Home / Horor / Rumah Kos Berhantu / 7. Virza Punya Teman dan … 'Teman'?

Share

7. Virza Punya Teman dan … 'Teman'?

Author: Queen Rachma
last update publish date: 2022-08-28 00:19:06

Pemuda itu menoleh pada Virza dan dia tersenyum lagi. Virza langsung membalas senyumnya.

"Kamu anak baru ya? Nama kamu siapa?" Pemuda itu menghentikan langkahnya sejenak, lalu dia mengulurkan tangannya pada Virza. 

"Namaku Andra," dia memperkenalkan dirinya saat jabatan tangannya disambut oleh Virza. 

"Namaku Virza Wardani, panggil aja Virza," sahut Virza sambil tersenyum. 

"..." Seketika suasana di antara mereka menjadi hening karena sibuk dengan pikirannya masing-masing. 

"Mas Andra cukup terkenal juga ya," Virza membuka pembicaraan. 

"Terkenal bagaimana? Emangnya kamu tahu aku?" tanya Andra tersenyum heran. 

"Eng … Enggak juga sih, hehehe," sahut Virza sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya. Virza merasa pertanyaan dirinya sangat bodoh, mengapa dia menyebut kata  T-E-R-K-E-N-A-L  padahal dia sendiri tidak mengenalnya. 

Andra menghentikan langkahnya lagi dan memandang Virza dengan wajah bingung. 

"Terus, kenapa kamu bilang aku terkenal?" tanya Andra itu lagi. 

"Eng…" Virza bingung mau menjawab apa. 

"Oh aku tahu. Pasti karena kamu melihat tadi banyak yang menyapa aku ya?" Andra itu bertanya lagi pada Virza, dan Virza mengiyakan dengan mengangguk cepat. 

"Begini Virza, saat kamu jauh dari keluargamu yang menjadi keluarga bagi kamu sekarang adalah teman-temanmu. Jadi, selama mereka berbuat baik dan tidak mengganggu kamu, sebaiknya kamu juga bersikap baik pada mereka. Kamu juga akan merasakan seperti saya nanti, dimana pun kamu berada jika mereka mengenalmu, pasti mereka juga akan menyapamu. Seperti orang di depan ini, nanti ya," Andra menunjuk seorang laki-laki yang sedang mengendarai motor  berlawanan arah dengan mereka berjalan. 

Pemuda yang mengendarai motor itu melihat Andra dan menyapanya. Andra dan pemuda itu saling berbasa-basi sejenak, sebelum akhirnya pemuda itu pergi meninggalkan mereka berdua. 

"Benar kan kata saya?" Andra tersenyum bangga di depan Virza. Virza mengangguk setuju sambil tertawa bersama Andra. 

"Kamu juga akan seperti itu nanti kalau kamu baik sama semua orang. Percaya deh sama saya. Apalagi kamu termasuk ganteng loh, style kamu juga seperti orang kota," pujian Andra membuat Virza merasa senang. 

"..." 

"Oh ya, tadi temennya Mas Andra tanya aku loh, katanya apa benar aku tetangganya Mas Andra," kata Virza. 

"Lalu kamu jawab apa?" Tanya Andra sambil tersenyum dan menatap tepat di mata Virza dengan ramah. 

"Aku nggak jawab apa-apa, hanya mengangguk saja," Sahut Virza dengan polosnya. Andra tertawa mendengar jawaban Virza. 

"Itu namanya kamu menjawab, kok kamu bilang tidak menjawab apa-apa," Kata Andra masih tertawa. Virza tertunduk malu. 

Tidak terasa akhirnya mereka sampai juga di depan rumah kos Virza. 

"Oh kamu kos di sini ya?" Tanya Andra sambil mengerutkan dahinya. 

Virza malah merasa heran dengan ekspresi wajah saat Andra bertanya. 

"Memangnya kenapa Mas, kok melihatnya kayak aneh begitu? Rumah kos aku jelek ya?" Tanya Virza dengan tidak percaya diri. Andra langsung menggeleng dengan cepat, dia tidak mau bicara yang dapat menimbulkan salah paham padanya. 

