Teilen

Bab 2

Budi Nanas
Saat Badrul mengulurkan tangan dan hendak mendorong Kinara ke dipan, tiba-tiba terdengar bentakan keras dari belakangnya. "Kutantang kamu! Kalau kamu berani sentuh dia, akan kubuat kamu mati di sini!"

Badrul baru saja hendak berbicara ketika dia menoleh ke belakang.

Entah sejak kapan, Ardi sudah mencabut sebuah senapan tombak ikan rakitan. Setelah memasang anak panahnya, dia langsung mengarahkannya ke belakang kepala Badrul.

Badrul mengenali senjata itu. Itu adalah tombak ikan model busur silang yang digunakan ayah Ardi semasa hidupnya.

Dahulu, ayah Ardi pernah membunuh seekor hiu sepanjang dua meter dengan senjata itu. Karena kejadian itu, namanya bahkan sempat masuk surat kabar.

Jika senjata itu mampu menembus tubuh hiu, menembus tubuh manusia tentu semudah menusuk tahu.

"Ar ... Ardi, kamu mau ngapain? Kukasih tahu ya, itu bukan mainan! Turunkan dulu ... cepat turunkan dulu ...."

Mata Ardi hampir memuntahkan api. Dia menatap Badrul dengan penuh amarah, sementara jarinya sudah berada di pelatuk.

"Naikkan celanamu dan keluar dari sini!"

Badrul buru-buru menarik celananya sambil bergerak mundur menuju pintu. "Oke, oke, aku pergi, aku pergi .... Turunkan dulu benda itu. Kita bicara baik-baik ya?"

Tatapannya terus terpaku pada tombak ikan di depannya. Bahkan suaranya mulai bergetar.

Dalam hati, dia benar-benar tidak mengerti. Biasanya Ardi selalu takut padanya. Saking pengecutnya, Ardi sampai nyaris tidak berani mendongak menatapnya. Kenapa sekarang dia tiba-tiba jadi berani mempertaruhkan nyawa?

Keduanya berjalan keluar rumah.

Menghadapi ujung tombak yang mengarah tepat ke kepalanya, kaki Badrul terus gemetaran. Dia benar-benar takut Ardi kalap dan menembakkan tombak itu hingga menembus kepalanya.

Setelah sampai di luar rumah, Ardi menarik napas panjang. "Bukannya tadi kamu bilang, Kinara akan kamu jadikan pelunas utang kalau aku nggak punya uang buat bayar?"

"Orangnya ada di dalam sekarang."

"Masih berani masuk?"

Badrul segera menggeleng kuat-kuat. "Nggak berani, nggak berani! Tadi aku cuma mau menakut-nakuti kamu biar cepat bayar utang. Kalau kamu memang lagi kesulitan, aku bisa kasih kelonggaran beberapa hari. Gimana?"

Ardi mencibir. "Itu kata-katamu sendiri. Aku nggak maksa kamu."

Badrul mengangguk, sementara dalam hati dia mengumpat, 'Sialan! Hari ini aku malah lengah dan datang sendirian.'

Dengan adanya tombak ikan yang membidik kepalanya sekarang, Badrul tidak punya pilihan selain mengalah.

Ardi menggeser jarinya dari pelatuk. "Nggak perlu kasih kelonggaran beberapa hari. Aku cuma butuh sehari saja. Besok di jam yang sama, datang saja ke sini buat ambil uangmu."

Mendengar ucapan itu, Badrul langsung tercengang.

Ardi berutang 400 ribu padanya. Pada masa itu, nominal itu setara dengan penghasilan warga biasa selama setengah tahun ....

Namun, sekarang Ardi mengatakan bahwa dia bisa melunasi seluruh utangnya hanya dalam satu hari?

Omong kosong macam apa itu?

Kalau bukan karena tombak ikan yang masih diarahkan kepadanya, mungkin Badrul sudah tertawa terbahak-bahak di tempat.

