Share

Bab 8

Author: Olenji
Malam harinya, baru saja Ardina sampai di rumah, dia langsung menerima telepon dari Ello yang menghubungi dari rumah sakit.

"Dina, maaf ya. Kondisi tubuh Tasya ... kurang baik, jadi dia masih harus dirawat di rumah sakit beberapa hari lagi."

"Dia 'kan sepupumu, aku takut dia bakal merepotkanmu. Jadi beberapa hari ini biar aku aja yang jaga dia, kamu istirahat yang baik di rumah."

Nada bicara Ardina sangat tenang. "Nggak apa-apa, kamu temani dia baik-baik."

Ello, untuk hari-hari ke depannya, kamu boleh menemani dia sepuasmu.

Tinggal tiga hari lagi sebelum keberangkatan.

Tasya tiba-tiba mengirimkan sebuah kamera film kepada Ardina.

Begitu dibuka, di dalamnya terdapat sebuah rekaman video.

Di dalam video itu, di lokasi pesta ulang tahun yang sama, Tasya mengenakan gaun putri dan mahkota di kepalanya, berdiri di tengah-tengah tumpukan hadiah yang menggunung.

Ello memeluknya dari belakang, lalu mencium daun telinganya dengan mesra. "Selamat ulang tahun, apa permohonanmu?"

Tasya mengangkat dagunya dengan manja. "Aku mau sama kayak Ardina. Apa pun permohonan yang aku minta, kamu harus mengabulkannya!"

Ello mencubit ujung hidungnya dengan gemas. "Iya, semuanya akan dikabulkan."

Setelah itu, keduanya langsung mulai berciuman dengan penuh gairah.

Ardina tidak memedulikannya, dia langsung berbalik dan berjalan keluar rumah.

Dia membawa lencana milik Ello ke Kantor Catatan Sipil untuk mengajukan gugatan cerai secara paksa.

Proses pengurusannya berjalan sangat cepat. Satu jam kemudian, dia sudah memegang akta cerai di tangannya.

Begitu melangkah keluar dari Kantor Catatan Sipil, dia menatap dokumen di tangannya sambil tersenyum tipis. Mulai saat ini dan seterusnya, dia dan Ello sudah sepenuhnya menjadi orang asing.

Tinggal dua hari lagi sebelum keberangkatan.

Tasya kembali mengirimkan kamera film kepada Ardina, di dalamnya lagi-lagi terdapat sebuah rekaman video.

Di dalam video itu, Ello sedang menempelkan telinganya ke perut Tasya dengan sangat hati-hati.

Tasya menarik sudut bibirnya. "Kandungannya 'kan baru tiga bulan, emangnya kamu bisa dengar apa?"

Namun, Ello menjawab dengan penuh kesungguhan, "Aku dengar dia memanggilku ayah."

Tasya tertawa makin lebar, lalu menurunkan gaun tidurnya hingga setengah terbuka. "Bayinya sekarang belum bisa manggil, lho. Tapi kalau kamu mau dengar, aku bisa membuatmu mendengarnya sampai puas, ayah, ayah."

Pada saat itu, jakun Ello naik turun. Dia langsung berbalik dan menekan tubuh wanita itu ke atas ranjang.

Selanjutnya, tempat tidur mulai berguncang dengan sangat hebat berkali-kali.

"Ah ... posisi yang ini jangan, jangan angkat tubuhku."

Suara Ello terdengar berat dan serak. "Bukannya kamu memanggilku ayah? Seorang ayah itu ya begini cara memeluk putri kecilnya yang penurut ...."

Ardina tetap tidak memedulikannya. Dia membawa kunci brankas, lalu mengambil seluruh batang emas dan surat berharga di dalamnya tanpa menyisakan sepeser pun.

Setelah itu dia pergi ke bank untuk menukarkan sebagian uangnya ke dalam mata uang asing.

Pada hari keberangkatan, Ardina bangun sangat pagi.

Dia sibuk melakukan tiga hal.

Pertama, dia mengemas seluruh hadiah yang diberikan Ello kepadanya selama bertahun-tahun ini, lalu membagikannya secara gratis kepada para tetangga di kompleks perumahan dinas.

Para tetangga merasa sangat senang sekaligus heran. Lagi pula, hadiah-hadiah itu bernilai sangat fantastis.

Namun, Ardina tersenyum bahagia. "Belakangan ini ada hal yang membuatku sangat senang, makanya aku mau bagikan kebahagiaanku bersama kalian semua. Kalian nggak usah merasa sungkan, terima aja."

Kedua, dia mengumpulkan semua rekaman video dan rekaman suara yang dikirimkan Tasya kepadanya selama ini.

Untuk rekaman video, dia membayar orang agar ditayangkan di bioskop secara serentak di layar besar ke seluruh penjuru kota.

Untuk rekaman suara, dia menyuruh orang menggunakan 10 ribu pelantang suara untuk memutarnya secara berulang-ulang di kompleks perumahan dinas.

Ketiga, dia merapikan seluruh barang bawaannya, lalu meletakkan akta cerai di atas meja.

Tepat pada saat itu, telepon di rumah tiba-tiba berdering. Telepon itu ternyata dari Ello.

Nada bicaranya masih terdengar sangat lembut seperti biasa. "Dina, urusanku di sini bakal cepat selesai kok. Kalau udah selesai, aku akan langsung pulang buat temani kamu."

Ardina menyahut pelan, "Kebetulan aku udah siapin kejutan buat kamu."

Ello terdengar sangat menantikannya. "Oh ya? Dina siapin kejutan apa buat aku?"

Nada bicara Ardina terasa sangat tenang. "Begitu kamu pulang, kamu langsung bisa melihatnya."

Mungkin, jika waktunya pas di tengah jalan, pria itu juga akan bisa melihatnya.

Video-video dan rekaman suara itu ....

Ello menutup telepon dengan penuh rasa tidak sabar yang bahagia, sedangkan Ardina langsung melangkah keluar sambil menjinjing koper yang sudah disiapkannya.

Di jalan setapak yang rindang di kompleks perumahan dinas, dia berpapasan dengan beberapa tetangga.

Mereka menyapanya dengan ramah, "Ardina, mau pergi jalan-jalan ya?"

Ardina mengangguk dan membalas sapaan mereka dengan hangat, "Iya, mau jalan-jalan."

Hanya saja, dia tidak akan pernah kembali lagi.

Hari ini matahari bersinar dengan sangat cerah. Ardina menjinjing kopernya dan langsung naik ke dalam mobil jemputan menuju bandara tanpa menoleh ke belakang lagi .…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 25

    Ardina melempar senyuman ironis."Mau seberapa cinta pun dia sama aku, ujung-ujungnya dia tetap selingkuh.""Nggak cuma dia aja yang menyembunyikan masalah ini dariku, teman-temannya juga ikut menutupi. Atau jangan-jangan, Bibi juga ikut menyembunyikannya dari aku?"Dulu masalah Tasya yang mendadak pingsan karena hamil di pesta ulang tahun Ardina sempat memicu keributan yang sangat heboh.Dia sama sekali tidak percaya jika Lisa tidak mengetahuinya.Benar saja, gurat ekspresi di wajah Lisa seketika menegang kaku.Sejak Ello dan Ardina menikah dulu, Lisa terus-menerus mendesak mereka agar bisa segera memberikan keturunan.Namun, yang satu tidak bisa melahirkan karena adanya masalah kesehatan pada tubuhnya, sedangkan yang satu lagi enggan melahirkan karena tidak tega melihat istrinya menahan sakit.Hal itu membuat Lisa sangat kesal setiap kali melihat Ardina, hatinya selalu merasa sangat tidak nyaman, sehingga tentu saja dia tidak pernah memberikan raut wajah yang baik kepadanya.Oleh kar

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 24

    Akan tetapi, Ello tetap berdiri terpaku di tempat tanpa bergerak sedikit pun, bahkan dia masih mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Ardina.Ardina langsung menepis tangannya, lalu bersiap pergi bersama beberapa temannya untuk mengantarkan pria yang mabuk berat tadi ke rumah sakit.Tapi, salah satu temannya langsung maju dan menolak tawarannya dengan halus, mengatakan bahwa jamuan makan hari ini sebenarnya ditujukan untuk melepas keberangkatannya.Tidak disangka, pada akhirnya justru menjadi berantakan seperti ini.Mereka sudah terlanjur merasa sangat bersalah, mana mungkin mereka tega merepotkannya lagi?Sembari berbicara, temannya itu mendorong pundaknya pelan dan memintanya untuk pulang lebih awal demi merapikan koper barang bawaannya.Ardina tidak bisa berkata apa-apa lagi, jadi dia berbalik dan langsung melangkah berjalan ke arah luar."Dina!"Ello terus memperhatikannya dari samping sejak tadi. Ello mendengar sahabat Ardina memintanya pulang lebih awal untuk merapikan koper.

