Home / Romansa / Resep Cinta Miri / Bab 4. Makan Siang Keluarga

Share

Bab 4. Makan Siang Keluarga

Author: Mozze Satrio
last update publish date: 2026-06-12 09:10:13

“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.

Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langkah memasak dengan presisi.

Bahkan Miri tak boleh mengambil selembar tisu untuk mengelap matanya yang berair. Minggu depan, Miri mengemban tanggung jawab sebagai bagian tim katering Nero&Bianco. Ada sebuah kantor konsultan yang memesan khusus jasa mereka untuk menghidangkan masakan Italia.

“Masa sih, Mal? Gue kira arrabbiata artinya mewek,” sahut Jihan dari seberang ruangan.

“Yang di sana diem dulu, deh,” ucap Kemal ketus, menunjuk Jihan dengan ujung sutil.

Jihan menjulurkan lidah seperti anak kecil. Tugasnya untuk meniriskan pasta penne telah selesai, kini hanya tinggal menunggu sentuhan akhir dari masakan buatan Kemal.

Jujur saja, liurnya telah berkumpul di dalam mulut. Kemal yang memang bertugas sebagai chef pasta di dapur restoran, memiliki keahlian yang bukan main-main. Di usia yang belum genap 30 tahun, ia dipercaya memegang tanggung jawab besar untuk menyajikan hidangan pasta.

“Tolong bawa pastanya ke sini, Mir,” titah Kemal.

“Ini, Chef,” balas Miri.

Kemal menuangkan seluruh pasta ke dalam panci, mengaduknya hingga rata. Ia mematikan kompor. Panas yang tersisa masih menyisakan suara mendesis, yang perlahan menghilang ketika pasta dan saus bercampur rata.

Miri menata piring di meja konter dapur. Dengan gesit, Kemal mengisi empat buah piring dengan porsi yang sama rata. Jihan menganga, tak sabar ingin mencicipi saus pedas yang mengilat di bawah sinar lampu dapur.

“Wah … satu piring penne masakan Kemal setara dengan amplop lima senti dari ibunya Baskara, nggak, ya?” canda Jihan.

“Jihan, sembarangan kalau ngomong–” Miri meraih pinggang Jihan dan mencubitnya gemas.

Kemal mengangkat dagu, bangga dengan pujian sahabatnya. Setelah mendengar cerita pertemuan Miri dan Bu Amara di restoran semalam, Kemal tak bicara banyak. Ia tak pernah paham dengan tingkah para konglomerat.

Jika soal memasak, Kemal tak akan bosan dipuji semalam suntuk. Sayangnya, ia tak bisa ikut serta dalam tim katering yang Miri ikuti karena telah mengajukan cuti liburan. Chef Dom, kepala chef Nero&Bianco, menolak tawaran Kemal untuk mengundur tanggal liburan.

“Chef Dom bilang sudah waktunya aku liburan. Dia nggak mau aku sakit tipus lagi seperti tahun lalu karena kerja terlalu keras,” ujar Kemal sambil membawa dua piring ke meja makan.

“Ya, iyalah, Mal. Kamu kan aset buat restoran. Pasta jadi salah satu nyawa restoran. Kalau kamu nggak ada, bisa-bisa pelanggan restoran berhenti datang,” sambut Jihan.

Kemal tak dapat menyembunyikan senyuman. Meski mereka sering beradu mulut, Jihan selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk memuji. Tak heran ia menjadi pramusaji terbaik selama enam bulan berturut-turut.

“Maaf, ya, Miri, kamu yang ambil alih tugasku. Chef Dom nggak izinin aku pakai koki lain karena mereka juga bakal sibuk di katering itu,” ucap Kemal, merasa bersalah karena membebankan tugas berat itu pada Miri.

“Aku justru kaget Chef Dom minta aku yang pegang hidangan pasta. Tapi, yah, hidangan penutup di acara katering biasanya nggak perlu yang istimewa. Satu orang yang kerja aja udah cukup,” balas Miri, memaklumi.

Bila ia dapat bicara jujur, mengerjakan hidangan pasta adalah tantangan yang berat. Memasak main course yang erat dengan insting berbeda dengan membuat kue yang butuh hitungan presisi. 

Miri khawatir kebiasaannya terlalu fokus pada detail akan merusak cita rasa hidangan pasta khas Nero&Bianco. Meski Kemal bilang membuat hidangan pasta arrabbiata mudah, Miri tak yakin ia bisa menghasilkan rasa yang serupa dengan masakan Kemal.

“Tenang aja, kamu pasti bisa. Memasak presisi di hidangan penutup nggak akan mematikan panca indramu. Besok kalau ada waktu luang, kita latihan lagi,” hibur Kemal.

Ketiga sahabat itu duduk di meja, dengan piring berisikan hidangan pasta yang masih hangat. Miri menarik napas, mengisi penuh sendoknya. 

Dalam satu suap, sensasi panas dan pedas itu meliputi seluruh rongga mulut. Lidahnya terasa terbakar. 

“Wow. Enak!” seru Jihan bersemangat.

