홈 / Horor / Rumah Kos Berhantu / 1. Tetangga Rumah

공유

Rumah Kos Berhantu
Rumah Kos Berhantu
작가: Queen Rachma

1. Tetangga Rumah

작가: Queen Rachma
last update 게시일: 2022-08-20 17:37:55

Tetangga Rumah

“Tok, tok,tok,” Suara pintu rumah diketuk berkali-kali.

"Bu Vina… Bu Vina …" Panggil seorang wanita setengah baya. 

“Tok, tok,tok,” Suara pintu rumah diketuk lagi oleh wanita paruh baya itu.

Dia terus mengetuk pintu rumah meskipun pintu rumah itu sebenarnya sudah dalam keadaan terbuka. 

Vina berjalan dengan tergopoh-gopoh dari arah dapur menuju ruang tamu menemui wanita itu. 

"Eh maaf Bude Rena, sudah datang dari tadi? Saya sedang berada di dapur barusan, suara panggilan Bude Rena  tidak begitu dengar jadinya." Sahut Vina meminta maaf.

"Aduh bu Vina ini sangat ceroboh sekali ya. Untung saya yang datang. Bagaimana kalau orang yang datang itu bukan saya? aduh takut membayangkannya." Rena menegur Vina. Vina hanya tersenyum.

"Eh hati-hati loh bu Vina, bagaimana kalau rumahnya dimasuki maling? Apalagi pintunya dibiarkan terbuka seperti ini. Memangnya tidak dengar di kampung sebelah sering banyak rumah kemalingan loh," Kata Rena memperingatkan sambil membelalakkan matanya. 

Vina hanya tersenyum tipis, dia menyadari kecerobohannya dan merasa takut saat membayangkannya jika benar-benar rumahnya dimasuki oleh maling. 

"Eh Iya Bude, ada keperluan apa kemari? Kita masuk saja yuk, kita bicara di dalam," Ajak Vina. 

Baru saja Vina selesai bicara, Rena langsung melangkah masuk mendahului Vina sang pemilik rumah dan duduk di kursi tamu. Vina tidak akan merasa heran karena sudah terbiasa dengan sikap tetangganya itu. 

"Ka, tolong matikan kompornya kalau sudah mendidih ya, Za!" Kata Vina sambil berseru kepada putranya yang bernama Virza.

"Iya Bu!" Sahut Virza ikut berseru dari dalam kamarnya.

Virza mendengus dengan kesal dan melangkah ke dapur dengan enggan. Virza berbuat demikian bukan karena ibunya, tapi karena siapa tamu ibunya.

'Kalau sudah Bude Rena yang bertamu, sudah pasti urusannya akan lama deh. Padahal Sebentar lagi Ayah akan pulang untuk makan siang,' pikir Virza. 

Virza mematikan kompornya ketika melihat sayur yang dimasak oleh ibunya sudah mendidih. Kemudian Virza menghampiri ibunya. 

"Bu, apa ada yang mau dimasak lagi?" Virza berharap dengan dia bertanya seperti itu Rena tidak berlama-lama berbincang dengan ibunya. Virza memang berniat mengusir Rena secara halus.

"Tidak, Za. Oh iya, Za. Nanti kamu menggantikan ibu untuk jemput Farel di sekolah ya," Pesan Vina kepada Virza.

Virza melirik ke arah Rena. Namun ekspresi wajah Rena tidak seperti yang diharapkan oleh Virza. Tapi ekspresi wajah Rena tampak begitu santai. 

"Tapi Virza lagi menunggu pengumuman, Bu," Kata Virza beralasan menolak perintah ibunya. 

Virza berpikir kalau dia menolak permintaan ibunya, Ibunya akan pergi menjemput Farel dan Rena akan pulang. Saat Rena pulang, Virza akan menggantikan ibunya menjemput Farel.

Mendapat penolakan dari Virza, Vina agak sedikit bingung memikirkan siapa yang akan menjemput Farel. 

"Wah pengumuman apa? Melamar pekerjaan ya?" Tanya Rena ingin tahu. 

"Bukan Bude, Virza mendaftar beasiswa Perguruan Tinggi dan hari ini pengumumannya." Sahut Vina dengan bangga.

"Sudah pakai ojek saja pulangnya," Rena memberikan saran kepada Vina. 

