ログインThey called me a gold digger. A barren fool. A street rat in designer heels. For three years, I played the perfect wife to an aging, cheating husband. I bit my tongue through their cruel snickers, desperate to earn a place in a family that never wanted me. I endured everything—humiliation, betrayal, loneliness—all for a child that never came. But when my arrogant stepdaughter brought home her shiny new fiancé that fateful evening, fate handed me a new game to play. This time, I wasn’t begging to belong. This time, I was ready to burn it all down—with a smile on my face.
もっと見る“Sean, hentikan! Sampai kapan kamu akan terus seperti ini?”
Rai mencoba menyambar gelas kristal di tangan sang kakak tapi ditampik dengan kasar. Sean, pria berumur dua puluh sembilan tahun dengan wajah tampan dan rahang tegas itu nampak tidak suka.
“Aku bukan pasienmu, untuk apa kamu urusi? pergi dari sini!” usir Sean dengan nada suara tinggi.
Adikara Sean Tyaga, Putra tertua dari orang terkaya nomor satu di negara ini sedang patah hati, nenek yang sangat dia kasihi baru saja meninggal dunia dan wanita yang dia cintai menghianati.
“Omano pasti akan sedih melihatmu seperti ini, Sean!” bujuk Raiga, adik kandung Sean yang berumur dua tahun di bawahnya.
Rai menyugar rambut frustrasi, dia tak menyangka kakaknya akan terpukul sampai seperti ini, setelah Nova – sang nenek meninggal dunia. Sean bahkan memilih untuk pergi dari rumah, sudah tiga hari dia menginap di sebuah hotel bintang lima di kotanya.
“Sudahlah kamu memang butuh waktu, tapi dengarkan aku! Mama sedih, dia tidak mau makan karena kamu pergi.”
Rai akhirnya memilih keluar kamar tipe president suit yang ditempati Sean. Kakaknya sangat keras kepala dan tidak bisa dibujuk.
Sementara itu, di private room hotel yang sama. Beberapa orang tengah berpesta. Mereka adalah orang-orang dari sebuah kantor bernama LPA. Direktur mereka akan mencalonkan diri sebagai wali kota, sebuah prestasi membanggakan karena menjadi wanita pertama sepanjang sejarah, yang maju ke kancah pemilihan melalui jalur independen.
Zie mengangkat gelas minuman sodanya, meski tengah berpesta tapi Zie melarang teman-temannya untuk memesan minuman keras. Namun, siapa sangka di antara orang-orang itu ada satu musuh dalam selimut yang ingin menjatuhkannya.
Beberapa jam setelah pesta selesai dan semua temannya pulang, Zie merasakan sesuatu yang aneh di tubuh, badannya terasa panas hingga menggesekkan kedua pahanya. Zie memilih berjalan cepat untuk keluar dari hotel dengan menahan perasaan tidak nyaman. Hingga seseorang menarik tangannya dan merapatkan tubuh Zie ke dinding.
“Si-si- siapa kamu?” tanya Zie terbata.
“Aku pendukungmu, tapi aku juga … “
Pria berwajah manis itu menjeda kata, dia bingung harus menjelaskan bahwa dirinya adalah gigolo yang dibayar untuk melakukan hal tak senonoh pada Zie.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya pria itu sambil menyeret Zie masuk ke dalam lift agar orang yang sedang memata-matai tidak melihat.
“Tolong dengarkan aku! pergilah ke kamar president suit nomor 712, tinggal di sana malam ini dan kunci kamarnya, kamu bisa berguling-guling, mandi air dingin atau apapun tapi jangan keluar sampai reaksi obat itu hilang.”
Pria itu memberikan kunci kamar ke tangan Zie.
“Obat? Obat apa?”
Zie mulai kehilangan kontrol diri, dia merasa sangat nafsu bahkan ingin menerkam pria asing di depannya ini.
“Aku mohon! Aku tidak bisa melakukan ini, percayalah! Aku pendukungmu!”
