LOGINLengan kokoh Pangeran Andikara terasa mantap saat menopang pinggang Cempaka, menahan tubuh gadis itu dari benturan keras ke tanah basah. Untuk beberapa detik yang bergetar hebat, jarak di antara mereka begitu dekat. Cempaka dapat merasakan hembusan napas hangat sang pangeran melintasi wajahnya, sementara bau harum kayu cendana dan samar aroma danau menguar dari jubah putih mewahnya.
Mata Cempaka terkunci pada sepasang manik mata Pangeran Andikara yang tajam dan tenang—sebening kristal di balik helai rambut putih sehalus sutra yang melambai ditiup angin. Jantung Cempaka berpacu liar. Bukan sekadar karena keterkejutan usai lolos dari maut di dalam lift jatuh dan terlempar ke dunia asing ini, melainkan karena kehangatan nyata dari telapak tangan pria yang sama sekali tidak ia kenal. Pangeran Andikara menarik tubuh Cempaka dengan cekatan namun penuh kesopanan, membantunya berdiri tegak. Setelah memastikan pijakan gadis itu stabil, sang pangeran mundur satu langkah, mengibaskan tepi jubah putihnya yang disulam benang emas dengan gerakan anggun. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya. Suaranya berat, bariton yang mengalun tenang namun sanggup memecah kecanggungan yang membeku. Cempaka mengangguk cepat, merapikan gaun berlapis kain sutra bermotif rumit yang melekat basah di tubuhnya. "A-aku tidak apa-apa... Terima kasih banyak, Pangeran." Di sekeliling mereka, puluhan warga Kerajaan Pertiwi masih berlutut. Bisikan-bisikan takjub yang sempat terdengar saat Cempaka muncul dari dasar air kembali bersahutan. Kemunculan seorang gadis berselimut cahaya dari Danau Suci, mengenakan gaun mewah yang tak biasa, telah memicu kembali kepercayaan purba mereka. "Sang Hyang telah mengirimkan Dewi Kesuburan..." "Lihat gaunnya... Danau Suci telah melahirkannya kembali untuk menyelamatkan panji kita!" Cempaka mengernyit, dadanya diliputi kebingungan yang mendalam. Dewi Kesuburan? Penyelamat? Ia teringat bisikan kucing bermata beda warna di dalam kegelapan lift: “Satukan panji merah yang penuh amarah dan panji putih yang dibutakan. Cegah kehancuran Kerajaan Pertiwi, dan kau akan bertemu kembali dengan adikmu.” Sebelum rasa cemas Cempaka meledak, Pangeran Andikara berbalik menghadap warga. Aura kepemimpinannya menguar kuat tanpa perlu memancarkan ancaman. "Berdirilah kalian semua," perintahkan Pangeran Andikara tegas. Suaranya tidak keras, namun sanggup membungkam kerumunan dalam seketika. "Dengarkan aku baik-baik. Jangan biarkan prasangka menggelapkan akal sehat kalian. Dia bukan dewi. Dia adalah manusia yang butuh pertolongan." Tatapannya menyapu warga dengan ketegasan yang menuntut kepatuhan. "Jangan membuat desas-desus tak berdasar yang hanya akan memicu perselisihan di tanah Pertiwi. Kembalilah ke pemukiman kalian." Warga menundukkan kepala penuh takzim. "Maafkan kami, Pangeran Andikara," sahut seorang tetua desa. Perlahan, kerumunan itu membubar, walau beberapa mata masih melirik Cempaka dengan tatapan penuh tanya dan selubung mistis. Cempaka menghela napas lega. Ada sedikit rasa hormat yang tumbuh di dadanya terhadap pria berambut putih ini. Ia tidak membiarkan Cempaka dijadikan alat propaganda atau figur mistis yang tak pasti. Pangeran Andikara kembali menatap Cempaka. Pandangannya menyapu pakaian Cempaka yang masih meneteskan air danau. "Pakaianmu basah kuyup. Kau bisa terserang demam. Ikutlah ke kediamanku untuk mengeringkan diri dan beristirahat sebelum kita membicarakan apa yang sebenarnya terjadi." Tak ada pilihan lain. Cempaka mengangguk pelan. "Baiklah..." Mereka melangkah menyusuri jalan setapak tanah kencang yang membelah pemukiman Kerajaan Pertiwi. Langkah Pangeran Andikara begitu tenang, seolah setiap jengkal tanah ini adalah bagian dari dirinya. Sementara itu, Cempaka berjalan dua langkah di belakangnya dengan mata berbinar cemas, menyerap wujud dunia baru ini. Rumah-rumah berarsitektur kayu tradisional berdiri megah dengan ukiran rumit bercorak flora. Aroma rempah-rempah yang tajam dan wangi kayu terbakar menguar lembut di udara. Anak-anak