Share

Bab 4

Penulis: SILAN
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-29 08:47:47

Satu jam berlalu sejak Theo mulai menjelaskan materi, tapi Alexa sudah lebih dulu menyerah. Tubuhnya jatuh setengah malas ke atas meja, pipi menempel pada buku catatan yang isinya pun tidak ia pahami.

Sementara itu, Theo tetap fokus. Dengan posisi setengah membelakanginya, pria itu sibuk menjabarkan rumus-rumus panjang di papan tulis. Dari celah lengannya, Alexa mengintip, lalu tanpa sadar mulai menirukan gerakan bibir Theo, seolah mengejek.

"Kau tidak lelah?" tanya Alexa tiba-tiba, suaranya terdengar manja sekaligus jengah.

Theo menoleh sebentar, lalu menatap jam tangannya. Jarum pendek hampir menyentuh angka sepuluh. "Kau bisa istirahat. Besok sebelum pukul tujuh, kau harus sudah siap ke sekolah."

Alexa memutar bola matanya, ingin membantah. Namun sebelum sempat berkomentar, Theo meraih buku catatan di depannya. Alis tebal pria itu terangkat tinggi ketika melihat hasil kerja Alexa selama satu jam terakhir.

Ketukan ringan sebuah pulpen mendarat di kepala Alexa. "Aw!" pekiknya, sambil mengusap rambutnya.

"Satu jam penuh, dan dari lima soal, hanya satu yang kau kerjakan dengan benar. Selebihnya… apa ini?" Theo menunjuk lembaran penuh coretan tak jelas.

Alexa hanya menyunggingkan senyum kaku, lalu bangkit berdiri. "Kau bilang aku boleh istirahat. Jadi… selamat malam." Nada suaranya dibuat seenaknya, jelas ingin membuat Theo jengkel.

Theo menatap tajam. "Aku menyuruhmu mengerjakan tugas, bukan menggambar monster aneh di bukumu."

Alexa menghentikan langkahnya, berbalik perlahan dengan nafas panjang. "Paman, biarkan aku bernafas. Ini baru hari pertama aku tinggal di rumahmu, dan kau sudah menjejalkanku dengan rumus-rumus memusingkan. Aku bahkan belum sempat mengenal siapa orang yang kini harus kuhadapi setiap hari."

Ia melangkah lebih dekat, menengadah menatap Theo yang tubuhnya menjulang kokoh, bayangannya saja sudah membuat Alexa seakan terperangkap. Senyum licik muncul di wajahnya, dibuat semanis mungkin.

"Selamat malam, Paman," ucapnya menggoda, lalu berbalik meninggalkan ruang baca tanpa menoleh lagi.

Theo hanya bisa menghela nafas panjang. Pandangannya jatuh kembali pada buku di meja, halaman penuh coretan gambar abstrak yang jelas bukan bagian dari pelajaran.

"Pantas saja Nyonya Roselinda hampir putus asa mendidik putrinya sendiri," gumamnya pelan, sebelum menutup buku itu dengan gelengan kepala.

**

Alexa merebahkan tubuhnya di ranjang baru, berguling ke kanan dan kiri, mencari posisi paling nyaman. Tempat tidur itu empuk, sprei bersih, dan bantalnya wangi. Tidak ada yang salah, kecuali kenyataan bahwa ia harus tidur di rumah asing, milik pria yang baru saja ia kenal semalam.

"Apa sebenarnya hubungan Ibu dengan Paman Theo?" gumam Alexa lirih. Ibunya pernah mengatakan keluarga Theo dekat dengan keluarga Moore. Tapi anehnya, selama hampir sembilan belas tahun hidup, Alexa tak pernah sekalipun mendengar nama Theo ataupun keluarganya.

Ia mendengus kesal, lalu bangkit ketika melihat jam sudah lewat pukul sebelas malam. Rasa kantuk sama sekali tak menghampiri. Dengan langkah malas, ia menuju dapur. Begitu pintu kulkas dibuka, matanya terbelalak melihat berderet stok makanan memenuhi rak. Tanpa pikir panjang, ia meraih satu kotak anggur dan menutup pintu.

Namun baru saja pintu kulkas tertutup, Alexa terlonjak kaget.

"Shit! Kau mengagetkanku!" pekiknya keras.

