Pagi hari yang cerah, Qin Yun duduk bersila di atas tempat tidur, mata tertutup, dan napas teratur. Qi dalam tubuhnya mulai berputar, mengalir deras melalui delapan jalur meridian yang terbuka, dan berkumpul di telapak tangannya.
Saat mata Qin Yun terbuka, cahaya tajam memancar. Dengan gerakan tenang, ia mendorong telapak tangannya ke depan. Sebuah ledakan energi Qi keluar, menghantam vas bunga di atas meja, membuatnya hancur berkeping-keping. Qin Yun tersenyum tipis, mata berkilauan. "Kondensasi Qi Tahap Awal ... akhirnya," katanya dengan nada santai, tanpa ekspresi berlebihan. Alam Kondensasi Qi adalah tahap awal perkembangan kultivasi. Pada tahap ini, seseorang dapat mengumpulkan dan mengendalikan Qi di dalam tubuh, membuka delapan jalur meridian, dan meningkatkan kekuatan fisik. Kondensasi Qi membuka potensi latihan kultivasi, meningkatkan kemampuan pertahanan diri, dan mempersiapkan untuk tahap kultivasi lebih tinggi. Namun, tahap ini juga memiliki keterbatasan, seperti rentan terhadap serangan Qi dan risiko cedera jika Qi tidak stabil. Tahapan Alam Kondensasi Qi terdiri dari tiga fase: Kondensasi Qi Tahap Awal, Kondensasi Qi Tahap Tengah, dan Kondensasi Qi Tahap Akhir. Kondensasi Qi Tahap Awal: Qi mulai terkondensasi dan mengalir dalam tubuh. Kondensasi Qi Tahap Tengah: Qi mengalir lebih stabil dan kuat. Kondensasi Qi Tahap Akhir: Qi mencapai titik maksimum, mempersiapkan untuk tahap kultivasi lebih tinggi. Qin Yun menutup mata dan mencari metode kultivasi yang cocok di dalam ingatannya. Dia menemukan Metode Kultivasi Api Yang Melahap Surga, yang pernah ditemukannya saat menjelajahi reruntuhan kuno di kehidupan sebelumnya. Meskipun tidak ada penjelasan tentang levelnya, Qin Yun yakin bahwa metode ini memiliki tingkat yang sangat tinggi karena persyaratannya sangat ketat. Di Benua Tian Yuan yang luas ini, terdapat tiga faktor yang menentukan kuat atau lemahnya seorang kultivator: Metode Kultivasi, Teknik Tempur, dan Teknik Pusaran Qi. Metode Kultivasi di Benua Tian Yuan adalah teknik spiritual untuk mengembangkan Qi dan meningkatkan kekuatan. Terbagi menjadi lima kelas: Kuning, Hitam, Bumi, Langit dan Ilahi. Setiap kelas terdiri dari empat tingkatan: Rendah, Menengah, Tinggi dan Puncak. Teknik Tempur di Benua Tian Yuan adalah teknik serangan yang memanfaatkan energi alam. Terbagi menjadi 5 kelas: Kuning, Hitam, Bumi, Langit, Ilahi. Setiap kelas memiliki 4 tingkatan: Rendah, Menengah, Tinggi, Puncak. Teknik Pusaran Qi adalah teknik khusus untuk mengumpulkan Qi di dalam tubuh dan memadatkannya menjadi serangan atau pertahanan yang kuat. Teknik ini terbagi menjadi lima kelas: Kuning, Hitam, Bumi, Langit, Ilahi. Setiap kelas terbagi menjadi: Rendah, Menengah, Tinggi, Puncak. Kekuatan seorang kultivator ditentukan oleh tingkat Metode Kultivasi, Teknik Tempur, dan Teknik Pusaran Qi. Semakin tinggi tingkatnya, semakin kuat pula kekuatan yang dimiliki. Namun, teknik tingkat tinggi memiliki persyaratan yang lebih ketat dan menantang. Contohnya, Metode Kultivasi Api Yang Melahap Surga memerlukan pembukaan 12 meridian utama di dalam tubuh. Hal ini sangat sulit karena tubuh manusia biasanya hanya dapat membuka 8 meridian utama. Membuka 12 meridian sama dengan mendaki langit tanpa peralatan, belum pernah ada orang yang membuka 12 meridian dalam sejarah panjang Benua Tian Yuan. Qin Yun terdiam, matanya menatap kekosongan. Lalu, semangat dan tekad memancar dari dalam dirinya. "Kata 'mustahil' tidak pernah ada dalam kamus hidupku!" katanya dengan penuh keyakinan. Ekspresi tegas dan determinasi memancar dari wajahnya. Qin Yun menutup matanya, mencari sesuatu dalam ingatannya. Wajahnya tegang, menunjukkan konsentrasi yang mendalam. Beberapa saat kemudian, matanya terbuka lebar dan sorotan cahaya memancar dari dalamnya. "Teknik Pembukaan Meridian Raja Langit," katanya dengan tenang dan yakin. Qin Yun teringat pada kehidupan sebelumnya ketika ia bertemu seorang kultivator luar biasa yang berhasil membuka 10 meridian. Kultivator tersebut menunjukkan peningkatan kecepatan kultivasi yang pesat dan mengesankan. Ketika itu, Qin Yun berkesempatan berinteraksi dengan kultivator tersebut dan menerima teknik langka "Pembukaan Meridian Raja Langit" sebagai hadiah dari pihak lain, yang menandai awal aliansi strategis. Tidak disangka bahwa teknik itu akan sangat berguna baginya saat ini. Dengan cepat, Qin Yun melompat dari tempat tidur dan berlari menuju pintu kamar. Namun, belum sempat dia membuka pintu, suara dingin yang tidak terduga terdengar dari luar. "Sepupu Qin Yun, aku Qin Yan. Aku datang untuk berkunjung," kata suara itu dengan nada dingin dan sinis, mengisyaratkan niat jahat yang tersembunyi di balik kata-kata tersebut. Mendengar suara itu, Qin Yun menyipitkan matanya, kenangan pahit muncul kembali. Qin Yan, sepupunya yang berhati licik. Dia adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian pemilik tubuhnya sebelumnya. Dia anak dari Qin Yong, saudara kedua ayahnya, yang selalu memendam kebencian dan iri hati terhadap dirinya. ...Bersambung.... Jika kalian suka dengan cerita ini, tolong tinggalkan komentar dan ulasan kalian untuk membantu penulis. Terimakasih.Semua hanya butuh tujuh napas.Lima jenius Kota Zheng terkapar di tanah, beberapa memuntahkan darah, beberapa pingsan, dan sisanya hanya bisa gemetar tak berdaya.Qin Yun berdiri di tengah, napasnya tenang, bahkan tidak ada setetes keringat pun di dahinya.Murid-murid dari Kota Hua menatapnya dengan wajah pucat pasi. Beberapa menggigil tanpa sadar, menelan ludah keras-keras.“Dia… melawan lima orang… tanpa teknik… dan tanpa pedang… dan menang?” bisik seorang murid dengan suara bergetar.Ling Fan yang berdiri agak jauh memandang Qin Yun dengan tatapan serius untuk pertama kalinya. Mata tajamnya berkilat samar. Meskipun dengan kekuatannya, dia yakin bisa mengalahkan lima orang dalam pertarungan. Tapi dia tidak akan bisa melakukan seperti yang di lakukan Qin Yun. Untuk melakukan seperti yang di lakukan Qin Yun, seseorang harus memiliki persepsi spiritual yang kuat dan kesadaran tempur yang tinggi, dan yang paling utama. Kultivasi harus jauh di atas kelima orang. Tapi dari yang terlihat,
Ucapan itu, sederhana namun menusuk, membuat wajah Liu Yuan memerah karena campuran malu dan marah. Aura qi-nya kembali bergejolak, seolah siap melancarkan serangan kedua, tetapi kali ini, rasa takut samar mulai muncul di matanya.melirik para anggota kelompoknya dari Kota Zheng dan berkata dengan suara rendah namun tegas,“Apa yang kalian tunggu, serang dia!”Kelima jenius Kota Zheng saling menatap lalu segera bergerak. Aura mereka meledak bersamaan, menyapu debu di sekitar. Masing-masing memiliki kekuatan Xiantian tahap menengah, dan jelas mereka bukanlah orang-orang biasa. Tanah bergetar hebat di bawah pijakan mereka, retakan kecil terbentuk di setiap langkah yang mereka ambil.Qin Yun hanya menatap mereka sebentar… lalu menghela napas pelan.Tanpa bicara, dia menurunkan pedang berkaratnya dan menaruhnya ke samping.Melihat itu, banyak murid yang terkejut.“Apa dia… gila?! Melawan lima orang sekaligus tanpa pedang?” gumam seorang murid Kota Hua dengan wajah pucat.“Dia meremehkan m
