LOGIN“Miri. Di meja 18 ada tamu spesial. Ada Wisnu dan Arman–” panggil Jihan, melongok dari balik dinding.
Mendengar nama itu, Miri tanpa sadar menekan piping bag terlalu kuat hingga isinya luber ke meja. Sambil mengumpat, Miri buru-buru membersihkan krim keju itu.
“Mir?” panggil Jihan lagi, tampak bingung karena Miri gelagapan sendiri.
“Wah, selamat, ya, Sayang! Mama tahu kamu pasti bisa!” seru Bu Sara di telepon.Ia berseru riang, turut merayakan keberhasilan Miri. Di seberang telepon, sang putri pun tak ada dapat berhenti tersenyum. Di sela waktu istirahatnya, Miri menelepon Bu Sara. Ia duduk di teras depan pintu dapur, sambil menikmati sebungkus roti lapis.“Makasih, Ma,” balas Miri riang.“Berarti, menu buatan Kamal nggak lolos?” tanya Bu Sara.Miri bergumam, mengingat wajah santai Kemal yang menerima kegagalannya. Padahal menu kue jeruk buatannya juga menjadi favorit Chef Dom. Kurangnya nuansa liburan dan tema keluarga membuat si kepala koki mempertimbangkan kembali.“Iya, Ma. Tapi dia terlihat santai aja. Kayaknya dia juga nggak akan sempat merasa sedih karena bakal sibuk sepanjang malam Natal,” ungkap Miri.Bu Sara memaklumi.“Berarti … kalau Mama reservasi tempat, bisa nyicipin dessert buatanmu, dong?” tanya Bu Sara antusias.“Iya, Ma. Nanti aku cek di meja resepsionis supaya kalian dapat meja yang istimewa.
“Terima kasih udah nganterin aku, Arman. Kamu hati-hati pulangnya,” ucap Miri, melonggarkan sabuk pengaman.“Semoga sukses untuk kompetisi menunya, Miri,” balas Arman, menyunggingkan senyum.Miri membuka pintu mobil, melangkah keluar. Ia berdiri di tepi jalan, melambaikan tangan ke arah Arman. Laju mobil perlahan meningkat, meninggalkan Miri berdiri di pintu depan area gedung apartemennya seorang diri.Ketika mobil itu telah jauh, Miri berjalan cepat. Setengah berlari, ia menuju unit apartemennya. Miri mengatur napas saat menaiki tangga, tak ada tanda-tanda langkahnya melambat. Tangannya gemetar saat menekan kode pintu.“Ayo, Miri,” gumamnya pada diri sendiri.Pintunya melagu. Miri me
“Jadi … kamu perlu nomorku buat ini?” tanya Arman, menunjuk hidangan manis di hadapannya.Miri mengangkat bahu.“Jihan udah bantuin aku kemarin dan dia udah muak nyobain hampir selusin piring. Kemal … dia sainganku untuk kompetisi menu baru ini,” ucap Miri beralasan.“Nggak mungkin kamu membuka kartu ke lawan,” sahut Arman, mengangguk-angguk.“Tepat sekali,” balas Miri, tertawa kecil.Arman mengangkat sendok, menimbang bagaimana ia mulai makan. Apakah mengambil potongan torta bersama yogurt atau sirup buah manis. Tampilan hidangan itu terlalu manis, hingga ia tak tega merusaknya.Miri menyandarkan sikunya di meja, mengamati sendok Arman yang hanya berputar di atas paduan hidangan buatannya.“Kamu bisa campur semua. Santai aja makannya,” ucapnya sambil tersenyum.Arman tertawa kecil, malu karena Miri menyadari kecanggungannya. Ia mengambil potongan kecil kue dengan isian apel, mencium aroma almond di permukaannya. Dalam satu gigitan, perpaduan rasa manis, gurih dan sentuhan kayu manis
“Halo, Miri,” sapa Arman.Sebuah panggilan baru masuk, menampilkan nomor yang tak ia kenal di layar. Arman menahan napas saat menjawabnya. Tak ada suara di seberang.“Halo?” panggilnya lagi.“Halo, Arman.”Degup jantung Arman berpacu. Suara Miri terdengar lebih lembut di telepon dibandingkan saat bicara langsung. Ada getaran di ujung tuturnya, lalu perlahan kembali sunyi. “Aku dapat nomormu dari Seno. Maaf, ya, kalau lancang menghubungimu tanpa izin,” ujar Miri.“Nggak papa! “Aku udah kasih izin. Tenang aja,” suara Arman kini melengking aneh.Ia berdeham.“Kamu lagi sama Seno? Atau di rumah?”” tanya suara di seberang.“Masih di kantor. Tapi aku udah mau pulang,” balas Arman.“Oh,” gumam Miri. Ada keheningan panjang, lagi. “Kalau kamu nggak ada acara setelah ini, bisa nggak kita ketemu?”Alis Arman mengangkat tinggi.“Sekarang?” tanya Arman, memastikan kembali.“Iya. Aku masih di restoran. Aku butuh bantuanmu,” ungkap Miri dengan nada serius.*Miri: Kalau udah sampai, langsung mas
“Man, belum pulang?” tanya Wisnu, kepalanya muncul dari balik sekat kubikel.“Belum. Mau beresin berkas dulu. Aku mesti ninggalin catatan juga buat anak baru,” jawab Arman, jarinya mengetik lincah pada keyboard.Kurang dari setahun sejak menyelesaikan studi di Jerman, Arman mengira membereskan meja kerja akan menjadi perkara mudah. Sedari pagi, ia sibuk menyusun dokumen dan panduan pengerjaan proyek yang akan diserahkan kepada Wisnu.Belum lagi sejumlah karyawan baru dan magang mulai bekerja ketika ia pergi. Kejelasan pengalihan proyek menjadi tanggung jawabnya, jangan sampai setiap tugas berantakan.“Udah beresin gambar buat perizinan yang di Bandung belum? Pokoknya waktu kamu pergi, aku ogah ngacak-ngacak meja, ya!” omel Wisnu.“Bisa besok aja, nggak? Aku masih harus nyusun dokumen lain. Capek banget ini,” keluh Arman.Namun, ekspresi wajah Wisnu yang datar menjawab tanpa kata.“Oke, oke … aku kerjain sekarang,” ucap Arman memberengut.Sedari matahari condong ke sisi barat hingga na
“Akhirnya bisa istirahat juga,” gumam Miri.Mari memandang langit-langit kamarnya, mengistirahatkan tulang punggungnya yang serasa terbakar. Kedua tangan dan kakinya merentang lebar, menguasai seluruh permukaan ranjang.Jihan baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan setelan piyama yang ia pinjam dari Miri. Rambutnya membentuk cepol di puncak kepala, dengan pembuluh darah seluruh tubuh yang membuka lebar, mengalirkan rona ke pipinya yang mulus. Sambil berjalan ke tempat tidur, Jihan menepuk-nepuk perutnya.“Geser, dong,” goda Jihan, mendorong tubuh Miri ke sisi lain ranjang. Ia terkekek ketika mendengar Miri menggerutu. Jihan menepuk bantal, menyandarkan kepala di permukaannya yang empuk. Ia bergabung dengan Miri menatap langit-langit. “Kalau besok pagi aku bisa buang air, aku siap makan setengah lusin masakanmu lagi,” ungkapnya lugas.Miri mengerutkan hidung.Mengabaikan protes Miri, Jihan menarik selimut hingga menutupi dada dan melepaskan ikatan rambut. Ia memutar tubuhnya m
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan
“Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulut







