로그인Mata Xuanqing mengedip sebentar, seiring dengan senyuman penuh arti yang muncul di wajahnya.
"Kalau begitu tunjukkan, tapi jika kau gagal memenuhi apa yang aku inginkan. Kau harus tetap menikahi Tuan Putri Daiyan!" Ibu Suri Zhao Weini berkata tegas. Wanita dengan sanggul rambut yang tinggi berhiaskan berbagai perhiasan dan giok mahal itu menatap remeh ke arah sang Adipati Muda. Fen Rou dan Ming Tian sudah keringat dingin, mereka yang berdiri dibelakang Xuanqing pun saling tatap. Seolah-olah tengah berdiskusi tentang nasib Tuan mereka saat ini. Sebab keduanya tahu, apa yang diinginkan Ibu Suri Zhao Weini tidak dapat dipenuhi oleh Ye Xuanqing. "Baiklah, tapi jika aku bisa menunjukkan hasil pekerjaan ku. Kau harus membiarkan ku hidup tenang," balas Xuanqing penuh teka-teki. Ibu Suri Zhao Weini diam sebagai bentuk persetujuan. Kemudian Xuanqing mengeluarkan Pagoda Penahan Sembilan Siluman dari balik hanfu hitam yang kini tengah dia kenakan. Pria itu menunjukkan benda pusaka milik Keluarga Ye dengan seringainya. "Di sini, ada siluman tingkat empat yang berhasil aku kurung berkat perburuan siluman di Gunung Jiaguan kemarin." Kening Ibu Suri berkerut sebentar, bingung. "Apa buktinya jika itu benar-benar ada? Lagi pula tidak akan sulit bagimu untuk berbohong padaku Ye Xuanqing." "Memang sangat mudah untuk berbohong Ibu Suri, tapi sebagai kepala Keluarga Ye aku menjamin kebenaran ucapan ku tadi." Xuanqing mendekat pada Ibu Suri, dia berjalan dengan tenang. Tepat ketika dia berada dihadapan sang Ibu Suri, Xuanqing melempar pagoda tersebut ke atas. Membuat Ibu Suri dan juga dua rekannya sama-sama menoleh ke arah yang sama disaat bersamaan. Ketika pagoda itu berada di udara untuk beberapa detik, pantulan cahaya dari dalam pagoda menunjukkan situasi para siluman yang terperangkap didalamnya. Meski hanya sepersekian detik, tapi itu sudah sangat cukup untuk menjadi bukti. Tak! Pagoda itu kembali terjatuh di telapak tangan Xuanqing. Saat itulah dia tersenyum penuh kemenangan, apalagi saat dia melihat wajah tegang Ibu Suri. "Anda sudah melihatnya bukan? Ada banyak sekali siluman didalam sana. Jadi sudah seharusnya itu cukup menjadi bukti pekerjaan ku di Gunung Jiaguan," ucapnya tenang. Xuanqing lalu menoleh kebelakang, menunjuk Fen Rou dan Ming Tian secara bergantian. "Ah ya, dua rekan kultivasi ku juga berhasil menangkap siluman kelas tinggi. Jika anda masih tidak percaya," imbuhnya lagi. "Benar Ibu Suri, kami benar-benar melakukan apa yang anda perintahkan." Fen Rou dengan cepat meyakinkan sang Ibu Suri. "Apa yang Adipati katakan memang benar, kami telah memburu para siluman yang tinggal di Gunung Jiaguan tanpa terkecuali." Ming Tian juga ikut berkomentar. Ibu Suri Zhao Weini menghela nafas berat, dia kemudian berbalik badan dan kembali duduk di kursi kebanggaannya. "Baiklah, untuk saat ini kalian boleh pergi!" Setelahnya mereka bertiga pergi dari hadapan Ibu Suri Zhao Weini. Ye Xuanqing hanya menyunggingkan senyum miring. Dia merasa apa yang telah ia lakukan hari ini sudah cukup untuk membuat sang Ibu Suri diam beberapa saat. Ye Xuanqing terus berjalan keluar dari istana giok, milik Ibu Suri. Dia juga tidak berniat memberi salam terlebih dahulu pada Tuan Putri Daiyan yang digadang-gadang bakal menjadi istrinya dulu. "Adipati, saat ini kita sudah berada di istana. Akan lebih baik jika anda memberi salam kepada Tuan Putri Daiyan," saran Fen Rou ketika mereka terus berjalan menuju jalan utama keluar istana. Ye Xuanqing langsung menghentikan langkah. Pria itu berbalik badan dan menatap lurus ke arah sang penasehat. "Apa kau pikir saran mu tadi berguna Fen Rou? Aku sudah mati-matian