MasukNaren terdiam. Untuk beberapa saat, pria itu tidak memberikan respons apa pun. Tatapannya tetap tertuju ke depan, tetapi rahangnya terlihat sedikit mengeras. "Silakan," ujarnya singkat. Althea terdiam. Ia tidak menyangka bosnya akan mengizinkannya begitu saja. Bukankah biasanya Naren akan bertanya macam-macam terlebih dahulu dan membuat semuanya terasa ribet? Althea mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah masih tidak percaya. "Bapak ngizinin saya?" Naren kembali menatap ke arha tabnya, ia hanya mengangguk singkat tanpa berbicara apa apa. Mobil mereka terus melaju hingga sampailah mereka di gedung perusahaan milik Robert. Naren turun lebih dahulu. Ia merapikan jasnya sebelum berjalan menuju lobi gedung tersebut. Althea yang masih berada di dalam mobil segera turun menyusul. "Pak Naren." Naren menghentikan langkahnya, ia segera menoleh ke arah Althea. "Kenapa?" Althea segera berdiri di samping bosnya itu, ia segera mengambil map dan tab yang tengah di bawa bosnya. "Ini ka
Setelah mengatakan itu, Naren memilih untuk berjalan menuju tempat tidurnya. Althea memperhatikan punggung pria itu selama beberapa detik. Entah mengapa, ia merasa Naren terlihat sedikit berbeda malam ini. Biasanya pria itu tidak pernah peduli dengan urusan pribadinya. Namun, kali ini Naren justru menanyakan Robert. Althea segera menggelengkan kepalanya. "Sudahlah." Ia kembali menatap ponselnya. Pesan Robert masih terbuka di layar. Jarinya sempat bergerak untuk membalas, tetapi ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin bertemu dengan Robert. Setidaknya, bukan sekarang. Althea akhirnya mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di atas meja. Namun, baru beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar. Satu pesan baru masuk. Althea menatap layar itu dengan ragu sebelum akhirnya membukanya. "Aku akan menunggumu besok setelah diskusi proyek. Kalau kamu tidak datang, aku akan menganggap kamu memang tidak ingin mendengar penjelasanku." Althea menghela napas. Ia segera men
Althea menatap tangan Robert yang masih menggenggam pergelangan tangannya. Ia segera menarik tangannya dengan sedikit kasar. "Aku rasa kita tidak punya sesuatu untuk dibicarakan, Robert." Robert terdiam sejenak. Tatapannya masih tertuju pada Althea. Ia tersenyum tipis ke arah wanita itu. "Benarkah?" tanyanya pelan. "Setelah dua tahun tidak bertemu, kamu bahkan tidak mau bicara denganku?" Althea menghela napas. Ia melirik ke arah ruang pertemuan yang tidak jauh dari mereka, memastikan tidak ada yang memperhatikan. "Robert, aku sedang bekerja.Jadi, tolong jangan membuat masalah." "Aku tidak berniat membuat masalah." Robert melangkah sedikit mendekat yang membuat Althea buru buru mundur. "Aku hanya ingin tahu kenapa kamu tadi berpura-pura tidak mengenalku." Althea terdiam. Jantungnya kembali berdegup tidak beraturan. "Aku..." Ia menggigit bibir bawahnya. "Itu bukan urusanmu." Robert terdiam, senyuman yang semula menghiasi wajahnya mulai memudar. Digantikan wajah data
"Ingat! Jangan sampai kamu membuat kesalahan!" tegas Naren. Althea hanya mengangguk. Ia segera turun sambil membawa tumpukan berkas yang sudah mereka siapkan di kamar hotel. Naren melangkah lebih dulu, sementara Althea mengikuti dari belakang. Namun, karena membawa terlalu banyak dokumen, langkah Althea menjadi lebih lambat. Ia bahkan tampak kesulitan menjaga agar tumpukan berkas itu tidak jatuh. Sementara itu, Naren sudah berjalan cukup jauh di depannya tanpa menyadari kesulitan yang dialami Althea. "Pak Naren!" panggil Althea. Naren yang sudah beberapa langkah di depan berhenti dan menoleh. Alisnya sedikit terangkat ketika melihat Althea masih berada cukup jauh darinya dengan kedua tangan penuh berkas. "Ada apa?" "Bisa jalan sedikit lebih pelan?" pinta Althea, berusaha mempercepat langkahnya. Naren menatap tumpukan dokumen di tangan wanita itu. Tatapannya kemudian beralih pada Althea yang bahkan hampir tidak bisa melihat jalan karena sebagian berkas menutupi pandangannya. N
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan dengan pesawat dan beberapa menit berkendara menggunakan mobil, Althea dan Naren akhirnya tiba di hotel yang sebelumnya telah dipesan oleh Althea. Begitu turun dari mobil, Naren segera menatap ke arah Althea yang tengah menatap ke bangunan mewah itu. "Kamu sudah pesan kamar untuk saya kan?" tanyanya. Althea menoleh ke arah Naren lalu mengangguk. "Sudah, pak." Naren mengangguk kecil. "Kalau begitu, ayo masuk." Keduanya kemudian berjalan menuju lobi hotel. Althea langsung menuju meja resepsionis untuk melakukan check-in, sementara Naren berdiri tidak jauh darinya sambil memeriksa ponselnya dan menjaga koper besar milik gadis itu. Beberapa saat kemudian, Althea menerima kartu akses dari resepsionis. Ia segera menghampiri Naren. "Ayo, pak," ajaknya. Naren mengangguk, ia segera mengambil kartu akses itu dan berjalan lebih dahulu. Sedangkan Althea segera menarik kopernya dan buru buru menyusul Naren yang sudah hampir sampai di depan
Naren menatap Althea tanpa ekspresi. Kepanikan wanita itu benar-benar bertolak belakang dengan sikapnya yang selalu tenang. "Makanya kamu harus cepat belajar. Menjadi asisten tidak sesulit mengurus data analisis pasar," jelasnya. Althea terdiam. Sejujurnya, ia setuju dengan ucapan atasannya itu. Lagi pula, tugasnya sekarang hanya mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan bosnya. Namun, teori dan kenyataan ternyata berbeda. Mengurus tumpukan data yang jumlahnya ratusan terasa jauh lebih mudah dibandingkan mengurus satu orang bernama Naren Wijaya. Bos yang selalu membuatnya jengkel. Althea menghela napas pelan. "Saya akan belajar," ujarnya akhirnya. Naren mengangguk kecil. Ia kemudian memutar layar laptopnya sedikit agar bisa melihat jadwal yang sudah disiapkan asistennya. "Bagus. Kalau begitu, mulai sekarang perhatikan baik-baik." Althea mendekat dan berdiri di samping meja kerja Naren. Tatapannya langsung tertuju pada layar laptop yang menampilkan jadwal perjalanan