Theo berdiri tegak di sampingnya, tubuh besar pria itu seolah menelan ruang sempit dapur. Ia menoleh sekilas ke arah jam dinding. "Jam segini, dan kau masih belum tidur?" suaranya terdengar tenang tapi mengandung teguran.

"Aku cuma ingin makan. Kenapa kau repot-repot mengatur hidupku?" gerutu Alexa, lalu berjalan ke ruang tamu dengan kotak anggur di tangan. Ia menjatuhkan diri di sofa, meletakkan kaki ke atas, dan memangku kotak anggur sambil mulai memakannya.

Theo menyilangkan tangan di dada, berdiri sambil menatap tajam gadis itu.

Merasa diperhatikan, Alexa meliriknya sekilas. "Kau teman ibuku, ya?" tanyanya, nada suaranya datar.

"Hanya sebatas rekan kerja," jawab Theo akhirnya, lalu ikut duduk di kursi tak jauh dari sofa.

Alexa memiringkan kepala, menyipitkan mata. "Jangan bilang kau pria simpanan ibuku."

Theo menghela nafas panjang, nada suaranya sedikit berat. "Sepertinya kau butuh menyucikan pikiranmu, Alexa. Aku dan ibumu tidak punya hubungan lain, selain urusan bisnis keluarga yang sudah berlangsung lama."

Alexa mengangguk-angguk, seolah puas dengan jawaban itu, sambil terus menyuapkan anggur ke mulut. "Kalau begitu, berapa umurmu, Paman? Kau terlihat tak jauh beda dengan Ibu. Apa kalian seumuran?"

"Tidak. Kami terpaut delapan tahun."

"Aah… Ibu sekarang berusia empat puluh. Jadi, kau tiga puluh dua?" tebak Alexa cepat.

Theo menatapnya sebentar. "Hampir menginjak tiga puluh tiga."

Alexa mengangguk lagi sambil tersenyum nakal. "Pantas. Tapi kenapa Paman belum menikah?"

Theo akhirnya berdiri, jelas tak ingin melanjutkan interogasi konyol itu. "Kau sudah terlalu banyak bertanya. Setelah makan, segera tidur. Kalau tidak, aku sendiri yang akan menyeretmu ke sekolah besok pagi."

Alexa hanya terkekeh, pura-pura tidak peduli, sementara Theo berjalan pergi dengan langkah tegap, meninggalkan atmosfer dingin sekaligus aneh yang masih menggantung di ruang tamu.

Setelah menghabiskan hampir setengah kotak anggur, Alexa beranjak menuju kamar. Namun langkahnya terhenti begitu melihat Theo berdiri di balkon, membelakanginya. Asap tipis mengepul dari ujung rokok yang terjepit di bibir pria itu, melayang bersama angin malam.

Pelan, Alexa mendekat lalu berhenti di ambang pintu. Theo sadar akan kehadirannya, tapi sengaja tak menoleh, seakan membiarkan Alexa menatap punggungnya.

Dari balik bahu Theo, Alexa memperhatikan setiap kepulan asap yang ia hembuskan. "Tubuhnya… benar-benar proporsional," batin Alexa, matanya menelusuri garis bahu kokoh hingga pinggang ramping yang hanya terbalut kaos abu-abu tipis dan celana panjang. Perbedaan tinggi dan postur itu sering membuatnya merasa kecil, bahkan terintimidasi, di hadapan Theo.

Tanpa pikir panjang, Alexa membuka mulut. "Paman bukan seorang gay, kan?" celetuknya tiba-tiba.

Theo terhenti. Rokok di bibirnya nyaris jatuh karena kaget oleh pertanyaan itu. Namun dengan gerakan terkendali, ia menekan bara rokok ke asbak di meja sebelah, lalu perlahan berbalik menghadap Alexa.

Alisnya terangkat tipis. "Mengapa kau begitu ingin tahu hal pribadiku?" tanyanya tenang, tapi tatapannya menusuk.

Alexa mengedikkan bahu santai. "Karena paman belum menikah. Biasanya pria di umurmu sudah berkeluarga."

