Mag-log in“Dia pikir dia siapa mau ngadain pernikahan sederhana sama kamu, Nak? Kita ini keluarga terhormat!” jerit ibu Baskara di telepon.
Baskara sampai harus menjauhkan ponsel karena pekikan sang ibu membuat telinganya berdengung. Sambil mengurut pelipisnya, anak semata wayang Keluarga Wibowo itu tertunduk di sofa.
“Ma, dengerin aku dulu. Ini demi nenekn
“Man, belum pulang?” tanya Wisnu, kepalanya muncul dari balik sekat kubikel.“Belum. Mau beresin berkas dulu. Aku mesti ninggalin catatan juga buat anak baru,” jawab Arman, jarinya mengetik lincah pada keyboard.Kurang dari setahun sejak menyelesaikan studi di Jerman, Arman mengira membereskan meja kerja akan menjadi perkara mudah. Sedari pagi, ia sibuk menyusun dokumen dan panduan pengerjaan proyek yang akan diserahkan kepada Wisnu.Belum lagi sejumlah karyawan baru dan magang mulai bekerja ketika ia pergi. Kejelasan pengalihan proyek menjadi tanggung jawabnya, jangan sampai setiap tugas berantakan.“Udah beresin gambar buat perizinan yang di Bandung belum? Pokoknya waktu kamu pergi, aku ogah ngacak-ngacak meja, ya!” omel Wisnu.“Bisa besok aja, nggak? Aku masih harus nyusun dokumen lain. Capek banget ini,” keluh Arman.Namun, ekspresi wajah Wisnu yang datar menjawab tanpa kata.“Oke, oke … aku kerjain sekarang,” ucap Arman memberengut.Sedari matahari condong ke sisi barat hingga na
“Akhirnya bisa istirahat juga,” gumam Miri.Mari memandang langit-langit kamarnya, mengistirahatkan tulang punggungnya yang serasa terbakar. Kedua tangan dan kakinya merentang lebar, menguasai seluruh permukaan ranjang.Jihan baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan setelan piyama yang ia pinjam dari Miri. Rambutnya membentuk cepol di puncak kepala, dengan pembuluh darah seluruh tubuh yang membuka lebar, mengalirkan rona ke pipinya yang mulus. Sambil berjalan ke tempat tidur, Jihan menepuk-nepuk perutnya.“Geser, dong,” goda Jihan, mendorong tubuh Miri ke sisi lain ranjang. Ia terkekek ketika mendengar Miri menggerutu. Jihan menepuk bantal, menyandarkan kepala di permukaannya yang empuk. Ia bergabung dengan Miri menatap langit-langit. “Kalau besok pagi aku bisa buang air, aku siap makan setengah lusin masakanmu lagi,” ungkapnya lugas.Miri mengerutkan hidung.Mengabaikan protes Miri, Jihan menarik selimut hingga menutupi dada dan melepaskan ikatan rambut. Ia memutar tubuhnya m
“Mir.”Sang pemilik nama membisu. Matanya menatap jauh keluar jendela. Langit tampak biru seperti bentangan kain satin, bersama helaian awan tipis yang bergerak pelan. Hangatnya matahari menerpa wajah, membuat wajah Miri berseri.Rasa kantuk yang datang memaksanya untuk menyipitkan mata. Namun, setiap kali pelupuknya menutup, wajah Arman terbayang lagi.“Miri!”Teriakan itu membuat Miri terperanjat.“Apa sih?!” pekiknya.Jihan, membelalakkan mata sambil menunjuk ke arah bak cuci di hadapan Miri.“Itu! Airnya luber!”Miri menu
“Kenapa, ya, aku selalu ketemu kamu di tempat tak terduga,” ungkap Miri, mengerutkan kening.Arman melepaskan tawa kecil. Ia juga berpendapat sama.Miri tiba di makam sambil memeluk sebuah buket bunga berwarna serupa. Di balik riasan tipis di wajah Miri, ada kelelahan yang bersembunyi. Helaian rambut yang hiatm jatuh di sisi wajah, membingkai pipi tirus dengan rona buatan.Meski matanya sayu dan langkahnya menyeret, Miri tetap memasang senyuman lembut yang Arman kenal. Tidak bisa. Sepertinya Arman tidak bisa melawan gelisah jika Miri dalam peredarannya. Debaran di dalam dadanya adalah saksi.“Mumpung ada waktu, aku mampir ke sini sebentar,” sahut Arman. Miri mengangguk, memaklumi.“Kamu sendiri? Jam segini di luar restoran. Bukannya ini hampir waktunya persiapan paruh kedua?” tanya Arman, memeriksa waktu di jam tangan.“Aku abis ngurus berkas untuk perpanjangan sertifikat profesi. Karena masih ada waktu, sekalian aja aku ke sini sebentar,” jawab Miri.Dari bangku tempatnya duduk, Mir
Lampu sen mobil mengedip dua kali saat Arman menekan tombol pada kuncinya. Ia merapatkan kerah jaket menutupi leher, berjalan cepat sambil menenteng seikat bunga peony di tangan. Arman menyusuri lantai berlapis paving berwarna terakota, mengantarkannya ke depan pintu gerbang TPU. Daun-daun pohon bunga kamboja di sisi gerbang mengayun bersama angin yang bertiup. Aroma udara selepas hujan terasa asam, mengeringkan tenggorokan.“Selamat siang, Bu. Gedung pengurus pemakamannya di mana, ya?” sapa Arman lembut pada seorang penjaja bunga kuburan di samping jalan setapak. Mengikuti petunjuk si ibu, Arman melanjutkan perjalanan. Setelah melewati gerbang, permukaan lantai memecah menjadi tiga. Ada jalan utama, sayap kanan, dan kiri. Arman terus melangkah, menuju bangunan sederhana dengan jendela besar menghadap jalan. Pintu ganda berbahan kayu menjadi satu-satunya jalan masuk.Di dekat pintu, sebuah meja menyambut, permukaannya kusam dengan beberapa titik bopeng di permukaan. Mesin komputer d
“Selamat pagi!” sapa Miri riang.Beberapa rekan kerjanya yang sudah tiba di dapur pagi itu menoleh, membalas sapaan yang sama. Senyum yang menghiasi wajah Miri membawa semangat baru yang membuat rekan kerjanya tercengang. Tak ada yang tahu bahwa ia menangis semalaman. Jika lembar kertas surat terakhir Nenek Aisha dapat bicara, ia akan bersaksi pada titik-titik air yang membekas dan mengerutkan permukannya. “Selamat pagi, Jihan!” seru Miri saat di ruang ganti.“Pagi, Mir. Semangat banget hari ini?” balas Jihan yang sedang mengancingkan kemeja kerjanya. Alisnya terangkat, menangkap sosok Miri yang lebih riang daripada biasanya. Dengan gesit, ia telah siap dengan seragamnya.“Iya, dong. Kita harus ceria setiap hari, biar semangat masaknya! Aku duluan, ya,” balasnya.Setelah mengganti pakaian dengan seragam kerja, Miri segera beranjak ke dapur. Ia membuka buku jurnal resep yang ia simpan pada salah satu laci dapur. Catatan dan sketsa yang terakhir kali ia torehkan pada lembaran kertas
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan
“Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulut







