Share

Bab 4

Penulis: Budi Nanas
Melihat ada seorang pengepul ikan berjalan mendekat, Ardi segera menurunkan lampu minyak yang tergantung dan menyambut pengepul itu. Ketika melihat bahwa orang yang menyambutnya adalah Ardi, pengepul itu langsung mengernyit.

Dia sudah bertahun-tahun membeli ikan di pelabuhan. Meski bukan penduduk Desa Pasirya, dia sangat mengenal keadaan desa itu. Dia sudah lama mendengar tentang reputasi Ardi. Seorang pemalas yang setiap hari hanya berkeliaran dan berjudi.

Orang seperti itu tiba-tiba memasang isyarat lampu minyak sekarang? Apa dia benar-benar mendapatkan banyak ikan?

"Kamu mau jual ikan?" Pengepul itu menatap Ardi dan bertanya dengan nada ragu.

Ardi merendahkan suaranya. "Ya, satu kapal penuh ikan gulama. Mau jual cepat malam ini."

Itu adalah istilah pasar di kalangan para nelayan dan pedagang. Artinya, dia memiliki muatan yang harus segera dilepas.

Kening pengepul itu makin berkerut. "Sudah sebulan aku nggak lihat ada ikan gulama di pelabuhan ini. Kamu bisa nangkap ikan gulama?"

Melihat pria itu tidak percaya, Ardi bergeser ke samping dan menunjuk ke arah geladak di belakangnya. "Lihat sendiri."

Pengepul itu menatap tumpukan hitam yang terlihat samar-samar di atas geladak. Dia berkedip beberapa kali lalu berjalan mendekat. Ketika sampai di dekatnya dan melihat dengan jelas, dia hampir jatuh terduduk karena kaget.

"Ya ampun ...."

"Ini ... sebanyak ini ikan gulama?"

"Semuanya hasil tangkapanmu?"

Dia menarik napas panjang dan menatap Ardi dengan wajah penuh ketidakpercayaan.

Kalau yang berdiri di depannya adalah nelayan senior berpengalaman, dia mungkin tidak akan terlalu terkejut. Masalahnya, orang itu adalah Ardi, berandalan paling terkenal di Desa Pasirya.

Orang seperti itu malah berhasil menangkap ratusan kilogram ikan gulama? Kalau tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, bahkan dipukuli sampai mati pun dia tidak akan percaya.

Ardi menyilangkan tangan sambil tersenyum. "Kalau bukan aku yang nangkap, lalu siapa lagi? Kamu? Ayo, sudah malam. Cepat periksa barangnya, terus tawarkan hargamu."

Pengepul itu mengangguk. Dia mengeluarkan sekotak korek api dan sepotong kecil kayu laut dari sakunya. Melihat benda-benda itu, Ardi sedikit menyipitkan mata. Pada masa itu, di pelabuhan hanya ada dua metode utama untuk memeriksa kualitas ikan.

Metode pertama disebut metode tusuk mata dengan kayu laut.

Namun yang disebut kayu laut ini sebenarnya bukan kayu, melainkan sejenis karang yang dikenal dengan nama karang hitam atau akar bahar. Berhubung bentuknya menyerupai pohon willow, masyarakat setempat menyebutnya kayu laut.

Pengepul menusukkan karang hitam itu ke mata ikan, lalu mencabutnya kembali untuk memeriksa apakah ada cairan keruh yang menempel. Jika tidak ada cairan keruh, berarti ikan masih segar. Sebaliknya jika ada cairan keruh, kualitas ikannya dianggap kurang baik.

Metode kedua disebut metode pembakaran serat insang.

Pengepul membakar serat insang ikan menggunakan korek api, lalu mengamati warna nyala apinya untuk menentukan tingkat kesegaran ikan. Jika insang menghasilkan nyala api berwarna putih kebiruan saat terbakar, kualitas ikan itu tergolong baik.

Setelah menggunakan kedua metode itu, pengepul mengangguk puas.

"Sudah selesai. Barangnya nggak ada masalah. Meskipun kamu mau jual cepat, aku nggak akan terlalu menekan harga."

"Kalau dijual ke toko hasil laut milik negara, mereka bakal beli dengan harga 4.800 per kilo. Aku kasih 4.000 per kilonya dan kubeli semuanya. Kalau setuju, sekarang juga aku panggil orang untuk mengangkutnya."

Ardi mengangguk.

Harga itu tidak jauh berbeda dari perkiraannya.

Memang, kalau menunggu pagi dan menjualnya ke toko hasil laut milik negara, dia bisa mendapat tambahan 800 per kilogram. Namun, jumlah ikan sebanyak ini pasti akan menarik perhatian warga desa.

Saat ini, belum ada yang mengetahui lokasi penangkapan ikan gulama itu selain dirinya. Kesempatan untuk diam-diam meraup keuntungan besar seperti ini tentu tidak ingin dia bagikan kepada orang lain.

Lagi pula, dia memang ingin segera menjual hasil tangkapannya. Tanpa perlu memikirkan biaya pengangkutan, tawaran 4.000 per kilogram dari pengepul sudah tergolong sangat baik.

"Oke, 4.000 per kilo ya. Tapi aku mau dibayar tunai."

Pengepul itu mengangguk. Dia memanggil beberapa orang, lalu mulai menurunkan ikan dan menimbangnya. Setelah semua ditimbang, hasil akhirnya membuat Ardi cukup puas. Sekali tebar jala, dia berhasil menangkap 200 kilogram ikan gulama!

Dengan harga 4.000 per kilogram, dia langsung menerima 800 ribu tunai.

Setelah pengepul pergi, Ardi menimbang-nimbang uang di tangannya, lalu mengembuskan napas panjang.

Saat itu, langit mulai terang. Rasa lelah yang luar biasa menyerangnya. Dia menyimpan uang itu, lalu memaksakan diri untuk pulang.

Sesampainya di rumah, dia melepas pakaiannya yang basah karena melaut, lalu merebahkan diri ke atas dipan dan tertidur lelap.

Entah sudah berapa lama dia tidur. Tiba-tiba, dia merasakan nyeri di wajahnya. Begitu membuka mata, dia melihat Badrul berdiri di samping dipan sambil menggigit rokok. Pria itu terus menepuk-nepuk wajahnya.

"Ardi, jangan pura-pura mati! Cepat bangun!"

Ketika melihat Ardi benar-benar membuka mata, Badrul tanpa sadar mundur selangkah dan berdiri di dekat lima anak buah yang dibawanya.

Terakhir kali dia datang sendirian, Badrul hampir saja ditembak dengan tombak ikan oleh Ardi. Kali ini dia sudah belajar dari pengalaman. Dengan lima orang di belakangnya, Badrul merasa jauh lebih percaya diri.

Ardi duduk tegak dan menyapukan pandangannya ke arah para pria di belakang Badrul.

Mereka semua adalah anak buah yang biasa membantu Badrul menjaga lapak judinya. Usia mereka kurang lebih sama dengan Ardi, sekelompok pemuda desa yang setiap hari hanya berkeliaran tanpa pekerjaan tetap.

Badrul menatap Ardi.

"Kemarin kamu bilang hari ini kamu bisa melunasi utangmu, 'kan? Mana uangnya?"

Ardi refleks meraba tubuhnya. Baru saat itu dia teringat bahwa dia hanya mengenakan celana dalam saat tidur. Uangnya masih tersimpan di saku bagian dalam pakaian yang dia lempar ke samping dipan.

Ardi membungkuk hendak mengambil pakaian itu. Namun, sebelum sempat melakukannya, Badrul langsung mendorongnya kembali sambil menatap dengan dingin.

"Kenapa? Mau kabur? Sudah kuduga kamu nggak punya uang, makanya hari ini aku bawa orang buat mengepungmu!"

"Kuberi kamu dua pilihan. Pertama, hari ini aku potong satu tanganmu. Atau kedua, serahkan kapal keluargamu sebagai pelunasan utang!"

Ardi menatap Badrul sambil mencibir.

Di kehidupan sebelumnya, Badrul memang sengaja membujuknya berjudi demi mendapatkan kapal motor milik keluarganya. Kapal itu setidaknya bernilai 1,4 juta.

Badrul ingin merebutnya hanya dengan utang 400 ribu. Setelah itu, dia bisa menjualnya kembali dan memperoleh keuntungan bersih satu juta.

Satu juta setara dengan penghasilan nelayan biasa di Desa Pasirya selama dua tahun!

Bahkan seandainya tidak dijual, kapal itu tetap sangat berharga untuk digunakan menangkap ikan.

Dengan tambahan satu kapal, hasil tangkapan keluarga Badrul bisa meningkat cukup pesat. Setidaknya mereka bisa memperoleh tambahan lebih dari 400 ribu per tahun. Harus diakui, perhitungan Badrul memang sangat licik.

"Cuma 400 ribu, 'kan? Aku bayar sekarang juga."

Mendengar itu, Badrul langsung tertawa keras. Kelima anak buah di belakangnya juga ikut tertawa.

"Kalian dengar? Katanya dia mau bayar sekarang juga ...."

"Ardi, apa kamu belum bangun dan masih mimpi? Dalam semalam, dari mana kamu bisa dapat 400 ribu?"

Ardi tersenyum tipis. "Ya jelas hasil laut lah."

"Minggir. Jangan halangi aku ambil uang."

Badrul mendengus. "Benar-benar keras kepala."

"Oke. Aku mau lihat dari mana kamu bisa tiba-tiba ada 400 ribu!"

Ardi membungkuk mengambil pakaiannya. Tangannya merogoh ke saku bagian dalam dan mengeluarkan seluruh uang yang tersimpan di sana sekaligus.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 50

    Di pelabuhan ....Madya sedang mengisi solar ke kapalnya ketika tiba-tiba mendengar seseorang memanggil dari belakang."Om Madya!""Om Madya!"Dia menoleh dan melihat Badrul berlari cepat menghampirinya.Wajah Madya seketika menjadi muram. Dia masih ingat jelas kejadian tempo hari, saat Badrul datang ke rumahnya dan menagih paksa biaya sewa tambak.Setelah sampai di dekatnya, Badrul langsung berkata, "Om, ada sesuatu yang perlu aku ceritakan! Kinara dan Ardi sudah jadian!"Madya hanya melirik Badrul sekilas, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan mengisi bahan bakar ke kapal.Melihat reaksinya, Badrul mengira Madya tidak mendengar. Dia pun mengulanginya lagi, "Om, Kinara sama Ardi betulan sudah jadian!"Madya mengernyit. Bahkan kepalanya pun tidak diangkat. "Ya, aku sudah dengar."Mendengar itu, kedua alis Badrul hampir menyatu. Dengan wajah penuh keheranan, dia berkata, "Om sudah pikun ya? Aku bilang putri Om, Kinara, sudah pacaran sama Ardi si bajingan itu! Kenapa Om sama sekali ngga

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 49

    Ardi memandang Badrul, lalu tersenyum. "Kenapa? Kamu takut?"Badrul mendengus dingin. "Aku? Takut sama kamu?"Ardi mengangkat alis. "Kalau nggak, buat apa sengaja nungguin aku di sini?"Badrul mendengus pelan, sorot matanya penuh penghinaan. "Aku cuma mau ingatkan, jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu.""Dulu orang yang berebut jadi pemasok ikan restoran milik negara jumlahnya bisa antre sampai ujung jalan.""Tapi kenapa pada akhirnya yang dipilih justru keluargaku? Itu karena ayahku kenal sama Bu Rahayu, wakil manajer bagian pengadaan!""Jangan mentang-mentang sekarang dekat sama Pak Dayat, kamu merasa bisa merebut usaha keluarga kami. Selama Bu Rahayu masih ada, kamu nggak akan bisa berbuat apa-apa.""Dan satu lagi, jangan coba-coba nangkap ikan bahaba. Kalau nggak, aku akan kasih tahu Om Madya soal hubunganmu dengan Kinara.""Kita lihat saja nanti, kakimu bakal dibuntungin sama Om Madya nggak!"Mendengar itu, Ardi malah tertawa. Awalnya dia mengira Badrul sengaja mengadang

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 48

    Badrul mengangguk, tetapi dalam hati dia merasa heran. Kenapa tiba-tiba Rahayu menanyakan soal Ardi?Rahayu menatap Badrul. "Coba ceritakan, sebenarnya siapa Ardi itu?"Badrul mengernyit, lalu menjawab, "Bocah itu cuma penjudi kelas kakap. Sejak ayahnya meninggal, dia nggak pernah bekerja serius. Malah setiap hari datang terus ke rumahku, maksa ngajak main kartu.""Dia gila judi, tapi kemampuan mainnya payah. Akhirnya dia kalah sampai hartanya habis. Terus dia terus-terusan minjam uang dari aku. Setelah nggak sanggup bayar, dia mulai mencuri barang milik warga desa.""Pas sudah ketahuan, dia malah nggak mau ngaku. Orangnya juga suka nipu. Setiap hari ada saja kebohongan baru yang dia bikin buat nipu duit orang. Sekarang warga desa langsung menjauh kalau lihat dia."Rahayu sedikit memicingkan mata. Ardi ternyata lebih buruk daripada yang dia sangka. Kemungkinan besar, Dayat sudah ditipu oleh Ardi sampai berani menggantungkan harapannya pada orang semacam itu.Awalnya dia sedikit khawati