Berbeda dengan Miri. Ia sibuk menghapus ingus yang terus mengalir dari lubang hidung. Wajahnya yang bulat tampak merah merona seperti tomat, dengan gumpalan tisu yang menumpuk di meja. 

“Ada yang kepedesan tuh,” goda Jihan sambil melagu.

Kemal merapatkan bibir, menelan kembali tawa yang hampir melompat keluar dari kerongkongannya. Bersama Jihan, ia terus menggoda Miri yang lemah dengan makanan pedas. 

“Perasaan tadi ada yang semangat banget mau makan masakanku. Saking enaknya, kamu sampai terharu, Mir?” tanya Kemal, yang mendapat lemparan tisu bekas tepat di wajah. 

Jihan terkekek dan mengisi penuh sendoknya dengan suapan terakhir.

“Orang bilang sih makan pedas itu baik untuk melepas stres,” tambah Jihan.

“Masalahnya tuh … ini pedas … terus pakai minyak,” balas Miri terbata-bata, sambil mendesah pelan.

Ia mengipas-ngipaskan tangan di depan wajahnya yang terasa panas. Miri berlari ke dapur, mengisi gelas dengan air. Ia membilas lidah dan kerongkongannya yang menjerit minta pertolongan.

“Minyaknya cuma dikit, Mir. Kalau nggak pakai minyak, bawangnya nggak mateng dan aroma cabainya nggak keluar. Sebagai chef masakan Italia, lu harus belajar menikmati semuanya, Mir. Kamu juga bakal masak ini pas katering nanti,” Kemal beralasan.

“Bener juga! Kamu harus latihan mulai dari sekarang, supaya terbiasa dengan level pedasnya. Nanti kalau udah biasa, lebih gampang ngatur pedasnya waktu acara. Begitu kan, Chef Kemal?” sambung Jihan.

Kemal mengiyakan, sementara Miri menggeleng.

Sambil mengatur napas, terdengar nada lagu di pintu. Seseorang baru saja membuka kunci dan melangkah masuk.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Resep Cinta Miri   Bab 163. Rahasia Malam Itu

    “How’s the rigatoni, Sir?” tanya seorang pelayan, menghampiri meja Miri dan Arman.“E perfetto!” seru Arman.Tangannya menguncup, lalu ia mencium ujung-ujung jarinya, melemparkan ‘chef’s kiss’ ke arah si pelayan restoran. Pria dengan kumis tebal itu terbahak-bahak, puas dengan reaksi Arman.Miri menggeleng-gelengkan kepala, geli dengan tingkah pria di hadapannya.“Here’s your fornara con patate and polpettine. Enjoy!” ujar si pelayan, mengantarkan pesanan tambahan ke meja.“Gracie,” balas Miri dan Arman bersamaan.Mata mereka berbinar melihat potongan daging sapi dan kentang, lalu sepiring bakso dalam saus tomat pedas. Miri memotong daging menjadi ukuran sesuap, berbagi dengan Arman.“Wow,” gumam Arman, menunjuk piring dengan wajah semringah.Sementara Miri tak dapat berkata-kata. Mulutnya sibuk mengunyah, menikmati setiap rasa dan aroma yang berputar dalam mulutnya. Tomat segar yang dimasak hingga halus, asamnya berpadu dengan sensasi pedas dari bubuk cabai. Dagingnya lembut, lumer d

  • Resep Cinta Miri   Bab 162. Miri Merajut Rasa

    “Kamu memotong rambutmu, Arman?” tanya Miri, saat mereka akhirnya mendapat tempat duduk di La Sagrestia.“Iya. Kelihatan aneh, ya? Udah lama aku nggak memotong rambut sependek ini,” ucap Arman malu-malu.Ia melarikan jari-jarinya di antara helai rambut, yang jauh lebih pendek dari terakhir kali Miri melihatnya. Rasanya ia ingin ikut menyentuh kepala Arman.“Nggak, kok. Malah kelihatan segar,” puji Miri, sambil tersenyum.Siang itu, setiap meja di restoran telah penuh oleh pengunjung. Areanya tidak terlalu luas, dengan set meja maksimal untuk empat orang di sisi kiri dan kanan. Riuh rendah perbincangan antar meja saling beradu, menjadi gaung di sekitar meja Miri dan Arman.Keduanya mendapat meja yang pas untuk dua orang, dekat dengan pintu masuk. Sesekali Arman harus menarik sikunya dari tepi meja agar tak menyenggol siapapun yang melewati lorong di sampingnya.“Kemejamu juga baru, ya? Aku belum pernah lihat sebelumnya,” sambung Miri.“Iya. Cuaca tadi pagi agak dingin, jadi aku pilih y