"Eh iya kamu kok jalan sendirian, teman kamu ke mana yang itu tadi?" tanya Andra mencoba mengalihkan pembicaraan. Kedua bola mata  Andra tampak bergerak seperti sedang mencari seseorang ke arah jalan masuk halaman Rumah Kos itu.

Sebenarnya Virza merasa heran dengan pertanyaan Andra, tapi Virza berusaha untuk berpikir positif. 

'Mungkin yang dimaksud Mas Andra itu Mas Ajie kali ya? Jangan-jangan Mas Andra temennya Mas Ajie, ya?' Pikir Virza. 

"Hai Virza, kamu sudah pulang ya?" Sapa Ajie saat mengetahui Virza sudah datang. Suaranya ceria dan matanya berbinar senang melihat kedatangan Virza. Ajie bersikap seolah-olah dia dan Virza sudah saling kenal sejak lama.

Ajie langsung menyeringai 'nyengir kuda' Saat mengetahui ada Andra juga disitu. Andra membalasnya dengan tersenyum lebar.

"Eh woi, ada Andra toh?! Mengapa kamu ada di sini?" Tanya Ajie pada Andra. Lagi-lagi Virza merasa hatinya jadi menciut karena merasa menjadi orang asing diantara mereka berdua.

"Mas Andra aku pamit masuk duluan ya, mumpung sudah ketemu sama temennya," Kata Virza pamit sambil tertawa pelan. 

"Eh loh kok masuk sih?!" Sahut Ajie dan Andra bersamaan. 

Virza masih melanjutkan langkahnya, dia sudah bertekad tidak akan terlibat pembicaraan dua sekawan itu. Virza merasa tidak nyaman dan takut tersisih karenanya.

"Tunggu, Virza," cegah Ajie dengan cepat.

"Ayo kemari, kita ngobrol-ngobrol saja dulu. Kamu belum ingin tidur kan? Tunggu sebentar aku mau turun," kata Ajie pada Virza. 

Virza menjadi merasa serba salah saat mengetahui Ajie bergegas turun dan berlari ke teras rumah hanya ingin mengobrol dengan Virza dan Andra. Padahal Virza sengaja pamit masuk agar tidak mengganggu obrolan Andra dengan Ajie.

“Halooo… " sapa Ajie lagi ketika dirinya sudah berada di antara Virza dan Andra. Dia merangkul kedua orang pemuda yang dikenalnya itu dengan akrab.

“Aku enggak perlu memperkenalkan masing-masing dari kalian lagi kan? Sepertinya kalian sudah saling mengenal tanpa butuh bantuanku hehehe," ujar Ajie bercanda.

Kemudian Andra melepaskan tangan Ajie yang merangkul pundaknya dengan kasar. Melihat hal itu, Virza mengikutinya karena merasa risih.

“Ajie orangnya emang begini, Virza. Dia mudah dekat dengan siapapun. Tapi kamu jangan menuduh Ajie yang aneh-aneh ya," ujar Andra bercanda.

Virza tertegun tidak mengerti maksud dari ucapan bercandaan Andra.

“Sial kamu! Enak saja kalau bicara. Virza enggak mungkin pikir aneh-aneh dong. Dia orangnya baik dan lugu. Ha ha ha," sahut Ajie membalas bercandaan Andra.

‘mereka saling mengejek, atau sedang mengejek aku ya? Atau mereka hanya sedang bercanda ya? kok aku tidak merasa mereka lucu?’ pikir Virza.

Virza bertambah bingung dengan maksud dan tujuan ucapan mereka berdua, dia takut salah bereaksi, untuk itu dia memilih diam.

Andra dan Ajie saling bertukar pandang. Sikap mereka yang mencoba mengakrabkan diri dengan Virza malah tidak seperti yang diharapkan. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahinya.

Kemudian Ajie menyadari bahwa Virza dan Andra sama-sama membawa plastik berisi bungkus makanan di dalam genggamannya masing-masing.

"Eh kalian mau makan ya? Sebentar ya aku ambilkan alat makan punya aku dulu, karena aku yakin si Virza belum punya alat makan." ujar Ajie kepada Virza sebelum akhirnya bergegas kembali masuk ke dalam rumah. 

Andra tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya Ajie. Ajie yang Andra kenal adalah seorang yang selalu bersemangat jika ada teman-temannya, dan dia selalu baik kepada siapapun.

