Mag-log in“Terus? Kamu ambil amplopnya?”
Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?
“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.
“Ssst–”
Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan wajah gugup. Seorang ibu muda yang sedang menunggu petugas binatu menghantarkan paket cuciannya melirik ke arah Miri dan Jihan.
Miri tak peduli. Ia masih berang setiap kali mengingat wajah Bu Amara yang memandangnya dengan tatapan mencemooh. Belum lagi amplop coklat yang ia lempar kembali padanya.
“Gue! Benci! Banget! Si Serigala Betina itu! Kenapa dia harus jadi calon mertua gue, sih?!” gumam Miri dengan gigi rapat.
Jihan mengangkat bahu. Di meja konter binatu, petugas lain akhirnya kembali. Ia membawa setumpuk pakaian bersih dalam bungkus plastik, pesanan Miri beberapa hari lalu.
Setelah mengucapkan terima kasih dan membayar sejumlah uang, kedua sahabat itu pergi meninggalkan toko. Mereka berjalan beriringan di Minggu pagi yang cerah. Sepanjang langkah mereka kembali ke apartemen Miri, pembicaraan terus berlanjut.
“Tapi lima puluh juta tuh bisa jadi modal awal buat kamu buka toko kue, Mir. Itu juga salah satu impianmu, kan?” sambung Jihan.
“Aku juga berpikiran sama, Jihan. Pikiran itu terlintas waktu aku memegang amplop tebal itu,” balas Miri, membuang napas panjang.
Miri mengangkat tangan ke Jihan, memperlihatkan ibu jari dan telunjuknya yang nyaris menempel. Jihan yang sedang mengunyah sebatang Pocky cokelat, hanya dapat mengangkat alis.
“Tebal amplop itu lima senti, Jihan. Lima senti! Steak di tempat kerja kita aja nggak setebal itu!” seru Miri.
“Terus? Baskara udah tahu belum?”
Pertanyaan itu membuat Miri mengatupkan bibir. Ia menggeleng. Ini bukan pertama kalinya Bu Amara memprovokasi Miri dengan iming-iming sejumlah uang. Baskara pun tahu itu.
Namun, Miri tak tega membebani pikiran Baskara dengan kelakuan ibunya. Berapa kali pun Miri mengomel, Baskara akan bertengkar dengan ibunya. Miri benci itu. Miri benci menjadi penyebab retaknya hubungan ibu dan anak sebuah keluarga.
“Si serigala itu memang nggak suka lihat aku dan Baskara bahagia,” keluh Miri, memeluk erat bungkusan baju binatu.
“Terus, sampai kapan kamu dan ibunya Baskara berantem kayak gini, Mir? Kalian kan kamu menikah,” Jihan mengingatkan.
Jenjang pernikahan telah menjadi target Miri dan Baskara selanjutnya. Sepuluh tahun mereka bersama menjalin kasih. Di saat yang bersamaan, keduanya membangun karir masing-masing sambil memegang teguh komitmen.
Ketika Baskara melemparkan lamaran itu, Miri tak dapat menolak.
“Kami nggak buru-buru, sih. Yah, paling juga tahun depan baru serius mikirin semuanya. Sambil menyiapkan rencana pelan-pelan, aku berharap hati ibunya Baskara bakal luluh,” gumam Miri.
Dalam hati, Miri tak yakin wanita itu akan luluh. Ia bahkan tak yakin Bu Amara punya hati!
Usaha Miri menaklukan sang calon ibu mertua bukan dimulai sejak kemarin sore. Berbulan-bulan lalu ia dan Baskara memenuhi undangan makan malam di kediaman Keluarga Wibowo.
“Kesan pertama itu penting, Sayang. Kalau ibuku suka penampilanmu, separuh jalan kita sudah pasti mulus,” ucap Baskara mengingatkan.
“Kita kan mau makan malam, bukan mau meeting. Kalau gaun, aku juga punya kok yang pantas,” protes Miri sambil memandang pantulan dirinya di cermin.
Ia berbalik, meminta pendapat Baskara tentang gaun yang sedang ia coba di butik. Baskara mengajaknya berbelanja, memastikan Miri mengenakan gaun merk ternama untuk menarik hati ibunya. Cara termudah adalah dengan menggunakan barang mewah.
Sebuah gaun berwarna pink pastel memeluk tubuh Miri, memamerkan lekuk tubuhnya yang ramping. Baskara bersiul, membuat pipi Miri memanas.
“Aku tahu, tapi ini ibuku yang kita bicarakan, Mir. Anggap saja ini kesempatan pertama dan terakhir untuk membuatnya terkesan. Oke?” bujuk Baskara.
Sang kekasih meraih tangan Miri, lalu memaksanya untuk berputar. Kata-kata pujian tak berhenti mengalir dari bibirnya, meyakinkan Miri untuk menjatuhkan pilihan. Gaun pink itu adalah pilihan terbaik.
Dengan satu kali gesekan kartu kredit sang kekasih, Miri membawa pulang sebuah gaun buatan desainer ternama. Ia tak pernah bermimpi memiliki baju semahal itu sebelumnya. Bagi Baskara, gaun itu hanyalah aksesoris dekoratif untuk memikat hati.
