مشاركة

Bab 3

مؤلف: Budi Nanas
Setengah jam kemudian, Ardi mulai memperlambat laju kapalnya. Dia mengeluarkan kompas dan memeriksa arah. Dia masih ingat perkataan para nelayan desa di kehidupan sebelumnya. Dari pelabuhan, berlayar lima mil laut ke arah selatan, lalu tiga mil laut ke arah barat, dan lokasi penangkapan ikan itu akan terlihat.

Kapal motornya yang melaju dengan tenaga penuh paling jauh hanya mampu menempuh sekitar 10 mil laut dalam satu jam.

Sekarang, dia sudah menempuh lima mil laut. Berarti, selanjutnya dia hanya perlu berlayar ke arah barat.

Ardi memutar haluan kapal, lalu melaju sekitar tiga mil laut ke arah barat sebelum akhirnya menghentikan kapal dengan mantap. Dia keluar dari ruang kemudi, membungkukkan badan, lalu menyentuhkan tangannya ke permukaan laut.

Air laut hari itu terasa sejuk.

Saat jari-jarinya pertama kali masuk ke dalam air, dia merasakan sedikit hawa dingin. Namun setelah beberapa saat, sensasi itu menghilang dan tidak terasa terlalu dingin lagi.

"Sepertinya memang di sini."

Ardi menarik tangannya dan mengibaskan air yang menempel di jemarinya.

Meskipun kemampuan menangkap ikannya biasa saja, pengetahuan teorinya sama sekali tidak buruk.

Hanya dari suhu air, dia sudah bisa memastikan bahwa lokasi ini berada di atas zona retakan gunung api bawah laut. Hal yang mampu menarik kawanan ikan gulama untuk berkumpul dalam jumlah besar biasanya hanya ada dua.

Pertama, ada bangkai kapal karam di dasar laut yang membentuk terumbu buatan.

Namun, sejak kecil tinggal di Desa Pasirya, dia tidak pernah mendengar ada kapal besar yang tenggelam di sekitar perairan ini. Berarti hanya tersisa kemungkinan kedua.

Ada retakan gunung api bawah laut yang menjaga suhu air tetap berada di kisaran 18 derajat Celsius sepanjang tahun. Harus diakui, keberuntungan Imsyaq di kehidupan sebelumnya memang luar biasa.

Ardi memahami semua ini karena dia mempelajari banyak pengetahuan kelautan setelahnya. Sedangkan Imsyaq bahkan nyaris buta huruf. Mana mungkin dia memahami teori-teori seperti ini?

Kemungkinan besar Imsyaq hanya mengandalkan radar, lalu secara kebetulan menemukan lokasi itu. Namun, sekarang keberuntungan itu tidak akan menjadi miliknya lagi.

Ardi menatap langit.

Matahari berada tepat di cakrawala dan masih ada sedikit waktu sebelum malam benar-benar tiba. Waktu yang cukup untuk memasang jala.

Untuk menangkap 150 kilogram ikan gulama, jenis dan ukuran jaring sangatlah penting. Jaring yang digunakan harus berupa jaring insang hanyut sepanjang 200 meter dengan tinggi 8 meter.

Ukuran mata jaring tidak boleh lebih besar dari 10 sentimeter. Selain itu, diperlukan kantong udara sebagai pelampung.

Pada bagian bawah jaring juga harus diikat pemberat berupa batu seberat belasan kilogram agar jaring bisa tenggelam sempurna.

Saat Ardi menyelesaikan seluruh persiapannya, hari benar-benar telah gelap. Selain cahaya redup dari lampu di haluan kapal, sekelilingnya diselimuti kegelapan. Bahkan bulan pun tidak terlihat di langit malam itu.

Ardi tidak sempat merasa takut, apalagi beristirahat.

Jika ingin menangkap ikan, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan kawanan ikan terlebih dahulu.

Pada era 1980-an, belum ada teknologi sonar dan GPS canggih seperti sekarang. Untuk memancing ikan agar berkumpul, hanya ada satu cara, yaitu memanfaatkan kebiasaan ikan gulama yang tertarik pada cahaya. Metode ini dikenal dengan nama light fishing.

Metode ini membutuhkan dua jenis lampu, yaitu lampu utama dan lampu pendamping.

Lampu utama dibuat dengan mengoleskan cairan kultur alga bercahaya pada penutup lampu sorot. Sedangkan lampu pendamping menggunakan botol kecil bekas penisilin yang diisi minyak kril. Cahaya yang dihasilkan kedua lampu itu sangat menarik bagi ikan gulama.