 

Andra menyadari tiba-tiba adanya suasana canggung antara dia dan Virza. 

"Eh iya kamu belum jawab pertanyaanku tadi, teman kamu ke mana yang bersamamu tadi?" Tanya Andra mengulangi sambil mengajak Virza duduk di tepi teras depan rumah kosnya. 

Virza merasa heran karena Andra mengulangi pertanyaannya lagi. sebelumnya Virza berpikir bahwa yang ditanya Andra adalah Ajie. Tapi mengapa Andra mengulanginya lagi? Berarti bukan Ajie yang dimaksud oleh Andra.

"Teman yang mana sih, Mas? Teman aku? Aku sendirian kok dari tadi," Virza menjawab dengan bingung. Dia masih belum mengetahui apa yang dimaksud oleh Andra. 

Andra pun tidak kalah bingungnya mendengar jawaban Virza. Dia agak sedikit kesal karena Virza tidak mengerti apa yang dia maksud. 

"Kamu beneran nggak paham pertanyaan saya?" Tanya Andra. Virza menggelengkan kepala. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rumah Kos Berhantu   51. Rumah yang Akhirnya Pulang

    “Kalau aku menyimpan kebenaran, siapa yang akan menjadi korban terakhir dari semua rahasia ini?”Pertanyaan Virza menggantung berat di udara, membuat ruang depan Rumah Kos 103 kembali diselimuti keheningan yang mencekam. Suasana horor psikologis yang merayap perlahan-lahan menyerap sisa-sisa keberanian mereka, meninggalkan kehangatan yang mendadak luntur oleh rasa teror yang kian menebal.Pesan di layar ponsel Virza masih menyala terang, memancarkan ancaman dingin yang menusuk hingga ke tulang. Kalau dokumen itu tidak dibakar, ibumu akan kehilangan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar sebuah rumah tua.Ajie berdiri kaku di samping Virza dengan mata menyipit tajam, menahan ketegangan yang membakar dadanya. Roy

  • Rumah Kos Berhantu   50. Yang Harus Ditinggalkan

    “Kalau Sera sudah bebas dari rumah, kenapa seseorang masih menganggap dia sebagai korban berikutnya?”Virza membaca ulang kalimat bernada teror psikologis yang tertera di layar ponselnya dengan dada bergemuruh hebat. Tulisan itu berkedip-kedip di bawah pendar lampu jalan yang temaram, memantulkan bayangan kecemasan yang mendalam di retina matanya.Sera secara hukum dan tak kasat mata sudah dipastikan bebas dari belenggu kelam Rumah Kos 103. Namun, ancaman abstrak itu kembali mencuat ke permukaan, menyebut namanya seolah ia masih terikat dalam pusaran maut.Ajie dengan gerakan cepat merebut ponsel dari genggaman Virza yang gemetar, matanya menyipit membaca pesan tersebut. “Jangan pernah membalas pesan teror ini,” seru Ajie dengan suara berat dan penuh

  • Rumah Kos Berhantu   49. Harga Sebuah Kebenaran

    “Kalau aku menceritakan semuanya kepada polisi, apa yang akan terjadi pada keluargaku?”Pertanyaan Virza menggantung berat di udara ruang depan Rumah Kos 103, membelah keheningan dini hari yang dingin. Kalimat itu membeku, meninggalkan gema kecemasan yang merayapi setiap sudut dinding berlumut.Ajie duduk perlahan di atas kursi tua yang berderit nyaring, membenahi posisi tubuhnya yang tampak terkuras lelah. Roy berdiri tegap di dekat pintu kayu yang melengkung, matanya yang tajam menatap ke luar menembus kegelapan malam.Tidak ada lagi suara ketukan atau derap langkah misterius dari lantai atas yang biasanya meneror pendengaran mereka. Namun, atmosfer horor psikologis di dalam ruangan itu tetap terasa menekan, seolah kegelapan masih menolak untuk sepenuhnya pergi

