เข้าสู่ระบบPemuda itu menoleh pada Virza dan dia tersenyum lagi. Virza langsung membalas senyumnya.
"Kamu anak baru ya? Nama kamu siapa?" Pemuda itu menghentikan langkahnya sejenak, lalu dia mengulurkan tangannya pada Virza.
"Namaku Andra," dia memperkenalkan dirinya saat jabatan tangannya disambut oleh Virza.
"Namaku Virza Wardani, panggil aja Virza," sahut Virza sambil tersenyum.
"..." Seketika suasana di antara mereka menjadi hening karena sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Mas Andra cukup terkenal juga ya," Virza membuka pembicaraan.
"Terkenal bagaimana? Emangnya kamu tahu aku?" tanya Andra tersenyum heran.
"Eng … Enggak juga sih, hehehe," sahut Virza sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya. Virza merasa pertanyaan dirinya sangat bodoh, mengapa dia menyebut kata T-E-R-K-E-N-A-L padahal dia sendiri tidak mengenalnya.
Andra menghentikan langkahnya lagi dan memandang Virza dengan wajah bingung.
"Terus, kenapa kamu bilang aku terkenal?" tanya Andra itu lagi.
"Eng…" Virza bingung mau menjawab apa.
"Oh aku tahu. Pasti karena kamu melihat tadi banyak yang menyapa aku ya?" Andra itu bertanya lagi pada Virza, dan Virza mengiyakan dengan mengangguk cepat.
"Begini Virza, saat kamu jauh dari keluargamu yang menjadi keluarga bagi kamu sekarang adalah teman-temanmu. Jadi, selama mereka berbuat baik dan tidak mengganggu kamu, sebaiknya kamu juga bersikap baik pada mereka. Kamu juga akan merasakan seperti saya nanti, dimana pun kamu berada jika mereka mengenalmu, pasti mereka juga akan menyapamu. Seperti orang di depan ini, nanti ya," Andra menunjuk seorang laki-laki yang sedang mengendarai motor berlawanan arah dengan mereka berjalan.
Pemuda yang mengendarai motor itu melihat Andra dan menyapanya. Andra dan pemuda itu saling berbasa-basi sejenak, sebelum akhirnya pemuda itu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Benar kan kata saya?" Andra tersenyum bangga di depan Virza. Virza mengangguk setuju sambil tertawa bersama Andra.
"Kamu juga akan seperti itu nanti kalau kamu baik sama semua orang. Percaya deh sama saya. Apalagi kamu termasuk ganteng loh, style kamu juga seperti orang kota," pujian Andra membuat Virza merasa senang.
"..."
"Oh ya, tadi temennya Mas Andra tanya aku loh, katanya apa benar aku tetangganya Mas Andra," kata Virza.
"Lalu kamu jawab apa?" Tanya Andra sambil tersenyum dan menatap tepat di mata Virza dengan ramah.
"Aku nggak jawab apa-apa, hanya mengangguk saja," Sahut Virza dengan polosnya. Andra tertawa mendengar jawaban Virza.
"Itu namanya kamu menjawab, kok kamu bilang tidak menjawab apa-apa," Kata Andra masih tertawa. Virza tertunduk malu.
Tidak terasa akhirnya mereka sampai juga di depan rumah kos Virza.
"Oh kamu kos di sini ya?" Tanya Andra sambil mengerutkan dahinya.Virza malah merasa heran dengan ekspresi wajah saat Andra bertanya.
"Memangnya kenapa Mas, kok melihatnya kayak aneh begitu? Rumah kos aku jelek ya?" Tanya Virza dengan tidak percaya diri. Andra langsung menggeleng dengan cepat, dia tidak mau bicara yang dapat menimbulkan salah paham padanya."Eh iya kamu kok jalan sendirian, teman kamu ke mana yang itu tadi?" tanya Andra mencoba mengalihkan pembicaraan. Kedua bola mata Andra tampak bergerak seperti sedang mencari seseorang ke arah jalan masuk halaman Rumah Kos itu.
Sebenarnya Virza merasa heran dengan pertanyaan Andra, tapi Virza berusaha untuk berpikir positif. 'Mungkin yang dimaksud Mas Andra itu Mas Ajie kali ya? Jangan-jangan Mas Andra temennya Mas Ajie, ya?' Pikir Virza."Hai Virza, kamu sudah pulang ya?" Sapa Ajie saat mengetahui Virza sudah datang. Suaranya ceria dan matanya berbinar senang melihat kedatangan Virza. Ajie bersikap seolah-olah dia dan Virza sudah saling kenal sejak lama.
Ajie langsung menyeringai 'nyengir kuda' Saat mengetahui ada Andra juga disitu. Andra membalasnya dengan tersenyum lebar."Eh woi, ada Andra toh?! Mengapa kamu ada di sini?" Tanya Ajie pada Andra. Lagi-lagi Virza merasa hatinya jadi menciut karena merasa menjadi orang asing diantara mereka berdua.
"Mas Andra aku pamit masuk duluan ya, mumpung sudah ketemu sama temennya," Kata Virza pamit sambil tertawa pelan.
"Eh loh kok masuk sih?!" Sahut Ajie dan Andra bersamaan.
Virza masih melanjutkan langkahnya, dia sudah bertekad tidak akan terlibat pembicaraan dua sekawan itu. Virza merasa tidak nyaman dan takut tersisih karenanya.
"Tunggu, Virza," cegah Ajie dengan cepat."Ayo kemari, kita ngobrol-ngobrol saja dulu. Kamu belum ingin tidur kan? Tunggu sebentar aku mau turun," kata Ajie pada Virza. Virza menjadi merasa serba salah saat mengetahui Ajie bergegas turun dan berlari ke teras rumah hanya ingin mengobrol dengan Virza dan Andra. Padahal Virza sengaja pamit masuk agar tidak mengganggu obrolan Andra dengan Ajie.“Halooo… " sapa Ajie lagi ketika dirinya sudah berada di antara Virza dan Andra. Dia merangkul kedua orang pemuda yang dikenalnya itu dengan akrab.“Aku enggak perlu memperkenalkan masing-masing dari kalian lagi kan? Sepertinya kalian sudah saling mengenal tanpa butuh bantuanku hehehe," ujar Ajie bercanda.Kemudian Andra melepaskan tangan Ajie yang merangkul pundaknya dengan kasar. Melihat hal itu, Virza mengikutinya karena merasa risih.
“Ajie orangnya emang begini, Virza. Dia mudah dekat dengan siapapun. Tapi kamu jangan menuduh Ajie yang aneh-aneh ya," ujar Andra bercanda.
Virza tertegun tidak mengerti maksud dari ucapan bercandaan Andra.
“Sial kamu! Enak saja kalau bicara. Virza enggak mungkin pikir aneh-aneh dong. Dia orangnya baik dan lugu. Ha ha ha," sahut Ajie membalas bercandaan Andra.
‘mereka saling mengejek, atau sedang mengejek aku ya? Atau mereka hanya sedang bercanda ya? kok aku tidak merasa mereka lucu?’ pikir Virza.
Virza bertambah bingung dengan maksud dan tujuan ucapan mereka berdua, dia takut salah bereaksi, untuk itu dia memilih diam.
Andra dan Ajie saling bertukar pandang. Sikap mereka yang mencoba mengakrabkan diri dengan Virza malah tidak seperti yang diharapkan. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahinya.