Ardi memasang lampu-lampu itu pada jala dengan jarak tertentu, lalu mulai menaburkan isi perut cumi-cumi yang telah difermentasi ke laut sebagai umpan. Umpan itulah yang tadi dibelinya dengan uang pemberian Kinara.

Menebarkan umpan juga memiliki teknik tersendiri. Tidak boleh langsung dituangkan sekaligus ke laut. Umpan harus ditebarkan setiap 15 menit sekali.

Setelah menebarkan umpan sebanyak tiga kali, alat pengukur tekanan yang terhubung ke jala tiba-tiba menunjukkan reaksi.

Sekali melihatnya, Ardi langsung tahu. Kawanan ikan sudah datang!

Dia segera meletakkan kedua tangannya pada alat penggulung jaring manual, menggertakkan gigi, lalu mulai menarik jala. Kecepatan menarik jaring tidak boleh terlalu cepat. Jika terlalu cepat, jaring bisa robek.

Namun, saat menarik juga tidak boleh terlalu lambat. Jika terlalu lambat, tenaga nelayan akan habis terkuras oleh perlawanan ikan.

Di kehidupan sebelumnya, seorang nelayan senior pernah mengajarinya bahwa ritme tercepat adalah cepat, lambat, lalu cepat kembali. Dengan pola itu, penarikan jaring akan menjadi lebih mudah.

Setelah bekerja keras selama hampir dua jam, Ardi bersandar di samping alat penggulung jaring. Kedua tangannya gemetar tanpa henti. Untung saja sekarang dia masih muda.

Kalau tubuhnya yang sudah rusak karena minuman keras dan wanita di kehidupan sebelumnya yang melakukan pekerjaan ini, mungkin lengannya sudah terlepas dari sendinya karena kelelahan.

Namun, semua usaha itu tidak sia-sia. Di hadapannya, ada jala penuh dengan ikan gulama yang menumpuk seperti bukit kecil. Itulah hasil tangkapannya.

Ardi yakin sepenuhnya.

Tangkapan kali ini jelas jauh lebih dari 150 kilogram ....

Ardi tidak berani membuang terlalu banyak waktu. Dia menyeret tubuhnya yang kelelahan ke kabin kapal, lalu menghidupkan kapal untuk perjalanan pulang.

Pada malam hari, menentukan arah jauh lebih sulit. Dia hanya bisa mengandalkan kompas dan penghitung waktu untuk memperkirakan jarak menuju pelabuhan.

Di tengah perjalanan pulang, sebuah kapal dengan lampu menyala muncul dari arah berlawanan. Meski malam terlalu gelap untuk melihat dengan jelas, Ardi sudah tahu siapa orang yang berada di atas kapal itu.

Imsyaq, paman Badrul ....

Di kehidupan sebelumnya, 150 kilogram ikan gulama itu memang ditangkap oleh Imsyaq. Namun, sekarang Ardi sudah bergerak terlebih dahulu dan Imsyaq terlambat selangkah. Saat mengendalikan kapalnya, Ardi melihat kapal Imsyaq memperlambat laju.

Lampu di atas kapal itu berkedip-kedip mengirimkan kode isyarat antar nelayan.

Namun, Ardi sama sekali tidak memedulikannya. Dia langsung memacu mesin hingga tenaga maksimal dan menerjang ombak menuju pelabuhan.

Imsyaq memperhatikan kapal yang datang dari arah berlawanan itu makin menjauh. Keningnya berkerut. Dia mengenali kapal itu sebagai kapal milik Keluarga Rinjani, tetapi tidak tahu siapa yang sedang mengemudikannya.

Dari posisi lambung kapal yang tenggelam lumayan dalam, dia bisa melihat bahwa muatannya cukup berat. Jelas ada banyak ikan di kapal itu. Dia tahu kemampuan Ardi dalam menangkap ikan tidaklah istimewa.

Mungkinkah Ardi menyewakan kapalnya kepada orang lain?

Kemungkinan itu cukup masuk akal.

Setelah memikirkannya, Imsyaq pun tidak terlalu peduli dan melanjutkan perjalanan untuk menangkap ikan.

Beberapa puluh menit kemudian, Ardi sudah bisa melihat lampu-lampu pelabuhan. Setelah merapatkan kapal ke dermaga, barulah dia sempat memeriksa kualitas ikan gulama tangkapannya.

Harus diakui, kualitas hasil tangkapan kali ini benar-benar luar biasa. Semua ikan yang tertangkap merupakan kualitas premium.

Dengan harga pasar saat itu, meski hanya dijual ke toko hasil laut milik negara, setiap kilogram masih bisa dihargai lebih dari 4.000. Kalau dijual eceran langsung ke pasar, harganya mungkin bisa mencapai 16 ribu per kilogram atau bahkan lebih.

Tentu saja, menjual beberapa ekor secara terpisah bukan masalah.

Namun, jika menjual lebih dari 150 kilogram sekaligus, dia bisa dicurigai melakukan spekulasi dan perdagangan ilegal. Meskipun kebijakan sudah mulai longgar, tuduhan semacam itu baru benar-benar dihapus bertahun-tahun kemudian.

Terlebih lagi, malam sudah larut.

Kalau menunggu pagi untuk meminjam truk dari desa lalu mengangkut ikan ke kota, sangat mungkin sebagian besar ikan itu akan mati.

Memikirkan hal itu, Ardi berdiri. Dia berjalan ke tiang kapal dan menggantung tiga lampu minyak, dua merah dan satu putih. Di kalangan nelayan, itu adalah kode isyarat khusus. Artinya kapal baru kembali dari laut dan membawa stok ikan segar dalam jumlah besar untuk dijual.

Tak lama kemudian, beberapa pengepul mulai berdatangan ke dermaga ....

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 50

    Di pelabuhan ....Madya sedang mengisi solar ke kapalnya ketika tiba-tiba mendengar seseorang memanggil dari belakang."Om Madya!""Om Madya!"Dia menoleh dan melihat Badrul berlari cepat menghampirinya.Wajah Madya seketika menjadi muram. Dia masih ingat jelas kejadian tempo hari, saat Badrul datang ke rumahnya dan menagih paksa biaya sewa tambak.Setelah sampai di dekatnya, Badrul langsung berkata, "Om, ada sesuatu yang perlu aku ceritakan! Kinara dan Ardi sudah jadian!"Madya hanya melirik Badrul sekilas, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan mengisi bahan bakar ke kapal.Melihat reaksinya, Badrul mengira Madya tidak mendengar. Dia pun mengulanginya lagi, "Om, Kinara sama Ardi betulan sudah jadian!"Madya mengernyit. Bahkan kepalanya pun tidak diangkat. "Ya, aku sudah dengar."Mendengar itu, kedua alis Badrul hampir menyatu. Dengan wajah penuh keheranan, dia berkata, "Om sudah pikun ya? Aku bilang putri Om, Kinara, sudah pacaran sama Ardi si bajingan itu! Kenapa Om sama sekali ngga

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 49

    Ardi memandang Badrul, lalu tersenyum. "Kenapa? Kamu takut?"Badrul mendengus dingin. "Aku? Takut sama kamu?"Ardi mengangkat alis. "Kalau nggak, buat apa sengaja nungguin aku di sini?"Badrul mendengus pelan, sorot matanya penuh penghinaan. "Aku cuma mau ingatkan, jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu.""Dulu orang yang berebut jadi pemasok ikan restoran milik negara jumlahnya bisa antre sampai ujung jalan.""Tapi kenapa pada akhirnya yang dipilih justru keluargaku? Itu karena ayahku kenal sama Bu Rahayu, wakil manajer bagian pengadaan!""Jangan mentang-mentang sekarang dekat sama Pak Dayat, kamu merasa bisa merebut usaha keluarga kami. Selama Bu Rahayu masih ada, kamu nggak akan bisa berbuat apa-apa.""Dan satu lagi, jangan coba-coba nangkap ikan bahaba. Kalau nggak, aku akan kasih tahu Om Madya soal hubunganmu dengan Kinara.""Kita lihat saja nanti, kakimu bakal dibuntungin sama Om Madya nggak!"Mendengar itu, Ardi malah tertawa. Awalnya dia mengira Badrul sengaja mengadang

