INICIAR SESIÓNSehari sebelum jadwal datang bulan, aku melihat sebuah catatan di ponsel tunanganku. [Kira-kira besok dia datang bulan. Aku harus menyiapkan pembalut dan obat pereda nyeri di tasnya dulu.] Aku tersenyum manis, merasa tersentuh oleh perhatian tunanganku. Namun keesokan harinya, saat perut bagian bawahku mendadak kram hebat, aku meraba-raba isi tasku dengan wajah pucat pasi. Hasilnya nihil, tidak ada apa-apa di dalam sana. Darah merah pekat terlanjur menembus celanaku. Di tengah kepanikan, murid-murid menunjuk ke arah belakangku sambil berbisik dan tertawa. Saat itu, aku mengira dia hanya lupa menyiapkannya. Sampai akhirnya, guru magang yang baru masuk membuat sebuah unggahan di media sosialnya. [Baru mulai kerja langsung ketemu mentor idaman! Dia bahkan menyiapkanku pembalut dan obat pereda nyeri. Haid kali ini sama sekali nggak sakit.] Unggahan itu dilengkapi foto sebutir ibuprofen, pembalut, serta segelas air seduhan gula merah dan kurma. Obat itu adalah obat yang selalu kusediakan di rumah karena nyeri haidku yang parah. Dan pembalut itu adalah satu-satunya merek yang tidak menimbulkan reaksi alergi pada kulitku. Aku mematikan ponsel, menatap cincin di jari tengahku cukup lama, lalu bangkit menuju ruang kepala sekolah untuk mengajukan permohonan studi banding ke luar negeri. Tujuh tahun bersama, dia bahkan tidak pernah mengingat tanggal siklus datang bulanku. Mulai sekarang, pria itu tidak perlu mengingatnya lagi.
Ver másPada hari final berlangsung, aku mengenakan pakaian rapi, berdiri dengan anggun dan penuh percaya diri di atas panggung. Aku membawakan materi presentasi hasil riset pembelajaranku dengan sangat tenang.Metode pengajaran yang kuhadirkan, sangat baru, unik, dan begitu hidup, sampai menarik perhatian seluruh dewan juri serta penonton di dalam aula konferensi.Saat juri mengumumkan namaku sebagai peraih penghargaan juara pertama, air mata haru seketika menetes di pipiku.Seluruh kerja keras dan air mata yang kutumpahkan selama satu tahun ini, akhirnya terbayar lunas.Gerald yang berdiri di barisan penonton, tampak tersenyum lebar menatapku dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga dan kehangatan.Setelah kompetisi berakhir, aku menerima surat rekomendasi resmi dari pihak sekolah studi banding untuk mengajar di salah satu SMP bergengsi di kota ini.Di saat yang bersamaan, beberapa SMP unggulan di negaraku juga mengirimkan tawaran mengajar dengan fasilitas yang sangat menggiurkan.Aku bim
"Lionel, berani-beraninya kamu mau memukulku? Aku nggak akan membiarkanmu lolos begitu saja!"Novia berteriak histeris sembari merogoh ponsel dari dalam tasnya."Aku menyimpan semua foto dan video mesra kita, termasuk bukti obrolan saat kamu memintaku memalsukan surat undangan itu. Kalau aku mengunggah semua ini ke internet, kamu bakal hancur!"Wajah Lionel seketika memucat. Dia bergegas bangkit dari tanah dan mencoba merebut ponsel tersebut."Novia, berani sekali kamu! Kalau kamu berani menyebarkannya, aku nggak akan memaafkanmu!"Mereka berdua saling cakar dan menjambak, merobek pakaian satu sama lain, sambil diiringi makian kasar yang saling terlontar. Pemandangan itu sungguh menjijikkan.Orang-orang di sekitar sibuk mengeluarkan ponsel untuk merekam dan mengabadikan momen memalukan tersebut.Aku dan Gerald yang berdiri tidak jauh dari sana, hanya menatap mereka tanpa rasa iba sedikit pun. Ini adalah akibat dari perbuatan mereka sendiri, yang menghancurkan masa depan mereka dengan
Orang itu adalah Lionel.Dia mengenakan pakaian kasual yang kusut dengan rambut berantakan, dan tatapan mata yang sangat kuyu. Dia tampak seperti orang yang berbeda dari sosok Pak Lionel yang dulu selalu tampil penuh wibawa.Begitu melihatku, matanya seketika berbinar. Dia bergegas melangkah lebar menghampiriku."Devara, kamu benar-benar di sini!"Suara Lionel terdengar sangat serak, menyiratkan rasa bersalah yang mendalam. "Aku mencarimu ke mana-mana, akhirnya aku menemukanmu!"Aku mengernyitkan dahi, lalu refleks menggeser dudukku merapat ke arah Gerald.Gerald dengan sigap menggenggam tanganku erat, lalu menatap Lionel dengan dingin namun tenang."Tuan Lionel, ada yang bisa kami bantu? Devara sekarang adalah pacarku, rasanya kurang pantas kalau Tuan Lionel terus mengganggunya."Wajah Lionel seketika memucat. Dia menatapku, lalu beralih menatap tangan Gerald yang menggenggam tanganku. Matanya memancarkan rasa sakit dan penyesalan yang luar biasa."Pacar? Devara, apa kamu benar-benar
Lionel tersentak kaget. "Saya tidak memalsukan surat undangan itu. Novia yang memberikannya pada saya."Novia yang wajahnya sudah pucat pasi, langsung membantah dengan panik, "Bukan saya! Kak Lionel, aku nggak pernah memalsukan surat itu. Aku cuma membantumu menanyakannya, aku nggak tahu kalau surat itu ternyata palsu!"Melihat keduanya saling melempar tanggung jawab dengan begitu memalukan, sudut bibirku terangkat membentuk senyuman sinis.Aku sudah menduga Novia akan berulah. Itulah sebabnya, aku memberi tahu kepala sekolah terlebih dahulu agar memeriksa keaslian surat undangan Lionel. Siapa sangka, gadis itu benar-benar nekat memalsukan surat undangan.Pada akhirnya, Lionel diseret keluar oleh petugas keamanan sekolah untuk diserahkan kepada kepolisian setempat guna penyelidikan lebih lanjut. Sementara itu, Novia dijatuhi sanksi teguran tertulis dari pihak sekolah atas pemalsuan tersebut, dan status magangnya langsung dicabut.Menatap punggung mereka yang pergi dengan sangat mengen






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.