LOGIN* Beberapa bulan kemudian * Sudah sekitar 6 bulan pernikahan mereka, kini Chesia terlihat sedang mengandung anak mereka, bulan ini usia kehamilannya 5 bulan. Perutnya sudah mulai membuncit namun masih belum terlalu besar karena baru 5 bulan. Chesia kini tampak sedang duduk santai di taman belakang rumahnya dengan Seriazer sambil nyemil dan membaca novel. Wanita itu tampak santai menghabiskan waktu si sana dengan dunianya sendiri sampai tidak sadar ada yang mendekat dari arah belakang dan langsung memeluknya. Chesia tersentak kaget dan menoleh mendapati wajah suaminya yang baru pulang dari kantor sedang bersandar di bahunya. " Udah pulang? Kok nggak salam? Kaget aku" ucap Chesia mengelus punggung tangan suaminya yang berada tepat di atas perutnya. " Udah salam kok tadi, tapi nggak ada yang nyahut, jadi aku datang ke sini" jawab Seriazer semakin endusel manja pada Chesia. " Oh iya kah? Maaf ya, kayaknya aku keasyikan baca novel" ringis Chesia mengusap lembut kep
Seriazer telah satu Minggu di Indonesia. Selama itu juga, pemuda itu tak pernah terlihat diam sebentar saja di rumah nya, kalau nggak kekantor ya ke rumah Chesia. Ia hanya pulang malam untuk beristirahat membuat paman nya geleng-geleng kecil namun tetap membiarkan karena dari dulu Seriazer memang tak pernah berdiam lama-lama di rumah, Selalu ada saja kegiatannya, takau nggak ke danau ya ke perpus, kalau nggak ya.. ngintilin Chesia dari jauh. Malam sudah terlihat larut, Seriazer yang sedang menuang air minum di dapur menoleh saat melihat Rizky sedang duduk di meja makan sendirian. " Om, belum tidur?" Tanya Seriazer mendekat. " Nggak bisa tidur. Om tiba-tiba kangen sama Tante kamu" ucap Rizky membuat Seriazer menyernyit. " Kamu belum tau kan? Om dulu punya pacar, tapi putus karena saling gengsi dan ego yang sama-sama tinggi, sampai sekarang om masih belum bisa move on dari calon Tante kamu itu. Tapi.. dia udah nikah sama cowo lain sekarang" curhat Rizky membuat S
Chesia dengan cepat langsung melaju di depan Seriazer yang sedari tadi mengikutinya dengan santai di belakang. " Eci! Belok kanan dulu!" Seru Seriazer namun Chesia dengan cepat menggeleng dan memeletkan lidah meledak saat menoleh sedikit ke belakang. Seriazer yang melihat itupun terkekeh kecil dan menggeleng pelan. " Dasar bocah" gumam Seriazer akhirnya pasrah mengikuti gadis itu. Chesia sampai di depan rumahnya dan langsung memarkirkan motornya di depan gerbang. " Eh udah pulang non Chesia? Mau di masukin nggak motornya?" Tanya pak satpam yang dengan sigap berdiri. " Iya pak, ini kuncinya, makasih ya" ucap Chesia lalu berdiri di depan gerbang dengan tangan berkacak pinggang, seolah menunggu musuh bebuyutan. Motor Seriazer akhirnya sampai dan pemuda itu langsung membuka helm lalu turun dari motornya. " Kenapa mukanya masih di tekuk gitu? Masih marah hmm?" Tanya Seriazer lembut menghampiri Chesia dan merapikan rambut gadis itu karena habis ngebut di jalanan.
