Share

Bab 5 Mengelabuhi Ibu Suri

last update Petsa ng paglalathala: 2024-11-19 00:33:37

"Xuanqing apa kau akan pergi cukup lama?" Tanya Jinsi yang ada dibelakang Xuanqing.

Kini mereka berdua ada didalam kamar utama kediaman. Xuanqing tengah menulis surat dan juga mempersiapkan barang yang akan dia bawa ke Ibu Kota. Pemimpin Keluarga Ye itu tidak bisa terus menghindar dari perintah Ibu Suri, karena itu hari ini juga dia putuskan untuk kembali.

"Tidak akan lama, ku harap Ibu Suri tidak banyak mencecar hasil pekerjaan ku." Xuanqing membalikkan badannya dan tersenyum ke arah Jinsi.

Xuanqing menggandeng tangan Jinsi dan membawanya duduk. Kondisi perempuan itu masih belum stabil, jadi Xuanqing benar-benar memperlakukannya layaknya barang pecah belah. Dia begitu hati-hati terhadap perempuan yang dia bawa dari Sungai Qilin itu.

"Jinsi, selama aku pergi kau tetaplah berada dikediaman. Dengarkan apa kata tabib, dan—"

Ucapan Xuanqing langsung terpotong,  hal itu terjadi karena Jinsi yang menaruh jari telunjuk dibibir Xuanqing.

"Kau terlalu banyak bicara suami ku, tentu saja aku akan tetap berada di kediaman. Ini adalah rumah kita, jadi aku akan menunggu mu kembali di sini. Aku juga akan mendengarkan perkataan tabib dengan baik, ku harap saat kau kembali aku sudah pulih. Jadi bisa menyambut kedatangan mu nanti," ucap Jinsi dengan polos.

Dada Xuanqing rasanya nyeri saat mendengar kata-kata penuh ketulusan dari perempuan didepannya itu. Rasa penyesalan menyeruak didalam hatinya, tapi ada kepentingan pribadi yang jauh lebih besar dari rasa penyesalannya.

Satu-satunya hal yang bisa Xuanqing lakukan saat ini hanyalah memperlakukan Jinsi dengan baik. Membohongi perempuan itu rupanya membuat Xuanqing semakin gusar.

"Perempuan sebaik dirimu harus menjadi korban keegoisanku. Maafkan aku Nona Jinsi," batin Xuanqing menjerit.

Akan tetapi diluar hatinya, Xuanqing tetap bersandiwara. Dia tersenyum manis menanggapi perkataan Jinsi. Xuanqing meraih tangan Jinsi yang semula bertengger di bibirnya lalu menggenggamnya erat.

"Aku tahu kau pasti akan menurut," balas Xuanqing.

Kemudian dia mengeluarkan kotak kayu yang sebelumnya telah dia siapkan. Xuanqing membukanya, dari sana ada sebuah tusuk konde yang terbuat dari tembaga dan juga giok berkualitas tinggi.

Ye Xuanqing memasangkan tusuk konde tersebut ke tatanan rambut Jinsi. Perempuan itu terkejut, dia memandang Xuanqing dengan penuh tanda tanya.

"Apa ini suami ku?" tanyanya, tangannya menyentuh tusuk konde itu pelan.

"Ini hanya pemberian kecil dariku. Ada sedikit sihir pelindung juga didalamnya, itu akan sangat berguna bagimu. Iblis, setan atau bahkan siluman tidak akan bisa melukai mu." Xuanqing mengatakan hal yang jujur.

Jinsi mengangguk paham, Xuanqing kemudian bertepuk tangan dua kali. Itu merupakan kode yang diberikan kepada pelayan yang ada dikediaman. Setelahnya ada seorang pelayan wanita yang masuk, dia segera membungkukkan badannya begitu melihat Jinsi dan Xuanqing.

"Salam Tuan Adipati, dan Nyonya Muda."

Xuanqing mengangguk samar menerima salam itu. Kemudian atensinya tertuju pada Jinsi sepenuhnya.

"Jinsi, ini adalah Zenni dia adalah pelayan pribadi mu. Selain itu dia juga bisa bela diri jadi bisa sekalian melindungi mu dari dekat," ucapnya.

"Terimakasih suami ku, kau sangat baik." Jinsi tersenyum manis.

"Kalau begitu aku berangkat sekarang, kau baik-baik lah di kediaman." Xuanqing bangkit dari duduknya.

Setelah berpamitan Ye Xuanqing berserta para rombongan pemburu siluman bertolak menuju Ibu Kota Kekaisaran Sheng. Butuh waktu paling cepat dua hari untuk sampai ke Kota Fanlan. Sebab jarak Ibu Kota dengan Kota Shinjing cukup jauh.

Tepat saat matahari diatas kepala, Xuanqing dan para rombongannya tiba di Kota Fanlan. Ye Xuanqing ditemani oleh Fen Rou dan juga Ming Tian segera masuk ke istana Kekaisaran Sheng.

"Adipati, apa yang akan anda katakan soal perburuan siluman itu? Kita bahkan tidak menangkap semua siluman yang ada, apalagi meratakan Gunung Jiaguan. Ini benar-benar jauh dari perintah Ibu Suri," bisik Fen Rou dengan gelisah.

Saat ini mereka bertiga memang tengah berjalan menuju ruang pertemuan dimana Ibu Suri berada.

"Tenang saja, aku sudah mengurus semuanya. Asalkan Ibu Suri tidak datang langsung ke Gunung Jiaguan semuanya akan baik-baik saja," jawab Xuanqing dengan nada yang sama lirihnya.

Begitu pintu besar dari kayu terbuka, Xuanqing dan juga dua rekannya bisa berhadapan langsung dengan Ibu Suri Kekaisaran Sheng. Dibalik tirai dengan manik-manik terbaik itu lah seorang Ibu Suri kekaisaran duduk, dialah Zhao Weini.

"Seluruh kemurahan tertuju pada anda Ibu Suri!"

Ye Xuanqing, Fen Rou, dan Ming Tian kompak memberi salam dengan membungkukkan badan.

"Kalian para pemburu siluman, tentu sudah tahu apa tujuan ku memangil kalian ke mari bukan?" Tanya Zhao Weini dengan nada yang dingin. Tatapannya sepenuhnya tertuju pada Ye Xuanqing yang berdiri di jarak lima meter dihadapannya.

Xuanqing yang menjadi pemimpin pun mengangguk. "Tentu saja Ibu Suri, maaf atas keterlambatan kami."

Zhao Weini menghela nafas berat, dia kemudian berhenti menggunakan kipas lipatnya. Kipas itu ditutup dengan keras hingga menimbulkan suara yang nyaring di seluruh penjuru ruangan.

"Hah! Ye Xuanqing, ini adalah kali pertama kau membuatku menunggu cukup lama. Perburuan siluman selesai sejak pekan lalu, tapi kenapa kau baru menghadap ku. Sebenarnya apa yang terjadi di Gunung Jiaguan?" Tanya Zhao Weini dengan geram.

Ye Xuanqing mengangkat kepalanya dia menatap lurus ke arah Ibu Suri. Ini merupakan tindakan yang cukup berani dan tidak bermoral. Di kekaisaran sikap seperti itu tidak diperbolehkan, tapi siapa yang berani memprotes Xuanqing?

"Aku punya alasan untuk itu Ibu Suri, keterlambatan ku tidak ada hubungannya dengan perintah perburuan siluman."

Kening Zhao Weini berkerut dalam, dia tidak bisa menebak apa yang dimaksud Xuanqing.

"Lalu, apa yang terjadi?" tanyanya bermaksud mendesak.

"Aku hanya tinggal lebih lama di kediaman ku yang lain. Jika anda bertanya dimana, maka jawabannya aku berada di Kota Shinjing beberapa hari terakhir." Xuanqing menjelaskan dengan tenang.

Mendengar itu Zhao Weini justru tersenyum mengejek. "Ah apa ini karena perempuan yang kau sebut istri itu?"

"Rupanya kabar itu sudah sampai ke telinga anda, syukurlah jika Ibu Suri sudah tahu." Xuanqing menanggapinya dengan santai. Padahal dia sadar betul apa yang dia lakukan pasti akan memantik amarah wanita didepannya ini.

"Ye Xuanqing, aku memerintahkan kau untuk memburu semua siluman dan meratakan Gunung Jiaguan. Bukan untuk mengunjungi perempuan yang kau panggil istri itu! Lagi pula harusnya kau ingat kalau aku menganugerahkan pernikahan untuk mu dan Tuan Putri Daiyan!" Zhao Weini berteriak keras, dia sudah kehabisan kesabaran. Bahkan dia sampai harus berdiri.

Melihat kemarahan Ibu Suri tidak membuat Ye Xuanqing gentar. Dia masih saja berdiri dengan tegap dan tenang tanpa bergeser sedikit pun atau bahkan mengalihkan pandangannya.

Padahal Fen Rou dan Ming Tian sudah was-was saat ini. Mereka takut murka Ibu Suri justru akan menyulitkan Ye Xuanqing yang merupakan pemimpin keduanya.

"Perintah perburuan siluman sudah aku lakukan Ibu Suri, anda tidak perlu khawatir." Xuanqing tetap tenang memberikan jawaban.

Sang Adipati Muda itu juga sengaja memberikan jeda pada jawabannya.

"Lalu untuk anugerah pernikahan, aku dengan tegas menolaknya. Aku Ye Xuanqing menolak untuk menikah dengan Tuan Putri Daiyan!"

Salah satu alasan Xuanqing membuat skenario bahwa dirinya telah menikah dengan Jinsi adalah untuk menghindari anugrah pernikahan ini. Ye Xuanqing sadar betul tujuan Ibu Suri ingin menikahkannya, itu demi mengawasi Xuanqing dari jarak dekat.

Sebelum mendengar Zhao Weini berbicara lagi, Xuanqing lebih dulu berujar lantang.

"Tujuan anda memanggil kami untuk mendapatkan hasil pemburuan siluman bukan? Maka aku katakan semuanya dengan lengkap Ibu Suri," imbuh Xuanqing.

"Apa kau bisa membuktikan kalau kau sudah melakukan perintah ku dengan baik Ye Xuanqing?" tanya Zhao Weini menelisik.

Ye Xuanqing sudah menebak hal ini, dia hanya tersenyum mendengar todongan pertanyaan seperti itu.

"Tentu saja!"

—Bersambung—

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 118 JIKA KAU PERGI, AKU IKUT PERGI

    “Jangan tertidur!” Suara Jung Jinsi bergetar panik.Ia menahan tubuh Ye Xuanqing di pangkuannya, mencoba menyalurkan energi perak ke dalam tubuh pria itu.Namun setiap kali energi itu masuk ia langsung terpecah. Seolah tubuh Xuanqing sudah terlalu rusak untuk menampungnya.“Tidak... tidak... ini tidak boleh terjadi...”Jari-jarinya semakin gemetar. Ia kembali mencoba menyalurkan energi yang lebih lembut, lebih perlahan.Tetap sama. Energi itu hancur bahkan sebelum mencapai inti spiritual Ye Xuanqing.“Kenapa?” Suara Jung Jinsi nyaris pecah. “Kenapa tubuhmu menolak energiku?”Tak jauh dari sana, Putri Daiyan menggigit bibir. Wajahnya ikut memucat melihat kondisi sang adipati.“Energi inti spiritual Ye Xuanqing... sudah retak.” gumamnya lirih. “Kalau terus dipaksa... bahkan tubuhnya sendiri bisa ikut hancur.”Fen Rou mengepalkan tangan. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Jung Jinsi, ia melihat siluman rubah itu benar-benar kehilangan arah.Perempuan yang selalu tersenyum percaya diri