"Bagaimana caranya memberitahu Farel supaya dia mau pulang naik ojek? Farel kan tidak membawa telepon seluler," Sahut Virza. 

"Iya sekolahnya Farel melarang untuk membawa telepon seluler ke sekolah. Ya sudah deh, begini saja Bude Rena tunggu di sini dulu ya. Saya mau jemput Farel dulu ya, enggak apa-apa kan kalau saya tinggal?" Kata Vina akhirnya. 

'Apa? Disuruh tunggu disini? Ah ibu bagaimana sih?!' batin Virza.

"Oh… Baiklah, saya akan tunggu di sini saja. Karena kalau harus pulang, saya takut. Di rumah sepi tidak ada orang-orang karena mereka sedang berada di luar rumah semua, saya sendirian jadinya." Sahut Rena beralasan.

Virza merasa sedikit kesal mendengar jawaban Rena. Baginya itu terdengar seperti alasan saja. Dia berharap Rena pamit pulang setelah Rena mendengar perkataan ibunya. 

Virza kasihan pada ibunya, kalau harus menjemput Farel sekarang. Dia juga membayangkan kalau harus tinggal berdua dengan Rena, pasti dia juga akan terjebak di ruang tamu itu untuk mendengarkan semua pembicaraan Rena menggantikan ibunya.

Alhasil, ' ini sih sama saja aku juga tidak bisa menunggu pengumuman karena harus menemani Bude Rena mengobrol,' batin Virza mengeluh. 

"Ya sudah Virza saja bu yang menjemput Farel di sekolah. Virza pergi dulu ya," Akhirnya Virza mengalah. 

Virza mengambil kunci motor di tempat biasa ibunya meletakkan kunci motor. Dia bersiap menjemput Farel. 

Virza memarkirkan motornya di depan rumah Rena sebelum dia menutup gerbang pintu rumahnya sendiri. Setelah menutup gerbang, Virza mulai menaiki motornya dan memanaskan mesinnya. 

Tanpa sengaja dia melihat seperti ada seseorang yang sedang masuk ke rumah Rena melalui jalan samping rumah Rena. Orang itu memakai kaos oblong dan celana pendek. Virza tidak melihat wajahnya, namun dia mengetahui dari postur tubuh dan pakaiannya bahwa orang itu adalah suami Rena. 

"Lah itu Pakde ada di rumah, Kenapa Bude bilang tidak ada orang di rumahnya? Bilang saja masih mau mengobrol sama ibu," Gumam Virza kesal merasa dibohongi. 

Kurang dari satu jam kemudian Virza sudah sampai di rumahnya. 

"Loh kok sudah sampai rumah lagi? cepat sekali." Tanya Vina keheranan. 

"Farel sudah pulang dari tadi. Jadi, saat Virza jemput ke sekolah, Farel sedang berjalan kaki bersama kawan-kawannya. Virza bertemu dengan Farel di jalan.  Katanya mau pulang jalan kaki," Sahut Virza mengadu pada ibunya. 

"Oh ya Bude, bukankah di rumah ada Pak De?" Tanya Virza pada Rena. 

"Pakde?" Tanya Rena sedikit terkejut. 

Vina memandang ke arah Virza dengan penuh arti. Virza merasa tidak enak hati mendapat tatapan seperti itu dari ibunya. 

"Apa sudah pulang ya? Kamu yakin itu pak De?" Tanya Rena pada Virza. 

Virza merasa aneh dengan jawaban Rena. Virza tidak langsung menjawab pertanyaan mereka, dia menjadi ragu apa yang dia lihat tadi. 

"Memangnya kenapa, Bude?" Tanya Virza. 

"Semalam Pakde pergi keluar kota, katanya akan pulang minggu depan. Apa ada yang tertinggal ya? Kapan kamu melihat Pak De?" Kata Rena lagi pada Virza.

"Tadi, sewaktu ingin menjemput Farel. Aku kan parkir di depan rumah Bude, aku melihat ada Pakde masuk dari pintu samping." Kata Virza menjelaskan apa yang dilihatnya tadi. 

"Pintu samping? Kok Pakde lewat pintu samping? Emangnya Pakde bawa kunci pintu samping?" Tanya Vina pada Rena. 

Rena menggelengkan kepalanya dengan wajah cemas. 

"Lalu itu siapa yang masuk ke rumah Bude?" Tanya Virza khawatir. 