Hari berganti terasa sangat cepat, bahkan tidak terasa kini sudah lima tahun sejak kejadian di bandara yang menguras air mata. Chesia terlihat lebih dewasa karena ia sekarang bukan lagi murid SMP melainkan mahasiswi di salah satu universitas yang ia impikan sedari dulu. Chesia terlihat sedang fokus pada dosen yang sedang mengajar di depan, sesekali tangannya akan mengetik cepat di handphone nya. Ia sedang chatan dengan Seriazer namun masih bisa mendengarkan walaupun sesekali akan tersenyum sendiri. " Chesia, nanti mau nongki dulu nggak di cafe depan?" Bisik teman Chesia namun tak ada sahutan karena Chesia sedang berbunga-bunga dengan chat Seriazer. " Chesi.. Chesia!" Panggil temannya itu membuat satu kelas termasuk dosen di depan menatap mereka berdua. Chesia sendiri sudah malu setengah mati apalagi melihat ekspresi teman sekelasnya yang sudah menahan tawa masing-masing. " Ada apa itu?" Tanya sang dosen menatapi keduanya. " Ohh.. nggak kok pak, tadi itu ada
Suasana bandara yang ramai siang itu seolah lenyap dalam pandangan Chesia. Gadis itu terus menangis dalam pelukan ayahnya tanpa peduli beberapa orang yang lewat memperhatikan nya yang menangis keras. Tivane dan Rigecherta hanya bisa menghela nafas kecil dan memilih menenangkan gadis itu dulu. " Kakak apaan deh? Alay banget" celatuk Vergean menatap kakak nya jengah. " Mamih.. aku masih mau ketemu sama kak Azer, aku masih pengen ngobrol sama dia.." lirih Chesia sesenggukan. " Mami udah bilang dari kemarin. Udah jangan jangan nangis lagi" ucap Tivane lembut mengusap air mata putri sulungnya itu. " Tapi sekarang gimana? Aku tau aku salah. Tapi aku juga nggak tau kalau dia hari ini mau berangkat" ucap Chesia menunduk dalam. " Sudah jangan nangis." Ucap Rigecherta menenangkan sambil memegang pundak putrinya. " Beneran udah berangkat ya?" Tanya Kiara terdiam di samping Rizky. Saat semua orang berusaha menenangkan Chesia. Seriazer datang dari belakang gadis
Setelah sesi foto bersama, Seriazer langsung pergi tanpa menunggu apa-apa lagi. Motornya melaju cepat di jalanan, sementara pikirannya penuh oleh pertanyaan mengapa Chesia tiba-tiba marah padanya serta kemungkinan kemungkinan buruk yang terus terngiang membuat kepalanya terasa penuh. Setelah sampai di depan gerbang rumah Chesia, pemuda itu langsung turun dari motor nya dengan cepat lalu melihat ke dalam karena gerbang itu tertutup. " Pak satpam!" Panggil Seriazer sedikit keras saat melihat ada satpam yang berjaga di sana. Satpam itu terlonjak dan bangun dengan cepat karna tadi sempat ketiduran. " Siapa den?" Tanya si satpam mendekat. " Temen Chesia pak, Chesia nya ada di dalam nggak?" Tanya Seriazer membuat pria itu menggeleng pelan. " Belum pulang den, tadi katanya mau jumpain temen." Jawab si satpam membuat Seriazer menyernyit heran. " Belum pulang? Dia ada bilang nggak tadi mau kemana?" Tanya Seriazer lagi. " Nggak ada den. Katanya suruh saya
Rigecherta menarik tangan Tivane untuk masuk ke rumah nya. Rigecherta masuk sambil melepas sepatu. " Rige pulang!" Ucap Rigecherta sambil membuka sepatunya dan langsung duduk di sofa di ikuti oleh Tivane yang duduk canggung tak jauh darinya. "Udah pulang dek?" Ibu Rigecherta datang dari dap
Keesokan harinya Tivane berangkat ke sekolah lebih semangat karena ia ingin menjumpai Rigecherta. ' sorry bikin lo nunggu lama Rige ' Tivane berkata dalam hati. "Papa boleh tanya sama kamu?" Tanya Aliandra saat mereka sedang berada di mobil dalam perjalanan ke sekolah. "Mau tanya apa pah?" Tan
Kini semua sedang berkumpul di meja panjang yang sudah di siapkan di belakang rumah Tivane tersebut. Rigecherta dan Tivane di tengah-tengah, ayah Tivane di ujung kiri dan ibu Tivane di ujung lainnya. Semuanya makan sambil mengobrol dengan ceria, suasana terasa hangat serta pemandangan yang in
Rumah Tivane dan Rigecherta kini terasa sangat hangat dan penuh karena par sahabat mereke yang masih setia di sana sampai sore hari. Bahkan saat siang tadi beberapa dari mereka ada yang tertidur karena lelah atau mengantuk dengan cerita yang lainnya mungkin. Kini Tivane sudah duduk di ter