Pria itu kabur begitu saja saat lift terbuka di lantai lima, meninggalkan Zie yang kepanasan dengan mulut terbuka dan tertutup, menahan gelenyar aneh yang menggerayangi tubuh.
Zie akhirnya berpikir, mungkinkah dia baru saja menenggak semacam obat perangsang, tapi bagaimana bisa, siapa yang memberikan obat itu padanya?
Inti tubuhnya terasa sangat gatal, bahkan dia ingin mencengkeram dan mencakar apapun karena birahinya terasa menggebu-gebu.
Tiba di lantai tujuh, Zie bergegas mencari kamar 712, hingga langkahnya terhenti karena melihat Sean berjalan sempoyongan keluar dari kamar nomor 711.
Zie mematung karena kaget bertemu Sean di sana, baginya pria itu bukanlah pria biasa, Sean adalah pria yang disukainya sejak remaja.
Dada Zie naik turun, apa lagi melihat wajah Sean yang sangat rupawan. Dua kancing teratas kemeja pria itu nampak terlepas, tapi dia memilih untuk tak peduli dan tetap melangkahkan kaki, sudah lama dia tidak berinteraksi dengan pria yang sangat dingin kepadanya itu.
Zie berhasil mengabaikan Sean, hingga tak disangka pria itu tiba-tiba ambruk, dan membuatnya seketika menoleh untuk memastikan. Perasaan cinta yang terpendam di hati Zie membuatnya tak bisa lagi abai. Ia mendekat meski perasaan aneh akibat obat perangsang terus menggerogoti.
“Sean, apa kamu baik-baik saja?” tanya Zie.
Gadis itu seketika menjauh karena mencium aroma alkohol yang begitu pekat dari tubuh Sean.
“Sean, apa kamu mabuk?” tanya Zie lagi, kini dia berusaha mengangkat tubuh putra tertua Daniel Tyaga itu.
Sekuat tenaga, Zie memapah Sean masuk ke dalam kamar kembali. Tak berniat menutup pintu, tapi pintu kamar president suit itu mengayun dan menutup sendiri. Zie pun merebahkan tubuh Sean ke ranjang, dia hendak pergi karena takut, melihat Sean tubuhnya semakin bereaksi. Zie mencoba menahan diri dengan mengepalkan telapak tangan sampai kukunya memucat dan tiba-tiba saja Sean meracau.
“Wanita jahat!”
Zie memutar tumit kembali, dia menalan saliva bertekad untuk tak lagi peduli dengan Sean. Namun, pria itu malah bangun dan langsung memeluk pinggangnya dari belakang.
“Ra, apa kamu datang untuk membujukku? apa kamu merasa bersalah sudah mencium pria itu?”
Zie terbeku, tangannya meremas celana bahan yang dikenakan. Dia tahu Sean sangat mencintai kekasihnya. Gadis itu memejamkan mata, tubuhnya serasa hilang kendali karena nafsu semakin tak terbendung. Ia berontak, tapi di saat mencoba sekuat tenaga untuk lepas dari pelukan Sean, pria itu malah membalik tubuh dan menyatukan daging tak bertulang mereka. Sean melumat bibir atas dan bawah Zie bergantian dan semakin membuat gadis itu kehilangan akal sehat.
“Apa yang aku lakukan? apa aku sudah gila?”
Zie yang sedang berada di bawah pengaruh obat perangsang membiarkan Sean menggerayangi tubuhnya. Dia malah senang dan merasakan sensasi nyaman. Zie terbuai, cintanya bertahun-tahun ke Sean dan efek obat perangsang membuat logika tak lagi berjalan, hingga dia membiarkan saja Sean melucuti pakaian mereka, pria itu mencurukkan kepala ke leher dan mencumbui dadanya dalam kondisi mabuk.
Meski berada di bawah pengaruh obat, Zie dengan sadar melepas mahkotanya yang berharga. Ia meremas bagian belakang kepala Sean saat pria itu menindih dan mengambil kesuciannya. Zie menggigit bibir bawah, dia memejamkan mata karena merasakan rasa sakit bercampur nikmat di bawah sana. Cengkeramannya ke tubuh Sean semakin erat, dia pasrah saat tubuhnya terhempas mengikuti hentakan pria itu.
