Share

Bab 2

Author: Fanita
Melihat wajah wanita itu tersenyum secerah bunga mekar, aku tertawa getir pada diri sendiri. Sungguh setia.

Setelah berputar-putar sekian lama, ujung-ujungnya tetap pegawai toko hewan peliharaan itu.

Riwayat akunnya mencapai puluhan halaman, layaknya catatan keseharian manis sepasang kekasih biasa.

Dengan ujung jari gemetar, aku terus menggulir ke bawah.

[10 Februari 2026, hari ini adalah hari ke-2190 kami bersama. Aku memberi tahu dia bahwa kami bakal punya bayi. Dia tersenyum seperti orang bodoh. Dia nggak tahu, aku sudah menunggu hari ini sangat lama.]

[20 Mei 2025, hari ini ulang tahun istrinya. Tapi saat bangun, aku malah mendapati dia sudah duduk di samping ranjangku dengan seikat besar mawar biru di tangannya. Dia juga memberiku parfum aroma melati favoritku. Katanya, setiap tanggal 20 Mei, dia mau melewatinya bersamaku. Aku mencintainya.]

[12 Maret 2024, kesal! Padahal dia sudah berjanji menemaniku makan malam, tapi lagi-lagi dipanggil pulang sama istri tuanya itu. Mengingat dia sudah berjanji bakal menemaniku liburan ke luar negeri minggu depan, untuk kali ini kumaafkan saja ....]

....

Aku membaca semuanya satu per satu. Rasanya seperti terbungkus selimut tebal lalu direndam dalam air dingin, begitu dingin hingga tubuhku menggigil. Bahkan setiap tarikan napas terasa menyakitkan.

Saat tersadar, wajahku sudah basah oleh air mata. Aku tidak kuasa menahan diri dan terengah-engah mengambil napas panjang.

Dari sudut mata, aku melihat hasil pemeriksaan kehamilan yang tergeletak di atas meja. Pada akhirnya, aku tidak sanggup lagi menahannya. Aku menunduk dan memuntahkan semuanya.

Tidak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa duri yang selama ini kutelan dengan menahan rasa mual dan menggertakkan gigi ....

Akan kembali menusukku enam tahun kemudian, tepat pada hari ini.

Beberapa saat kemudian, aku kembali mengambil sendok, lalu memenuhi piring dengan makanan yang ada di atas meja dan mulai menyantapnya dalam suapan besar.

Namun, makanan yang sudah dingin dan dipanaskan kembali tidak akan pernah selezat saat baru matang. Ditambah rasa asin dan getir dari air mata yang bercampur di dalamnya, semuanya menjadi makin sulit ditelan.

Sama seperti pernikahan kami, retakan yang ditambal dengan hati-hati itu pada akhirnya tetap tidak mampu menopang tembok setinggi ini.

Jadi pada saat ini, semuanya runtuh.

...

Tengah malam.

Pintu kamar didorong perlahan dari luar.

"Naura, kenapa kau masih belum tidur?"

Melihat lampu di samping ranjangku masih menyala, wajah Owen menampakkan sedikit keterkejutan.

Dia berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang. Saat itu juga, aroma melati yang begitu kukenal memenuhi ujung hidungku.

Rasa ironis perlahan memenuhi hatiku. Lucunya, selama ini aku selalu mengira itu adalah aroma sabun mandinya. Siapa sangka, aroma itu justru menjadi bukti bahwa Almira Estiono tidak pernah benar-benar pergi dari hidupnya.

Aku berusaha keras menahan rasa mual yang naik ke tenggorokan, lalu menundukkan kepala tanpa ekspresi.

Owen tidak menyadari keanehanku. Dia merapikan rambut yang jatuh di dahiku, sementara nada suaranya dipenuhi rasa bersalah.

"Maaf. Aku nggak bisa meninggalkan rapat, jadi melewatkan hari ulang tahun pernikahan kita yang kedelapan."

"Ini hadiah yang terlambat. Coba lihat, kau suka nggak?"

Aku menatap set perhiasan rubi berlapis emas di dalam kotak yang dia sodorkan. Sudut bibirku terangkat tipis, nyaris tidak terlihat.

Aku teringat postingan terbaru Almira setengah jam yang lalu.