“Terima kasih, ya, Sayang. Kamu selalu manjain aku,” ungkap Miri.
“Sama-sama. Ini cuma baju, Miri. Yang penting kita harus berusaha untuk mendapatkan restu ibuku. Oke?” Baskara mencium kening Miri.
Baskara benar. Apa yang ia beli untuk Miri tak akan ada artinya jika acara makan malam itu tak berujung restu. Sayangnya, rencana tak selalu berjalan mulus.
Akhir pekan itu, Baskara membawa Miri ke rumahnya. Mulut Miri tak berhenti menganga sejak mereka melewati pagar rumah berhiaskan ornamen tempaan yang rumit. Tamannya luas dan terawat, hasil garapan seorang tukang kebun handal.
“Wow. Aku tahu kita sudah bersama bertahun-tahun, tapi aku nggak bisa berhenti mengagumi rumahmu, Bas,” gumam Miri dari balik kaca mobil.
“Aku suka reaksimu, Sayang,” goda Baskara, menyetir mobilnya menuju pintu utama.
Sebuah area drop-off yang diapit oleh tiang-tiang tebal, bagaikan kuil zaman Romawi. Dindingnya bercat putih, dengan tanaman sulur menghiasi dasarnya.
Miri menarik ujung gaunnya menutupi lutut, sembari keluar dari mobil. Seorang pelayan berseragam menghampiri Baskara, lanjut menghantarkan mobilnya ke area parkir di sisi barat gedung. Sambil menggandeng tangan Miri, Baskara berjalan masuk ke dalam rumah.
“Baskara. Miri,” sapa seorang pria paruh baya yang menuruni tangga dengan anggun.
“Hai, Pa,” balas Baskara.
Sanjaya Wibowo, ayah Baskara, adalah perwujudan dan duplikasi dari sosok putranya. Miri membayangkan dalam 30 tahun, Baskara akan tampil seperti ayahnya. Bersahaja, dengan tubuh tegap dan rambut putih yang disisir rapi.
Dengan senyum lembut, Pak Sanjaya menyambut Miri. tangannya menggenggam Miri erat, menjabatnya hangat.
“Selamat datang, Miri. Udah lama, ya, kita nggak ketemu,” ucap Pak Sanjaya.
“Iya, Om. Terima kasih, ya, undangannya.”
Pak Sanjaya melambaikan tangan. Belum sempat mereka saling berbincang, terdengar suara ketukan sepatu yang menyusul di balik punggung Pak Sanjaya. Bu Amara muncul, mengenakan gaun merah terang yang mencolok.
Rambutnya yang biasanya disanggul rapat kini berganti model sasak tinggi. Senyum pongah yang biasanya menjadi aksesori yang tak boleh terlewat. Tatapannya dingin, membuat Miri gemetar.
“Selamat malam, Tante,” sapa Miri.
“Halo, Miri.”
Miri masih ingat suara datar itu. Acara makan malam yang seharusnya menjadi momen meminta restu justru awal dari perang dingin.
Greg: Laila has collapsed.Greg: I don’t think she’s gonna make it this time.Sesampainya di London, mendungnya langit enggan membiarkan Arman istirahat sejenak. Perjalanan yang ia tempuh selama dua jam dari Italia, menghantarkannya kembali pada kenyataan bahwa hidupnya kini berpusat di London.Pesan dari Greg baru Arman baca ketika ia sampai di bandara. Tak hanya suhu rendah kota London yang menusuk tulang, tapi seluruh raga Arman ikut luruh. Kondisi Laila memburuk.“Hello. Greg. Where are you right now?” tanya Arman di telepon, tak melewatkan sedetikpun untuk mengecek keadaan teman-temannya.“I’m in the hospital. She’s in the ICU. The doctor hasn’t said anything,” ungkap Greg dengan suara gemetar.Setiap tarikan napasnya menahan tangis, membuat hati Arman ikut miris.“I’m on my way to the hospital. See you there,” ucap Arman sebelum menutup telepon.Sambil berlari kecil sepanjang koridor, Arman mencari taksi. Sebuah kendaraan menepi.“St. Andrew’s Hospital, please. Choose the fastes
“Miri, aku mandi duluan, ya,” ucap Rosalie, menenteng handuk.“Oke,” balas Miri singkat, melempar senyum.Teman sekamarnya menghilang ke balik pintu kamar mandi, sementara Miri duduk di lantai. Ia memeluk kedua kakinya erat, sambil menatap layar ponsel. Pelupuk matanya berat setelah makan sup hangat saat makan malam.Namun, Miri tak ingin tidur cepat.Pekan itu berakhir tanpa ada kabar dari Arman, lagi. Entah sudah berapa kali Miri meninggalkan pesan, mencoba meneleponnya. Tetap saja tak ada jawaban.Jarinya bergerak cepat menekan layar, mengetikkan kata-kata serupa seperti yang Miri tulis sebelumnya.Miri: Arman, are you okay?Miri: Udah seminggu lebih aku nggak dengar kabar kamu.Miri: Apa kamu sakit?Mata Miri naik turun, membaca ulang kalimat yang ia ketik sendiri. Tak ada tuntutan berat, hanya kekhawatiran. Setidaknya, ada simbol dua centang di ujung pesan-pesan yang ia kirimkan.Dalam sekejap mata, tanda centang itu berubah menjadi dua centang biru. Namun, tetap saja tak ada bal