Theo menunduk sedikit, suaranya berat. "Belum menikah bukan berarti aku gay." Ia melangkah maju, menekan telapak tangannya pada dinding di sisi Alexa. Aroma asap rokok bercampur parfum maskulin langsung menyerbu hidung gadis itu, jarak mereka kini begitu dekat. "Aku pria normal. Jadi tak perlu meragukanku… kecuali kau mau membuktikannya sendiri."

Alexa terkekeh kecil, pura-pura tak gentar. "Apa paman suka anak di bawah umur? Jangan bilang kau pedofil," ejeknya setengah berani, setengah gugup.

Senyum miring terbit di bibir Theo. Ia condong lebih dekat, sampai suaranya berbisik tepat di telinga Alexa. "Bagaimana kalau aku katakan… itu benar?"

Mendengar itu, mata Alexa seketika membelalak kaget.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ruang Panas Bersama Guru Privat   Bab 83

    Theo dan Alexa serempak menoleh saat dua sosok familiar melangkah masuk ke butik, Lucy dan Kevin, pasangan yang sebentar lagi akan mengikat janji suci. Aura kebahagiaan tampak jelas dari wajah mereka, meski seperti biasa, Lucy selalu membawa energi yang sulit ditebak.Theo bangkit dari duduknya, menoleh sebentar ke arah belakang sebelum akhirnya fokus pada kakaknya.“Di mana bayi kecilmu?” tanyanya ringan.Lucy mengangkat alis, senyum tipis tersungging di bibirnya.“Tidak ikut. Tapi kalau kau ingin menemuinya, datang saja ke rumah,” jawabnya santai namun mengandung sindiran halus. “Rumahku dan Kevin tidak pernah berpindah tempat. Kami harap kau belum lupa alamatnya.”Theo mendengus pelan, jelas menyadari sindiran itu.Pandangan Lucy kemudian beralih, matanya berhenti pada Alexa yang berdiri tak jauh dari Theo. Senyumnya melebar manis, hangat, namun menyimpan sesuatu yang sulit diartikan. Tanpa ragu, Lucy melangkah mendekat, bahkan mendorong Theo sedikit ke samping.“Oh, jadi ini calon

  • Ruang Panas Bersama Guru Privat   Bab 82

    Waktu berputar cepat. Hitungan bulan yang terasa seperti puluhan tahun akhirnya terlewati, dan kini Alexa kembali menginjakkan kaki di Boston, kota yang dulu penuh keraguan, namun sekarang terasa seperti rumah karena ada seseorang yang menunggunya.Begitu keluar dari pintu kedatangan, matanya langsung menangkap sosok yang paling ia rindukan. Theo berdiri di sana, tegap, hangat, dan dengan senyum yang membuat dada Alexa terasa sesak oleh rasa bahagia. Tanpa pikir panjang, Alexa langsung berlari dan melompat ke pelukan pria itu, seperti anak kecil yang menemukan tempat paling aman di dunia.Theo tertawa kecil sambil menahan tubuh Alexa agar tidak jatuh. “Bagaimana perjalananmu?” tanyanya lembut.Alexa melepaskan pelukan hanya untuk kembali memeluknya lebih erat, kali ini dengan manja. “Semuanya baik-baik saja… tapi rasanya terlalu lama. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu.”Theo membalas tatapannya dengan penuh kasih, jemarinya terulur mencubit ujung hidung Alexa dengan gemas. “

  • Ruang Panas Bersama Guru Privat   Bab 81

    Setelah Alexa mengetahui segalanya, alasan di balik kedekatan ibunya dengan Theo, rahasia yang selama ini disembunyikan darinya, serta kebenaran tentang perjodohan itu, rasanya hidupnya seperti kembali bernapas lega. Beban yang dulu mengikat dadanya kini perlahan menguap. Hari-harinya terasa lebih ringan, pikirannya jauh lebih jernih dari sebelumnya.Kini, Alexa hanya perlu fokus pada pendidikannya sebelum kembali ke Boston dalam waktu dekat. Bukan hanya untuk melanjutkan hidupnya… tapi juga untuk mempersiapkan sesuatu yang selama ini tak berani ia bayangkan, pernikahannya dengan Theo. Setiap kali memikirkannya, ada rasa bahagia yang menyelinap lembut… disertai malu yang sulit ia jelaskan, terutama karena wanita yang dulu ia kira adalah istri Theo ternyata hanyalah kakak kandung pria itu.“Kau tidak bisa tinggal lebih lama di sini?” tanya Alexa pelan saat melihat Theo sudah berkemas.Theo menoleh, lalu berdiri menghampirinya. “Maaf, aku tidak bisa lebih lama,” ucapnya lembut sambil me