Kemudian Ajie menyadari bahwa Virza dan Andra sama-sama membawa plastik berisi bungkus makanan di dalam genggamannya masing-masing."Eh kalian mau makan ya? Sebentar ya aku ambilkan alat makan punya aku dulu, karena aku yakin si Virza belum punya alat makan." ujar Ajie kepada Virza sebelum akhirnya bergegas kembali masuk ke dalam rumah. Andra tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya Ajie. Ajie yang Andra kenal adalah seorang yang selalu bersemangat jika ada teman-temannya, dan dia selalu baik kepada siapapun. Andra menyadari tiba-tiba adanya suasana canggung antara dia dan Virza. "Eh iya kamu belum jawab pertanyaanku tadi, teman kamu ke mana yang bersamamu tadi?" Tanya Andra mengulangi sambil mengajak Virza duduk di tepi teras depan rumah kosnya. Virza merasa heran karena Andra mengulangi pertanyaannya lagi. sebelumnya Virza berpikir bahwa yang ditanya Andra adalah Ajie. Tapi mengapa Andra mengulanginya lagi? Berarti bukan Ajie yang dimaksud oleh Andra."Teman yang mana sih, Mas? Teman aku? Aku sendirian kok dari tadi," Virza menjawab dengan bingung. Dia masih belum mengetahui apa yang dimaksud oleh Andra. Andra pun tidak kalah bingungnya mendengar jawaban Virza. Dia agak sedikit kesal karena Virza tidak mengerti apa yang dia maksud. "Kamu beneran nggak paham pertanyaan saya?" Tanya Andra. Virza menggelengkan kepala.Suara Mira masih terdengar dari balik dinding.Gema suaranya bergetar ganjil, merambat memalui serat-serat kayu tua yang mulai membusuk, seolah membawa hawa dingin dari masa lalu yang tak pernah benar-benar mati. Ruang penyimpanan yang pengap itu mendadak dihimpit oleh keheningan yang kaku dan sarat teka-teki, di mana setiap embusan napas terasa amat berat untuk ditarik. Bau apak dokumen tua bercampur bau tanah basah merayap masuk, memicu bulu kuduk berdiri tegak.“Namanya bukan Selina Arum,” bisik suara itu lagi, melayang samar dan memantul di sudut-sudut plafon gantung yang temaram.Virza menatap Selly. Matanya membelalak menuntut kejelasan di tengah kegelapan yang kian menebal di antara mereka.Selly
Tangan pucat yang muncul dari celah dinding membuat Virza mundur beberapa langkah. Sensasi membeku seketika merayapi tulang belakangnya, menebarkan teror laten yang menusuk saraf-saraf kesadarannya.Selly masih menggenggam lengannya. Cengkeraman jemari ghaib itu terasa bagai balok es yang siap meremukkan kulitnya.“Jangan mendekat,” bisiknya, suaranya tercekat dan gemetar hebat di tengah keheningan malam yang menindas.Virza menatap tangan itu. Jari-jari pucat tersebut bergerak perlahan, mencengkeram sisi dinding yang retak hingga serpihan kayu dan cat kusam berjatuhan ke lantai.Kemudian terdengar suara.“Virza...”&nb
Pagi datang tanpa membuat Virza merasa lebih tenang. Udara dingin pasca malam yang mencekam seolah enggan menguap, membekukan setiap jengkal ruang di kamarnya. Sinar matahari pagi yang menerobos celah tirai kusam tidak membawa kehangatan, melainkan menelanjangi debu-debu melayang yang menari dalam kesunyian memekakkan.Dia hampir tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, bayangan lorong tua, engsel pintu berderit, dan potret kusam itu menghantam kesadarannya tanpa ampun.Sepanjang malam, pikirannya hanya tertuju pada satu kalimat. Catatan ringkas yang terukir kusam namun menghantam logikanya bagai petir di tengah malam.Selly Arum — meninggal pada malam yang sama dengan Mira.Virza membawa foto itu ke