menolak anugerah pernikahan dengannya. Tapi kau malah menyuruhku untuk memberi salam pada Zhao Yun Mei?" Ye Xuanqing geram, bahkan dia sengaja menyebut sang Tuan Putri Daiyan dengan nama aslinya. Sungguh tindakan yang tidak bermoral dan akan menjadi cap kurang etis baginya. Tapi sekali lagi Ye Xuanqing tampak tak perduli. Berbanding terbalik dengan Ming Tian yang tampak frustasi. Dia lelah menghadapi sang Adipati yang suka sekali mempertaruhkan reputasi. "Adipati, menyebut anggota kekaisaran dengan nama aslinya tanpa embel-embel posisi mereka akan dianggap tindakan tidak bermoral. Mohon agar anda lebih berhati-hati," ucap Ming Tian dengan tenang. Ye Xuanqing hendak membuka mulut untuk membela diri. Akan tetapi Ming Tian jauh lebih cepat berkata lagi. "Anda juga jangan lupa bahwa di dalam istana, tembok pun memiliki mata dan telinga. Saya khawatir apa yang anda lakukan akan menyulitkan bagi anda di masa depan," imbuhnya dengan bijak. "Aku lelah, lebih baik kita kembali ke kediaman Keluarga Ye. Urusan kita sudah selesai jadi tidak perlu berlama-lama didalam istana," balas Ye Xuanqing yang tidak mau memperpanjang pembicaraan mengenai keluarga kekaisaran. Fen Rou dan Ming Tian pun mengangguk setuju. Mereka akhirnya kembali ke kediaman Keluarga Ye yang berada di pusat kota. Dengan menaiki kuda masing-masing, ketiganya sampai setelah setengah jam kemudian. Kediaman Keluarga Ye merupakan salah satu kediaman paling mencolok di Ibu Kota Kekaisaran Sheng. Kediaman yang sangat luas, bangunan kokoh dengan berbagai perabotan berkualitas terbaik, serta para pelayan yang tak terhitung jumlahnya. "Berhenti di sana Ye Xuanqing!" Langkah Ye Xuanqing langsung terhenti di tengah pintu masuk kediaman. Satu teriakan dari pria paruh baya membuat Ye Xuanqing diam ditempatnya. "Ayah aku baru saja kembali dari tugas, jadi jangan halangi aku untuk masuk." Xuanqing berkata datar tapi tetap menunjukkan rasa hormat pada pria yang tidak lain adalah ayah kandungnya, Ye Qingyu. Qingyu malah tersenyum sinis mendengar jawaban sang putra. Dia maju beberapa langkah sambil mengeluarkan sepucuk surat dari lengan hanfu yang dia kenakan begitu berhadapan dengan Xuanqing. "Tugas kau bilang? Lalu apa yang kau tulis di surat ini adalah kebohongan?" cecar Qingyu menahan amarah. Xuanqing melirik kertas yang ada di genggaman tangan sang ayah. Kemudian dia mengangguk mengiyakan tanpa merasa gentar sedikitpun. Padahal semua orang tahu, bagaimana tabiat Tuan Besar Ye ketika marah. "Aku memang pergi untuk menjalankan tugasku sebagai Adipati Kekaisaran Sheng sekaligus pemburu siluman. Lalu apa yang aku tulis di surat itu juga benar, aku memiliki seorang istri di Kota Shinjing." Rahang Ye Qingyu mengeras seiring dengan sorot matanya yang tajam dan tangan yang mengepal kuat menahan tinju. "Ye Xuanqing, apa kau sadar dengan kata-kata mu barusan? Siapa yang mengijinkan mu menikah hah!" "Aku tidak perlu izin untuk menikah, ayah. Lagi pula tidak ada yang meminta pendapatku ketika anugrah pernikahan dengan Tuan Putri Daiyan muncul." Ye Xuanqing masih tetap tenang. Padahal dia sadar tengah berada dalam bahaya. Xuanqing juga membuat sandiwara pernikahannya dengan Jinsi benar-benar tampak nyata. Padahal awalnya itu hanya dia lakukan agar bisa menyingkir dari pengawasan Ibu Suri. Tidak disangka sang ayah justru menganggapnya serius, tanpa menelaah lebih lanjut apa yang dia tulis didalam surat. "Melihat ayah yang marah-marah seperti ini, aku yakin kalau ayah sama sekali tidak teliti dalam membaca surat ku." Kening Ye Qingyu berkerut dalam, emosinya turun meski tidak sepenuhnya menghilang. Perkataan putranya memang selalu memiliki maksud tersendiri dan tak pernah asal bicara. "Apa maksud mu?"