FAZER LOGINMalam itu Chesia terlihat sedang membaca buku di meja belajarnya. Pintu terbuka memperlihatkan Vergean yang datang dengan santai dan langsung duduk di atas ranjang kakaknya. Chesia menoleh dengan mata memicing dan mendengus melihat tingkah adeknya itu. " Lain kali kalau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu" ucap Chesia menasehati namun Vergean hanya mengangkat bahu santai. " Emang kakak orang?" Ucap Vergean seenak jidat membuat Chesia langsung melemparnya dengan bantal. " Kalau gue bukan orang berarti lo juga bukan orang bego" ucap Chesia kesal. " Iya. Kan aku manusia" jawab Vergean santai. Chesia menarik nafas dalam dan berbalik badan. Jika adu argumen dengan adiknya pasti tidak akan pernah selesai. " Eh btw kak!" Panggil Vergean memainkan bantal kakaknya. " Kenapa?" Tanya Chesia ogah-ogahan. " Kakak pacaran ya sama kak Azer? Nempel mulu perasaan beberapa hari ini" ucap Vergean menatap kakak nya. " Ya apa masalahnya sama lo sih? Suka-s
Seriazer dan Chesia menghabiskan waktu di sana, bahkan sampai sore keduanya masih betah berlama-lama disana karena Chesia yang penasaran selalu berkeliaran kesana kemari memperhatikan teh hijau yang terlihat tumbuh dengan bagus itu lalu sesekali akan berfoto saat menemukan spot bagus. Bahkan beberapa ulat bulu di atas pucuk teh saja ia foto. Seriazer dengan sabar tetap menemani dan mengikuti sambil memantau kelakuan gadis itu. Takut tiba-tiba nyentuh yang bikin gatal nanti malah rusuh. " Laper nggak? Kita belum makan dari tadi loh" ucap Seriazer membuat Chesia tersentak baru ingat. " Oh iya. Nggak terasa karena dari tadi main hehe" ucap Chesia meringis. " Ayo makan. Kakak udah siapin makanan di sini" ucap Seriazer menarik tangan Chesia menuju tempat yang lumayan sejuk dari pada kebun itu . Di sana sudah tersaji makanan yang di tata di atas tikar. " Waahh.. ini kakak yang siapin?" Tanya Chesia berbinar. " Iya. Ayo makan" ajak Seriazer duduk lebih dulu di i
Chesia berjalan cepat menuju toilet dan meruntuk malu dengan wajah panas luar biasa. Chesia menatap pantulan dirinya di cermin dan mulai menyalakan keran untuk membasuh muka. " Aduh.. gue ngapain gilaa? Ini bukan mimpi kan? Ini serius kan? Beneran gue cium dia? Ihhh.." Chesia memekik tertahan dengan tangan memukul pelan pipinya. " Nggak, nggak bener. Ini nggak mungkin.. tapi.. tadi gue udah cium pipi diaaa" rengek Chesia hampir lemas sambil memegangi pipinya. " Gila, gue udah gila. Tapi dia lebih gila.. bisa-bisa nya dia minta kayak begitu. Gue pikir bakalan minta traktir atau setidaknya... Minta nge date- eh. Enggak.. nggak lah.." ucap Chesia tanya sendiri jawab sendiri di sana. " Gue malu banget mau ketemu dia.. gimana ya ini?" Tanya Chesia mondar-mandir tidak jelas lalu berhenti dan menatap kembali wajahnya di cermin. " Oke. Calm down. Santaii it's oke. Ayo keluar" setelah menarik nafas dalam-dalam akhirnya Chesia memilih keluar dari dalam toilet dan berjala
Pagi itu tampak cerah dan hangat saat matahari mulai terbit malu-malu di ufuk timur. Seriazer sudah berada di atas kuda besinya dan melaju santai menuju rumah gadis kesayangan nya. Motor perlahan melambat dan berhenti saat sudah merasa di depan rumah Tivane. Di halaman terlihat Rigecherta sedang memanaskan mobil dengan kemeja putih di tubuhnya. " Pagi om." Sapa Seriazer sopan dan menyalim tangan Rigecherta. " Eh? pagi Azer. Cepet amat jemputnya. Udah makan belum?" Tanya Rigecherta menepuk pundak Seriazer. " Sarapan roti om" jawab Seriazer sopan. " Loh kok belum sarapan yang bener? Ayo sekalian mampir dulu. Chesia juga kayaknya belum siap" ucap Rigecherta membuat Seriazer mengangguk kecil dan menurut saat di bawa ke dalam rumah. Di dapur terlihat Tivane yang sedang memasak sarapan dengan baju guru nya dan celemek di pinggangnya. " Mamihhh!" Teriakan melengking Vergean terdengar membuat Tivane menghela nafas panjang dan berbalik badan. Tivane sedikit te