  • Resep Cinta Miri   Bab 161. Hari Pertama di Trevi

    “Bisa-bisanya kamu dapat hotel tepat di depannya Trevi,” ucap Miri, tak dapat menyembunyikan kekagumannya pada keberuntungan Arman.“Kebetulan aja masih ada kamar kosong. Tadinya aku mau cari hotel lain yang agak jauh supaya bisa sekalian jalan-jalan. Tapi, sarapan dengan pemandangan Air Mancur Trevi sepertinya nggak jelek juga,” sahut Arman, tersenyum simpul.Setibanya di Hotel Fontana, Arman segera menghampiri meja resepsionis untuk mengonfirmasi kamar hotel. Karena hanya punya waktu libur di akhir pekan, Arman merasa sayang jika tak menggunakan waktunya selama di Roma.Meski hanya berjalan-jalan dan menikmati suasana kota bersama Miri hari ini, keduanya tak sabar untuk menghabiskan waktu bersama. Miri dengan catatan restoran yang akan mereka datangi, sementara Arman dengan catatan lokasi wisata demi memperkaya wawasan budayanya.“Aku tunggu di sofa, ya,” ucap Miri.Arman mengiyakan.Miri duduk di salah satu kursi yang disusun merapat, pada ruang lobi yang tak lebih besar daripada d

  • Resep Cinta Miri   Bab 160. Di Hadapan Air Mancur Trevi

    “Signorina, può scendere qui (Nona, kamu bisa turun di sini),” ucap si supir, melambaikan tangan ke arah Miri.“Ah! Bene. Gracie! (Ah! Oke. Terima kasih!)” balas Miri.Dengan dada berdebar, Miri melangkah keluar dari bus. Kakinya menjejak lantai trotoar yang berwarna hitam. Di balik punggungnya, bus kembali melaju.Miri memandang sekitar dalam kesadaran yang berkabut. Bukan karena ia kelelahan, tapi telinganya merasa asing berada di tengah keriuhan bahasa yang tak biasa ia dengar. Di depan restoran Tavola Casa, Miri mengecek pesan terbaru di ponselnya.Arman: otw ke Trevi. Aku masih di bus.Arman: 10 menit lagi ya.Miri menggenggam ponselnya erat. Masa tunggu telah berlalu, dan pertemuan mereka akan menjadi nyata. Miri tak menyangka, setelah beberapa bulan tak bertemu Arman akan membuatnya seantusias ini.Sambil mengikuti petunjuk peta di ponselnya, Miri mulai melangkah. Meski mengembara di kota yang belum jauh ia singgahi, ia menikmati nuansanya. Perutnya bergejolak, seperti ada selu

  • Resep Cinta Miri   Bab 159. Di Akhir Bulan

    “Kamu lagi ngapain, Miri?” tanya Rosalie, sambil membawa piring sarapannya ke meja.“Lagi cari-cari tempat wisata di Roma. Yang bisa dikunjungi seharian,” jawab Miri sambil tersenyum.Rosalie bergumam, mengintip dari balik bahu Miri. Layar ponselnya menampilkan rekomendasi tempat-tempat wisata populer yang menjadi favorit para turis.“Kamu mau keliling Roma sendirian? Mau aku temenin? Atau ajak aja Bianca. Sepertinya dia kosong kalau akhir pekan,” usul Rosalie sambil membelah pancake-nya dengan pisau makan.“Aku udah janjian sama teman,” balas Miri malu-malu, tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.Rosalie mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Selama berkarir, ia telah mengenal banyak orang. Mereka datang kepadanya dengan segala sifat. Mulai dari yang pandai berbohong, jujur, hingga berani menjilat Rosalie dengan kata-kata manis.Meski baru mengenal Miri selama seminggu, ia dapat membaca makna tersirat dari raut wajahnya. Ada kalanya Miri tulus membantu. Ada kesempatan lain ia menu

  • Resep Cinta Miri   Bab 158. Seminggu Pertama Miri di Roma

    “Kedengarannya kelasmu menyenangkan,” ucap Arman di telepon, ketika Miri menghubunginya malam itu.Sambil bersandar pada pagar di halaman belakang, Miri menikmati sisa malamnya dalam kesunyian. Di balik punggungnya, para peserta kursus masih berkumpul untuk minum anggur bersama di meja makan.Karena Miri tak mengonsumsi alkohol, ia memilih untuk pergi. Riuh rendah perbincangan mereka menjadi latar belakang yang menemani kesendirian Miri. Sambil merapatkan jaket yang menutupi tubuh, Miri membagikan cerita minggu pertamanya di Roma.“Menyenangkan, tapi melelahkan juga mendengarkan bahasa Inggris dan Italia setiap hari. Terkadang aku takut salah menangkap instruksi yang diberikan. Malu, kan, kalau sampai gagal bikin hidangan. Apalagi yang simpel,” ujar Miri.“Namanya juga belajar. Wajar kalau ada kesalahan. Aku yakin mentormu nggak akan menendangmu keluar hanya karena gagal sesekali,” hibur Arman.Miri menyandarkan sikunya pada pagar, menatap ke area taman yang gelap. Semakin lama ia fok

  • Resep Cinta Miri   Bab 6. Berita Baru Bu Sara

    “Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten

  • Resep Cinta Miri   Bab 5. Ibu Sara Baru Pulang

    “Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M

  • Resep Cinta Miri   Bab 3. Kedatangan Kemal sang Koki

    “Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s

  • Resep Cinta Miri   Bab 2. Kita Usahakan Restu Itu

    “Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status