เข้าสู่ระบบ"Selesai. Gugatan cerai dan tuntutan penyitaan aset bersama sudah resmi terdaftar di pengadilan."
Alina meletakkan map tebal bertuliskan berkas hukum di atas meja kaca. Dia memundurkan badannya, lalu menyandarkan punggung ke sofa kulit ruang kerja pribadi Adrian. Adrian melangkah mendekat sambil membawa dua gelas air putih. Dia meletakkan gelas-gelas itu di atas meja, lalu duduk di kursi tunggal tepat di samping sofa Alina. "Selamat, Kakak Ipar," kata Adrian. sambil melonggarkan ikatan dasinya. "Tristan tidak akan punya celah untuk menyelamatkan sisa hartanya." Alina menyesap air putih di gelasnya sebentar. "Ini semua berkat dokumen yang kamu kirimkan ke tim hukum Tuan Bramanta. Terima kasih, Adrian." Adrian tidak langsung membalas. Matanya menatap wajah Alina dengan intensitas yang berbeda dari biasanya. "Aku tidak bekerja secara cuma-cuma, Alina," ujar Adrian dengan suara rendah. Alina menghentikan gerakannya memutar gelas. Dia menatap balik Adrian. "Maksudmu?" "Aku sudah membantumu meratakan bisnis Tristan, membekukan rekeningnya, dan menyiapkan pengacara terbaik untuk gugatan ceraimu," pamer Adrian santai. Tangan Adrian bertumpu pada paha, badannya condong ke depan mendekati Alina. "Sekarang saatnya kamu bayar imbalannya." Alina menaikkan sebelah alisnya dan tidak menunjukkan rasa panik. "Bukankah kita sudah sepakat? Kamu mendapatkan hak atas proyek utama perusahaan Tristan, dan saya mendapatkan kebebasan saya." Adrian tertawa pendek, suara tawanya terdengar berat di ruangan yang sepi itu. "Proyek itu cuma keuntungan untuk bisnis keluarga Bramanta," kata Adrian datar. "Tapi untuk aku pribadi? Aku butuh bayaran lain dari kamu." "Bayaran apa yang kamu mau?" tanya Alina langsung. Adrian mengikis jarak di antara mereka. Pria itu menggeser duduknya ke paha sofa yang sama dengan Alina, membuat posisi mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. "Kamu tahu betul apa yang aku perhatikan sejak pertama kali kita bertemu di pesta pernikahan Mama," bisik Adrian. tangannya terangkat merapikan anak rambut di dekat telinga Alina. Alina tidak mundur, tapi matanya memicing tajam. "Saya masih istri sah Tristan secara hukum, Adrian." "Istri sah yang suaminya baru saja ditahan di polda dan tidur dengan wanita lain?" cemooh Adrian halus. "Jangan bertingkah lugu di depanku, Alina." "Saya bukan wanita yang bisa kamu beli dengan bantuan bisnis!" tegur Alina tegas, tangannya menahan dada Adrian agar pria itu tidak semakin mendekat. Adrian memegang pergelangan tangan Alina yang menahan dadanya. Bukannya melepaskan, Adrian justru menggenggam jemari Alina dan membawanya turun perlahan. "Aku tidak membelimu," sahut Adrian. Tangan Adrian yang lain bergerak mencengkeram pinggang Alina dengan erat, mengunci pergerakan wanita itu di sandaran sofa. "Aku cuma mengambil apa yang seharusnya jadi milikku setelah semua bantuan ini." Alina merasakan dorongan kuat dari paha dan dada Adrian yang menghimpitnya. "Adrian, lepaskan." "Permainan ini belum selesai, Kakak Ipar," bisik Adrian tepat di depan bibir Alina. "Kamu butuh aku sampai putusan hakim keluar. Dan selama proses itu berlangsung, kamu harus menuruti permainanku." Alina menatap lurus ke dalam manik mata Adrian. Dia sadar betul posisi Adrian saat ini memegang kendali penuh atas kasus hukumnya, namun dominasi