ホーム / Romansa / Rengkuhan Hangat Adik Ipar / 𑣲⋆ Bau Busuk Di Koridor Sunyi

共有

𑣲⋆ Bau Busuk Di Koridor Sunyi

作者: Aphrodite
last update 公開日: 2026-06-22 07:51:05

"Kamu benar-benar sangat bisa diandalkan, Sayang."

Suara Tristan terdengar berbisik di samping telinga Alina. Mereka berdua sedang bergerak mengikuti irama musik di tengah lantai dansa pesta pernikahan Nyonya Grace dan Tuan Bramanta.

Alina tidak menyunggingkan senyum sedikit pun. "Dan aku suka suami yang tidak berselingkuh lalu berbohong."

Langkah kaki Tristan terhenti sejenak, namun dia dengan cepat menyelaraskan gerakan tubuhnya lagi agar tidak memancing perhatian tamu lain.

"Aku sudah bilang, aku melakukan itu karena butuh rahim yang berfungsi, Alina!" bisik Tristan dengan nada suara marah yang tertahan.

Alina menatap lurus ke mata Tristan. "Itu bukan alasan untuk berzina. Kita sudah sepakat mencari opsi medis lain tanpa ada orang ketiga."

"Ini demi kelangsungan keluarga Donovan!" tegas Tristan sambil mencengkeram pinggang Alina dengan lebih erat. "Aku tidak memadu kamu. Kamu tetap satu-satunya istriku secara hukum."

"Kamu memang tidak menikah lagi, tapi kamu menduakan aku!" balas Alina tegas. Matanya menatap Tristan tanpa rasa gentar. "Jangan memutarbalikkan fakta seolah-olah kamu korban di sini."

Tristan mendorong tubuh Alina sedikit menjauh dalam posisi dansa, ia menatap istrinya dengan rahang mengeras.

"Kutegaskan sekali lagi, jangan bahas masalah ini di sini!" ancam Tristan seraya menundukkan kepala mendekati telinga Alina. "Sekali lagi kamu memprotes masalah Rissa, aku akan membawa wanita itu ke rumah dan meresmikan pernikahannya besok."

Alina menghentikan langkah dansanya. Dia melepaskan genggaman tangan Tristan dari pundak dan pinggangnya.

"Lakukan saja," sahut Alina dingin. "Bawa dia ke rumah, dan surat cerai kita akan langsung mendarat di meja pengadilan hari itu juga."

Tristan membelalak. "Jangan bertindak bodoh, Alina! Kau pikir kamu bisa bertahan hidup tanpa uangku?!"

Bzzzt... Bzzzt...

Ponsel di dalam saku jas Tristan bergetar nyaring. Tristan mengambil ponselnya dan melihat nama 'Rissa' tertera jelas di layar kaca.

Alina melirik layar ponsel itu dengan senyum tipis yang meremehkan. "Wanita selingkuhanmu menelepon lagi. Angkat saja, tidak usah sembunyi."

"Diam di sini, jangan kemana-mana!" perintah Tristan dengan wajah tegang.

Tanpa memedulikan Alina lagi, Tristan berbalik dan berjalan cepat menuju koridor belakang yang sepi di dekat pilar besar. Begitu Tristan mengangkat telepon Rissa, suara manja Rissa langsung menyambutnya.

"Kenapa lama sekali mengangkat teleponku? Kamu lupa ya sama aku?!" protes Rissa dari seberang telepon.

Tristan tertawa pelan sambil menyandarkan punggungnya ke dinding koridor. "Aku sedang di pesta, Sayang. Dua jam lagi aku selesai dan langsung ke tempatmu."

"Masa cuma datang begitu saja? Mana janji apartemen mewahnya?" tuntut Rissa.

"Pasti kubelikan," balas Tristan ramah. "Jangankan satu apartemen, mau dua atau lima sekaligus juga akan kupenuhi. Asal kamu pakai lingerie yang kubeli dari Prancis malam ini."

"Beneran ya? Kalau kamu bohong, aku tidak mau melayani kamu malam ini!" ancam Rissa.

"Tenang saja. Nanti selesai pesta kita langsung pergi lihat sertifikat apartemennya," kata Tristan terkekeh.

Tristan melanjutkan obrolan mesumnya dengan Rissa selama hampir tiga puluh menit di sudut koridor itu, membicarakan rencana pertemuan mereka malam ini tanpa menyadari ada seseorang yang berdiri tak jauh darinya.

