Short
Istriku Mengambil Ginjalku Demi Cinta Pertamanya

Istriku Mengambil Ginjalku Demi Cinta Pertamanya

By:  AnonimaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Demi menyelamatkan cinta pertamanya yang menderita uremia, istriku, yang seorang hakim, dengan seenaknya memberikan salah satu ginjalku kepada cinta sejatinya. Aku menjelaskan kepada istriku bahwa aku menderita gagal ginjal. Aku pasti akan meninggal jika melakukan transplantasi ginjal lagi. Namun, istriku membentakku dengan penuh kebencian, "Penyakit Dennis sudah begitu parah, tapi kamu masih cemburu dan berusaha merebut perhatianku! Apa kamu nggak punya hati nurani?!" Atas desakan istriku, aku dikirim ke rumah sakit untuk menjalani transplantasi ginjal. Terakhir, karena gagal ginjal yang makin memburuk, aku meninggal secara tragis di sudut rumah sakit yang sepi.

View More

Chapter 1

Bab 1

Saat Tivia Kusuma berjaga di luar bangsal Dennis Santoso, aku terbaring di meja operasi yang dingin, menunggu kematian dalam keputusasaan.

Selang-selang dimasukkan ke seluruh tubuhku, suara mesin-mesin bagaikan panggilan Malaikat Maut, yang mengingatkanku bahwa ajalku sudah tiba.

Sampai elektrokardiogramku berubah menjadi garis lurus, dari bangsal Dennis terdengar kabar bahwa operasinya berhasil, lampu darurat di ruang operasi padam, dan mataku pun terpejam selamanya.

Mungkin karena menyimpan banyak dendam saat masih hidup, jiwaku terus berada di sisi Tivia.

Melihat Tivia memeluk Dennis, yang nyaris lolos dari kematian, dengan air mata berlinang di matanya, hatiku terasa hancur.

Aku ingin bertanya kepada Tivia, ketika kami berdua dibawa ke ruang operasi, apa dia pernah khawatir tentang hidup matiku bahkan hanya untuk sesaat pun?

Jawabannya adalah tidak. Lagi pula, Tivia menggugatku karena penyakit Dennis. Tivia menyewa pengacara paling terkenal di industri, dan pada akhirnya aku kalah.

Saat ginjalku diangkat, aku sangat kesakitan di ruang operasi hingga punggungku basah kuyup oleh keringat. Aku meneleponnya, lalu bicara dengan nada suara memohon, "Istriku, aku yang salah. Tolong jangan ambil ginjalku. Ini sangat menyakitkan. Aku sudah mau mati."

Aku tidak pernah menyerah di hadapan Tivia sebelumnya. Aku berpikir, selama aku mengakui kekalahan dan menerima semua tuduhan yang tidak berdasar, Tivia mungkin akan mengampuni nyawaku mengingat hubungan kami yang telah berjalan selama lima tahun.

Namun, Tivia justru tertawa sinis di telepon.

"Mengakui kesalahan adalah hal yang seharusnya kamu lakukan. Bisa menyelamatkan nyawa Dennis juga merupakan suatu keberuntungan bagimu. Jangan kira kamu bisa mengelabuiku, dan jangan kira kamu nggak perlu minta maaf hanya karena kamu mendonorkan ginjalmu pada Dennis. Selama bertahun-tahun, kamu sudah melakukan banyak hal yang menyakiti Dennis. Aku akan membahas dendam ini denganmu setelah Dennis sembuh."

"Kamu ingin mati? Kalau begitu, sebelum mati, kamu juga harus minta maaf pada Dennis!"

Aku mencoba membuka mulutku yang pecah-pecah, ingin menyangkal bahwa bukan aku yang melakukan hal-hal yang direkayasa itu, tetapi aku sama sekali tidak punya tenaga lagi.

Emosi Tivia sepertinya masih belum reda. Dia kemudian berkata kepadaku dengan garang, "Kamu yang seperti ini membuatku jijik!"

Bersamaan dengan panggilan berakhir, hatiku juga hancur. Begitu pula dengan perasaanku pada Tivia selama lima tahun pun ikut lenyap.

Tivia menyebutku menjijikkan, tetapi ketika dia menikahiku, dia mengatakan dengan penuh kasih sayang bahwa dia akan mencintaiku seumur hidup. Dia juga mengatakan aku adalah pilihan pertamanya, pengecualiannya, dan juga yang paling disukainya.

Namun begitu dia memiliki Dennis, dia melupakan aku yang notabene suaminya ini.

Tivia dengan lembut mengelus wajah Dennis, seolah sedang memandang harta karun yang rapuh.

"Syukurlah, kamu masih hidup .... Syukurlah."

Suaranya yang tercekat, matanya yang merah, menunjukkan bahwa Tivia tidak tidur sepanjang malam karena Dennis.

Namun, ketika Tivia mengkhawatirkan Dennis, apa dia memikirkan fakta bahwa aku sudah meninggal?

Dennis memaksakan bibirnya yang pucat untuk terbuka.

"Tivia, maaf sudah membuatmu khawatir. Di mana Sandy? Apa dia masih marah padaku? Aku akan minta maaf padanya sekarang juga."

Sembari berbicara, Dennis berusaha untuk duduk tegak. Upaya pura-puranya itu terlihat jelas bagi siapa pun yang tidak buta, kecuali Tivia.

Benar saja, Tivia dengan lembut menekan Dennis agar berbaring kembali dan dengan penuh kasih sayang mengelus kepalanya.

"Dasar bodoh. Yang seharusnya minta maaf itu Sandy. Memangnya kamu salah apa? Kamu itu terlalu baik hati. Itu sebabnya, kamu mudah ditindas orang."

Perawat memandang mereka berdua dan tak kuasa menahan diri untuk menggoda mereka.

"Kalian benar-benar pasangan yang saling mencintai."

Sambil berbicara, dia menatap Dennis.

"Saat Anda menjalani operasi, istri Anda menunggu di lorong sepanjang malam dan nggak pernah pergi."

Dennis tersipu, dan Tivia hanya tertegun sejenak, tetapi tidak berniat menjelaskan kesalahpahaman tersebut.

Perawat kemudian mengganti topik pembicaraan dan menghela napas panjang.

"Nggak seperti ruang operasi di sebelah. Pasien itu datang sendirian, dan bahkan setelah meninggal, nggak ada kerabat yang datang untuk mengurus jenazahnya. Kasihan sekali."

Ekspresi Tivia sedikit melunak, dan secercah harapan menyala di hatiku. Jika Tivia bisa menyimpulkan bahwa orang malang itu adalah aku, akankah dia mengasihaniku dan mengurus jenazahku?

Setelah menunggu sekian lama, Tivia hanya bisa menghela napas.

"Ya, kasihan sekali."

Mataku meredup, dan aku tertawa mengejek diriku sendiri. Pikiran dan perhatian Tivia saat ini dipenuhi oleh Dennis, bagaimana mungkin dia bisa memikirkan aku?

Tivia tidak melanjutkan pembicaraan itu, tetapi mengikuti perawat mendorong Dennis masuk ke bangsal.

Saat melewati ruang operasi tempat di mana tubuhku tergeletak, Tivia sempat berhenti. Dia melirik ke dalam dan melihat tubuhku yang dingin terbaring di sana. Kakiku menghadap pintu, menghalangi siapa pun untuk melihat wajahku.

Namun jika Tivia melihat lebih dekat, dia bisa melihat luka di pergelangan kakiku, yang kuperoleh saat menyelamatkannya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status