[Seseorang melihat aku lagi nggak senang, lalu bersikeras menyeretku ke rumah lelang dan membelikan banyak sekali barang buat menghiburku. Tapi set yang ini terlalu kuno, 'kan? Gadis cantik seperti aku jelas nggak mau!]

Di animasi gerak yang disertakan, tampak jelas set perhiasan rubi berlapis emas yang sama. Bahkan suara Owen yang penuh kasih sayang terdengar begitu jelas.

"Baik, baik, Gadis Cantikku. Lain kali, aku bakal lebih hati-hati deh."

Saat itu, hatiku seolah disumpal segumpal kapas, terasa hampa luar biasa.

"Kenapa? Nggak suka?"

Karena aku sama sekali tidak bereaksi, Owen melambaikan tangannya di depan mataku.

Aku kembali menatap wajahnya dan berkata dengan tenang, "Aku nggak suka."

Ekspresi Owen membeku sejenak. Dia menatapku cukup lama sebelum meletakkan kotak itu di atas nakas, lalu membujuk dengan suara lembut, "Aku tahu kau marah karena aku melewatkan perayaan hari ulang tahun pernikahan kita. Tapi ini proyek bernilai miliaran, aku benar-benar nggak bisa pergi begitu saja. Aku minta maaf."

"Kalau kau nggak suka hadiahnya, aku bakal menggantinya dengan yang lain. Jangan marah lagi, ya, Sayang?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 11

    Tatapanku sempat terhenti sejenak, tetapi aku tidak terlalu memikirkannya. Aku langsung naik ke lantai atas dan membawa koperku turun.Sebelum pergi, aku menoleh untuk terakhir kalinya ke tempat yang telah kutinggali selama delapan tahun ini.Dulu, tempat ini menyimpan cinta paling tulus yang pernah kumiliki.Aku pernah mengira tempat ini akan menjadi tempatku tinggal seumur hidup.Namun, tidak kusangka, hanya dalam waktu delapan tahun, seluruh cinta itu telah berubah menjadi kehampaan, dan aku sendiri telah kehilangan jati diriku.Tiba-tiba pintu terbuka dari luar."Naura, kau pulang ...."Aku menoleh dan memandang orang yang datang itu. Sesaat, aku tertegun.Janggut Owen tampak tidak dicukur selama beberapa hari. Penampilannya terlihat lusuh dan terpuruk."Naura, kau mau pergi?"Aku mengangguk."Surat cerai sudah kau tanda tangani?""Naura, masalah Almira sudah kuselesaikan. Mulai sekarang, dia nggak bakal mengganggu kita lagi. Aku bersumpah, kali ini aku benar-benar tahu aku salah.

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 10

    Ketika Almira sekali lagi didorong ke dalam pelukan Owen yang sedang mabuk, pada akhirnya dia gagal menahan diri.Setiap kali selesai berselingkuh, dia selalu berusaha menebus kesalahannya dengan memperlakukan Naura jauh lebih baik, seolah dengan begitu pengkhianatannya bisa terhapus.Bahkan alasan Almira bisa mengandung juga karena setelah Naura keguguran akibat tekanan, dia tidak pernah berhasil hamil lagi.Owen berpikir bahwa jika ada seorang anak, Naura juga akan memiliki tempat untuk mencurahkan kasih sayangnya.Namun, dia tidak pernah menyangka Naura juga akan hamil pada saat yang sama. Semuanya terjadi begitu kebetulan, hingga dia tidak memiliki kesempatan untuk menghindar ataupun memperbaiki keadaan."Naura, izinkan aku berusaha untuk terakhir kalinya. Kalau setelah itu kau tetap nggak mau memaafkanku, aku ... aku ...."Owen mengepalkan tangannya. Bahkan hanya membayangkannya pun, dia merasa tidak sanggup.Dia mengusap air mata di sudut matanya, lalu melangkah menuju pintu kelu

