Mag-log inDulu, saat pertama kali Alexa menapakkan kaki di Australia, ia memaksa dirinya belajar hidup tanpa Theo. Ia membangun hari-harinya dari nol, mencoba menerima kenyataan bahwa pria itu bukan lagi bagian dari hidupnya, meyakinkan diri bahwa cinta yang pernah ia miliki harus dikubur dalam-dalam.Yang Alexa tidak pernah tahu adalah… Theo tidak pernah benar-benar pergi.Setiap sebulan sekali, Theo selalu terbang ke Australia. Ia berdiri jauh di keramaian, bersembunyi di balik jarak belasan meter hanya untuk memastikan Alexa baik-baik saja. Ia menatap dari kejauhan, tanpa berani menyapa, tanpa berani memanggil. Baginya, melihat Alexa bernapas dengan tenang saja sudah cukup meski jauh di lubuk hatinya ada bagian yang memaksanya untuk mendekat.Dan ketika pekerjaan mengekangnya, Theo tetap tidak tinggal diam. Ia mengutus orang-orang kepercayaannya untuk memastikan Alexa aman. Ia tidak pernah melepaskan gadis itu sepenuhnya… hanya memilih mundur karena Alexa sendiri yang memintanya untuk tidak
Setelah mendengar kata-kata Theo barusan, dunia Alexa seakan berhenti berputar. Ia benar-benar terpaku, otaknya menolak menerima kenyataan yang baru saja disampaikan. Rasanya seperti salah dengar… atau mungkin ia hanya berhalusinasi. Tapi kalimat itu terlalu jelas untuk dianggap mimpi, Theo mengatakan bahwa ia adalah calon istri pria ini.Bagaimana mungkin?Bagaimana bisa?Alexa mundur satu langkah tanpa sadar, membuat sentuhan tangan Theo yang sempat membingkai wajahnya terlepas.“Kau pasti bercanda… atau aku yang salah dengar,” ucap Alexa dengan suara bergetar.Theo menggeleng pelan. Tatapannya serius, tidak ada sedikitpun tanda gurauan di sana. “Tidak, Alexa. Itu kebenaran yang seharusnya kau ketahui sejak awal.”Dunia Alexa runtuh. Bibirnya menutup rapat, matanya membesar, napasnya memburu. Ia tidak sanggup memproses semuanya. Tanpa sempat berpikir, tubuhnya bergerak lebih cepat dari logikanya. Ia mundur… kemudian berbalik, dan berlari.Ia tidak tahu kenapa ia berlari. Yang ia tah
Seolah menekan tombol reset pada hidupnya, Alexa merasa harus kembali ke titik nol, tempat di mana semua perasaannya dipaksa tenang, bahkan jika itu berarti memulai dari kehampaan. Sama seperti lima belas bulan lalu, saat pertama kali ia menginjakkan kaki di Australia untuk menghindari luka yang tak sanggup ia hadapi, kini ia melakukan hal yang sama. Melarikan diri. Bukan dari kota, bukan dari orang-orang… tapi dari hatinya sendiri.Dari ingatan tentang Theo.Dari bayangan pria itu yang kini tampak begitu bahagia dengan “keluarga kecilnya”.Dari cemburu yang menyakitkan setiap kali nafasnya teringat nama itu.Begitu tubuhnya akhirnya jatuh ke sofa, rasa lelah perjalanan baru saja ingin ia lepaskan, ponselnya langsung berdering. Alexa menghela nafas. Sedetik ia berharap itu ibunya, tapi nama yang tertera di layar justru Felix.Alexa menempelkan ponsel ke telinga dengan nada suara yang nyaris tanpa energi.“Halo?”“Jangan bilang… kau di Australia sekarang,” suara Felix terdengar setengah
Seusai rapat di jam tiga sore, Alexa segera mengemasi semua barang miliknya untuk bersiap kembali ke Australia. Mungkin lebih baik ia tinggal di sana lebih lama tanpa menginjakkan kaki di Boston, hatinya masih belum bisa melupakan Theo, dan sangat menyakitkan ketika pria itu lebih bahagia dengan orang baru di hidupnya.Setelah koper sudah siap di tangan, Alexa menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Sebelum berangkat ke bandara, Alexa mencoba untuk menghubungi ibunya, namun ponselnya tidak aktif."Aku akan memberitahu ibu setelah tiba di Australia nanti," gumamnya, tanpa menunggu waktu lama, Alexa segera menuju bandara.Ia lebih baik melarikan diri seperti ini, fakta yang baru ia ketahui benar-benar menyakitkan. Saham lebih dari lima puluh persen milik keluarga Moore diserahkan pada Theo, Alexa tidak tau alasannya apa, tapi tetap saja ini juga menjadi beban yang menyakiti hatinya.Jika ia tidak sengaja menemukan kontrak perjanjian itu, entah mau sampai kapan rahasia ini tidak akan i
Alexa tidak bisa tidur setelah membaca surat perjanjian yang tidak sengaja ia temukan di ruangan ibunya, kini ia berjalan kesana kemari dengan tidak tenang sambil menggigit ujung kukunya."Kenapa bisa sampai seperti ini? Bukankah harusnya semua itu adalah milikku?" gumamnya, pikirannya berantakan dan ia tidak bisa mencernanya dengan baik.Di dalam kontrak tersebut tertulis dengan jelas. Hubungan Nebula Corp dan C.J Moore sudah terikat selama dua puluh tujuh tahun, artinya Alexa sendiri bahkan belum lahir. Di dalamnya tertulis jika keturunan laki-laki dari keluarga Klein, yang tidak lain adalah keluarga Theo berhak memiliki tujuh puluh lima persen saham dari C.J Moore. Dan keturunan laki-laki dari keluarga itu adalah Theodore Klein itu sendiri."Tujuh puluh lima persen itu tidak sedikit, itu sangat besar. Kenapa perjanjian ini sampai dibuat demikian, bukankah keluarga Moore masih punya aku, keturunan generasi terakhir mereka?" suara Alexa lirih namun penuh amarah yang ditahan. Dadanya
Jam dinding merayap pelan menuju angka sebelas ketika Alexa akhirnya menghembuskan nafas panjang. Ia menoleh ke sofa, Felix sudah terkapar tanpa daya, telentang dengan satu kaki menggantung, dadanya naik turun pelan. Aroma alkohol masih samar di udara, menjadi saksi berapa banyak gelas yang telah diteguk sahabatnya malam ini.“Dengan tubuhmu yang jauh lebih besar dariku, bagaimana caranya aku mengantarmu pulang, Felix?” gumam Alexa lirih, nyaris seperti keluhan pada diri sendiri.Ia berkacak pinggang, menimbang-nimbang kemungkinan yang ada, dan semuanya berakhir pada kesimpulan yang sama. Mustahil. Jika ia memaksakan diri, bukan Felix yang sampai di tujuan, melainkan dirinya yang tumbang lebih dulu.Setelah berpikir sejenak, Alexa meraih ponsel. Keputusan diambil dengan cepat. Tak lama kemudian, dua bodyguard berdiri di hadapannya, membantu mengangkat Felix yang masih terlelap tanpa sadar.“Antarkan dia ke hotel terdekat,” ujar Alexa tegas, menyelipkan sejumlah uang ke tangan salah sat