fisik pria ini mulai mengikis batas profesional mereka. "Kamu memanfaatkan keadaan saya," kata Alina dengan nada menuduh. "Aku cuma menggunakan peluang," balas Adrian santai. tangannya di pinggang Alina menekan lebih dalam, menarik tubuh Alina hingga tidak ada jarak tersisa di antara paha mereka. Alina menggigit bagian dalam pipinya, berusaha mengontrol keterkejutan atas keberanian Adrian yang mendadak ini. "Jadi, bagaimana, Alina?" tanya Adrian dengan senyum miring yang tertahan di bibirnya. "Kamu mau lanjut bekerja sama denganku, atau mau menyelesaikan urusan Tristan sendirian?""Apakah semua undangan resmi untuk perayaan ulang tahun yayasan sudah disebar, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian memeriksa beberapa berkas penting di atas meja kerja ruang utama secara cermat. Alina melangkah mendekati suaminya sambil membawa secangkir kopi hitam hangat."Semua undangan sudah dikirimkan kepada para donatur sejak kemarin sore, Mas," jawab Alina jujur."Bagus sekali, kerja kerasmu dalam mengurus yayasan ini sangat luar biasa," puji Adrian bangga.Alina menyunggingkan senyuman lebar mendengar pujian tulus dari sang suami tercinta. Wanita itu meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja kayu jati berukuran besar.Pak Bramanta melangkah masuk ke dalam ruang kerja dengan menenteng tongkat kayu andalannya. Pria tua itu menatap anak serta menantunya dengan binar mata penuh kebahagiaan."Apakah persiapan acara puncak perayaan yayasan sudah hampir selesai?" tanya Pak Bramanta ramah."Semua persiapan sudah rampung seratus persen, Pa," jawab Adrian antusias.Pak Bramanta mengang
"Apakah Arka sudah tidur pulas di kamar tidurnya, Bi Sumi?" tanya Alina lembut.Alina meletakkan tas tangan kulit di atas meja konsol dekat pintu masuk. Bi Sumi merapikan bantal sofa ruang keluarga dengan gerakan cekatan."Tuan Muda Arka sudah tidur nyenyak sejak setengah jam yang lalu, Nyonya," jawab Bi Sumi ramah."Syukurlah kalau begitu, biar aku dan Mas Adrian yang mengecek ke kamarnya," ucap Alina lega.Adrian merangkul pinggang sang istri lalu melangkah pelan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Pak Bramanta duduk di ruang baca lantai atas sambil membolak-balik halaman buku tebal."Kalian baru saja pulang dari yayasan sosial, Adrian?" tanya Pak Bramanta serius."Benar, Pa, kegiatan sosial hari ini berjalan lancar tanpa kendala," jawab Adrian jujur.Adrian mendekati sang ayah lalu menepuk pundak pria paruh baya itu penuh kehangatan. Pak Bramanta tersenyum lebar menatap anak menantunya dengan binar mata bangga."Bagus sekali kalau semuanya berjalan lancar sesuai rencana," puji P
"Apakah kamu sudah bersiap untuk menemani kunjungan ke yayasan pagi ini, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian mengenakan jam tangan mewah di pergelangan tangannya seraya berdiri di dekat jendela kamar. Alina merapikan rambut panjangnya di depan meja rias sambil menyunggingkan senyuman gembira."Aku sudah siap sejak tadi, Mas, mari kita berangkat sekarang," jawab Alina antusias."Bagus sekali, ayo kita sarapan sebentar sebelum berangkat ke kantor," ajak Adrian ramah.Adrian dan Alina melangkah berdampingan keluar dari kamar utama menuju ruang makan lantai bawah. Pak Bramanta sudah duduk di kursi utama meja makan sambil menikmati secangkir kopi hitam.Arka melompat kegirangan di kursi bayinya saat melihat kedatangan kedua orang tuanya. Bocah balita itu merentangkan tangan kecilnya lebar-lebar dengan raut wajah sangat bersemangat."Papa dan Mama mau pergi ke mana pagi ini?" tanya Arka penasaran."Papa dan Mama mau berkunjung ke yayasan sosial sebentar, Sayang," jawab Alina lembut.Bi Sum