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 23

    Ardina terdiam cukup lama, barulah dia mengentakkan tangan pria itu dan langsung melangkah pergi."Dina!"Pria itu menahannya dengan raut kepedihan, lalu bertanya kenapa dia sama sekali tidak sudi memberikan satu kesempatan untuknya.Sejak hari pertama melihat Ardina kembali, dia terus-menerus berusaha untuk mendapatkan wanita itu kembali.Tapi, tidak peduli seberapa keras dia menjelaskan dan apa pun yang dia lakukan, wanita itu tetap tidak bergeming sama sekali."Padahal dulu kamu begitu mencintaiku, kenapa sekarang nggak bisa kasih aku satu kesempatan lagi?""Kalau kamu benci rumah kita karena ada bekas tempat tinggal Tasya, aku akan jual rumah itu.""Kalau kamu merasa hadiah-hadiah yang dulu aku kasih ke kamu itu merusak pemandangan, aku akan belikan yang baru.""Kalau kamu anggap aku kotor, aku akan mandi berkali-kali sampai bersih.""Lalu, gimana kalau hatimu yang kotor?"Ardina tiba-tiba angkat bicara, tapi dia mendapati pria itu tertahan lama dan tidak bisa memberikan jawaban.D

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 22

    Rasa benci di mata Tasya perlahan-lahan tenggelam oleh rasa takut.Selama hari-hari merawat kandungan di kediaman Keluarga Sardi, dia tahu betul bagaimana kejamnya taktik Ello.Meskipun Lisa sudah mengutus orang untuk mengawasinya selama 24 jam penuh, orang-orang Ello tetap saja bisa mencari celah untuk masuk dan menjebaknya.Jika bukan karena nyawanya yang tergolong tangguh, dia pasti sudah mati secara diam-diam sejak lama.Merasakan tubuh orang di dalam cengkeramannya gemetar, tatapan mata Ello meredup tajam.Jika bukan karena Ardina tidak suka dia melakukan kesalahan, Tasya tidak akan mungkin bertahan hidup sampai sekarang.Untung saja anak di dalam perut wanita itu tidak bisa dipertahankan, dia pun berkurang satu masalah.Ello mengempaskan tubuh wanita itu dengan jijik, lalu menyeka tangannya menggunakan saputangan."Mulai sekarang pergi sejauh mungkin.""Kalau sampai aku melihatmu sekali lagi.""Nasib yang akan kamu terima nggak bakal cuma sebatas ini."Setelah meninggalkan ancama

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 21

    Setelah melontarkan sekian banyak kata, dia menatap Ardina dengan penuh harap.Seolah asalkan istrinya itu mengangguk, dia akan bisa langsung menyingkirkan Tasya beserta janin di dalam kandungannya saat itu juga.Ardina menatap pria di hadapannya, sepasang matanya diwarnai oleh seulas kekecewaan yang mendalam.Pria itu sudah bicara begitu banyak, tapi seluruh alasan perselingkuhannya malah dilimpahkan kepadanya!Mengatakan bahwa semua itu dilakukan karena tidak tega melihatnya melahirkan, makanya dia mencari Tasya untuk menggantikannya.Pria itu bahkan sampai saat ini masih mengira bahwa alasan dirinya pergi meninggalkannya adalah karena keberadaan Tasya!Melihat Ardina tidak memberikan jawaban, dia mengira istrinya itu sudah setuju.Begitu memikirkan bahwa asalkan dia melenyapkan Tasya dan anak di dalam kandungannya, Ardina akan bisa kembali ke sisinya,dia menjadi makin bersemangat, bahkan sampai tidak bisa menahan diri untuk maju dan menciumnya.Plak!Belum sempat bibir pria itu men

  • Rumitnya Cinta, Mudahnya Melepasnya   Bab 20

    Di dalam mimpi, Ello berlutut dengan satu takik lututnya menumpu di lantai.Tangannya memegang cincin pernikahan yang dia ukir sendiri, menatap penuh cinta ke arah gadis bergaun putih di hadapannya."Dina, kamu mau nggak nikah sama aku?""Aku akan setia, mencintaimu, dan menemanimu di sisa hidupku.""Nggak akan pernah mengkhianati kamu."Akhirnya, gadis di hadapannya bergerak, lalu memperlihatkan paras wajah yang elok tapi terasa asing.Sosok itu bukan dirinya, melainkan Tasya.Tapi, Ello seolah tidak mengenali Tasya, dia tetap memandangnya dengan penuh cinta.Tepat sebelum Tasya sempat membuka mulutnya, Ardina mendadak tersentak bangun dari mimpinya.Dia terpaku menatap ke luar jendela, hanya merasa bahwa itu adalah mimpi yang sangat aneh.Tok! Tok!"Dina, kamu udah bangun?"Suara Mira tiba-tiba terdengar dari balik pintu. Ardina menepuk-nepuk pipinya sendiri lalu bergegas menyahut."Udah bangun, Bibi."Mira baru mendorong pintu dan masuk, lalu menyerahkan sebuah undangan kepadanya, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status