LOGINSiang hari, Long Chen dan rombongannya memasuki kawasan Pegunungan Xuanfeng. Ketika mereka bergerak semakin dalam, mereka mendadak berhenti. Sekelompok pria bertopeng tengkorak muncul dari balik pepohonan, menghadang jalan mereka. "Serahkan semua sumber daya yang kalian miliki, jika ingin hidup melewati wilayah kami," ujar Bao Zhixin, pemimpin Perampok Tengkorak Merah, sambil mengacungkan pedangnya. Long Chen hanya menggeleng pelan. Tatapannya menyapu satu per satu anggota perampok di hadapannya. "Sejak kapan Pegunungan Xuanfeng menjadi wilayah kalian?" Tang Mingyu melangkah maju. "Daerah ini masih berada di bawah kekuasaan Kota Zhoucheng." Bao Zhixin menyeringai. "Jadi kau ingin melawan kami?" Tatapannya mengeras. "Meski kau putra Patriark Tang Qiyu, aku tidak takut menghadapi semut sepertimu." Tang Mingyu menyipitkan mata. Aura di tubuhnya mulai bergerak. "Semut?" suaranya dingin. Bao Zhixin tertawa kasar. Ia mengangkat tangan kanannya. "Habisi mereka. Sisakan satu at
Keesokan paginya saat fajar menyingsing menyinari kota Zhoucheng, para murid, Tetua Qing Wushen, Tetua Qing Jianhong, Tetua Qing Haoran, Tetua Qing Baishan dan Tetua Qing Yunfei berkumpul di halaman utama. "Apa keputusanmu sudah bulat meninggalkan kota ini, Long'er?" tanya Tetua Qing Wushen sambil menatap Qing Long Chen lekat-lekat. Long Chen menganggukkan kepala perlahan seraya menatap para murid dan Tetua lainnya sebelum menjawab. "Iya, Paman. Jika aku berada di kota ini terus, yang ada keselamatan para warga pasti terancam dalam bahaya dan membuat hidup mereka selalu dalam bayang-bayang ketakutan terus menerus jika aku mengambil tindakan. Bagaimanapun aliran hitam berambisi menguasai wilayah barat dan membuat sekte-sekte maupun klan di setiap kota-kota tunduk di bawah sekte mereka," ucapnya dengan tegas. Para Tetua saling pandang dan mereka tahu jika keputusan yang diambil oleh Long Chen memang benar, demi menjaga kedamaian dunia bawah. Tetua Qing Wushen menghela napas pan
Di bawah kegelapan malam, sekelompok pria berjubah hitam tampak mengawasi Long Chen dari kejauhan, yang berjalan seorang diri keluar dari Kota Zhoucheng. "Dilihat dari mana pun, dia sama sekali tidak terlihat berbahaya," ujar salah satu dari mereka dengan nada meremehkan. "Bukankah dia hanya sampah dari Klan Qing? Mengapa kita harus repot-repot menyelidikinya?" "Jangan ceroboh," sahut yang lain. "Sekte Lembah Racun tidak mungkin musnah hanya oleh seorang sampah." "Namun aku tidak merasakan aura apa pun dari tubuhnya. Mustahil dia memiliki kekuatan seperti itu." "Justru itu yang mencurigakan," suara lain terdengar dingin. "Bahkan orang-orang di kota itu enggan membicarakannya. Kita ikuti saja… dan pastikan sendiri." Mereka berpencar tanpa suara, menjaga jarak, menutup setiap jalur yang mungkin dilalui. Setelah berjalan cukup jauh dari kota, Long Chen tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menoleh sekilas, lalu berjalan ke sisi jalan dan duduk di bawah pohon. Keheningan mala
Ling Xiaosheng, Qing Feng, Ling Hua, dan Qing Yunxiao terkejut karena mereka berada di tempat yang sangat indah, dengan energi spiritual yang sangat tebal. Di hadapan mereka terbentang tanaman obat herbal langka, pohon-pohon buah abadi, serta sebuah istana emas yang mengambang di udara. "Long'er, dimanakah saat ini kita berada?" tanya Qing Feng sambil menatap pemandangan di depannya dengan takjub. Long Chen melangkah satu langkah ke depan sambil berucap. "Kita sekarang berada di dunia kecil dalam cincin semesta milikku, Ayah. Dulu, hal inilah yang membuat sosok adik yang sangat ku percayai dan istriku dengan kejam mengkhianatiku," ucap Long Chen dengan wajah muram. Qing Feng terdiam setelah mendengar penjelasan itu. Tatapannya berubah serius. "Jadi… tempat ini adalah peninggalan masa lalumu," ucapnya perlahan. Ling Hua menutup mulutnya, matanya bergetar. Ia tidak bertanya lebih jauh, namun jelas memahami beratnya luka yang tersimpan di balik kata-kata Long Chen. Ling Xiaos
Beberapa hari kemudian, kabar Sekte Lembah Racun berhasil dimusnahkan telah menyebar ke berbagai tempat. Dan menimbulkan rasa penasaran di benak setiap kultivator mengenai pihak yang telah menghancurkan sekte aliran hitam itu. Di kedai arak, penginapan, hingga pasar-pasar kultivator, nama Sekte Lembah Racun terus dibicarakan. "Sekte Lembah Racun itu bukan sekte kecil. Siapa yang berani memusnahkan mereka?" "Aku dengar seluruh sekte itu kini rata dengan tanah." "Apa mungkin dilakukan oleh satu klan saja?" Tidak ada yang mengetahui kebenaran pastinya. Namun satu hal jelas—kekuatan yang menghancurkan Sekte Lembah Racun bukanlah kekuatan biasa. Di sisi lain, beberapa sekte aliran hitam mulai bersikap waspada. Mereka menahan pergerakan murid-muridnya dan memperketat penjagaan wilayah masing-masing. Nama Qing Long Chen pun mulai masuk ke telinga orang-orang tertentu, meski masih belum ada kejelasan yang pasti mengenai kekuatan yang di miliki oleh putra bungsu putra Patriark Qi
Di malam hari, Qing Long Chen menatap langit cerah yang dipenuhi bintang-bintang dari taman samping paviliun. Ia berdiri diam cukup lama, membiarkan pikirannya tenang untuk sesaat, dunia terasa sunyi—tanpa strategi, tanpa musuh, tanpa keputusan. Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya. Ia segera menoleh dan mendapati Ayahnya sudah berada di dekatnya. "Apa yang membuatmu resah, Long'er?" tanya Qing Feng sambil menatap Long Chen lekat-lekat. Qing Long Chen terdiam sejenak sebelum menjawab. Tatapannya masih tertuju ke langit malam. "Bukan resah," ucapnya pelan. "Hanya sedang berpikir, Ayah." Qing Feng berdiri di sampingnya, kedua tangan di belakang punggung. "Memikirkan apa?" "Jalan ke depan," jawab Long Chen singkat. "Hari ini kita menang. Tapi kemenangan selalu membawa akibat." Qing Feng tersenyum tipis. "Itu pemikiran seorang pemimpin, kau telah melampaui harapanku, Long'er." Long Chen akhirnya menoleh. "Ayah tidak khawatir?" "Tentu







