Short
Daun Gugur Tanpa Suara

Daun Gugur Tanpa Suara

Por:  MuriazCompletado
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Capítulos
2vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Sehari sebelum jadwal datang bulan, aku melihat sebuah catatan di ponsel tunanganku. [Kira-kira besok dia datang bulan. Aku harus menyiapkan pembalut dan obat pereda nyeri di tasnya dulu.] Aku tersenyum manis, merasa tersentuh oleh perhatian tunanganku. Namun keesokan harinya, saat perut bagian bawahku mendadak kram hebat, aku meraba-raba isi tasku dengan wajah pucat pasi. Hasilnya nihil, tidak ada apa-apa di dalam sana. Darah merah pekat terlanjur menembus celanaku. Di tengah kepanikan, murid-murid menunjuk ke arah belakangku sambil berbisik dan tertawa. Saat itu, aku mengira dia hanya lupa menyiapkannya. Sampai akhirnya, guru magang yang baru masuk membuat sebuah unggahan di media sosialnya. [Baru mulai kerja langsung ketemu mentor idaman! Dia bahkan menyiapkanku pembalut dan obat pereda nyeri. Haid kali ini sama sekali nggak sakit.] Unggahan itu dilengkapi foto sebutir ibuprofen, pembalut, serta segelas air seduhan gula merah dan kurma. Obat itu adalah obat yang selalu kusediakan di rumah karena nyeri haidku yang parah. Dan pembalut itu adalah satu-satunya merek yang tidak menimbulkan reaksi alergi pada kulitku. Aku mematikan ponsel, menatap cincin di jari tengahku cukup lama, lalu bangkit menuju ruang kepala sekolah untuk mengajukan permohonan studi banding ke luar negeri. Tujuh tahun bersama, dia bahkan tidak pernah mengingat tanggal siklus datang bulanku. Mulai sekarang, pria itu tidak perlu mengingatnya lagi.

Ver más

Capítulo 1

Bab 1

Setelah menyerahkan surat permohonan, bel tanda pulang sekolah pun berdering.

Kepala sekolah menatapku beberapa saat dengan pandangan ragu, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

"Bu Devara, Ibu dan Pak Lionel bulan depan akan menikah. Padahal kemarin lusa, Ibu masih membuat rancangan kartu undangan. Kenapa sekarang ...?"

Aku tahu kelanjutan kalimatnya yang menggantung.

Program pertukaran ke luar negeri ini membutuhkan waktu minimal tiga tahun untuk bisa kembali. Sepasang pengantin baru, mana yang sanggup menanggung hubungan jarak jauh yang begitu lama? Apalagi, semua orang di sekolah tahu perjuanganku mendapatkan Lionel Artha. Aku mengejarnya selama empat tahun dan berpacaran dengannya selama tiga tahun, hingga akhirnya kami akan melangkah ke pelaminan.

Bagaimana mungkin aku rela meninggalkannya?

Namun, perjalanan yang jauh hanya akan menyisakan kerinduan jika kedua belah pihak saling mencintai. Dan beberapa saat yang lalu, aku baru menyadari bahwa pria yang setuju menikahiku itu, ternyata tidak mencintaiku sebesar dugaanku selama ini.

Aku mengikis noda darah kering di sela kuku tanganku. Bekas darah yang tidak sengaja menempel saat aku menyumpal celanaku dengan tisu tebal, lalu berucap pelan, "Sepertinya kami memang nggak berjodoh."

"Bu Kepala Sekolah, saya ingin minta tolong satu hal. Tolong jangan beri tahu siapa pun tentang hal ini, ya?"

Kepala sekolah mengernyit, matanya memancarkan rasa iba.

"Baiklah, aku akan merahasiakan hal ini untukmu."

"Kebetulan rombongan studi banding pertama ke luar negeri akan berangkat besok. Kalau kamu mau, aku bisa mengatur agar kamu ikut dalam rombongan besok."

Aku mengangguk, membungkuk penuh terima kasih, lalu melangkah keluar dari ruangannya.

Ponselku bergetar untuk kedua kalinya. Saat kubuka, ada pesan dari Lionel.

[Kenapa lama sekali? Sudah sepuluh menit lebih dari jam pulang sekolah, tapi kamu belum turun juga.]

Sejak tinggal bersama Lionel, aku selalu pulang bersamanya setiap hari.

Meskipun jam pulang kerja Lionel dua jam lebih lambat dariku dan mengharuskanku duduk diam di ruang guru selama dua jam, aku tidak pernah mengeluh lelah sekali pun.

Namun hari ini, dia yang baru menungguku selama sepuluh menit, sudah mulai kehilangan kesabaran.

Aku mengatupkan bibir, mencoba merasakan rasa di dadaku sendiri. Anehnya, rasa sesak yang kukira akan menyiksa ternyata tidak ada. Saat itulah aku tahu, aku benar-benar sudah merelakannya.

Aku mengetik balasan singkat.

[Aku masih ada urusan, kamu pulang duluan saja.]

Setelah itu, aku langsung mematikan ponsel tanpa melihatnya lagi.

Aku kembali ke meja kerjamu untuk merapikan buku pelajaran, serta menyusun berkas serah terima tugas dan data siswa. Satu jam kemudian, barulah aku melangkah keluar dari gerbang sekolah sambil meregangkan bahu yang pegal.

Saat aku mengeluarkan ponsel untuk memesan taksi, suara klakson keras di belakangku mendadak mengejutkanku. Aku menoleh dan mendapati mobil Lionel terparkir tepat di belakangku.

Aku tertegun di tempat, sampai akhirnya dia membunyikan klakson sekali lagi dan menjulurkan kepalanya dari jendela mobil.

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
10 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status