Begitu mematikan sambungan telepon, Tristan mengembuskan napas lega. Dia memasukkan ponsel ke dalam saku jas dan bersiap kembali ke lantai dansa.

Fuuuh.

Gumpalan asap rokok tebal mendadak ditiupkan tepat ke arah wajah Tristan.

Tristan terbatuk keras. Dia melangkah mundur sambil mengibaskan tangan di depan hidungnya. "Apa-apaan ini?!"

Adrian berdiri di balik pilar besar sambil memegang sebatang rokok yang masih menyala di antara jarinya. Matanya menatap Tristan dengan tatapan dingin dan meremehkan.

"Bersihkan dulu mulutmu dari bau wanita simpanan sebelum kamu berani menyentuh Kakak Ipar lagi," ujar Adrian pendek.

Tristan merapikan kerah jasnya dengan canggung dan marah. "Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku, Adrian! Kamu cuma anak tiri di keluarga ini!"

Adrian tidak membalas gertakan itu. Dia mematikan puntung rokoknya di asbak berdiri, lalu melangkah maju melewati Tristan.

"Kita lihat seberapa lama kamu bisa mempertahankan posisi suami itu," bisik Adrian tepat di samping bahu Tristan.

Adrian berjalan santai meninggalkan koridor, menuju ke arah lantai dansa tempat Alina sedang berdiri anggun memegang segelas minuman.

Dari kejauhan, Alina melihat Adrian melangkah mendekatinya. Alina menaikkan gelasnya sedikit ke udara, memberikan kode tak kasat mata bahwa permainan mereka baru saja dimulai.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆155 (TAMAT)

    "Apakah semua undangan resmi untuk perayaan ulang tahun yayasan sudah disebar, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian memeriksa beberapa berkas penting di atas meja kerja ruang utama secara cermat. Alina melangkah mendekati suaminya sambil membawa secangkir kopi hitam hangat."Semua undangan sudah dikirimkan kepada para donatur sejak kemarin sore, Mas," jawab Alina jujur."Bagus sekali, kerja kerasmu dalam mengurus yayasan ini sangat luar biasa," puji Adrian bangga.Alina menyunggingkan senyuman lebar mendengar pujian tulus dari sang suami tercinta. Wanita itu meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja kayu jati berukuran besar.Pak Bramanta melangkah masuk ke dalam ruang kerja dengan menenteng tongkat kayu andalannya. Pria tua itu menatap anak serta menantunya dengan binar mata penuh kebahagiaan."Apakah persiapan acara puncak perayaan yayasan sudah hampir selesai?" tanya Pak Bramanta ramah."Semua persiapan sudah rampung seratus persen, Pa," jawab Adrian antusias.Pak Bramanta mengang

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆154

    "Apakah Arka sudah tidur pulas di kamar tidurnya, Bi Sumi?" tanya Alina lembut.Alina meletakkan tas tangan kulit di atas meja konsol dekat pintu masuk. Bi Sumi merapikan bantal sofa ruang keluarga dengan gerakan cekatan."Tuan Muda Arka sudah tidur nyenyak sejak setengah jam yang lalu, Nyonya," jawab Bi Sumi ramah."Syukurlah kalau begitu, biar aku dan Mas Adrian yang mengecek ke kamarnya," ucap Alina lega.Adrian merangkul pinggang sang istri lalu melangkah pelan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Pak Bramanta duduk di ruang baca lantai atas sambil membolak-balik halaman buku tebal."Kalian baru saja pulang dari yayasan sosial, Adrian?" tanya Pak Bramanta serius."Benar, Pa, kegiatan sosial hari ini berjalan lancar tanpa kendala," jawab Adrian jujur.Adrian mendekati sang ayah lalu menepuk pundak pria paruh baya itu penuh kehangatan. Pak Bramanta tersenyum lebar menatap anak menantunya dengan binar mata bangga."Bagus sekali kalau semuanya berjalan lancar sesuai rencana," puji P