“Jangan tertidur!” Suara Jung Jinsi bergetar panik.Ia menahan tubuh Ye Xuanqing di pangkuannya, mencoba menyalurkan energi perak ke dalam tubuh pria itu.Namun setiap kali energi itu masuk ia langsung terpecah. Seolah tubuh Xuanqing sudah terlalu rusak untuk menampungnya.“Tidak... tidak... ini tidak boleh terjadi...”Jari-jarinya semakin gemetar. Ia kembali mencoba menyalurkan energi yang lebih lembut, lebih perlahan.Tetap sama. Energi itu hancur bahkan sebelum mencapai inti spiritual Ye Xuanqing.“Kenapa?” Suara Jung Jinsi nyaris pecah. “Kenapa tubuhmu menolak energiku?”Tak jauh dari sana, Putri Daiyan menggigit bibir. Wajahnya ikut memucat melihat kondisi sang adipati.“Energi inti spiritual Ye Xuanqing... sudah retak.” gumamnya lirih. “Kalau terus dipaksa... bahkan tubuhnya sendiri bisa ikut hancur.”Fen Rou mengepalkan tangan. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Jung Jinsi, ia melihat siluman rubah itu benar-benar kehilangan arah.Perempuan yang selalu tersenyum percaya diri
Ledakan energi biru meletup dari tubuh Ye Xuanqing. Energi dari pedang huoguang miliknya menjalar disekipanjang urat nadi tangan kanannya. Tanah paviliun retak lebih dalam, udara berderak dengan ketegangan yang tak terpecahkan. Semua bayangan yang menguasai tubuh manusia yang menjadi inang Hei Lian Hua seakan tertarik ke arahnya. Hei Lian Hua terdiam sesaat, tidak percaya pada apa yang dia saksikan sendiri. "Teknik ini... kau mempertaruhkan jiwamu sendiri demi mereka?" tanyanya, suaranya me najdi lebih dingin sekaligus heran. Jung Jinsi langsung membeku ditempatnya, sembilan ekor rubah miliknya bergerak-gerak gelisah dibelakang tubuhnya. "Xunqing, hentikan! itu teknik pemanggil inti jiwa, kau bisa mati!" serunya, yang berusaha keras menghentikan aksi nekad sang adipati. Namun pria itu tidak menoleh, dia seolah tuli akan peringatan Jung Jinsi. "Setidaknya harus ada yang keluar dari paviliun ini dengan hidup-hidup." Ye Xuanqing menoleh pada Jung Jinsi, kemudian beralih pada rekan
Darah hijau itu belum juga berhenti mengalir. Namun yang membuat semua orang terdiam adalah tawa kecil yang kembali terdengar. “Haha… kau benar-benar berpikir ini sudah berakhir, Ye Xuanqing?” Pertanyaan itu muncul entah dari mana, suaranya jelas bukan milik Putra Mahkota. Suara itu lebih berat, lebih tegas dan memiliki dendam pekat disetiap nadanya. Tubuh Putra Mahkota tiba-tiba bergetar hebat di dalam pelukan Putri Daiyan. Urat-urat hitam yang tadi sempat menghilang, kini muncul kembali dan kali ini lebih pekat, lebih liar. Mata Jung Jinsi membelalak melihatnya. Siluman rubah ekor sembilan itu menggeleng tidak percaya. “Tidak… ini tidak mungkin. Aku sudah mengikat inti rohnya!” Dari dada Putra Mahkota yang tertusuk, perlahan keluar kabut hitam pekat, menggumpal di udara… membentuk sosok samar dengan mata hijau menyala. Hei Lian Hua. Namun kali ini, bentuknya tidak stabil ia retak, berasap, seperti akan hancur… tapi justru memancarkan tekanan yang lebih mengerikan
Aura pekat itu akhirnya lenyap, menyisakan udara dingin yang berembus lembut di sekitar paviliun Selatan. Para pelayan dan penjaga yang sebelumnya terseok-seok karena tekanan aura, perlahan bisa bernapas lega kembali. Ye Xuanqing maju selangkah, menatap Jung Jinsi dengan sorot mata penuh kekhawatiran. “Jinsi… kau baik-baik saja?” Perempuan rubah berekor sembilan itu hanya tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, Xuanqing. Aura itu terlalu lemah dibandingkan cahaya milikku. Tapi…” ia melirik ke arah paviliun Selatan yang kini sunyi dan pekat.“Hei Lian Hua tidak akan memasang jebakan ini tanpa tujuan. Dia pasti menunggu kita masuk.” Putri Daiyan yang sejak tadi masih berusaha menenangkan napasnya, menatap keduanya dengan wajah pucat. “Kalau begitu… berarti di dalam paviliun ini, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya?” Fen Rou menggertakkan giginya, matanya tajam penuh kewaspadaan. “Bisa jadi. Hei Lian Hua tak pernah bergerak tanpa rencana. Dia pasti sudah menyiapkan sesuatu untuk mengg
