LOGINSuasana sekolah saat itu sedang ramai. Bel akan berbunyi beberapa menit lagi.
Di dalam kelas 12 IPS 3 suasana juga sudah ramai dengan murid yang heboh karena si bendahara sedang melaksanakan tugas negara, _alias ngutip uang kas._ Suasana itu hanya di pandangi oleh Tivane yang duduk sambil main handphone di kursinya. "GOOD MORNING EVERYONE" lagi lagi suara Skyler dan River terdengar saat mereka memasuki kelas. " Sini uang kas lo!" Tagih si bendahara saat mereka baru masuk. " Set dah, baru juga gue mau nyapa lo pada" ucap River manyun dan langsung merogoh saku nya. " Gini kek lo pada, nggak perlu gue cakarin dulu tuh kantong kalian" ucap si bendahara saat sudah mendapatkan dari masing masing mereka. " Nih, uang kas si Tivane" ucap Rigecherta menyodorkan uang untuk ia dan Tivane. " Ih, mau juga dong. Masa Tivane doang yang di traktir" ucap si wakil ketua kelas. " Brisik, lo punya duit" ketus Rigecherta melenggang ke kursinya di ikuti ke tiga temannya. " Morning Vane.." sapa Skyler melihat Tivane duduk di kursinya denga santai. " Iyaa" balas Tivane mengangguk saja. " Aduh, dek Vane, cantik banget deh" goda River membuat Rigecherta langsung menatap tajam ke arah nya. " Kok lemes banget?" Tanya Rigecherta duduk di samping Tivane. " Nggak kok" jawab Tivane tersenyum tipis. " Btw kok lo duduk sendirian sih?" Tanya Tivane karena melihat hanya Rigecherta yang duduk sendirian, sementara ketiga temannya duduk satu meja. " Si River berisik, gue usir" jawab Rigecherta enteng. " Lah, jadi tuh mereka bertiga karena lo?" Tanya Tivane geleng geleng. " Ya emang tuh mejanya juga buat yang bertiga gitu, makanya di bolehin dia pindah." Jelas Rigecherta membuat Tivane mengangguk dan meletakkan kepala ke meja. "Rige Mabar yok" ajak Skyler karena bosan. Nggak mungkin masih pagi dia udah karokean kayak biasanya, kan nggak estetik masih pagi udah kumat. " Males duluan aja" jawab Rigecherta singkat sambil menatapi Tivane. " Ah, lo mah gitu, tapi kalo di ajak berenang pasti semangat." Kata Skyler mencak-mencak. " Udah lah, bertiga aja kita sini" lerai Veros pada akhirnya. Jadilah mereka Mabar bertiga karena Rigecherta tidak mau join. Sedangkan Rigecherta juga ikut meletakkan kepala nya ke meja menghadap ke arah Tivane. " Lo kenapa?" Tanya Tivane karena cowok itu berenang pagi-pagi. " Nggak sih, kenapa emang? Lagian kalo gue sakit lo mau apa?" Tanya Rigecherta dengan senyum simpul. " Ya bilang ke teman teman lo lah, biar di bawa ke UKS" sahut Tivane santai. "Hahaha" Rigecherta hanya terkekeh kalem dan menatap Tivane lama. Entahlah, bersama gadis ini ia bisa merasa santai dan entah kemana perginya wajah datarnya itu. River yang sedang Mabar tak sengaja menoleh dan mendelik karena sangat jarang melihat Rigecherta tertawa sesantai itu. "Liat deh tuh temen lo, dia kenapa coba ketawa gitu, takut dia lagi kesambet" bisik River pada Veros yang hanya mengangguk santai. "Namanya juga sayang" ucapnya pelan. "Hah?" Tanya River karena tak terlalu dengar. "Udah, diem lo" Veros tak menjawab lagi ♥╣ Malamnya╠♥ Tivane sedang tiduran di kasurnya, dengan hidung memerah dan wajah yang juga sedikit memerah karena flu. "Hcuuh" ia lagi-lagi bersin untuk yang keberapa kalinya. "Aduh..." Lenguh Tivane. Tiba-tiba handphone nya bergetar tanda ada pesan. "Siapa tuh" ia langsung mengambil handphonenya dan membaca pesan itu. Rigecherta: ngapain lo? Tivane: nafas. Rigecherta:kirain dah lewat. Tivane: anjir lo, gue lagi sakit nggak usah ngajak gelut deh, lagi sakit gue Rigecherta: siapa yang ngajak gelut coba. Btw sakit apa?" Tivane: flu gue :( Rigecherta: gara gara tadi. Tivane: nggak tau deh, iya deh kayaknya. Rigecherta: Sono lo minum obat, beneran lewat tau rasa lo. Tivane: apaan