Sosok yang muncul itu secara alami adalah Qin Yun. Mendengar pertanyaan Ling Feng, Qin Yun tidak menjawab. Tatapannya hanya mengunci pada bendera, lalu menyapu mereka semua satu per satu. Hanya dalam satu pandangan, seolah seluruh aura para jenius yang tersisa tertekan.Liu Yuan yang masih memegangi dadanya menggertakkan gigi, wajahnya memerah karena marah dan malu. “Sampah, orang-orang dari barat laut hanya bisa melakukan serangan menyelinap!”Qin Yun akhirnya menoleh pelan, menatap Liu Yuan dengan tatapan setajam pedang.“Aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku.”Ucapan itu membuat udara di arena mendadak menjadi beku."Milikmu?" Liu Yuan menatap Qin Yun dengan marah dan berkata dengan kejam. "Nak, percaya atau tidak, aku akan mematahkan seluruh tulangmu sebelum mengirimmu keluar!"Para anggota kota Zheng juga menatap Qin Yun dengan marah. Qin Yun hanya melirik Liu Yuan dan para anggota kota Zheng, lalu dengan acuh tak acuh berkata. "Kamu bisa datang dan mencoba!" Mendengar
BRAAAAKKK!!!Sementara itu, pertarungan antara Liu Yuan dan Li Chen juga mencapai klimaksnya. Liu Yuan melesat seperti kilat, pedangnya dipenuhi aura petir yang menggelegar. Dengan teknik pamungkasnya, “Pedang Petir Penghancur Langit!”, Liu Yuan menebas lurus.Bayangan petir sebesar naga menyambar Li Chen, memecah pertahanannya dalam sekali tebas. Tombak Li Chen patah, dadanya tersayat panjang, dan darah menyembur deras. Tubuh Li Chen gemetar, lututnya tak mampu menopang beban tubuhnya lagi.“Tidak… aku… masih belum…” gumamnya, namun kata-kata itu tak sempat selesai.WHUUUUSSSHHHH!!!Tubuh Li Chen perlahan berubah menjadi serpihan cahaya putih, kemudian meledak menjadi ribuan percikan dan terusir keluar dari dunia ilusi.Liu Yuan menatap kosong ke arah cahaya itu, lalu mendengus. “Satu lawan berat… gugur.”---Di sisi lain, para jenius Kota Fenglin satu per satu jatuh. Pedang-pedang spiritual, tombak-tombak energi, dan gelombang ledakan terus menghantam pertahanan mereka. Satu demi sa
DUARRRR!!!Ledakan energi spiritual yang dahsyat kembali mengguncang arena. Tubuh Zhao Tian terpental mundur hampir tiga langkah, telapak kakinya menghancurkan tanah setiap kali ia menapak. Tombak hitam di tangannya bergetar hebat, sementara darah tipis menetes dari sudut bibirnya.Di seberangnya, Ling Fan berdiri tenang. Jubah putihnya berkibar ringan tertiup badai energi, dan bilah pedangnya yang memantulkan cahaya perak memancarkan aura tajam seperti ingin merobek langit. Nafasnya tetap stabil, wajahnya dingin tanpa sedikit pun emosi.“Zhao Tian,” ucap Ling Fan dengan suara datar, tapi penuh penekanan, “jurang di antara kita… tak bisa lagi kau jembatani.”Zhao Tian mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu tersenyum tipis. “Aku belum kalah… selama tombakku masih bisa bergerak.”Seketika, Zhao Tian menghentakkan kakinya ke tanah.BOOOMMM!!!Tanah retak membentuk pola melingkar. Aura hitam pekat naik dari tubuhnya, melilit tombaknya bagaikan naga bayangan. Zhao Tian mem
Zhao Tian merespons seketika. Tombak hitamnya berputar dengan kecepatan tinggi, membentuk pusaran energi spiral yang memadat di ujung tombak. Saat pedang Ling Fan menyambar, Zhao Tian menangkisnya dengan gerakan diagonal, dan—DZZZAAARRRR!!!Benturan pertama membuat gelombang kejut meledak ke segala arah. Pohon-pohon di sekitar mereka tercabut dari akar, sementara murid-murid yang terlalu dekat langsung terhempas puluhan meter dan jatuh pingsan.Ling Fan menatap Zhao Tian dengan tenang, tanpa sedikit pun terlihat emosi di wajahnya. Tiba-tiba, dia menghunus pedangnya sepenuhnya. Begitu bilah peraknya keluar dari sarung, tekanan spiritual menajam dan membentuk riak-riak di udara, seolah-olah ruang itu sendiri ditelan oleh cahaya pedang.“Teknik Pedang Awan Mengalir!” teriak Ling Fan pelan.Sekejap kemudian, tiga bilah energi pedang memancar dari ayunannya, memotong udara dengan presisi sempurna, melesat ke arah Zhao Tian.Zhao Tian mengibaskan tombaknya, menyuntikkan energi spiritualnya