"Apakah semua dokumen kontrak kerja sama sudah kamu masukkan ke dalam tas kerja, Mas?" tanya Alina cemas.Alina merapikan tumpukan map biru di atas meja kerja kamar utama dengan gerakan cepat. Adrian menatap wajah sang istri dengan binar mata penuh kekaguman dan senyuman hangat."Semua berkas penting itu sudah tersimpan rapi di dalam tas kerja," jawab Adrian jujur."Syukurlah kalau begitu, mari kita turun untuk sarapan bersama Papa," ajak Alina antusias.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah keluar kamar menuju anak tangga utama. Pak Bramanta duduk tegap di kursi utama meja makan seraya membaca lembaran surat kabar pagi.Arka melambaikan tangan kecilnya dari kursi khusus anak saat melihat orang tuanya datang. Bocah balita itu memegang gelas susu hangat dengan raut wajah sangat ceria."Selamat malam Papa dan Mama!" teriak Arka gembira."Pagi sayang, ini sudah waktunya sarapan pagi," balas Adrian tertawa.Adrian dan Alina mendudukkan diri di kursi makan berdampingan secara ha
"Apakah semua dokumen kontrak kerja sama untuk proyek baru sudah kamu tinjau dengan teliti, Mas?" tanya Alina serius.Alina merapikan lembar demi lembar berkas di atas meja kerja kamar utama dengan gerakan cepat. Adrian menatap wajah sang istri secara lekat seraya menyunggingkan senyuman bangga."Semua berkas kontrak sudah aku periksa secara teliti tadi malam," jawab Adrian jujur."Bagus sekali kalau begitu, mari kita turun untuk sarapan bersama Papa," ajak Alina antusias.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah keluar kamar menuju anak tangga utama. Pak Bramanta duduk tegap di kursi utama meja makan seraya membaca lembaran surat kabar pagi.Arka melambaikan tangan kecilnya dari kursi khusus anak saat melihat orang tuanya datang. Bocah balita itu memegang gelas susu hangat dengan raut wajah sangat gembira."Selamat pagi Kakek, Papa, dan Mama!" teriak Arka riang."Pagi juga jagoan kecil Kakek," balas Pak Bramanta ramah.Adrian dan Alina mendudukkan diri di kursi makan berdampi
"Apakah kamu sudah menyiapkan seluruh berkas laporan yayasan untuk rapat penting pagi ini, Sayang?" tanya Adrian lembut. Adrian mendudukkan badannya di tepi kasur empuk kamar utama seraya merapikan kemeja kerjanya. Alina membalikkan badannya dari meja rias, lalu menyunggingkan senyuman manis dengan raut wajah sangat tenang. "Semua berkas laporan sudah aku susun rapi di dalam tas kerjamu, Mas," pangkas Alina jujur. "Bagus sekali, kamu memang selalu cekatan dalam membantu pekerjaanku," puji Adrian bangga. Alina melangkah menghampiri suaminya, lalu mendudukkan diri di sisi ranjang seraya merapikan dasi kerja Adrian. Binar kebahagiaan terpancar sangat jelas dari kedua mata cantik wanita tersebut tanpa ada keraguan. Pak Bramanta berjalan melintasi koridor lantai dua seraya menancapkan tongkat kayunya ke lantai marmer. Pria tua itu menghentikan langkah di depan pintu kamar utama yang terbuka sangat lebar. "Apakah kalian sudah siap turun untuk menikmati sarapan pagi bersama?" tany