banget sih, ngedoain gue lewat. Rigecherta: bukan gitu Tivane maksud gue, lo minum obat, biar cepat sembuh... Aduh, lo anak siapa sih? Tivane: oh.. perhatian toh. Bilang kek. Rigecherta:udah sih, gue nyuruh lo minum obat. Buruan!. Tivane: iya iya, minum nih gue. Bawel lo. Tivane dengan mals meraih obat dan air minum di atas nakas lalu meminum obat itu. "Serasa di omelin emak-emak njir." Gerutunya sendiri. Tiba-tiba ada ketukan di pintu membuat Tivane tersentak dan langsung membuka pintu. "Pesanan atas nama mbak Tivane" ucap sang kurir. "Eh, iya, makasih ya mbak.." Tivane langsung menerima makanan itu dengan dahi mengerut heran, lalu ia menutup pintu dan membawa makanan itu ke meja makan. Saat ia duduk, handphone di tangannya bergetar membuat ia melihat pesan tersebut. Rigecherta: makan deh lo biar cepat sembuh Tivane: thanks ya, btw lo tau alamat rumah gue dari mana? Rigecherta: selamat makan. "Lah, malah nggak di jawab, tapi yaudah lah. Mau makan gue" ucapnya kesenangan melihat makanan di depannya. Sementara di rumah Rigecherta ia terlihat mendecak keras. " Kan, beneran sakit anak orang" ia mendecak khawatir. " Nanti kalo gue samperin apa nggak di cambuk papanya gue?" Tanyanya pada dirinya sendiri. "Ah bodo amat lah" ia langsung menyambar kunci motornya lalu melaju ke rumah Tivane. Sementara itu di rumah Tivane, ia sudah selesai makan dan duduk duduk di balkon kamarnya untuk menghirup udara segar. Rigecherta yang sudah sampai di depan gerbang rumah Tivane, ia melihat ke arah kamar Tivane dan melihat lampu masih menyala, pertanda orangnya belum tidur. Ia merogoh sakunya mencari handphone. Handphone Tivane bergetar membuat ia melihat pesan yang muncul di layar. Rigecherta: udah siap makannya? Tivane: udah kenapa? Dari bawah Rigecherta melihat bayangan orang yang duduk di balkon itu pun tersenyum kemudian dengan jahil Muali menyalakan flash handphone dan mengarahkannya pada Tivane. Sementara di balkon Tivane mendelik melihat tidak ada jawaban. "Eh, apa tuh terang banget" ia menyernyit melihat silau ke arah bawah dan mengikuti arah cahaya dan melihat pelakunya. "LO?" Pekiknya kaget melihat Rigecherta tertawa sambil dadah dadah di bawah. Tivane langsung turun dan membuka pagar dengan aura sok melabrak. " Ngapain lo di rumah gue malam-malam" tanya Tivane sok ketus. " Mau ngajakin lo Malmingan" jawab Rigecherta enteng membuat Tivane membulatkan mata. " Tapi karna lo sakit, nggak jadi deh, ntar tambah sakit" sambungnya sambil mematikan flas handphone. "Dih, kayak gue mau aja" ketus Tivane sinis. "Yaudah sih kalo nggak mau Sono masuk" suruhnya kalem. " Yaudah lo pulang sono" usirnya dengan gaya tak santai. "Gue mau disini aja deh. Kenapa emang kalo gue di sini?" Tanyanya ingin memancing keributan saja sebenarnya. " Ya ngapain lo disini anjay? Dingin woi" omel Tivane tapi Rigecherta malah terkekeh geli. " Lo lucu kalo lagi ngomel, pipi lo merah" ejeknya membuat Tivane ingin menjambak ya. " Ihh.. gue Jambak ya lo" geram Tivane sambil mengangkat tangan seolah ingin mencakarnya. " Set dah, gue pikir kalem lo " ucak Rigecherta sambil sedikit mundur. "Mana ada gue kalem, asal lo tau, gue itu cewek paling cerewet dan barbar " ucap Tivane menggebu-gebu, membuat Rigecherta menahan senyum. Entah lah, melihat nya seperti itu membuat Rigecherta gemas. " Dan ceroboh kan?" Tanya Rigecherta lagi-lagi ingin mencari gara-gara. " Ya. Gue itu emang ceroboh banget, tapi tenang, kata papa selagi cantik itu anggun" sengaknya percaya diri. " Lucu banget sih lo.." ucap Rigecherta sambil mengunyel pipi Tivane membuat Tivane menggeplak tangannya. Rigecherta mengaduh dan menatapnya gemas. "Galak banget sih, anak siapa sih ini?" Ia malah lanjut mengunyel pipi Tivane membuat Tivane manyun. " Lucunya, kayak ukan buntal" katanya membuat cewek itu melotot geram. " Udah ah, sono lo pulang." Usirnya kesal. " Okey, bye bye.." Rigecherta kembali ke motor nya dan menyalakan mesin. " Dah.. _kesayangan aku, kali ini aku bakalan ngambil hati kamu_ " ia mengucapkan nya dengan pelan di bagian akhir mungkin Tivane tidak mendengarnya.Keesokan harinya, semalaman River dan lainnya menjaga Tivane dan Rigecherta bergantian. Malam para cowo, dan paginya para cewe yang akan menjaga. Mereka selalu ada dan tetap menemani saat Tivane dan Rigecherta tidak sadarkan diri. Kini, ruangan itu hanya berisi Milenia dan Ella. Sedangkan Luci sedang mengecek pasien di ruangan lain. Milenia masih terlihat lelah karena baru pulang pengajar. Ella memang tidak pergi ke kantor, ia memilih membawa berkas dan kerjaannya ke rumah sakit. Saat mereka berdua asik dengan dunia masing-masing, Milenia dengan handphone nya, dan Ella dengan laptop dan setumpuk berkasnya. Di atas ranjang, jari telunjuk Tivane terlihat sedikit bergerak di ikuti dengan kelopak matanya yang perlahan terbuka. Tivane mengerjap kecil dan menoleh pelan ke arah samping. Ia melihat kedua temannya sedang sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Rasa haus langsung menyerang Tivane membuat ia menoleh ke arah gelas di atas nakas. Tangannya perlahan terulur
Saat ini ruangan itu terasa penuh namun juga terasa berat, dua orang di atas brankar yang berbeda namun bersebelahan itu masih menutup mata dengan nafas teratur. Rigecherta dengan masker oksigen yang menutupi sebagian wajahnya, serta beberapa perban karena luka luka di tubuh serta pelipis nya juga selang infus di tangan kirinya. Tivane dengan wajah pucat dan selang oksigen di hidungnya serta selang infus di tangan kirinya kini wanita itu benar-benar terlihat lemah tak berdaya. Semua orang di dalam ruangan itu diam dengan helaan nafas berat. " Mau di kasih tau sama Tante Risa dulu nggak nih?" Tanya Skyler bersiap menelpon ibu Rigecherta. " Jangan dulu. Nanti kalau terlalu mendadak ia akan syok. Nanti om sendiri yang akan menjemput Risa." Ucap Aliandra membuat mereka mengangguk kecil. Pintu ruangan terbuka menampilkan Veros yang datang dengan Milenia di samping nya. Begitu sampai di dalam ruangan, Milenia langsung merasa lemas saat melihat sahabat baikny
Suasana langsung riuh dan tubuh keduanya di kelilingi. River yang masih berada di sekitar dan karena menunggu Ella ke bank tadi pun merasa terkejut hebat saat melihat Rigecherta di tabrak dengan keras dan tak lama setelah itu Tivane pun ikut pingsan di sana. " ada apa kok ribut?" Tanya Ella yang baru keluar juga langsung menoleh dan tersentak. " ayo kesana dulu. Kita aja yang bawa mereka. Ambulance masih lama banget itu" River langsung menyeruak di kerumunan dan berhasil di depan Rigecherta dan Tivane. "Bawa yang. Pak tolong masukin ke mobil saya saja. Biar cepat. Mereka butuh pertolongan pertama" pinta River pada salah satu warga dan mereka langsung mengangguk. Mereka semua membawa tubuh ke Rigecherta ke dalam mobil River, sementara Tivane ke dalam mobil Rigecherta yang akan di bawa oleh Ella. Mobil keduanya langsung melesat cepat membelah kerumunan. Di dalam mobil, River langsung menyambungkan panggilan dengan Veros juga Skyler. " Satu ikut gue ke rumah sa