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 48

    Badrul mengangguk, tetapi dalam hati dia merasa heran. Kenapa tiba-tiba Rahayu menanyakan soal Ardi?Rahayu menatap Badrul. "Coba ceritakan, sebenarnya siapa Ardi itu?"Badrul mengernyit, lalu menjawab, "Bocah itu cuma penjudi kelas kakap. Sejak ayahnya meninggal, dia nggak pernah bekerja serius. Malah setiap hari datang terus ke rumahku, maksa ngajak main kartu.""Dia gila judi, tapi kemampuan mainnya payah. Akhirnya dia kalah sampai hartanya habis. Terus dia terus-terusan minjam uang dari aku. Setelah nggak sanggup bayar, dia mulai mencuri barang milik warga desa.""Pas sudah ketahuan, dia malah nggak mau ngaku. Orangnya juga suka nipu. Setiap hari ada saja kebohongan baru yang dia bikin buat nipu duit orang. Sekarang warga desa langsung menjauh kalau lihat dia."Rahayu sedikit memicingkan mata. Ardi ternyata lebih buruk daripada yang dia sangka. Kemungkinan besar, Dayat sudah ditipu oleh Ardi sampai berani menggantungkan harapannya pada orang semacam itu.Awalnya dia sedikit khawati

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 47

    Rahayu sempat terdiam mendengar sindiran itu, lalu tersenyum sambil mengangguk. Kini, dia sudah paham. Dayat memang sengaja melawannya."Karena kamu juga sudah dapat orang, gimana kalau tugas ini dikasih ke kedua pihak saja? Siapa yang berhasil menangkap ikan yang lebih besar, dialah yang kita pakai."Dayat mengangguk. "Oke, sepakat.""Tapi, rasanya kurang menarik. Gimana kalau kita tambahkan sedikit taruhan?"Rahayu memutar bola matanya dan langsung memahami maksud Dayat. Ini berarti mereka berdua akan bertaruh hasil.Dia tahu kemampuan melaut Badrul dan Imsyaq. Memang kemampuan Badrul biasa saja, tetapi kemampuan Imsyaq termasuk salah satu yang terbaik di Desa Pasirya. Dengan dua orang itu, dia yakin ikan bahaba pasti akan jatuh ke tangannya.Menurutnya, Dayat hanya sedang panik dan asal bertaruh pada seorang mantan penjudi. Kalau orang seperti itu bisa menang, baru aneh."Boleh. Kalau mau main, kita main yang besar sekalian. Kalau kamu kalah, kamu harus menemui manajer utama dan min

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 46

    Saat mereka sedang berbincang, Siddiq mendorong pintu belakang dan keluar.Begitu melihat ikan kerapu di tangan Dayat, dia sempat tertegun sejenak, lalu cepat-cepat mendekat sambil menunduk. "Pak, Bu Rahayu cari Bapak."Dayat langsung mengernyit. "Cari aku untuk apa?"Terhadap Rahayu ini, dia memang sama sekali tidak punya kesan yang baik. Rahayu adalah wakil manajer mereka. Dia bertanggung jawab atas bagian pengadaan di restoran milik negara.Dari sisi wewenang, posisi mereka memang sering berbenturan. Dahulu setiap kali Dayat ingin membeli bahan baku, dia harus mengajukan laporan dan meminta persetujuan Rahayu.Belakangan karena sudah tidak tahan, dia pernah menemui manajer utama. Baru setelah itulah dia mendapatkan hak pembelian sendiri dalam jumlah tertentu. Namun, batasnya hanya 3 juta per bulan. Jika nilai pembeliannya melebihi batas itu, dia tetap harus melapor kepada Rahayu.Kalau hanya soal itu, sebenarnya Dayat tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang membuatnya curiga adalah

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 45

    "Tapi, ayahku dulu pernah bilang, kalau mau mengakui seseorang sebagai kakak, nggak bisa cuma asal panggil. Harus ada hadiah perkenalan.""Kamu juga tahu, aku cuma nelayan. Selain ikan, aku nggak punya barang lain yang pantas dijadikan hadiah. Jadi, semoga kamu mau menerima ikan ini."Dayat menatap ikan kerapu besar di hadapannya. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus berkata apa. Ikan kerapu ini adalah yang paling besar dan paling bagus di antara seluruh hasil tangkapan tadi. Menurut perkiraannya, berat ikan itu bisa mencapai sekitar 2,5 kilogram.Dengan harga yang baru saja mereka sepakati, yaitu 60 ribu per kilogram, nilainya mencapai sekitar 150 ribu.Bagi seorang teknisi pabrik, 150 ribu setara dengan penghasilan sebulan penuh. Apalagi Ardi hanyalah seorang nelayan desa.Seorang nelayan muda yang memiliki cara berpikir dan keluasan hati seperti ini benar-benar sulit dipahami.Melihat Dayat tidak segera merespons, Ardi juga tidak terburu-buru. Dia yakin Dayat pasti akan menerimanya. K

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status