“Sean!” lirih Zie.
Astra's POV"Astra is a lovely name," Roman said, hands in his pockets. "I would never have guessed I'd be calling my mother-in-law that.""What are you doing here?" I hissed."Should I be asking you that?!" His eyebrow furrowed. His eye blazed into mine."I have nothing to say to you," I made to leave, but he stood in the way.Silence settled between us like a wet shroud. "I need to go.""Where? To be with your aging husband?""Oh, shut up, Roman." I shot him a glare. "You left me!""And you married that old skunk?!""Well, look who's marrying the old skunk's daughter."He groaned frustratedly. "I'm not even here because I want to marry her. I'm here because I don't!"What does that even mean?"You're not here to call off the engagement, are you?""How can I call something off that I didn't consent to in the first place. The Damaris…your old skunk of a husband basically shoved this offer down my throat."I scoffed impatiently. "Lucien can't shove anything down your throat, Roman. Ev
Roman POVIt's her! I knew she was here the moment I walked into this house. It was confusing at first until…now. After all these years, she's as beautiful as the first time I saw her."Roman," Cherry's high-pitched voice sliced through my thoughts. "Meet my stepmother, my father's old little trophy, Astra."Step- what?Did I hear that correctly? This has to be a sick joke. I looked from Astra to Lucien. She married this old skunk?What the fuck?!"You're married?" I spat at Astra. I couldn't help getting pissed."And you're just about to get married." Astra spat back. I could see her shocked gaze fade to irritation. "You guys know each other?" Cherry's wide blue eyes darted between us, awaiting an explanation."Yes," I spat just as soon as she spat her "No," Our gaze blazed at each other, making Cherry even more confused."We don't know each other," Astra said with finality, her gaze swinging from mine to Cherry's. Lucien approached us and threw his arms over her waist, pulling he
Astra's POV"You look stunning, ma'am!" Maria cooed at my dress as I stepped out of my room. Thank God all she saw was my dress, not my reddened eyes. I cried while I dressed, did my hair, and put on makeup. "Thanks, Maria." I feigned a smile."Are you alright ma'am?" Maria's eyes caught mine. I quickly looked away. "Oh, I'm great, Maria." I sniffled and smiled quickly. Maria was the only staff member here who was nice to me. Others treated me like the dirtbag Cherry and Lucien assumed me to be. "How's the preparation for Cherry's fiancé's coming?" "The table is set ma'am. All the food courses will start rolling in once he sits on the table. We…”There I zoned out again. My mind filled with horrid thoughts of what would happen next, now that I've been served with a divorce. My life is over, yet here I am, tucked in a party dress, smiling like a fool. "Excuse me, Maria." My voice cuts through hers, and I push myself forward, walking away. I wish I could run, hide, or just be invisi
Roman's POV"It's ill luck to speak against the dead, Roman." Mother scolded me on the phone.I rolled my eyes, my gaze settling on the moving streets. I'm fashionably late for my meeting with Lucien and my so-called wife-to-be. Tim, my driver, is zooming through the street like being too late to this meeting could cost him his job. "Mum, I'm only saying I wish Dad didn't sign the marriage clause in his contract with Lucien. Why do I have to get married to Lucien's daughter to reclaim my rights to the Lotus-tale park?""We've talked about this, Roman. Your father and Lucien were great friends and partners. He wouldn't have signed it if he didn't trust Lucien.""Well, mom. Dad was fooled." My voice cut through hers. "I went through the records, mum. Lucien is manipulating the contract terms. He is cutting down workers' salaries significantly, enriching himself and making conditions hard for workers in the park."Mother sighs. "Son, I know you won't leave your billion-dollar business a
Astra's POVI lay on the bed in my dark lingerie, my head resting on my palm as I waited for my husband to arrive from his trip. It was a chilly night, and all I wanted was to be tucked in my cotton robes, snuggling in the sheets he left me in for four weeks now.But I heard Lucien, my middle-aged












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.