"Sepertinya harus kita lihat deh, siapa yang masuk ke rumah Bude?" Vina memberi saran. 

"Tapi Bude takut, bagaimana kalau itu ternyata bukan Pak De?" Sahut Rena khawatir. 

"Virza sih melihat orang itu memakai baju kaos dan celana pendek yang biasa dipakai oleh Pak De," Jawab Virza memberikan kesaksian. 

"Coba Bude telepon Pakde dulu, tanya Pakde sekarang ada di mana." Kata Virza memberikan saran. 

Rena langsung mencoba menghubungi suaminya. Namun berkali-kali dihubungi, suaminya tidak menjawab panggilan Rena maupun pesan dari Rena. 

"Ya sudah begini saja Bude, sebentar lagi ayahnya Virza kan pulang untuk makan siang. Nanti kita minta ditemani oleh ayahnya Virza untuk melihat ke dalam rumahnya Bude. Bagaimana?" Kata Vina mencoba menawarkan solusi. 

Rena tampak cemas dan ketakutan. Virza ikut merasa tidak nyaman dengan situasi itu. 

"Ya sudah Virza masuk dulu ya Ibu, Bude," Pamit Virza. pada Vina dan Rena.

Saat masuk kamar Virza masih kepikiran dengan seseorang yang masuk ke rumah Rena. 

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Rumah Kos Berhantu   51. Rumah yang Akhirnya Pulang

    “Kalau aku menyimpan kebenaran, siapa yang akan menjadi korban terakhir dari semua rahasia ini?”Pertanyaan Virza menggantung berat di udara, membuat ruang depan Rumah Kos 103 kembali diselimuti keheningan yang mencekam. Suasana horor psikologis yang merayap perlahan-lahan menyerap sisa-sisa keberanian mereka, meninggalkan kehangatan yang mendadak luntur oleh rasa teror yang kian menebal.Pesan di layar ponsel Virza masih menyala terang, memancarkan ancaman dingin yang menusuk hingga ke tulang. Kalau dokumen itu tidak dibakar, ibumu akan kehilangan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar sebuah rumah tua.Ajie berdiri kaku di samping Virza dengan mata menyipit tajam, menahan ketegangan yang membakar dadanya. Roy

  • Rumah Kos Berhantu   50. Yang Harus Ditinggalkan

    “Kalau Sera sudah bebas dari rumah, kenapa seseorang masih menganggap dia sebagai korban berikutnya?”Virza membaca ulang kalimat bernada teror psikologis yang tertera di layar ponselnya dengan dada bergemuruh hebat. Tulisan itu berkedip-kedip di bawah pendar lampu jalan yang temaram, memantulkan bayangan kecemasan yang mendalam di retina matanya.Sera secara hukum dan tak kasat mata sudah dipastikan bebas dari belenggu kelam Rumah Kos 103. Namun, ancaman abstrak itu kembali mencuat ke permukaan, menyebut namanya seolah ia masih terikat dalam pusaran maut.Ajie dengan gerakan cepat merebut ponsel dari genggaman Virza yang gemetar, matanya menyipit membaca pesan tersebut. “Jangan pernah membalas pesan teror ini,” seru Ajie dengan suara berat dan penuh

  • Rumah Kos Berhantu   49. Harga Sebuah Kebenaran

    “Kalau aku menceritakan semuanya kepada polisi, apa yang akan terjadi pada keluargaku?”Pertanyaan Virza menggantung berat di udara ruang depan Rumah Kos 103, membelah keheningan dini hari yang dingin. Kalimat itu membeku, meninggalkan gema kecemasan yang merayapi setiap sudut dinding berlumut.Ajie duduk perlahan di atas kursi tua yang berderit nyaring, membenahi posisi tubuhnya yang tampak terkuras lelah. Roy berdiri tegap di dekat pintu kayu yang melengkung, matanya yang tajam menatap ke luar menembus kegelapan malam.Tidak ada lagi suara ketukan atau derap langkah misterius dari lantai atas yang biasanya meneror pendengaran mereka. Namun, atmosfer horor psikologis di dalam ruangan itu tetap terasa menekan, seolah kegelapan masih menolak untuk sepenuhnya pergi

  • Rumah Kos Berhantu   48. Rumah yang Mulai Sunyi

    “Aku tahu siapa yang membunuh ayahmu, Sera.”Suara Ajie terdengar berat, membelah keheningan rumah tua itu bagaikan ketukan kayu gersang yang dingin. Suasana ganjil merayapi sudut-sudut ruangan, membelit dada mereka dengan ketegangan horor psikologis yang menyesakkan.Selly—yang kini perlahan menerima bahwa nama aslinya adalah Sera—berdiri tanpa bergerak di dekat pintu kayu lapuk. Tatapan matanya yang kosong bagai selaput bening tampak membeku, menyerap hawa es yang mendadak terkumpul di sekitar bahunya.Virza menatap Ajie dengan napas tertahan, matanya membelalak menuntut kepastian. “Siapa?” tanya Virza tajam, menyorot langsung ke pupil mata seniornya yang meredup di balik kegelapan.

  • Rumah Kos Berhantu   47. Orang yang Menyimpan Nama

    “Di rumah keluargaku.” Kalimat Selly meluncur lirih, membelah keheningan dini hari yang mencekam dan membuat Virza terdiam seketika.Selama ini dia selalu mengira seluruh misteri bernanah yang menaungi hidup mereka berpusat sepenuhnya pada Rumah Kos 13, tempat yang belakangan bersolek dengan cat murah dan mengubah identitasnya menjadi Rumah Kos 103.Namun, ternyata ada ceruk lain yang jauh lebih kelam dan belum tersentuh.‘Apakah segalanya memang berakar dari masa lalu keluarga Selly yang sengaja dikubur dalam-dalam?’ batin Virza dengan dada bergemuruh cemas.Rumah keluarga Selly—sebuah tempat yang terasing dari ingatan, di mana benih dari

  • Rumah Kos Berhantu   46. Delta dan Roy

    “Virza, kalau kamu ingin tahu siapa yang membunuh Mira, jangan cari orang yang masih hidup—cari orang yang membuat Roy menghilang.”Suara Delta perlahan menghilang sepenuhnya setelah kalimat mematikan itu diucapkan, menyisakan kesenyapan yang teramat hampa dan membekukan. Virza berdiri mematung di tengah lorong yang remang, merasakan hembusan angin dingin yang menusuk kulitnya.“Delta!” teriak Virza memanggil ke dalam kegelapan lorong yang tak berdasar.Tidak ada jawaban yang terbalas, hanya suara derit papan kayu tua yang bergesekan pelan diterpa angin malam. Selly memejamkan matanya rapat-rapat seraya menundukkan kepala.“Aku tahu suara itu,” cicit Selly dengan nada pender

  • Rumah Kos Berhantu   8. Teman Yang Mana?

    Andra mendengus perlahan, sebenarnya perasaannya sangat kesal, tapi dia tetap ingin bersikap ramah pada Virza dipertemuan pertamanya ini. 'Waduh, masih muda sih tapi pelupa. Padahal belum lama loh. harus diingatkan lagi sepertinya,' Pikir Andra. "Begini Virza, sewaktu kamu mau beli makan, kamu l

  • Rumah Kos Berhantu   4. Hari yang Panjang

    Baru saja Virza menyuap beberapa sendok ke mulutnya, punggungnya ditepuk oleh seseorang. Dia menoleh ke belakang, ternyata itu adalah Selly. "Loh, kamu makan di sini," tanya Selly sambil tersenyum ke arah Virza. Sebenarnya Virza masih merasa heran dengan Selly sebagai teman dalam perjalanannya ka

  • Rumah Kos Berhantu   3. Sosok 'Teman' di Perjalanan

    Virza membalas pesan dari kawan-kawannya di telepon seluler miliknya sambil menghampiri ayahnya yang sedang menonton TV. Virza duduk di samping ayahnya. Dia menoleh ke arah wajah ayahnya. Virza sudah biasa melihat wajah ayahnya yang dingin, namun sikap diam Dedy kali ini terasa berbeda buat Virza.

  • Rumah Kos Berhantu   2. Kabar Gembira

    Saat masuk kamar Virza masih kepikiran dengan seseorang yang masuk ke rumah Rena. Virza duduk diam dan termangu. "Mas Virza, sudah keterima di Perguruan Tinggi Kok tidak bilang-bilang," Farel mengejutkan Virza dari lamunannya. Virza langsung teringat bahwa dia sedang menunggu pengumuman dari P

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status