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 9

    Nenek menatap Owen dengan sorot mata yang rumit, lalu mengajukan sebuah pertanyaan."Owen, masih ingat seperti apa Naura ketika pertama kali kau membawanya pulang ke rumah?"Owen tertegun sesaat dan teringat pada Naura saat itu.Sensitif, penakut, dan tidak pernah mudah membuka hatinya kepada orang lain.Naura adalah teman sebangkunya di SMA. Owen jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Saat itu, Owen berusaha sekuat tenaga untuk memperlakukannya dengan baik, tetapi tidak pernah mendapatkan balasan.Bahkan tidak pernah memberinya tatapan lebih.Owen sangat kecewa dan pernah berpikir untuk menyerah.Namun, suatu hari, sepulang sekolah, dia melihat Naura sedang dirundung oleh seorang bocah laki-laki, tetapi Naura hanya diam menerimanya.Owen tidak tahan melihatnya dan maju untuk memberi pelajaran kepada anak itu. Awalnya, dia mengira Naura akan mulai memandangnya berbeda.Namun, keesokan harinya, dia justru melihat Naura datang ke sekolah dengan pipi bengkak.Setelah mencari tahu, di

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 8

    Sejak saat itu, aku pun tinggal di rumah lama.Sejak ibu meninggal, nenek adalah satu-satunya orang di dunia ini yang pernah memberiku kasih sayang seorang orang tua.Aku menepuk pelan bahunya untuk menenangkannya, lalu berkata dengan suara lembut, "Nenek, aku nggak apa-apa. Semuanya sudah berlalu.""Aku sudah mengetahui semuanya dengan jelas. Kalau bukan karena wanita nggak tahu malu itu datang membuat keributan di hadapanku, aku nggak bakal tahu kalau bocah brengsek itu berani melakukan hal sehina ini."Dari cerita nenek, barulah aku tahu bahwa hari itu Owen membawa Almira untuk menggugurkan kandungan.Sebelum Almira masuk ke ruang operasi, Owen kebetulan melihatku yang baru keluar dari ruang operasi.Saat Owen sibuk terlibat pertengkaran denganku, Almira diam-diam kabur dari pintu samping menuju rumah lama.Dia memohon kepada nenek, demi anak Keluarga Hermanta yang sedang dikandungnya, nenek mau membiarkan garis keturunan ini tetap ada.Melihatku terdiam, nenek menggenggam tanganku

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 7

    "Hari ini, aku bukan menemaninya untuk pemeriksaan kehamilan. Aku cuma ...."Aku tertegun sesaat.Enam tahun lalu, Owen juga seperti ini, menangis sambil mengatakan bahwa semuanya itu hanyalah kecelakaan, bahwa dia akan mati tanpa diriku."Sudahlah. Nggak penting lagi." Aku memotong ucapannya dengan tenang, lalu mengeluarkan surat cerai dari dalam tas."Owen, cintamu terlalu murahan dan terlalu kotor. Simpan saja buat orang lain, aku nggak sanggup menerimanya.""Mungkin ini juga lebih baik. Di antara kita nggak ada lagi ikatan karena anak. Dia juga nggak perlu datang ke dunia ini cuma buat menderita.""Sebenarnya aku berencana mengirimkannya kepadamu. Kebetulan kita bertemu sekarang, jadi tanda tangani saja."Aku mengembuskan napas perlahan dan menegakkan tubuh. Rasa sakit di perutku seolah tiba-tiba berkurang.Duri itu memang sudah seharusnya dicabut sejak lama.Hanya saja, beban perasaan yang kupikul terlalu berat, sampai aku pernah berpikir bahwa aku tidak akan bisa hidup tanpanya.

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 6

    Wajah Owen langsung berubah. Tatapannya dipenuhi kepanikan selama beberapa detik. Setelah lama terdiam, dia memaksakan sebuah senyum."Naura, jangan bercanda. Lelucon seperti ini sama sekali nggak lucu."Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tenang.Dengan ekspresi tidak percaya, Owen membaca lembar itu berulang kali.Tiba-tiba dia mengepalkan tangannya erat-erat hingga kertas itu menjadi gumpalan kusut.Detik berikutnya, dia mendongak. Kedua matanya memerah."Naura, kenapa? Itu anak yang sudah kita nantikan selama enam tahun. Bagaimana bisa kau ... bagaimana kau tega ...."Aku tertawa sinis."Kenapa aku nggak tega?""Masih ingat bagaimana anak pertama kita dulu pergi? Sekarang cuma sejarah yang terulang. Bedanya, kali ini aku nggak bakal sebodoh dulu untuk memercayaimu lagi."Wajah Owen yang semula dipenuhi amarah langsung membeku. Dia tampak panik sesaat, lalu buru-buru meraih tanganku."Naura, aku nggak tahu siapa yang mengatakan hal-hal nggak masuk akal itu kepadamu. Tapi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status