"Oke, oke. Kalau begitu, aku kasih satu hari. Aku juga mau lihat, dari mana kamu bisa dapat 400 ribu itu. Omonganmu benar-benar kelewatan!"

Ardi sedikit menyipitkan mata.

Bagi orang lain pada zaman ini, menghasilkan 400 ribu dalam sehari mungkin merupakan hal yang sangat sulit. Akan tetapi baginya, itu semudah membalikkan telapak tangan.

Ardi ingat dengan jelas.

Pada hari yang sama di kehidupan sebelumnya, paman Badrul, Imsyaq, berhasil menangkap 100 kilogram ikan gulama premium hanya dalam satu malam.

Menurut harga pembelian di toko hasil laut milik negara waktu itu, ikan gulama premium dihargai 6.000 per kilogram. Kalau 100 kilogram, berarti nilainya mencapai 600 ribu.

Sayangnya, pada hari yang sama, kasus Kinara yang membunuh Badrul itu menimbulkan kegemparan besar. Alhasil, kabar tentang tangkapan ikan gulama milik Imsyaq tenggelam begitu saja.

Beberapa hari kemudian, barulah warga desa menyadari hal itu. Mereka bahkan harus membuat Imsyaq mabuk terlebih dahulu sebelum pria itu mau mengungkap lokasi tempat dia menebar jala.

Meskipun Ardi tidak berada di sana waktu itu, dia pernah mendengar penduduk desa membicarakan lokasi penangkapan ikan itu.

Sekarang, dia memiliki perahu dan seluruh peralatan yang diperlukan.

Asalkan dia bergerak lebih cepat dari yang lain, seluruh ikan gulama bernilai 600 ribu itu akan menjadi miliknya!

"Badrul, lebih baik kejadian tadi kamu lupakan saja. Kalau sampai ada orang yang tahu, aku pastikan tombak ini akan menancap di kepalamu!"

Badrul langsung mengangguk berkali-kali sambil tersenyum kaku. "Tenang, tenang saja. Aku jamin nggak akan ada siapa pun yang tahu!"

"Kalau nggak ada urusan lain, aku pergi dulu ...."

Setelah berkata begitu, dia mundur beberapa langkah dengan hati-hati. Begitu jaraknya sudah cukup jauh, dia berbalik dan langsung berlari tunggang langgang.

Setelah Badrul benar-benar sudah jauh, barulah Ardi menurunkan tombak ikannya dan masuk ke rumah. Saat masuk, dia melihat Kinara sedang duduk di atas dipan dengan mata memerah.

Ardi meletakkan tombak itu lalu memeluknya. "Kinara, nggak usah takut lagi. Aku sudah peringatkan Badrul. Nggak akan ada orang lain yang tahu soal hubungan kita."

Kinara terisak pelan. Setetes air mata mengalir turun dari pipinya.

"Ardi, kamu masih ingin berjudi lagi ya?"

Percakapan antara Ardi dan Badrul tadi didengarnya dengan jelas.

Keluarganya yang beranggotakan tiga orang harus bekerja keras menangkap ikan sepanjang tahun untuk bisa mendapatkan uang satu juta. Kalau di laut sedang ada badai, bahkan jumlah itu pun belum tentu bisa mereka peroleh.

Sekarang Ardi mengatakan bahwa dia bisa mendapatkan 400 ribu dalam sehari. Bukankah itu berarti dia masih ingin berjudi?

Ketika mendengar pertanyaan itu, Ardi langsung tahu bahwa Kinara salah paham.

Namun, dia juga tidak bisa menyalahkan Kinara.

Melihat bagaimana dirinya hidup seperti seorang pecundang dahulu, kesalahpahaman seperti ini memang sepenuhnya akibat perbuatannya sendiri.

"Kinara, aku sudah janji sama kamu kalau aku nggak akan berjudi lagi. Kalau sudah janji, aku pasti nggak akan melakukannya lagi."

"Aku berani menjanjikan uang itu ke Badrul karena aku menemukan tempat untuk menangkap ikan gulama di dekat desa kita! Sekarang, kamu pulang dan panggil ayahmu. Suruh dia ikut melaut bersamaku. Keluargamu juga akan dapat bagian."

Pada kehidupan sebelumnya, Imsyaq berhasil membawa pulang 150 kilogram ikan gulama.

Setelah itu, warga desa lain ikut melaut ke lokasi yang sama. Hampir setiap keluarga mendapatkan hasil tangkapan minimal 50 hingga 100 kilogram.

Menurut perkiraan Ardi, jumlah ikan gulama di lokasi itu kemungkinan mencapai ribuan kilogram. Bahkan mungkin jauh lebih banyak daripada itu.

Hal seperti ini mustahil bisa dirahasiakan.

Kalau dia membawa pulang 150 kilogram ikan gulama dalam sekali tebar jala, keesokan harinya pasti akan ada orang yang datang bertanya. Bahkan jika mereka tidak berhasil mendapatkan informasi, tetap akan ada yang diam-diam mengikuti perahunya di laut.

Daripada semua orang berebut nanti, lebih baik dia memberi tahu calon mertuanya terlebih dahulu. Setidaknya, itu bisa sedikit memperbaiki citranya sebagai berandalan desa.

Namun, kening Kinara malah makin berkerut. Ardi sudah lebih dari setengah tahun tidak melaut. Dari mana dia bisa tahu lokasi ikan gulama?

"Ardi, kamu sendiri percaya sama ucapanmu itu?"

Ardi terdiam sejenak. Baru saat itu dia teringat. Selama lebih dari setengah tahun terakhir, dia hanya bermalas-malasan di rumah dan menghabiskan waktu bermain kartu setiap hari. Mana mungkin dia tahu lokasi ikan gulama?

Melihat Ardi tidak menjawab, Kinara menghela napas pelan. Dia mengeluarkan satu-satunya uang yang dimilikinya, 10 ribu, lalu meletakkannya di atas meja.

"Nanti setelah gelap, pergilah diam-diam. Badrul nggak mungkin cari kamu sampai ke luar desa. Sepuluh ribu ini uang tabunganku. Pakai saja buat ongkos perjalanan ...."

"Kalau suatu hari nanti kamu berhasil di luar sana dan jadi orang sukses, belum terlambat untuk kembali dan menikahiku."

Setelah berkata begitu, Kinara menyeka air matanya lalu bangkit dan berjalan ke luar. Ardi mengejarnya beberapa langkah dan berteriak ke arahnya. "Kinara, aku nggak akan pergi ke mana-mana sebelum menikahimu!"

"Setelah sampai di rumah, jangan lupa bilang sama ayahmu kalau aku akan menunggunya di pelabuhan! Kalau satu jam lagi dia nggak datang, aku akan pergi sendiri!"

Sebelum kalimatnya selesai, sosok Kinara sudah menghilang dari pandangan.

Ardi berbalik dan kembali ke rumah. Dia mengambil pakaian kerja untuk melaut, mengenakannya, lalu berlari menuju pelabuhan. Di sana, dia menemukan kapal motor milik keluarganya. Dia naik ke atas kapal dan memeriksanya dari ujung ke ujung.

Meskipun kapal itu sudah menganggur lebih dari setengah tahun, untungnya tidak ada kerusakan berarti. Semua perlengkapan masih ada, bahkan di salah satu sudut dia menemukan satu tong solar.

Ardi mendongak dan melihat posisi matahari. Masih ada banyak waktu. Dia kemudian mengambil uang 10 ribu yang ditinggalkan Kinara dan membeli umpan.

Setelah semua persiapan beres, dia menghela napas.

Tampaknya ayah Kinara benar-benar tidak percaya pada perkataannya dan tidak menyusul ke pelabuhan.

Ardi menyalakan mesin kapal. Perahu itu perlahan meninggalkan pelabuhan dan melaju menuju lokasi yang masih dia ingat dari kehidupan sebelumnya.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 50

    Di pelabuhan ....Madya sedang mengisi solar ke kapalnya ketika tiba-tiba mendengar seseorang memanggil dari belakang."Om Madya!""Om Madya!"Dia menoleh dan melihat Badrul berlari cepat menghampirinya.Wajah Madya seketika menjadi muram. Dia masih ingat jelas kejadian tempo hari, saat Badrul datang ke rumahnya dan menagih paksa biaya sewa tambak.Setelah sampai di dekatnya, Badrul langsung berkata, "Om, ada sesuatu yang perlu aku ceritakan! Kinara dan Ardi sudah jadian!"Madya hanya melirik Badrul sekilas, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan mengisi bahan bakar ke kapal.Melihat reaksinya, Badrul mengira Madya tidak mendengar. Dia pun mengulanginya lagi, "Om, Kinara sama Ardi betulan sudah jadian!"Madya mengernyit. Bahkan kepalanya pun tidak diangkat. "Ya, aku sudah dengar."Mendengar itu, kedua alis Badrul hampir menyatu. Dengan wajah penuh keheranan, dia berkata, "Om sudah pikun ya? Aku bilang putri Om, Kinara, sudah pacaran sama Ardi si bajingan itu! Kenapa Om sama sekali ngga

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 49

    Ardi memandang Badrul, lalu tersenyum. "Kenapa? Kamu takut?"Badrul mendengus dingin. "Aku? Takut sama kamu?"Ardi mengangkat alis. "Kalau nggak, buat apa sengaja nungguin aku di sini?"Badrul mendengus pelan, sorot matanya penuh penghinaan. "Aku cuma mau ingatkan, jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu.""Dulu orang yang berebut jadi pemasok ikan restoran milik negara jumlahnya bisa antre sampai ujung jalan.""Tapi kenapa pada akhirnya yang dipilih justru keluargaku? Itu karena ayahku kenal sama Bu Rahayu, wakil manajer bagian pengadaan!""Jangan mentang-mentang sekarang dekat sama Pak Dayat, kamu merasa bisa merebut usaha keluarga kami. Selama Bu Rahayu masih ada, kamu nggak akan bisa berbuat apa-apa.""Dan satu lagi, jangan coba-coba nangkap ikan bahaba. Kalau nggak, aku akan kasih tahu Om Madya soal hubunganmu dengan Kinara.""Kita lihat saja nanti, kakimu bakal dibuntungin sama Om Madya nggak!"Mendengar itu, Ardi malah tertawa. Awalnya dia mengira Badrul sengaja mengadang

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 48

    Badrul mengangguk, tetapi dalam hati dia merasa heran. Kenapa tiba-tiba Rahayu menanyakan soal Ardi?Rahayu menatap Badrul. "Coba ceritakan, sebenarnya siapa Ardi itu?"Badrul mengernyit, lalu menjawab, "Bocah itu cuma penjudi kelas kakap. Sejak ayahnya meninggal, dia nggak pernah bekerja serius. Malah setiap hari datang terus ke rumahku, maksa ngajak main kartu.""Dia gila judi, tapi kemampuan mainnya payah. Akhirnya dia kalah sampai hartanya habis. Terus dia terus-terusan minjam uang dari aku. Setelah nggak sanggup bayar, dia mulai mencuri barang milik warga desa.""Pas sudah ketahuan, dia malah nggak mau ngaku. Orangnya juga suka nipu. Setiap hari ada saja kebohongan baru yang dia bikin buat nipu duit orang. Sekarang warga desa langsung menjauh kalau lihat dia."Rahayu sedikit memicingkan mata. Ardi ternyata lebih buruk daripada yang dia sangka. Kemungkinan besar, Dayat sudah ditipu oleh Ardi sampai berani menggantungkan harapannya pada orang semacam itu.Awalnya dia sedikit khawati

