Home / Romansa / Red White Cinderella / BAB 3 - Orang yang tidak terduga

Share

BAB 3 - Orang yang tidak terduga

last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-20 18:10:08

“Mau kuantar pulang? Kebetulan kereta kencanaku tidak jauh dari sini,” tawar Pangeran Andikara lembut, memecah hening yang sempat tercipta di pelataran kediamannya.

Cempaka tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. “Baiklah, jika Pangeran tidak keberatan, aku sangat berterima kasih.”

Andikara membalas senyuman itu dengan binar hangat di matanya. Langkah mereka beriringan menyusuri jalan setapak berkerikil halus hingga tiba di hadapan sebuah kereta kencana megah berukir benang emas. Pangeran berambut putih itu mempersilakan Cempaka naik terlebih dahulu sebelum ia ikut menyusul duduk di hadapannya. Tak lama, roda kayu berlapis besi itu berderit halus, membawa mereka meluncur membelah jalanan utama menuju pusat kota Kerajaan Pertiwi.

Dari balik jendela kecil berukir di sisi kereta, Cempaka tak henti-hentinya memandangi pemandangan luar dengan binar takjub. Kemegahan ibu kota membentang luas di hadapannya. Gerbang batu raksasa berdiri kokoh mengapit jalan utama, sementara panji-panji kerajaan berkibar gagah ditiup angin sore. Riuk rendah suara warga dan hiruk-pikuk pasar tradisional menghidupkan suasana, memancarkan aura kehidupan yang sangat hangat, namun tetap terasa asing bagi Cempaka.

“Mengagumkan, bukan?” ujar Pangeran Andikara yang memperhatikan garis wajah Cempaka.

Cempaka mengangguk cepat tanpa mengalihkan pandangannya. “Luar biasa... Aku tidak pernah membayangkan akan menyaksikan tempat sesemarak ini.”

Andikara tersenyum tipis, menatap sosok gadis di depannya dengan pendar ketenangan. Namun, di tengah perjalanan yang hening itu, mata Cempaka tak sengaja menangkap sebuah benda di celah ruang penyimpanan kecil di bawah bangku. Tangannya terulur dan menarik keluar sebuah buku bersampul kain sutra dengan hiasan corak romantis.

“Wah, apa ini?” goda Cempaka seraya membolak-balik halaman buku tersebut. “Seorang pangeran gagah dan berwibawa seperti Andikara ternyata suka membaca kisah cinta?”

Seketika, raut tenang di wajah Pangeran Andikara luntur. Rona merah tipis merambat cepat di kedua pipinya yang porselen. “I-itu bukan milikku.”

Cempaka mengalihkan pandangannya dan mengangkat alis. “Bukan? Lalu kenapa ada di dalam kereta kencanamu?”

“Aku... aku hanya membacanya sekali,” gumam Andikara pelan, berusaha mempertahankan wibawanya meski gagal total.

Cempaka menahan tawa, merasa terhibur melihat sisi manusiawi dari pria yang tadi terlihat begitu dingin dan berkuasa. “Nah, berarti memang milikmu!”

Andikara menghela napas panjang, lalu membuang muka ke luar jendela sembari mengambil buku itu kembali. “Kau terlalu banyak bertanya, Cempaka.”

Tawa kecil Cempaka mengalun ringan. Untuk sesaat, beban berat di dadanya terangkat. Namun saat tawa itu perlahan reda, ingatan Cempaka kembali melayang pada tujuannya. Panji putih yang dibutakan. Ia menatap profil wajah Andikara dari samping. Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan oleh pria anggun ini?

Kereta kencana akhirnya memperlambat lajunya sebelum berhenti sempurna di pelataran sebuah kediaman megah berarsitektur klasik—Kediaman Mahapatih Yudistira. Setelah Andikara membantunya turun dan berpamitan, Cempaka diantarkan oleh seorang pelayan paruh baya bernama Mbok Rara menuju sebuah kamar bernuansa kayu hangat. Dengan telaten, Mbok Rara membantunya berganti gaun bersulam indah yang jauh lebih nyaman dan kering.

Begitu Mbok Rara pamit melangkah keluar, keheningan kembali memenuhi ruangan. Tiba-tiba, kepakan sayap terdengar di ambang jendela. Seekor burung elang hinggap membawa gulungan lontar kuno di kakinya. Cempaka mendekat dengan ragu, membuka lontar itu, dan membaca barisan tulisan tangan yang tegas di bawah nama penulis: Antasena.

“Cempaka, aku mendengar kabar ajaib dari Danau Suci. Aku akan segera berkunjung. Ada hal penting yang harus kupastikan tentang dirimu.”

Antasena? Siapa dia? batin Cempaka kebingungan.

Namun, sebelum sempat berpikir lebih jauh, indra penciumannya mendadak terusik oleh aroma yang menguar samar dari balik celah pintu. Wangi manis, hangat, dan begitu familiar. Aroma yang persis seperti wangi tubuh adiknya, Noah, di dunia modern.

“Noah...?” bisiknya bergetar.

Jantung Cempaka berdegup kencang. Tanpa berpikir panjang, ia memburu pintu dan membukanya lebar-lebar. “Noah—!”

Suaranya terhenti seketika. Pria yang berdiri di balik pintu bukanlah Noah. Sosok itu tinggi tegap, berambut hitam sedikit berantakan, mengenakan jubah bangsawan gelap beraksen merah dan emas yang memancarkan aura keberanian.

Mata mereka bertaut. Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang hangat. “Cempaka.”

“Siapa kau...?” tanya Cempaka penuh keraguan.

Pria itu terkekeh pelan. “Kau sungguh tidak mengingatku? Aku Raden Antasena Bratajaya, putra sulung Prabu Dwinata Karyayudha—pengirim lontar yang baru saja kau baca.”

Dada Cempaka berdesir. Antasena adalah pangeran dari Fraksi Panji Merah—sekaligus kakak kandung dari Pangeran Andikara! Di balik tatapan Antasena yang tajam namun lembut, tersirat kekhawatiran yang mendalam.

“Saat mendengar kabar tentang kejadian di danau, aku sempat berpikir... bahwa aku sudah terlambat membentengimu,” gumam Antasena lirih, melangkah mendekat.

Sebelum Cempaka sempat merespons, derap langkah bergesa terdengar dari koridor. Pria paruh baya berwajah tegas namun bergaris lelah muncul. Langkahnya terhenti tatkala matanya menangkap sosok Cempaka.

“Cempaka...” suara pria itu bergetar hebat. Tanpa ragu, Mahapatih Yudistira merengkuh Cempaka ke dalam pelukan yang amat erat.

Cempaka membeku dalam dekapan hangat itu. Meski tak mengenalnya, ia bisa merasakan kerinduan dan ketakutan mendalam dari seorang ayah yang nyaris kehilangan putrinya.

“Syukurlah... kau selamat, Nak,” bisik Yudistira penuh haru, meremas lembut bahu Cempaka. “Ayah sangat mengkhawatirkanmu.”

Hati Cempaka bergetar. Rasa bersalah sekaligus kehangatan menjalar di dadanya. “Maafkan aku... Ayah,” sahutnya lirih, merasakan kerinduan yang sama terhadap sosok keluarga.

Yudistira tersenyum lega dan mengusap rambut putrinya sebelum berbisik, “Istirahatlah, banyak hal politik dan takdir kerajaan yang harus kita bicarakan nanti.”

Antasena memperhatikan interaksi itu dengan pandangan teduh. Di dalam hatinya, ia menyimpan perasaan mendalam pada Cempaka sejak lama—perasaan Panji Merah yang membara namun penuh perlindungan. Namun, dari sudut lorong yang remang, sebuah langkah kaki lain mendekat.

Pangeran Andikara muncul, rambut putihnya berkilau tertimpa cahaya sore. Langkahnya terhenti saat melihat Antasena berdiri begitu dekat di samping Cempaka.

Dua saudara berhadapan. Dua pangeran dari panji yang berseberangan.

Antasena menatap adiknya dengan senyum tipis, sementara sorot mata Andikara berubah meredup, menyembunyikan riak kecemburuan yang tertahan di balik keanggunaannya. Suasana di lorong seketika menjadi sarat akan ketegangan yang tak terucapkan.

Cempaka menatap keduanya bergantian, berdiri tepat di tengah-tengah simpang takdir. Panji Merah yang sarat akan amarah dan gairah, serta Panji Putih yang dingin dan dibutakan oleh dogma. Tanpa sadar, takdir Kerajaan Pertiwi kini terpaut sepenuhnya pada jemari Cempaka—gadis dari dunia lain yang harus memilih, memahami, dan menyatukan dua hati yang berseberangan demi menemukan jalan pulang kepada adiknya.

— Bersambung —

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Red White Cinderella    BAB 5 - Perdamaian kedua Panji

    Hari-hari menuju sayembara semakin dekat. Di seluruh penjuru Kerajaan Pertiwi, persiapan terus dilakukan secara masif. Para keluarga bangsawan berlomba menjahit pakaian terbaik dan memanggil guru tata krama. Namun di balik riuk persiapan tersebut, Cempaka justru merasa semakin gelisah.Sejak beberapa hari terakhir, ada tatapan tak kasatmata yang terus mengawasinya. Setiap kali ia menyusuri taman kediaman Mahapatih Yudistira, bulu kuduknya meremang, namun saat menoleh tak ada siapa-siapa.Rupanya bukan hanya Cempaka yang merasakannya. Pangeran Andikara dari Panji Putih mulai mencermati gerak-gerik kakak kandungnya, Pangeran Antasena dari Panji Merah. Beberapa kali Andikara mendapati Antasena berdiri dalam diam di batas taman kediaman Yudistira. Ada obsesi dan kegelapan terselubung di dalam sorot mata Pangeran Sulung itu.Suatu sore, saat berjalan berdampingan di taman belakang, Andikara menghentikan langkahnya. Pangeran berambut putih itu merogoh balik jubahnya dan mengulurkan sebuah l

  • Red White Cinderella    Bab 4 - Sesuatu di Pertiwi

    Semenjak kejadian di Danau Suci dan kepulangannya ke kediaman Mahapatih Yudistira, kehidupan Cempaka perlahan menemukan ritme baru. Tak ada lagi gemuruh lift jatuh atau kesendirian pekat yang mencekat dada. Kini, tiap fajar menyingsing, riuk halus para pelayan dan derap teratur sepatu bot prajurit penjaga menjadi melodi harinya.Di tengah kesibukan kediaman yang megah, Mahapatih Yudistira bertindak bagai perisai pelindung. Ia tak pernah menuntut Cempaka bertindak bagai putri bangsawan sempurna. Kasih sayangnya tulus, seolah berusaha membayar rasa bersalah atas masa lalu yang tak Cempaka ketahui. Ditemani Mbok Rara yang telaten mengajarinya tata krama, Cempaka mulai merajut kehangatan keluarga—sesuatu yang sangat ia rindukan di dunia asalnya saat teringat adiknya, Noah.Namun, ketenangan itu mendadak koyak tatkala gema kentongan istana bertalu-talu menggelegar dari ibu kota. Derap kuda utusan membawa kabar gempur yang membakar seisi Kerajaan Pertiwi. Baginda Raja Dwinata Karyayudha men

  • Red White Cinderella    BAB 3 - Orang yang tidak terduga

    “Mau kuantar pulang? Kebetulan kereta kencanaku tidak jauh dari sini,” tawar Pangeran Andikara lembut, memecah hening yang sempat tercipta di pelataran kediamannya.Cempaka tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. “Baiklah, jika Pangeran tidak keberatan, aku sangat berterima kasih.”Andikara membalas senyuman itu dengan binar hangat di matanya. Langkah mereka beriringan menyusuri jalan setapak berkerikil halus hingga tiba di hadapan sebuah kereta kencana megah berukir benang emas. Pangeran berambut putih itu mempersilakan Cempaka naik terlebih dahulu sebelum ia ikut menyusul duduk di hadapannya. Tak lama, roda kayu berlapis besi itu berderit halus, membawa mereka meluncur membelah jalanan utama menuju pusat kota Kerajaan Pertiwi.Dari balik jendela kecil berukir di sisi kereta, Cempaka tak henti-hentinya memandangi pemandangan luar dengan binar takjub. Kemegahan ibu kota membentang luas di hadapannya. Gerbang batu raksasa berdiri kokoh mengapit jalan utama, sementara panji-panji kerajaa

  • Red White Cinderella    BAB 2 - Awal baru di Negeri Asing

    Lengan kokoh Pangeran Andikara terasa mantap saat menopang pinggang Cempaka, menahan tubuh gadis itu dari benturan keras ke tanah basah. Untuk beberapa detik yang bergetar hebat, jarak di antara mereka begitu dekat. Cempaka dapat merasakan hembusan napas hangat sang pangeran melintasi wajahnya, sementara bau harum kayu cendana dan samar aroma danau menguar dari jubah putih mewahnya.Mata Cempaka terkunci pada sepasang manik mata Pangeran Andikara yang tajam dan tenang—sebening kristal di balik helai rambut putih sehalus sutra yang melambai ditiup angin. Jantung Cempaka berpacu liar. Bukan sekadar karena keterkejutan usai lolos dari maut di dalam lift jatuh dan terlempar ke dunia asing ini, melainkan karena kehangatan nyata dari telapak tangan pria yang sama sekali tidak ia kenal.Pangeran Andikara menarik tubuh Cempaka dengan cekatan namun penuh kesopanan, membantunya berdiri tegak. Setelah memastikan pijakan gadis itu stabil, sang pangeran mundur satu langkah, mengibaskan tepi jubah

  • Red White Cinderella    BAB 1 - Gadis Takdir Pertiwi

    Sinar lampu pijar di lorong gedung bertingkat itu memantul suram di atas lantai granit. Langkah kaki Cempaka terdengar berirama, pelan dan teratur, menyusuri koridor korporat yang kian sepi. Jarum jam dinding telah menunjuk pukul sepuluh malam, membawa serta sisa-sisa letih yang menggayuti pundaknya sepanjang hari. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada kehangatan kecil yang berdenyut setiap kali ia membayangkan senyum adiknya, Noah—satu-satunya alasan ia bertahan melewati hari-hari yang melelahkan.Di ujung lorong, denting halus bel indikator memecah keheningan, disusul suara gesekan mekanis saat pintu lift meluncur terbuka. Cempaka melangkah masuk ke dalam ruang berlapis dinding besi stainless yang dingin. Ia membalikkan badan, menekan tombol lantai dasar, lalu membiarkan pintu perlahan tertutup, mengisolasi dirinya dari riuk rendah sisa pekerjaan kantor.Di dalam kabin yang lengang, ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan ponsel pintar. Layar kaca itu menyala terang, menampilkan pesa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status