Virza masih memegang foto lama itu ketika kembali ke kamarnya. Udara di dalam ruangan terasa teramat asing, seolah kerapatan oksigen perlahan menyusut dan digantikan oleh rasa kepengapan yang menindas. Lampu bohlam kuning di langit-langit berkedip-kedip gelisah, melemparkan bayangan-bayangan meliuk di dinding kamar yang kusam.Foto yang memperlihatkan Mira, Selly, beberapa penghuni perempuan Rumah Kos 13, dan seorang laki-laki asing di luar pagar terus berada di dalam pikirannya. Setiap detik terasa melambat, memutar kembali jejak-jejak kenangan semu yang selama ini tersusun begitu rapi.Yang paling mengganggunya bukan wajah laki-laki itu. Melainkan sosok Selly.Sejak pertama kali bertemu di kereta, Virza tidak pernah benar-benar merasa ada yang salah dengan gadis itu. Suasa
Di balik daun pintu kamar nomor empat yang terbuka melambai, hanya ada kegelapan pekat yang seolah menelan semua cahaya dari lorong.Virza menatapnya dengan sensasi dingin yang merayapi punggungnya. “Kamar Selly?” tanya Virza pelan.Andra mengangguk pelan, wajahnya membeku. “Dulu,” jawab Andra lirih.Virza mendekat, tertarik oleh kekuatan tak terlihat yang seolah memanggilnya untuk masuk. Di atas pintu terdapat bekas angka yang telah dicat berulang kali dengan warna gelap, namun polanya masih berbekas. 4.Virza menyentuh permukaannya, meraba ukiran kayu tua di balik bingkai pintu. Dingin. Sangat dingin, bagaikan menyentuh balok es di tengah lautan membeku.
Virza dan Andra masih berdiri di lantai atas. Udara malam di lorong itu mendadak menjadi begitu pekat, seolah memadat dan menghimpit dada mereka. Keheningan yang sempat tercipta mendadak pecah oleh gema halus yang merayap turun dari celah-celah kayu lapuk.Suara dari bawah kembali terdengar.“Virza...”Kali ini lebih pelan. Lebih dekat, seperti embusan napas dingin yang berbisik tepat di belakang cuping telinga. Gestur itu membuat bulu kuduk Virza berdiri seketika, menghadirkan rasa janggal yang menusuk hingga ke tulang.Virza menatap Andra dengan mata melebar, menuntut kepastian di tengah keraguan yang menghantui pikirannya. “Mas yakin itu bukan Selly?” tanya Virza sambil mencengkeram jemarinya sendiri yang mulai mendingin.Andra menggeleng pelan, wajahnya tampak pucat di bawah temaram lampu lorong yang berkedip rapuh. “Aku enggak,” sahut Andra dengan suara parau, menahan napas sejenak seolah takut suaranya akan memancing sesuatu yang tak kasat mata.“Bukankah Mas pernah melihat Sell
Andra mendengus perlahan, sebenarnya perasaannya sangat kesal, tapi dia tetap ingin bersikap ramah pada Virza dipertemuan pertamanya ini. 'Waduh, masih muda sih tapi pelupa. Padahal belum lama loh. harus diingatkan lagi sepertinya,' Pikir Andra. "Begini Virza, sewaktu kamu mau beli makan, kamu l
Virza membalas pesan dari kawan-kawannya di telepon seluler miliknya sambil menghampiri ayahnya yang sedang menonton TV. Virza duduk di samping ayahnya. Dia menoleh ke arah wajah ayahnya. Virza sudah biasa melihat wajah ayahnya yang dingin, namun sikap diam Dedy kali ini terasa berbeda buat Virza.
Saat masuk kamar Virza masih kepikiran dengan seseorang yang masuk ke rumah Rena. Virza duduk diam dan termangu. "Mas Virza, sudah keterima di Perguruan Tinggi Kok tidak bilang-bilang," Farel mengejutkan Virza dari lamunannya. Virza langsung teringat bahwa dia sedang menunggu pengumuman dari P
Tetangga Rumah“Tok, tok,tok,” Suara pintu rumah diketuk berkali-kali."Bu Vina… Bu Vina …" Panggil seorang wanita setengah baya. “Tok, tok,tok,” Suara pintu rumah diketuk lagi oleh wanita paruh baya itu.Dia terus mengetuk pintu rumah meskipun pintu rumah itu sebenarnya sudah dalam keadaan terbuk