“Miri! Karamelmu gosong!” pekik Rosalie, menyambar knop pada kompor di meja kerja Miri.Miri yang tersadar dari lamunan, mengangkat panci sausnya, meletakkannya di bak cuci. Saus di panci masih mendesis, dengan cepat mengental dan berubah warna menjadi coklat gelap.Teman-teman sekelas Miri menariknya mundur, serta memastikan tidak ada perkakas dan bahan yang terdampak oleh percikan saus karamel. Rosalie, yang sebulan lalu menjadi murid terburuk di kelas, justru menjadi yang pertama menyelamatkan Miri dari bahaya.“Are you okay? That’s dangerous!” serunya, sambil mengecek wajah dan tangan Miri.“I’m okay,” balasnya lirih.Miri mengumpat. Tangannya gemetar. Perlahan, ia mengatur napas, mencoba menenangkan diri.Rosalie melihat semua itu. Ia menarik Miri menjauh, mengajaknya ke pantry.“It’s alright, everyone. Go back to your station. You have 15 minutes left finishing your dessert,” ucap Chef Villa, sang mentor, mengingatkan.Di balik dinding, Rosalie dan Miri hanya berdua. Sambil menc
“Senang banget, yang akhirnya dapat suvenir,” goda Miri, saat Arman dengan bangganya menenteng cenderamata sekantong penuh.“Iya, dong. Mana dapat murah,” balasnya.“Sepertinya bapak pemilik tokonya suka sama kamu. Kalau kamu bermanis-manis ria dengannya sedikit lagi, bisa-bisa diangkat mantu,” canda Miri.Arman tertawa.“Bisa jadi. Mendapat warisan toko suvenir sepertinya bukan hal yang buruk. Tokoku akan ramai setiap hari, sepanjang tahun,” ujar Arman.Gurauan di antara mereka terasa lepas, meski tadi sempat bersitegang di meja restoran.Makan siang hari itu menjadi acara terakhir bagi Miri dan Arman. Setelah membayar dan meninggalkan restoran, keduanya sepakat untuk menyusuri Jalan Corso. Para turis keluar dari persembunyian mereka, ikut menghidupkan kota
Setelah sarapan, Miri dan Arman menyempatkan berkeliling untuk membeli gaun baru untuk Miri. Setelah mandi dan berganti baju, mereka sekalian check-out dari hotel. Sisa waktu menunggu jam makan siang mereka gunakan untuk mengunjungi museum seni San Luca, serta menemani Arman menggambar cepat air mancur Palazzo Antamoro.“Caramu menggambar cepat sekali,” gumam Miri, mengamati aksi Arman dari sisinya.Ia mengamati bagaimana mata pria itu fokus pada objek gambar lalu menginterpretasikannya pada setiap goresan di kertas. Satu per satu, guratan itu mulai berpadu dalam proporsi yang seimbang.Dalam waktu lima menit, bentuk air mancur itu sudah terbentuk jelas di buku sketsa Arman.“Kenapa rasanya aku seperti sedang melihat orang memasak, ya?” pikir Miri.“Oh, iya? Kenapa begitu?” tanya Arman geli. Tangannya tak berhenti bergerak, mulai menyentuh detail.“Yah, kamu memadukan banyak unsur menjadi satu gambar di kertas ini. Ada garis, bidang, titik … mereka seperti bumbunya. Kamu ukur proporsi
Pagi itu, Miri bangun di sisi tempat tidur yang berbeda. Matanya mengedip pelan, tubuhnya menggeliat di balik selimut. Kedua tangannya meregang, merasakan setiap ototnya ikut bangun.Cahaya dari jendela menyusup masuk di antara celah gorden, mengabarkan nuansa kota Roma yang masih tertidur.“Pagi, Miri,” sapa suara serak dari sisi tempat tidur.Miri menoleh, mendapati Arman sedang duduk di tepi ranjang, tersenyum lembut. Ia mengeluarkan jeritan melengking, buru-buru menyembunyikan diri di balik selimut.“Kenapa? Kok kaget?” tanya Arman, tertawa-tawa.“Ng, nggak papa. Mukaku pasti jelek banget,” gumam Miri, asal saja menyebutkan alasan.Bibir Arman menyunggingkan senyum, lalu mencondongkan tubuh ke arah Miri. Ia mengecup keningnya.“Mau sarapan? Aku lapar, tapi nunggu kamu bangun dulu,” ucapnya.“Ayo. Jam berapa sekarang?” tanya Miri, mengucek mata.Ia mendorong dirinya bangkit, duduk di tempat tidur. Selimutnya melorot ke pangkuan, memperlihatkan tubuh Miri yang masih terbalut pakaian
“Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten
“Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s