  • Ruang Panas Bersama Guru Privat   Bab 80

    Dulu, saat pertama kali Alexa menapakkan kaki di Australia, ia memaksa dirinya belajar hidup tanpa Theo. Ia membangun hari-harinya dari nol, mencoba menerima kenyataan bahwa pria itu bukan lagi bagian dari hidupnya, meyakinkan diri bahwa cinta yang pernah ia miliki harus dikubur dalam-dalam.Yang Alexa tidak pernah tahu adalah… Theo tidak pernah benar-benar pergi.Setiap sebulan sekali, Theo selalu terbang ke Australia. Ia berdiri jauh di keramaian, bersembunyi di balik jarak belasan meter hanya untuk memastikan Alexa baik-baik saja. Ia menatap dari kejauhan, tanpa berani menyapa, tanpa berani memanggil. Baginya, melihat Alexa bernapas dengan tenang saja sudah cukup meski jauh di lubuk hatinya ada bagian yang memaksanya untuk mendekat.Dan ketika pekerjaan mengekangnya, Theo tetap tidak tinggal diam. Ia mengutus orang-orang kepercayaannya untuk memastikan Alexa aman. Ia tidak pernah melepaskan gadis itu sepenuhnya… hanya memilih mundur karena Alexa sendiri yang memintanya untuk tidak

  • Ruang Panas Bersama Guru Privat   Bab 79

    Setelah mendengar kata-kata Theo barusan, dunia Alexa seakan berhenti berputar. Ia benar-benar terpaku, otaknya menolak menerima kenyataan yang baru saja disampaikan. Rasanya seperti salah dengar… atau mungkin ia hanya berhalusinasi. Tapi kalimat itu terlalu jelas untuk dianggap mimpi, Theo mengatakan bahwa ia adalah calon istri pria ini.Bagaimana mungkin?Bagaimana bisa?Alexa mundur satu langkah tanpa sadar, membuat sentuhan tangan Theo yang sempat membingkai wajahnya terlepas.“Kau pasti bercanda… atau aku yang salah dengar,” ucap Alexa dengan suara bergetar.Theo menggeleng pelan. Tatapannya serius, tidak ada sedikitpun tanda gurauan di sana. “Tidak, Alexa. Itu kebenaran yang seharusnya kau ketahui sejak awal.”Dunia Alexa runtuh. Bibirnya menutup rapat, matanya membesar, napasnya memburu. Ia tidak sanggup memproses semuanya. Tanpa sempat berpikir, tubuhnya bergerak lebih cepat dari logikanya. Ia mundur… kemudian berbalik, dan berlari.Ia tidak tahu kenapa ia berlari. Yang ia tah

  • Ruang Panas Bersama Guru Privat   Bab 78

    Seolah menekan tombol reset pada hidupnya, Alexa merasa harus kembali ke titik nol, tempat di mana semua perasaannya dipaksa tenang, bahkan jika itu berarti memulai dari kehampaan. Sama seperti lima belas bulan lalu, saat pertama kali ia menginjakkan kaki di Australia untuk menghindari luka yang tak sanggup ia hadapi, kini ia melakukan hal yang sama. Melarikan diri. Bukan dari kota, bukan dari orang-orang… tapi dari hatinya sendiri.Dari ingatan tentang Theo.Dari bayangan pria itu yang kini tampak begitu bahagia dengan “keluarga kecilnya”.Dari cemburu yang menyakitkan setiap kali nafasnya teringat nama itu.Begitu tubuhnya akhirnya jatuh ke sofa, rasa lelah perjalanan baru saja ingin ia lepaskan, ponselnya langsung berdering. Alexa menghela nafas. Sedetik ia berharap itu ibunya, tapi nama yang tertera di layar justru Felix.Alexa menempelkan ponsel ke telinga dengan nada suara yang nyaris tanpa energi.“Halo?”“Jangan bilang… kau di Australia sekarang,” suara Felix terdengar setengah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status