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 47

    Rahayu sempat terdiam mendengar sindiran itu, lalu tersenyum sambil mengangguk. Kini, dia sudah paham. Dayat memang sengaja melawannya."Karena kamu juga sudah dapat orang, gimana kalau tugas ini dikasih ke kedua pihak saja? Siapa yang berhasil menangkap ikan yang lebih besar, dialah yang kita pakai."Dayat mengangguk. "Oke, sepakat.""Tapi, rasanya kurang menarik. Gimana kalau kita tambahkan sedikit taruhan?"Rahayu memutar bola matanya dan langsung memahami maksud Dayat. Ini berarti mereka berdua akan bertaruh hasil.Dia tahu kemampuan melaut Badrul dan Imsyaq. Memang kemampuan Badrul biasa saja, tetapi kemampuan Imsyaq termasuk salah satu yang terbaik di Desa Pasirya. Dengan dua orang itu, dia yakin ikan bahaba pasti akan jatuh ke tangannya.Menurutnya, Dayat hanya sedang panik dan asal bertaruh pada seorang mantan penjudi. Kalau orang seperti itu bisa menang, baru aneh."Boleh. Kalau mau main, kita main yang besar sekalian. Kalau kamu kalah, kamu harus menemui manajer utama dan min

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 46

    Saat mereka sedang berbincang, Siddiq mendorong pintu belakang dan keluar.Begitu melihat ikan kerapu di tangan Dayat, dia sempat tertegun sejenak, lalu cepat-cepat mendekat sambil menunduk. "Pak, Bu Rahayu cari Bapak."Dayat langsung mengernyit. "Cari aku untuk apa?"Terhadap Rahayu ini, dia memang sama sekali tidak punya kesan yang baik. Rahayu adalah wakil manajer mereka. Dia bertanggung jawab atas bagian pengadaan di restoran milik negara.Dari sisi wewenang, posisi mereka memang sering berbenturan. Dahulu setiap kali Dayat ingin membeli bahan baku, dia harus mengajukan laporan dan meminta persetujuan Rahayu.Belakangan karena sudah tidak tahan, dia pernah menemui manajer utama. Baru setelah itulah dia mendapatkan hak pembelian sendiri dalam jumlah tertentu. Namun, batasnya hanya 3 juta per bulan. Jika nilai pembeliannya melebihi batas itu, dia tetap harus melapor kepada Rahayu.Kalau hanya soal itu, sebenarnya Dayat tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang membuatnya curiga adalah

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 45

    "Tapi, ayahku dulu pernah bilang, kalau mau mengakui seseorang sebagai kakak, nggak bisa cuma asal panggil. Harus ada hadiah perkenalan.""Kamu juga tahu, aku cuma nelayan. Selain ikan, aku nggak punya barang lain yang pantas dijadikan hadiah. Jadi, semoga kamu mau menerima ikan ini."Dayat menatap ikan kerapu besar di hadapannya. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus berkata apa. Ikan kerapu ini adalah yang paling besar dan paling bagus di antara seluruh hasil tangkapan tadi. Menurut perkiraannya, berat ikan itu bisa mencapai sekitar 2,5 kilogram.Dengan harga yang baru saja mereka sepakati, yaitu 60 ribu per kilogram, nilainya mencapai sekitar 150 ribu.Bagi seorang teknisi pabrik, 150 ribu setara dengan penghasilan sebulan penuh. Apalagi Ardi hanyalah seorang nelayan desa.Seorang nelayan muda yang memiliki cara berpikir dan keluasan hati seperti ini benar-benar sulit dipahami.Melihat Dayat tidak segera merespons, Ardi juga tidak terburu-buru. Dia yakin Dayat pasti akan menerimanya. K

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status