“Tidak mungkin Jinsi, kita harus selesaikan masalah dengan Lu Sangyun juga. Kita tak bisa pergi ke istana sekarang.” Jing Qian jelas menolak. “Tapi kak—” “Dengar Jinsi, istana memang tengah dikepung bahaya. Tapi kau juga jangan lupa bahwa Hei Lian Hua dan Lu Sangyun ada di luar istana. Mereka jauh lebih kuat dan berbahaya ketimbang ibu suri yang diasingkan di istana itu,” jelas Jing Qian lagi. Perempuan siluman rubah ekor tujuh itu mendekat pada Jung Jinsi, mengusap pelan pundaknya dan menatap tenang wajah adiknya. “Begini saja, kau pergilah ke istana sekarang. Lalu aku akan pergi ke biro penangkap siluman untuk menemui Lu Sangyun.” Jing Qian akhirnya mengalah dan memberi jalan tengah terbaik. Untuk saat ini hal ini lah yang paling efektif. “Apa kakak yakin?” tanya Jung Jinsi yang jelas sangat khawatir. Jing Qian malah tertawa kecil mendengarnya, dia malah mencubit pelan ujung hidung Jung Jinsi dengan gemas. “Kau ini, apa kau lupa kalau aku siluman rubah ekor tujuh? aku cu
Ye Xuanqing berjalan merapatkan diri ke sisi tembok ruang bawah tanah begitu mendengar suara kaki mendekat ke arahnya. Sementara Fen Rou bersembunyi dibelakang tumpukan kayu bakar di ruangan itu sambil berjongkok dan mata yang awas.Melalui pandangan saja keduanya saling berkomunikasi, menunggu siapa yang muncul di ruang bawah tanah selain mereka.“Penjaga tidak mungkin turun ke mari sebelum aku keluar, aku sudah memerintahkan mereka untuk tetap berjaga di pintu masuk.” Ye Xuanqing membatin, menerka siapa yang sekiranya akan muncul dihadapannya.Obor di sisi kanan dan kiri pintu masuk ruang bawah tanah bergoyang pelan tertiup angin yang masuk. Fen Rou menyipitkan matanya, tangannya sudah menggengam erat Tombak Qiankun disisi tubuhnya. “Kalian juga mencari petunjuk segel darah disini rupanya.”Suara perempuan terdengar begitu jelas dari pintu masuk, kening Ye Xuanqing berkerut dalam. Sosok yang baru saja masuk masih belum terlihat wujudnya dan sang adipati masih menerka-nerka siapa so
Fen Rou mengerutkan keningnya tidak mengerti, baru saja dia hendak membuka mulut untuk bertanya. Xuanqing justru sudah menjauh dan masuk ke dalam kereta kuda. Ye Xuanqing membawa si perempuan muda ke dalam kereta kuda. Dengan telaten dia mengobati luka-luka ditubuh perempuan itu. Hal pertama yang
Xuanqing geram, dia menggenggam erat pedang ditangannya. Senjata sihir itu sudah siap untuk menebas apapun dihadapannya. "Hari ini kita lihat siapa yang akan mati," desis Xuanqing dengan seringainya.Setelah itu dia berlari untuk menyerang si siluman, gelang logam ditangannya dengan cepat terlepas
"Perketat penjagaan, pasang formasi sihir untuk melindungi Kota Shinjing!""Jangan biarkan para siluman ini lolos!"Ye Xuanqing berteriak garang pada para pemburu siluman yang datang bersamanya hari ini. Tepat hari ini pula mereka telah melakukan perburuan siluman secara besar-besaran selama tiga b
Tiga hari telah berlalu, Ye Xuanqing masih tetap berada di Kota Shinjing bersama dengan para rombongan pemburu siluman. Saat ini dia tengah duduk di halaman kediaman, Xuanqing tampak sangat santai dan nyaman berada di kota kecil tersebut. "Adipati!" Satu panggilan dari Fen Rou membuat Xuanqing me







