LOGIN“Setelah ini kamu balik ke restoran?” tanya Arman, menyuapi diri dengan segunung nasi bersama potongan daging.
“Iya,” jawab Miri.
Ia mengaduk isi kotak bentonya, menyatukan potongan ayam, nasi dan sayuran. Setelah menelan makanannya, Miri lanjut bicara.
“Untuk sementara, aku cuma ambil shift mala
“Jadi … kamu perlu nomorku buat ini?” tanya Arman, menunjuk hidangan manis di hadapannya.Miri mengangkat bahu.“Jihan udah bantuin aku kemarin dan dia udah muak nyobain hampir selusin piring. Kemal … dia sainganku untuk kompetisi menu baru ini,” ucap Miri beralasan.“Nggak mungkin kamu membuka kartu ke lawan,” sahut Arman, mengangguk-angguk.“Tepat sekali,” balas Miri, tertawa kecil.Arman mengangkat sendok, menimbang bagaimana ia mulai makan. Apakah mengambil potongan torta bersama yogurt atau sirup buah manis. Tampilan hidangan itu terlalu manis, hingga ia tak tega merusaknya.Miri menyandarkan sikunya di meja, mengamati sendok Arman yang hanya berputar di atas paduan hidangan buatannya.“Kamu bisa campur semua. Santai aja makannya,” ucapnya sambil tersenyum.Arman tertawa kecil, malu karena Miri menyadari kecanggungannya. Ia mengambil potongan kecil kue dengan isian apel, mencium aroma almond di permukaannya. Dalam satu gigitan, perpaduan rasa manis, gurih dan sentuhan kayu manis
“Halo, Miri,” sapa Arman.Sebuah panggilan baru masuk, menampilkan nomor yang tak ia kenal di layar. Arman menahan napas saat menjawabnya. Tak ada suara di seberang.“Halo?” panggilnya lagi.“Halo, Arman.”Degup jantung Arman berpacu. Suara Miri terdengar lebih lembut di telepon dibandingkan saat bicara langsung. Ada getaran di ujung tuturnya, lalu perlahan kembali sunyi. “Aku dapat nomormu dari Seno. Maaf, ya, kalau lancang menghubungimu tanpa izin,” ujar Miri.“Nggak papa! “Aku udah kasih izin. Tenang aja,” suara Arman kini melengking aneh.Ia berdeham.“Kamu lagi sama Seno? Atau di rumah?”” tanya suara di seberang.“Masih di kantor. Tapi aku udah mau pulang,” balas Arman.“Oh,” gumam Miri. Ada keheningan panjang, lagi. “Kalau kamu nggak ada acara setelah ini, bisa nggak kita ketemu?”Alis Arman mengangkat tinggi.“Sekarang?” tanya Arman, memastikan kembali.“Iya. Aku masih di restoran. Aku butuh bantuanmu,” ungkap Miri dengan nada serius.*Miri: Kalau udah sampai, langsung mas
“Man, belum pulang?” tanya Wisnu, kepalanya muncul dari balik sekat kubikel.“Belum. Mau beresin berkas dulu. Aku mesti ninggalin catatan juga buat anak baru,” jawab Arman, jarinya mengetik lincah pada keyboard.Kurang dari setahun sejak menyelesaikan studi di Jerman, Arman mengira membereskan meja kerja akan menjadi perkara mudah. Sedari pagi, ia sibuk menyusun dokumen dan panduan pengerjaan proyek yang akan diserahkan kepada Wisnu.Belum lagi sejumlah karyawan baru dan magang mulai bekerja ketika ia pergi. Kejelasan pengalihan proyek menjadi tanggung jawabnya, jangan sampai setiap tugas berantakan.“Udah beresin gambar buat perizinan yang di Bandung belum? Pokoknya waktu kamu pergi, aku ogah ngacak-ngacak meja, ya!” omel Wisnu.“Bisa besok aja, nggak? Aku masih harus nyusun dokumen lain. Capek banget ini,” keluh Arman.Namun, ekspresi wajah Wisnu yang datar menjawab tanpa kata.“Oke, oke … aku kerjain sekarang,” ucap Arman memberengut.Sedari matahari condong ke sisi barat hingga na
“Akhirnya bisa istirahat juga,” gumam Miri.Mari memandang langit-langit kamarnya, mengistirahatkan tulang punggungnya yang serasa terbakar. Kedua tangan dan kakinya merentang lebar, menguasai seluruh permukaan ranjang.Jihan baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan setelan piyama yang ia pinjam dari Miri. Rambutnya membentuk cepol di puncak kepala, dengan pembuluh darah seluruh tubuh yang membuka lebar, mengalirkan rona ke pipinya yang mulus. Sambil berjalan ke tempat tidur, Jihan menepuk-nepuk perutnya.“Geser, dong,” goda Jihan, mendorong tubuh Miri ke sisi lain ranjang. Ia terkekek ketika mendengar Miri menggerutu. Jihan menepuk bantal, menyandarkan kepala di permukaannya yang empuk. Ia bergabung dengan Miri menatap langit-langit. “Kalau besok pagi aku bisa buang air, aku siap makan setengah lusin masakanmu lagi,” ungkapnya lugas.Miri mengerutkan hidung.Mengabaikan protes Miri, Jihan menarik selimut hingga menutupi dada dan melepaskan ikatan rambut. Ia memutar tubuhnya m
“Mir.”Sang pemilik nama membisu. Matanya menatap jauh keluar jendela. Langit tampak biru seperti bentangan kain satin, bersama helaian awan tipis yang bergerak pelan. Hangatnya matahari menerpa wajah, membuat wajah Miri berseri.Rasa kantuk yang datang memaksanya untuk menyipitkan mata. Namun, setiap kali pelupuknya menutup, wajah Arman terbayang lagi.“Miri!”Teriakan itu membuat Miri terperanjat.“Apa sih?!” pekiknya.Jihan, membelalakkan mata sambil menunjuk ke arah bak cuci di hadapan Miri.“Itu! Airnya luber!”Miri menu
“Kenapa, ya, aku selalu ketemu kamu di tempat tak terduga,” ungkap Miri, mengerutkan kening.Arman melepaskan tawa kecil. Ia juga berpendapat sama.Miri tiba di makam sambil memeluk sebuah buket bunga berwarna serupa. Di balik riasan tipis di wajah Miri, ada kelelahan yang bersembunyi. Helaian rambut yang hiatm jatuh di sisi wajah, membingkai pipi tirus dengan rona buatan.Meski matanya sayu dan langkahnya menyeret, Miri tetap memasang senyuman lembut yang Arman kenal. Tidak bisa. Sepertinya Arman tidak bisa melawan gelisah jika Miri dalam peredarannya. Debaran di dalam dadanya adalah saksi.“Mumpung ada waktu, aku mampir ke sini sebentar,” sahut Arman. Miri mengangguk, memaklumi.“Kamu sendiri? Jam segini di luar restoran. Bukannya ini hampir waktunya persiapan paruh kedua?” tanya Arman, memeriksa waktu di jam tangan.“Aku abis ngurus berkas untuk perpanjangan sertifikat profesi. Karena masih ada waktu, sekalian aja aku ke sini sebentar,” jawab Miri.Dari bangku tempatnya duduk, Mir
“Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten
“Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan
“Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulut







