Ditemani Mbok Rara yang telaten mengajarinya tata krama, Cempaka mulai merajut kehangatan keluarga—sesuatu yang sangat ia rindukan di dunia asalnya saat teringat adiknya, Noah.Namun, ketenangan itu mendadak koyak tatkala gema kentongan istana bertalu-talu menggelegar dari ibu kota. Derap kuda utusan membawa kabar gempur yang membakar seisi Kerajaan Pertiwi. Baginda Raja Dwinata Karyayudha men

  • Red White Cinderella    BAB 3 - Orang yang tidak terduga

    “Mau kuantar pulang? Kebetulan kereta kencanaku tidak jauh dari sini,” tawar Pangeran Andikara lembut, memecah hening yang sempat tercipta di pelataran kediamannya.Cempaka tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. “Baiklah, jika Pangeran tidak keberatan, aku sangat berterima kasih.”Andikara membalas senyuman itu dengan binar hangat di matanya. Langkah mereka beriringan menyusuri jalan setapak berkerikil halus hingga tiba di hadapan sebuah kereta kencana megah berukir benang emas. Pangeran berambut putih itu mempersilakan Cempaka naik terlebih dahulu sebelum ia ikut menyusul duduk di hadapannya. Tak lama, roda kayu berlapis besi itu berderit halus, membawa mereka meluncur membelah jalanan utama menuju pusat kota Kerajaan Pertiwi.Dari balik jendela kecil berukir di sisi kereta, Cempaka tak henti-hentinya memandangi pemandangan luar dengan binar takjub. Kemegahan ibu kota membentang luas di hadapannya. Gerbang batu raksasa berdiri kokoh mengapit jalan utama, sementara panji-panji kerajaa

  • Red White Cinderella    BAB 2 - Awal baru di Negeri Asing

    Lengan kokoh Pangeran Andikara terasa mantap saat menopang pinggang Cempaka, menahan tubuh gadis itu dari benturan keras ke tanah basah. Untuk beberapa detik yang bergetar hebat, jarak di antara mereka begitu dekat. Cempaka dapat merasakan hembusan napas hangat sang pangeran melintasi wajahnya, sementara bau harum kayu cendana dan samar aroma danau menguar dari jubah putih mewahnya.Mata Cempaka terkunci pada sepasang manik mata Pangeran Andikara yang tajam dan tenang—sebening kristal di balik helai rambut putih sehalus sutra yang melambai ditiup angin. Jantung Cempaka berpacu liar. Bukan sekadar karena keterkejutan usai lolos dari maut di dalam lift jatuh dan terlempar ke dunia asing ini, melainkan karena kehangatan nyata dari telapak tangan pria yang sama sekali tidak ia kenal.Pangeran Andikara menarik tubuh Cempaka dengan cekatan namun penuh kesopanan, membantunya berdiri tegak. Setelah memastikan pijakan gadis itu stabil, sang pangeran mundur satu langkah, mengibaskan tepi jubah

  • Red White Cinderella    BAB 1 - Gadis Takdir Pertiwi

    Sinar lampu pijar di lorong gedung bertingkat itu memantul suram di atas lantai granit. Langkah kaki Cempaka terdengar berirama, pelan dan teratur, menyusuri koridor korporat yang kian sepi. Jarum jam dinding telah menunjuk pukul sepuluh malam, membawa serta sisa-sisa letih yang menggayuti pundaknya sepanjang hari. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada kehangatan kecil yang berdenyut setiap kali ia membayangkan senyum adiknya, Noah—satu-satunya alasan ia bertahan melewati hari-hari yang melelahkan.Di ujung lorong, denting halus bel indikator memecah keheningan, disusul suara gesekan mekanis saat pintu lift meluncur terbuka. Cempaka melangkah masuk ke dalam ruang berlapis dinding besi stainless yang dingin. Ia membalikkan badan, menekan tombol lantai dasar, lalu membiarkan pintu perlahan tertutup, mengisolasi dirinya dari riuk rendah sisa pekerjaan kantor.Di dalam kabin yang lengang, ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan ponsel pintar. Layar kaca itu menyala terang, menampilkan pesa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status