Share

Bab 3

Author: Fanita
Melihat Owen yang merendah sampai hampir berlutut di hadapanku, muncul rasa getir yang sulit diungkapkan dalam hatiku.

Aku dan Owen telah menjalin hubungan selama enam tahun. Aku memergokinya berselingkuh dengan Almira pada tahun kedua pernikahan kami.

Hari itu, aku pulang lebih awal dari perjalanan dinas. Awalnya, aku ingin memberinya kejutan, tetapi tidak kusangka kejutan itu justru berubah menjadi mimpi buruk.

Melihat mereka berdua dalam keadaan nyaris tanpa busana, aku langsung hancur. Saat itu juga, aku mengajukan perceraian.

Namun, Owen yang selama ini selalu angkuh justru berlutut di hadapanku sambil menangis.

Dia berkata bahwa hari itu demamnya sangat tinggi, sehingga mengira Almira, pegawai toko hewan peliharaan yang kebetulan mengantar Momo pulang, adalah aku.

Dia memintaku percaya pada hubungan tujuh tahun kami, mengatakan bahwa di hatinya hanya ada aku seorang.

Owen berkata bahwa dia tidak bisa hidup tanpaku, bahwa dia akan mati jika kehilanganku.

Semua orang juga membujukku. Mereka mengatakan bahwa itu hanyalah sebuah kecelakaan, kesalahannya tidak sampai tidak termaafkan, dan memintaku memberinya satu kesempatan lagi.

Namun, seluruh keteguhanku hancur berkeping-keping pada hari aku bersiap pergi ke kantor catatan sipil. Hari itu, sebuah papan reklame tiba-tiba jatuh dari atas.

Owen menerjang tanpa ragu untuk mendorongku menjauh. Aku selamat, tetapi dirinya tertimpa hingga langsung jatuh. Tubuhnya berlumuran darah dan tangannya hampir cacat.

Lukanya terlalu parah. Meski tangannya akhirnya pulih, di lengan bawah kirinya tertinggal bekas luka berbentuk huruf Y yang sangat mencolok.

"Naura, ini adalah hukuman dari Tuhan buatku. Setiap detik keberadaannya mengingatkanku pada pengkhianatan yang pernah kulakukan."

Sejak saat itu, dia hampir memutus seluruh kontak dengan lawan jenis. Jika benar-benar tidak bisa dihindari, dia akan terus menyalakan panggilan video saat berbicara denganku.

Selama enam bulan pertama, aku bahkan tidak membiarkannya menyentuhku.

Setiap kali tidak sengaja bersentuhan dengannya, aku selalu tidak bisa menahan diri untuk pergi ke kamar mandi, menggosok seluruh tubuhku hingga memerah sebelum akhirnya berhenti.

Sementara itu, Owen selalu menatapku dengan penuh luka dan rasa bersalah, lalu dengan semakin hati-hati berusaha memperbaiki kepercayaan yang retak ini.

Pada malam-malam yang tidak terhitung ketika aku terbangun oleh mimpi buruk itu, Owen selalu menenangkanku dengan suara pelan dan mata yang memerah, lalu makin memusatkan perhatiannya padaku.

Berkali-kali aku mencuci otakku sendiri.

Sudahlah. Mana ada manusia yang sempurna? Dia sudah benar-benar menyesal, aku juga seharusnya belajar melepaskannya.

Aku terus menghibur diri seperti itu hingga hampir memercayainya.

Namun, tidak kusangka, pada akhirnya sebuah postingan menghancurkan semua khayalanku.

Tiba-tiba dering telepon memecah keheningan.

Owen melirik ponselnya. Kecemasan melintas di matanya, lalu dia refleks berdiri.

"Ada urusan mendesak terkait proyek. Tidurlah dulu. Setelah semuanya selesai, aku bakal mengambil cuti dan menemanimu."

Kesibukan pekerjaan adalah alasan yang paling sering dia gunakan. Dia memang penggila kerja sejak dulu, jadi aku pun tidak pernah menaruh curiga.

Namun, setelah mengetahui kebenarannya, aku justru merasa dia adalah aktor yang sangat hebat.

Dia membenamkanku ke dalam mimpi indah tentang hubungan yang kembali utuh setelah retak, hingga aku hampir tenggelam di dalamnya.

Setelah pintu tertutup ....

Aku menarik napas dalam-dalam, tetapi pada akhirnya tetap tidak mampu menahan air mata yang jatuh.