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 117 CAHAYA YANG RETAK

    Ledakan energi biru meletup dari tubuh Ye Xuanqing. Energi dari pedang huoguang miliknya menjalar disekipanjang urat nadi tangan kanannya. Tanah paviliun retak lebih dalam, udara berderak dengan ketegangan yang tak terpecahkan. Semua bayangan yang menguasai tubuh manusia yang menjadi inang Hei Lian Hua seakan tertarik ke arahnya. Hei Lian Hua terdiam sesaat, tidak percaya pada apa yang dia saksikan sendiri. "Teknik ini... kau mempertaruhkan jiwamu sendiri demi mereka?" tanyanya, suaranya me najdi lebih dingin sekaligus heran. Jung Jinsi langsung membeku ditempatnya, sembilan ekor rubah miliknya bergerak-gerak gelisah dibelakang tubuhnya. "Xunqing, hentikan! itu teknik pemanggil inti jiwa, kau bisa mati!" serunya, yang berusaha keras menghentikan aksi nekad sang adipati. Namun pria itu tidak menoleh, dia seolah tuli akan peringatan Jung Jinsi. "Setidaknya harus ada yang keluar dari paviliun ini dengan hidup-hidup." Ye Xuanqing menoleh pada Jung Jinsi, kemudian beralih pada rekan

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 116 Jebakan Seribu Jiwa

    Darah hijau itu belum juga berhenti mengalir. Namun yang membuat semua orang terdiam adalah tawa kecil yang kembali terdengar. “Haha… kau benar-benar berpikir ini sudah berakhir, Ye Xuanqing?” Pertanyaan itu muncul entah dari mana, suaranya jelas bukan milik Putra Mahkota. Suara itu lebih berat, lebih tegas dan memiliki dendam pekat disetiap nadanya. Tubuh Putra Mahkota tiba-tiba bergetar hebat di dalam pelukan Putri Daiyan. Urat-urat hitam yang tadi sempat menghilang, kini muncul kembali dan kali ini lebih pekat, lebih liar. Mata Jung Jinsi membelalak melihatnya. Siluman rubah ekor sembilan itu menggeleng tidak percaya. “Tidak… ini tidak mungkin. Aku sudah mengikat inti rohnya!” Dari dada Putra Mahkota yang tertusuk, perlahan keluar kabut hitam pekat, menggumpal di udara… membentuk sosok samar dengan mata hijau menyala. Hei Lian Hua. Namun kali ini, bentuknya tidak stabil ia retak, berasap, seperti akan hancur… tapi justru memancarkan tekanan yang lebih mengerikan

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 115 Inang Siluman

    Aura pekat itu akhirnya lenyap, menyisakan udara dingin yang berembus lembut di sekitar paviliun Selatan. Para pelayan dan penjaga yang sebelumnya terseok-seok karena tekanan aura, perlahan bisa bernapas lega kembali. Ye Xuanqing maju selangkah, menatap Jung Jinsi dengan sorot mata penuh kekhawatiran. “Jinsi… kau baik-baik saja?” Perempuan rubah berekor sembilan itu hanya tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, Xuanqing. Aura itu terlalu lemah dibandingkan cahaya milikku. Tapi…” ia melirik ke arah paviliun Selatan yang kini sunyi dan pekat.“Hei Lian Hua tidak akan memasang jebakan ini tanpa tujuan. Dia pasti menunggu kita masuk.” Putri Daiyan yang sejak tadi masih berusaha menenangkan napasnya, menatap keduanya dengan wajah pucat. “Kalau begitu… berarti di dalam paviliun ini, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya?” Fen Rou menggertakkan giginya, matanya tajam penuh kewaspadaan. “Bisa jadi. Hei Lian Hua tak pernah bergerak tanpa rencana. Dia pasti sudah menyiapkan sesuatu untuk mengg

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 114 Bahaya Paviliun Selatan

    “Tidak mungkin Jinsi, kita harus selesaikan masalah dengan Lu Sangyun juga. Kita tak bisa pergi ke istana sekarang.” Jing Qian jelas menolak. “Tapi kak—” “Dengar Jinsi, istana memang tengah dikepung bahaya. Tapi kau juga jangan lupa bahwa Hei Lian Hua dan Lu Sangyun ada di luar istana. Mereka jauh lebih kuat dan berbahaya ketimbang ibu suri yang diasingkan di istana itu,” jelas Jing Qian lagi. Perempuan siluman rubah ekor tujuh itu mendekat pada Jung Jinsi, mengusap pelan pundaknya dan menatap tenang wajah adiknya. “Begini saja, kau pergilah ke istana sekarang. Lalu aku akan pergi ke biro penangkap siluman untuk menemui Lu Sangyun.” Jing Qian akhirnya mengalah dan memberi jalan tengah terbaik. Untuk saat ini hal ini lah yang paling efektif. “Apa kakak yakin?” tanya Jung Jinsi yang jelas sangat khawatir. Jing Qian malah tertawa kecil mendengarnya, dia malah mencubit pelan ujung hidung Jung Jinsi dengan gemas. “Kau ini, apa kau lupa kalau aku siluman rubah ekor tujuh? aku cu

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 113 Menyelamatkan Darah Kaisar

    Ye Xuanqing berjalan merapatkan diri ke sisi tembok ruang bawah tanah begitu mendengar suara kaki mendekat ke arahnya. Sementara Fen Rou bersembunyi dibelakang tumpukan kayu bakar di ruangan itu sambil berjongkok dan mata yang awas.Melalui pandangan saja keduanya saling berkomunikasi, menunggu siapa yang muncul di ruang bawah tanah selain mereka.“Penjaga tidak mungkin turun ke mari sebelum aku keluar, aku sudah memerintahkan mereka untuk tetap berjaga di pintu masuk.” Ye Xuanqing membatin, menerka siapa yang sekiranya akan muncul dihadapannya.Obor di sisi kanan dan kiri pintu masuk ruang bawah tanah bergoyang pelan tertiup angin yang masuk. Fen Rou menyipitkan matanya, tangannya sudah menggengam erat Tombak Qiankun disisi tubuhnya. “Kalian juga mencari petunjuk segel darah disini rupanya.”Suara perempuan terdengar begitu jelas dari pintu masuk, kening Ye Xuanqing berkerut dalam. Sosok yang baru saja masuk masih belum terlihat wujudnya dan sang adipati masih menerka-nerka siapa so

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 105 Benang Merah Tragedi

    "Apa?" Ye Xuanqing masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Namun sorot mata Zhao Yun Mei tidak menunjukkan kebohongan, hanya ada keteguhan yang coba dia tunjukkan saat ini. "Seharusnya Zhao Weini, ibu ku hanya selir agung. Tapi karena kematian permaisuri sebelumnya dia mend

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 96 Menghadapi Bayangan

    Angin malam berhembus kencang ketika Jung Jinsi dan Ye Xuanqing bergegas keluar dari ruang kerja. Aroma aneh yang tersisa dari sosok bayangan tadi masih menggantung di udara—bau logam yang samar dan hawa siluman yang dingin."Dia tidak pergi jauh," ujar Jung Jinsi dengan tatapan tajam. "Aku bisa me

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 95 Malam Penuh Peringatan

    Malam di kediaman Keluarga Ye semakin larut, dan sebagian besar penghuni rumah telah terlelap dalam tidur mereka. Namun, di taman belakang yang diterangi sinar rembulan, Jung Jinsi dan Ye Xuanqing masih terjaga.Angin malam bertiup lembut, membawa aroma bunga melati yang bermekaran di sekitar pavil

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 91 Kasih Sayang Saudara

    Ditengah malam, Jung Jinsi keluar dari kamarnya dan mendapati Jung Qian tengah duduk dengan bersandar pada pilar. Tidak ada siapa-siapa di luar kamarnya atau bahkan sepanjang koridor. Ye Xuanqing sendiri memang sudah meninggalkan Jung Jinsi sejak tadi, berharap bisa memberi ruang pada Jinsi agar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status