Rigecherta yang awalnya diam sambil mengaduk makanannya tersentak saat melihat Tivane yang berdiri di depan pintu masuk warkop itu. Ella yang menyadari raut wajah Tivane yang terlihat salah paham pun juga ikut berdiri. Rigecherta dengan cepat langsung berdiri dan mengejar Tivane yang berbalik pergi. River yang baru datang dari toilet pun terkejut saat Rigecherta berlari melewatinya. Ya cowo itu juga ikut, tapi tadi saat Tivane datang, ia sedang di toilet. Rigecherta meraih tangan Tivane dan menahannya dengan lembut. " Sayang tunggu, kamu salah paham sumpah. River ada di dalam sayang. Sumpah" ucap Rigecherta membuat Tivane berbalik dengan mata memerah. " Kenapa nggak balik ke rumah hah?! Aku nunggu kamu sampe ketiduran tau nggak?!" Sentak Tivane memukul dada Rigecherta dengan keras. " Maaf.. aku nggak tau kalo kamu di rumah. " Rigecherta membiarkan Tivane. " Kamu jahat, dan sekarang aku malah liat kamu berduaan sama cewe lain" Tivane mulai lelah dan
Mobil Rigecherta berhenti di depan gerbang dan mengerutkan kening saat tak melihat mobil biasa ibunya lagi di sana. Rumah pun sudah tertutup dan terlihat tak ada orang. " Mereka pada kemana?" Gumam Rigecherta memutuskan untuk menelpon sopir pribadi ibunya. " Halo den." Suara sang sopir terdengar dari seberang namun hampir tenggelam karena suasana terdengar ramai. " Kalian lagi di mana emang mang? Kok rumah kosong?" Tanya Rigecherta. " Nyonya sama non Tivane lagi di mall. Katanya saya tunggu di sekitar sini saja karena mereka mau quality time katanya." Jawab sang sopir membuat Rigecherta menghela nafas lega. Padahal tadi kepalanya sudah membayangkan hal aneh. " O.. bisa bapak Sherlock? Biar saya saja yang datang kesana" ucap Rigecherta menyalakan kembali mobilnya. " Boleh den. Ini saya Sherlock ya" jawab sang sopir dan Rigecherta langsung memutuskan panggilan. " Pantau aja deh. Takut kenapa-napa" ucap Rigecherta seorang diri dan langsung melajukan mobil
Pagi itu ceah namun terasa berat dan sangat menyesakkan bagi Tivane yang baru bangun setelah beberapa jam tidur. Tidur nya semalaman ini tidak tenang. Padahal harusnya tadi malam adalah malam yang sangat pas untuk tidur karena hujan deras mengguyur. Namun yang ada di benak Tivane hanya kebimbangan dan keraguan. Ia baru bisa tidur beberapa jam tadi karena pikirannya tak bisa tenang sama sekali. Ingin sekali rasanya ia keluar dan membawa Rigecherta masuk ke rumah dan tidur di dalam saja. Tapi di sisi lain ia juga merasa tak enak jika tiba-tiba Risa terbangun karena terganggu. Semalaman Tivane hanya bisa memejamkan mata tanpa benar-benar tertidur. Ia akan duduk sesekali dan melihat ke arah balkon untuk memastikan mobil itu masih ada di sana. Kini Tivane duduk termenung di atas ranjang sampai decitan pintu yang terbuka membuat Tivane menoleh. Risa terlihat sudah segar namun matanya terlihat sedikit membengkak. Wanita itu terlihat membawa nampan. " mama? Pagi ma" sap
Waktu berlalu dengan cepat. Kini hari kelulusan mereka sudah hampir dekat. Tivane dan Rigecherta juga selalu belajar bersama setiap hari saat hari ujian. Semester ini mereka benar-benar sibuk dan fokus belajar walau terkadang masih sempat marahan dikit. Besok adalah hari kelulusan mereka. Dan ha
Malam itu terasa indah dengan bintang yang bersinar terang di langit malam. Suasana di dalam rumah Tivane sepi namun di kamarnya terasa seperti ada sepuluh orang yang sedang mengobrol padahal ia hanya panggilan video dengan Rigecherta, Veros, Skyler dan River. " Kalian ada urusan nggak libur
Suasana di kelas tampak sangat sunyi bahkan terasa berat. Hari ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas dan bertepatan mata pelajaran terakhir ujian adalah sejarah. Di dalam ruangan Tivane terlihat gadis itu menunduk fokus ke arah lembar jawaban nya. Di setiap ruangan hanya berisi 15 siswa
Suasana sore itu terlihat cerah. Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Tivane di rumahnya terlihat sedang siap-siap untuk main bersama Rigecherta dan tiga temannya yang lain. Sesekali ia menoleh ke arah handphone nya memastikan apakah ada notifikasi yang masuk dari Rigecherta. Tivan