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆153

    "Apakah kamu sudah bersiap untuk menemani kunjungan ke yayasan pagi ini, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian mengenakan jam tangan mewah di pergelangan tangannya seraya berdiri di dekat jendela kamar. Alina merapikan rambut panjangnya di depan meja rias sambil menyunggingkan senyuman gembira."Aku sudah siap sejak tadi, Mas, mari kita berangkat sekarang," jawab Alina antusias."Bagus sekali, ayo kita sarapan sebentar sebelum berangkat ke kantor," ajak Adrian ramah.Adrian dan Alina melangkah berdampingan keluar dari kamar utama menuju ruang makan lantai bawah. Pak Bramanta sudah duduk di kursi utama meja makan sambil menikmati secangkir kopi hitam.Arka melompat kegirangan di kursi bayinya saat melihat kedatangan kedua orang tuanya. Bocah balita itu merentangkan tangan kecilnya lebar-lebar dengan raut wajah sangat bersemangat."Papa dan Mama mau pergi ke mana pagi ini?" tanya Arka penasaran."Papa dan Mama mau berkunjung ke yayasan sosial sebentar, Sayang," jawab Alina lembut.Bi Sum

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆152

    "Apakah semua dokumen kontrak kerja sama sudah kamu masukkan ke dalam tas kerja, Mas?" tanya Alina cemas.Alina merapikan tumpukan map biru di atas meja kerja kamar utama dengan gerakan cepat. Adrian menatap wajah sang istri dengan binar mata penuh kekaguman dan senyuman hangat."Semua berkas penting itu sudah tersimpan rapi di dalam tas kerja," jawab Adrian jujur."Syukurlah kalau begitu, mari kita turun untuk sarapan bersama Papa," ajak Alina antusias.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah keluar kamar menuju anak tangga utama. Pak Bramanta duduk tegap di kursi utama meja makan seraya membaca lembaran surat kabar pagi.Arka melambaikan tangan kecilnya dari kursi khusus anak saat melihat orang tuanya datang. Bocah balita itu memegang gelas susu hangat dengan raut wajah sangat ceria."Selamat malam Papa dan Mama!" teriak Arka gembira."Pagi sayang, ini sudah waktunya sarapan pagi," balas Adrian tertawa.Adrian dan Alina mendudukkan diri di kursi makan berdampingan secara ha

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆151

    "Apakah semua dokumen kontrak kerja sama untuk proyek baru sudah kamu tinjau dengan teliti, Mas?" tanya Alina serius.Alina merapikan lembar demi lembar berkas di atas meja kerja kamar utama dengan gerakan cepat. Adrian menatap wajah sang istri secara lekat seraya menyunggingkan senyuman bangga."Semua berkas kontrak sudah aku periksa secara teliti tadi malam," jawab Adrian jujur."Bagus sekali kalau begitu, mari kita turun untuk sarapan bersama Papa," ajak Alina antusias.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah keluar kamar menuju anak tangga utama. Pak Bramanta duduk tegap di kursi utama meja makan seraya membaca lembaran surat kabar pagi.Arka melambaikan tangan kecilnya dari kursi khusus anak saat melihat orang tuanya datang. Bocah balita itu memegang gelas susu hangat dengan raut wajah sangat gembira."Selamat pagi Kakek, Papa, dan Mama!" teriak Arka riang."Pagi juga jagoan kecil Kakek," balas Pak Bramanta ramah.Adrian dan Alina mendudukkan diri di kursi makan berdampi

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆150

    "Apakah kamu sudah menyiapkan seluruh berkas laporan yayasan untuk rapat penting pagi ini, Sayang?" tanya Adrian lembut. Adrian mendudukkan badannya di tepi kasur empuk kamar utama seraya merapikan kemeja kerjanya. Alina membalikkan badannya dari meja rias, lalu menyunggingkan senyuman manis dengan raut wajah sangat tenang. "Semua berkas laporan sudah aku susun rapi di dalam tas kerjamu, Mas," pangkas Alina jujur. "Bagus sekali, kamu memang selalu cekatan dalam membantu pekerjaanku," puji Adrian bangga. Alina melangkah menghampiri suaminya, lalu mendudukkan diri di sisi ranjang seraya merapikan dasi kerja Adrian. Binar kebahagiaan terpancar sangat jelas dari kedua mata cantik wanita tersebut tanpa ada keraguan. Pak Bramanta berjalan melintasi koridor lantai dua seraya menancapkan tongkat kayunya ke lantai marmer. Pria tua itu menghentikan langkah di depan pintu kamar utama yang terbuka sangat lebar. "Apakah kalian sudah siap turun untuk menikmati sarapan pagi bersama?" tany

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status