Saat aku baru selesai mengemas setengah isi koper, Owen yang semalaman tidak pulang akhirnya kembali.

Melihatku berjongkok di depan koper, dia bertanya dengan heran, "Kenapa tiba-tiba membereskan barang?"

Tanganku tetap bergerak. Dengan tenang aku menjawab, "Barangku terlalu banyak. Aku mau menyimpan sebagian."

Mendengar itu, keraguan di matanya menghilang. Owen melangkah mendekat.

"Biar aku saja. Duduk dan istirahatlah."

Namun, aku langsung menutup ritsleting koper.

"Nggak perlu. Sudah hampir selesai."

Owen terdiam sejenak, lalu berjongkok di sampingku.

"Masih marah?"

Dia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan, membukanya, lalu menyodorkannya ke hadapanku.

"Kalau kau nggak suka set perhiasan kemarin, aku sudah membelikan yang lain. Coba lihat, kau suka yang ini nggak?"

Melihat jam tangan wanita yang elegan di hadapanku, aku tiba-tiba merasa semuanya begitu menggelikan.

Aku tidak pernah suka memakai jam tangan. Sebaliknya, dalam postingan keseharian Almira, dia tidak pernah menyembunyikan kecintaannya pada jam tangan.

Melihatku tetap diam, wajah Owen yang semula penuh usaha untuk menyenangkanku akhirnya menunjukkan sedikit ketidaksabaran. Dia mengernyitkan dahi dan berkata dengan nada tertahan ....

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 11

    Tatapanku sempat terhenti sejenak, tetapi aku tidak terlalu memikirkannya. Aku langsung naik ke lantai atas dan membawa koperku turun.Sebelum pergi, aku menoleh untuk terakhir kalinya ke tempat yang telah kutinggali selama delapan tahun ini.Dulu, tempat ini menyimpan cinta paling tulus yang pernah kumiliki.Aku pernah mengira tempat ini akan menjadi tempatku tinggal seumur hidup.Namun, tidak kusangka, hanya dalam waktu delapan tahun, seluruh cinta itu telah berubah menjadi kehampaan, dan aku sendiri telah kehilangan jati diriku.Tiba-tiba pintu terbuka dari luar."Naura, kau pulang ...."Aku menoleh dan memandang orang yang datang itu. Sesaat, aku tertegun.Janggut Owen tampak tidak dicukur selama beberapa hari. Penampilannya terlihat lusuh dan terpuruk."Naura, kau mau pergi?"Aku mengangguk."Surat cerai sudah kau tanda tangani?""Naura, masalah Almira sudah kuselesaikan. Mulai sekarang, dia nggak bakal mengganggu kita lagi. Aku bersumpah, kali ini aku benar-benar tahu aku salah.

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 10

    Ketika Almira sekali lagi didorong ke dalam pelukan Owen yang sedang mabuk, pada akhirnya dia gagal menahan diri.Setiap kali selesai berselingkuh, dia selalu berusaha menebus kesalahannya dengan memperlakukan Naura jauh lebih baik, seolah dengan begitu pengkhianatannya bisa terhapus.Bahkan alasan Almira bisa mengandung juga karena setelah Naura keguguran akibat tekanan, dia tidak pernah berhasil hamil lagi.Owen berpikir bahwa jika ada seorang anak, Naura juga akan memiliki tempat untuk mencurahkan kasih sayangnya.Namun, dia tidak pernah menyangka Naura juga akan hamil pada saat yang sama. Semuanya terjadi begitu kebetulan, hingga dia tidak memiliki kesempatan untuk menghindar ataupun memperbaiki keadaan."Naura, izinkan aku berusaha untuk terakhir kalinya. Kalau setelah itu kau tetap nggak mau memaafkanku, aku ... aku ...."Owen mengepalkan tangannya. Bahkan hanya membayangkannya pun, dia merasa tidak sanggup.Dia mengusap air mata di sudut matanya, lalu melangkah menuju pintu kelu