kecil berlarian dengan kain tenun mengikat pinggang mereka. Semuanya terasa begitu nyata, begitu hidup, namun sangat asing. Ini benar-benar bukan duniaku, batin Cempaka ringkih. Bayangan wajah Noah—tatapan matanya yang sendu saat orang tua mereka memilih pekerjaan dan main golf ketimbang ulang tahunnya—kembali menancap pilu di dadanya. Noah... Mbak pasti pulang. Mbak sudah berjanji. Langkah Pangeran Andikara mendadak terhenti di hadapan sebuah gerbang kayu jati raksasa berdinding batu ukir. Pangeran berbalik, melipat kedua tangannya di balik jubah putih mewahnya, lalu menatap Cempaka dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Melihat perhiasan di gaunmu dan ukiran pada sabuk pinggangmu..." ujar Pangeran Andikara perlahan, "kau bukan warga biasa. Kau adalah Raden Ajeng Cempaka, putri dari Mahapatih Yudistira dari Fraksi Panji Merah, bukan?" Jantung Cempaka melonjak hebat. Putri Mahapatih Yudistira? Fraksi Panji Merah? Ia menyadari bahwa tubuh atau identitas yang ia tempati di dunia ini ternyata memegang peranan politik yang sangat krusial. Panji Merah—panji yang disebut sang kucing ajaib sebagai panji yang 'penuh amarah'. Dan di hadapannya kini berdiri Pangeran Andikara, sang pemilik jubah putih agung—representasi dari Panji Putih yang 'dibutakan'. Cempaka mencoba menetralkan raut wajahnya, menyembunyikan badai kepanikan di dalam kepala. "Benar... aku Cempaka," jawabnya lirih namun mantap. Pangeran Andikara mengamati raut wajahnya lekat-lekat. "Mengherankan. Panji Merah dan Panji Putih sedang berada di ambang perang saudara. Ayahmu, Mahapatih Yudistira, baru saja mengancam akan menarik seluruh pasukan dari perbatasan. Lantas, bagaimana bisa putri tunggal sang Mahapatih berada di tepi Danau Suci wilayah Panji Putih seorang diri, muncul dari dalam air tanpa pengawal?" Pertanyaan itu menghantam Cempaka. Ia tidak tahu sejarah kelam apa yang terjadi pada pemilik tubuh ini sebelum jiwanya terlempar dari lift jatuh di dunia modern. Namun, ia tahu satu hal: takdir telah menyatukan mereka di tempat ini. "Aku... aku kehilangan ingatan tentang bagaimana aku bisa sampai di dasar danau itu," aku Cempaka jujur, menatap lurus ke dalam manik mata sang pangeran. "Namun aku tahu satu hal, Pangeran Andikara. Aku berada di sini bukan untuk membawa kehancuran, melainkan untuk mencegahnya." Pangeran Andikara terdiam. Keheningan merayap di antara mereka, diiringi bisikan angin sore yang berembus melintasi pelataran kediaman. Sorot mata sang pangeran yang tadinya dingin perlahan melunak, menyisakan ketertarikan yang dalam. "Mencegah kehancuran?" Pangeran Andikara tersenyum tipis, sebuah sunggingan misterius di bibirnya. "Ucapan yang sangat berani untuk seorang putri yang baru saja hampir tenggelam. Kalau begitu, mari kita lihat seberapa jauh kau bisa membuktikannya, Raden Ajeng Cempaka." Pangeran mendorong pintu gerbang kayu yang berat, membukakan jalan bagi Cempaka menuju takdir baru yang penuh intrik dan bahaya di Kerajaan Pertiwi. — Bersambung —Hari-hari menuju sayembara semakin dekat. Di seluruh penjuru Kerajaan Pertiwi, persiapan terus dilakukan secara masif. Para keluarga bangsawan berlomba menjahit pakaian terbaik dan memanggil guru tata krama. Namun di balik riuk persiapan tersebut, Cempaka justru merasa semakin gelisah.Sejak beberapa hari terakhir, ada tatapan tak kasatmata yang terus mengawasinya. Setiap kali ia menyusuri taman kediaman Mahapatih Yudistira, bulu kuduknya meremang, namun saat menoleh tak ada siapa-siapa.Rupanya bukan hanya Cempaka yang merasakannya. Pangeran Andikara dari Panji Putih mulai mencermati gerak-gerik kakak kandungnya, Pangeran Antasena dari Panji Merah. Beberapa kali Andikara mendapati Antasena berdiri dalam diam di batas taman kediaman Yudistira. Ada obsesi dan kegelapan terselubung di dalam sorot mata Pangeran Sulung itu.Suatu sore, saat berjalan berdampingan di taman belakang, Andikara menghentikan langkahnya. Pangeran berambut putih itu merogoh balik jubahnya dan mengulurkan sebuah l
Semenjak kejadian di Danau Suci dan kepulangannya ke kediaman Mahapatih Yudistira, kehidupan Cempaka perlahan menemukan ritme baru. Tak ada lagi gemuruh lift jatuh atau kesendirian pekat yang mencekat dada. Kini, tiap fajar menyingsing, riuk halus para pelayan dan derap teratur sepatu bot prajurit penjaga menjadi melodi harinya.Di tengah kesibukan kediaman yang megah, Mahapatih Yudistira bertindak bagai perisai pelindung. Ia tak pernah menuntut Cempaka bertindak bagai putri bangsawan sempurna. Kasih sayangnya tulus, seolah berusaha membayar rasa bersalah atas masa lalu yang tak Cempaka ketahui. Ditemani Mbok Rara yang telaten mengajarinya tata krama, Cempaka mulai merajut kehangatan keluarga—sesuatu yang sangat ia rindukan di dunia asalnya saat teringat adiknya, Noah.Namun, ketenangan itu mendadak koyak tatkala gema kentongan istana bertalu-talu menggelegar dari ibu kota. Derap kuda utusan membawa kabar gempur yang membakar seisi Kerajaan Pertiwi. Baginda Raja Dwinata Karyayudha men
“Mau kuantar pulang? Kebetulan kereta kencanaku tidak jauh dari sini,” tawar Pangeran Andikara lembut, memecah hening yang sempat tercipta di pelataran kediamannya.Cempaka tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. “Baiklah, jika Pangeran tidak keberatan, aku sangat berterima kasih.”Andikara membalas senyuman itu dengan binar hangat di matanya. Langkah mereka beriringan menyusuri jalan setapak berkerikil halus hingga tiba di hadapan sebuah kereta kencana megah berukir benang emas. Pangeran berambut putih itu mempersilakan Cempaka naik terlebih dahulu sebelum ia ikut menyusul duduk di hadapannya. Tak lama, roda kayu berlapis besi itu berderit halus, membawa mereka meluncur membelah jalanan utama menuju pusat kota Kerajaan Pertiwi.Dari balik jendela kecil berukir di sisi kereta, Cempaka tak henti-hentinya memandangi pemandangan luar dengan binar takjub. Kemegahan ibu kota membentang luas di hadapannya. Gerbang batu raksasa berdiri kokoh mengapit jalan utama, sementara panji-panji kerajaa
Lengan kokoh Pangeran Andikara terasa mantap saat menopang pinggang Cempaka, menahan tubuh gadis itu dari benturan keras ke tanah basah. Untuk beberapa detik yang bergetar hebat, jarak di antara mereka begitu dekat. Cempaka dapat merasakan hembusan napas hangat sang pangeran melintasi wajahnya, sementara bau harum kayu cendana dan samar aroma danau menguar dari jubah putih mewahnya.Mata Cempaka terkunci pada sepasang manik mata Pangeran Andikara yang tajam dan tenang—sebening kristal di balik helai rambut putih sehalus sutra yang melambai ditiup angin. Jantung Cempaka berpacu liar. Bukan sekadar karena keterkejutan usai lolos dari maut di dalam lift jatuh dan terlempar ke dunia asing ini, melainkan karena kehangatan nyata dari telapak tangan pria yang sama sekali tidak ia kenal.Pangeran Andikara menarik tubuh Cempaka dengan cekatan namun penuh kesopanan, membantunya berdiri tegak. Setelah memastikan pijakan gadis itu stabil, sang pangeran mundur satu langkah, mengibaskan tepi jubah
Sinar lampu pijar di lorong gedung bertingkat itu memantul suram di atas lantai granit. Langkah kaki Cempaka terdengar berirama, pelan dan teratur, menyusuri koridor korporat yang kian sepi. Jarum jam dinding telah menunjuk pukul sepuluh malam, membawa serta sisa-sisa letih yang menggayuti pundaknya sepanjang hari. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada kehangatan kecil yang berdenyut setiap kali ia membayangkan senyum adiknya, Noah—satu-satunya alasan ia bertahan melewati hari-hari yang melelahkan.Di ujung lorong, denting halus bel indikator memecah keheningan, disusul suara gesekan mekanis saat pintu lift meluncur terbuka. Cempaka melangkah masuk ke dalam ruang berlapis dinding besi stainless yang dingin. Ia membalikkan badan, menekan tombol lantai dasar, lalu membiarkan pintu perlahan tertutup, mengisolasi dirinya dari riuk rendah sisa pekerjaan kantor.Di dalam kabin yang lengang, ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan ponsel pintar. Layar kaca itu menyala terang, menampilkan pesa