  • Rumah Kos Berhantu   48. Rumah yang Mulai Sunyi

    “Aku tahu siapa yang membunuh ayahmu, Sera.”Suara Ajie terdengar berat, membelah keheningan rumah tua itu bagaikan ketukan kayu gersang yang dingin. Suasana ganjil merayapi sudut-sudut ruangan, membelit dada mereka dengan ketegangan horor psikologis yang menyesakkan.Selly—yang kini perlahan menerima bahwa nama aslinya adalah Sera—berdiri tanpa bergerak di dekat pintu kayu lapuk. Tatapan matanya yang kosong bagai selaput bening tampak membeku, menyerap hawa es yang mendadak terkumpul di sekitar bahunya.Virza menatap Ajie dengan napas tertahan, matanya membelalak menuntut kepastian. “Siapa?” tanya Virza tajam, menyorot langsung ke pupil mata seniornya yang meredup di balik kegelapan.

  • Rumah Kos Berhantu   47. Orang yang Menyimpan Nama

    “Di rumah keluargaku.” Kalimat Selly meluncur lirih, membelah keheningan dini hari yang mencekam dan membuat Virza terdiam seketika.Selama ini dia selalu mengira seluruh misteri bernanah yang menaungi hidup mereka berpusat sepenuhnya pada Rumah Kos 13, tempat yang belakangan bersolek dengan cat murah dan mengubah identitasnya menjadi Rumah Kos 103.Namun, ternyata ada ceruk lain yang jauh lebih kelam dan belum tersentuh.‘Apakah segalanya memang berakar dari masa lalu keluarga Selly yang sengaja dikubur dalam-dalam?’ batin Virza dengan dada bergemuruh cemas.Rumah keluarga Selly—sebuah tempat yang terasing dari ingatan, di mana benih dari

  • Rumah Kos Berhantu   46. Delta dan Roy

    “Virza, kalau kamu ingin tahu siapa yang membunuh Mira, jangan cari orang yang masih hidup—cari orang yang membuat Roy menghilang.”Suara Delta perlahan menghilang sepenuhnya setelah kalimat mematikan itu diucapkan, menyisakan kesenyapan yang teramat hampa dan membekukan. Virza berdiri mematung di tengah lorong yang remang, merasakan hembusan angin dingin yang menusuk kulitnya.“Delta!” teriak Virza memanggil ke dalam kegelapan lorong yang tak berdasar.Tidak ada jawaban yang terbalas, hanya suara derit papan kayu tua yang bergesekan pelan diterpa angin malam. Selly memejamkan matanya rapat-rapat seraya menundukkan kepala.“Aku tahu suara itu,” cicit Selly dengan nada pender

  • Rumah Kos Berhantu   8. Teman Yang Mana?

    Andra mendengus perlahan, sebenarnya perasaannya sangat kesal, tapi dia tetap ingin bersikap ramah pada Virza dipertemuan pertamanya ini. 'Waduh, masih muda sih tapi pelupa. Padahal belum lama loh. harus diingatkan lagi sepertinya,' Pikir Andra. "Begini Virza, sewaktu kamu mau beli makan, kamu l

  • Rumah Kos Berhantu   6. Malam Pertama Jadi Anak Kos

    Baru saja Virza mengunci pintu rumahnya, dari balkon atas ada yang memanggilnya. "Virza, mau ke mana, Za?" Suara itu akrab di telinga Virza. Virza menoleh ke kanan dan ke kiri namun tidak melihat siapa-siapa. Virza langsung mendongakkan kepalanya mencari siapa yang memanggilnya. Ternyata Ajie yan

  • Rumah Kos Berhantu   5. Rumah Kos Murah

    Ketika sampai di depan Rumah Kos itu. ~ Rumah Kos 103 ~ Begitulah yang tertulis di papan itu. Lalu Virza melihat ke sekeliling rumah itu, ternyata tidak ada orang yang bisa dijadikannya untuk tempat bertanya. Virza memutuskan untuk duduk di teras rumah itu. "Hai, kamu cari siapa?" Tanya sese

  • Rumah Kos Berhantu   4. Hari yang Panjang

    Baru saja Virza menyuap beberapa sendok ke mulutnya, punggungnya ditepuk oleh seseorang. Dia menoleh ke belakang, ternyata itu adalah Selly. "Loh, kamu makan di sini," tanya Selly sambil tersenyum ke arah Virza. Sebenarnya Virza masih merasa heran dengan Selly sebagai teman dalam perjalanannya ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status