Chesia dan Seriazer kini berdiri di tengah-tengah, semua mata tertuju pada keduanya yang tampak malu-malu kucing. " Aduh.. happy banget ya pas ulang tahun ke 15 malah dapat pujaan hati" goda Ella menatap keduanya dengan wajah menggoda. " Iya ih.. iri banget gue, dulu gue umur segitu masih main air di sungai" ucap Luci membuat semua orang tertawa bersama. " Tante ih.. nggak gitu kok" elak Chesia dengan wajah memerah padam. " Udah-udah. Sini make a wish dulu." Ucap Rigecherta membawa kue itu ke hadapan Chesia. Chesia tersenyum dan memejamkan mata sambil berdoa dalam hati. Lalu Chesia membuka mata kembali dan meniup lilin. " Yeey.. makan kue!" Heboh Vergean bersama Kelly. "Suapan pertama mau di kasih sama siapa nih hayoo?" Goda River dari samping. " Sama mami dan papi" ucap Chesia menyuapi Tivane dan Rigecherta. " Ke dua buat siapa?" Goda mereka lagi membuat Chesia melirik kecil ke arah Seriazer namun terlalu malu untuk memberikan. " Udah kasih aja.
Seriazer tertegun merasakan usapan singkat yang lembut itu di puncak kepalanya. Pikirannya terasa kosong dan santai saat gadis itu melakukannya. " Nggak papa. Sini usap lagi" ucap Seriazer mengambil tangan Chesia dan meletakkan tangan Chesia dia atas kepalanya. " Eh?" Kaget Chesia dengan mata melebar. " Usap lagi dong. Kakak suka." Ucap Seriazer membuat Chesia mendelik dan terkekeh kecil. " Modus" ucap Chesia namun tetap menuruti. Tangannya bergerak pelan di atas kepala Seriazer. " Mana ada modus. Kalau modus berarti kamu juga tadi modus dong" ucap Seriazer menyerang balik. " Refleks!" Ucap Chesia membela diri. " Untung refleks nya ke kakak ya, kalau ke cowo lain mereka pasti baper" ucap Seriazer tertawa kecil. " Emang kakak nggak baper?" Tanya Chesia menatap mata Seriazer dan menurunkan tangan nya dari kepala pemuda itu. " Baper lah. Siapa yang nggak baper di perhatiin sama cewe cantik?" Ucap Seriazer tengil membuat Chesia ternganga heran.
Rumah Tivane dan Rigecherta kini terasa sangat hangat dan penuh karena par sahabat mereke yang masih setia di sana sampai sore hari. Bahkan saat siang tadi beberapa dari mereka ada yang tertidur karena lelah atau mengantuk dengan cerita yang lainnya mungkin. Kini Tivane sudah duduk di ter
Kini semua sedang berkumpul di meja panjang yang sudah di siapkan di belakang rumah Tivane tersebut. Rigecherta dan Tivane di tengah-tengah, ayah Tivane di ujung kiri dan ibu Tivane di ujung lainnya. Semuanya makan sambil mengobrol dengan ceria, suasana terasa hangat serta pemandangan yang in
Rigecherta menarik tangan Tivane untuk masuk ke rumah nya. Rigecherta masuk sambil melepas sepatu. " Rige pulang!" Ucap Rigecherta sambil membuka sepatunya dan langsung duduk di sofa di ikuti oleh Tivane yang duduk canggung tak jauh darinya. "Udah pulang dek?" Ibu Rigecherta datang dari dap
Keesokan harinya Tivane berangkat ke sekolah lebih semangat karena ia ingin menjumpai Rigecherta. ' sorry bikin lo nunggu lama Rige ' Tivane berkata dalam hati. "Papa boleh tanya sama kamu?" Tanya Aliandra saat mereka sedang berada di mobil dalam perjalanan ke sekolah. "Mau tanya apa pah?" Tan