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 9

    Nenek menatap Owen dengan sorot mata yang rumit, lalu mengajukan sebuah pertanyaan."Owen, masih ingat seperti apa Naura ketika pertama kali kau membawanya pulang ke rumah?"Owen tertegun sesaat dan teringat pada Naura saat itu.Sensitif, penakut, dan tidak pernah mudah membuka hatinya kepada orang lain.Naura adalah teman sebangkunya di SMA. Owen jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Saat itu, Owen berusaha sekuat tenaga untuk memperlakukannya dengan baik, tetapi tidak pernah mendapatkan balasan.Bahkan tidak pernah memberinya tatapan lebih.Owen sangat kecewa dan pernah berpikir untuk menyerah.Namun, suatu hari, sepulang sekolah, dia melihat Naura sedang dirundung oleh seorang bocah laki-laki, tetapi Naura hanya diam menerimanya.Owen tidak tahan melihatnya dan maju untuk memberi pelajaran kepada anak itu. Awalnya, dia mengira Naura akan mulai memandangnya berbeda.Namun, keesokan harinya, dia justru melihat Naura datang ke sekolah dengan pipi bengkak.Setelah mencari tahu, di

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 8

    Sejak saat itu, aku pun tinggal di rumah lama.Sejak ibu meninggal, nenek adalah satu-satunya orang di dunia ini yang pernah memberiku kasih sayang seorang orang tua.Aku menepuk pelan bahunya untuk menenangkannya, lalu berkata dengan suara lembut, "Nenek, aku nggak apa-apa. Semuanya sudah berlalu.""Aku sudah mengetahui semuanya dengan jelas. Kalau bukan karena wanita nggak tahu malu itu datang membuat keributan di hadapanku, aku nggak bakal tahu kalau bocah brengsek itu berani melakukan hal sehina ini."Dari cerita nenek, barulah aku tahu bahwa hari itu Owen membawa Almira untuk menggugurkan kandungan.Sebelum Almira masuk ke ruang operasi, Owen kebetulan melihatku yang baru keluar dari ruang operasi.Saat Owen sibuk terlibat pertengkaran denganku, Almira diam-diam kabur dari pintu samping menuju rumah lama.Dia memohon kepada nenek, demi anak Keluarga Hermanta yang sedang dikandungnya, nenek mau membiarkan garis keturunan ini tetap ada.Melihatku terdiam, nenek menggenggam tanganku

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 7

    "Hari ini, aku bukan menemaninya untuk pemeriksaan kehamilan. Aku cuma ...."Aku tertegun sesaat.Enam tahun lalu, Owen juga seperti ini, menangis sambil mengatakan bahwa semuanya itu hanyalah kecelakaan, bahwa dia akan mati tanpa diriku."Sudahlah. Nggak penting lagi." Aku memotong ucapannya dengan tenang, lalu mengeluarkan surat cerai dari dalam tas."Owen, cintamu terlalu murahan dan terlalu kotor. Simpan saja buat orang lain, aku nggak sanggup menerimanya.""Mungkin ini juga lebih baik. Di antara kita nggak ada lagi ikatan karena anak. Dia juga nggak perlu datang ke dunia ini cuma buat menderita.""Sebenarnya aku berencana mengirimkannya kepadamu. Kebetulan kita bertemu sekarang, jadi tanda tangani saja."Aku mengembuskan napas perlahan dan menegakkan tubuh. Rasa sakit di perutku seolah tiba-tiba berkurang.Duri itu memang sudah seharusnya dicabut sejak lama.Hanya saja, beban perasaan yang kupikul terlalu berat, sampai aku pernah berpikir bahwa aku tidak akan bisa hidup tanpanya.

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 6

    Wajah Owen langsung berubah. Tatapannya dipenuhi kepanikan selama beberapa detik. Setelah lama terdiam, dia memaksakan sebuah senyum."Naura, jangan bercanda. Lelucon seperti ini sama sekali nggak lucu."Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tenang.Dengan ekspresi tidak percaya, Owen membaca lembar itu berulang kali.Tiba-tiba dia mengepalkan tangannya erat-erat hingga kertas itu menjadi gumpalan kusut.Detik berikutnya, dia mendongak. Kedua matanya memerah."Naura, kenapa? Itu anak yang sudah kita nantikan selama enam tahun. Bagaimana bisa kau ... bagaimana kau tega ...."Aku tertawa sinis."Kenapa aku nggak tega?""Masih ingat bagaimana anak pertama kita dulu pergi? Sekarang cuma sejarah yang terulang. Bedanya, kali ini aku nggak bakal sebodoh dulu untuk memercayaimu lagi."Wajah Owen yang semula dipenuhi amarah langsung membeku. Dia tampak panik sesaat, lalu buru-buru meraih tanganku."Naura, aku nggak tahu siapa yang mengatakan hal-hal nggak masuk akal itu kepadamu. Tapi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status