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 47

    Rahayu sempat terdiam mendengar sindiran itu, lalu tersenyum sambil mengangguk. Kini, dia sudah paham. Dayat memang sengaja melawannya."Karena kamu juga sudah dapat orang, gimana kalau tugas ini dikasih ke kedua pihak saja? Siapa yang berhasil menangkap ikan yang lebih besar, dialah yang kita pakai."Dayat mengangguk. "Oke, sepakat.""Tapi, rasanya kurang menarik. Gimana kalau kita tambahkan sedikit taruhan?"Rahayu memutar bola matanya dan langsung memahami maksud Dayat. Ini berarti mereka berdua akan bertaruh hasil.Dia tahu kemampuan melaut Badrul dan Imsyaq. Memang kemampuan Badrul biasa saja, tetapi kemampuan Imsyaq termasuk salah satu yang terbaik di Desa Pasirya. Dengan dua orang itu, dia yakin ikan bahaba pasti akan jatuh ke tangannya.Menurutnya, Dayat hanya sedang panik dan asal bertaruh pada seorang mantan penjudi. Kalau orang seperti itu bisa menang, baru aneh."Boleh. Kalau mau main, kita main yang besar sekalian. Kalau kamu kalah, kamu harus menemui manajer utama dan min

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 46

    Saat mereka sedang berbincang, Siddiq mendorong pintu belakang dan keluar.Begitu melihat ikan kerapu di tangan Dayat, dia sempat tertegun sejenak, lalu cepat-cepat mendekat sambil menunduk. "Pak, Bu Rahayu cari Bapak."Dayat langsung mengernyit. "Cari aku untuk apa?"Terhadap Rahayu ini, dia memang sama sekali tidak punya kesan yang baik. Rahayu adalah wakil manajer mereka. Dia bertanggung jawab atas bagian pengadaan di restoran milik negara.Dari sisi wewenang, posisi mereka memang sering berbenturan. Dahulu setiap kali Dayat ingin membeli bahan baku, dia harus mengajukan laporan dan meminta persetujuan Rahayu.Belakangan karena sudah tidak tahan, dia pernah menemui manajer utama. Baru setelah itulah dia mendapatkan hak pembelian sendiri dalam jumlah tertentu. Namun, batasnya hanya 3 juta per bulan. Jika nilai pembeliannya melebihi batas itu, dia tetap harus melapor kepada Rahayu.Kalau hanya soal itu, sebenarnya Dayat tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang membuatnya curiga adalah

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 45

    "Tapi, ayahku dulu pernah bilang, kalau mau mengakui seseorang sebagai kakak, nggak bisa cuma asal panggil. Harus ada hadiah perkenalan.""Kamu juga tahu, aku cuma nelayan. Selain ikan, aku nggak punya barang lain yang pantas dijadikan hadiah. Jadi, semoga kamu mau menerima ikan ini."Dayat menatap ikan kerapu besar di hadapannya. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus berkata apa. Ikan kerapu ini adalah yang paling besar dan paling bagus di antara seluruh hasil tangkapan tadi. Menurut perkiraannya, berat ikan itu bisa mencapai sekitar 2,5 kilogram.Dengan harga yang baru saja mereka sepakati, yaitu 60 ribu per kilogram, nilainya mencapai sekitar 150 ribu.Bagi seorang teknisi pabrik, 150 ribu setara dengan penghasilan sebulan penuh. Apalagi Ardi hanyalah seorang nelayan desa.Seorang nelayan muda yang memiliki cara berpikir dan keluasan hati seperti ini benar-benar sulit dipahami.Melihat Dayat tidak segera merespons, Ardi juga tidak terburu-buru. Dia yakin Dayat pasti akan menerimanya. K

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status