Short
Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi

Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi

By:  BesCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dokter berkata bahwa duniaku akan segera benar-benar menjadi sunyi. Paling lama 3 hari, setelah itu aku tidak akan bisa mendengar. Setelah mendengarnya, Adam hanya terdiam sejenak. Demi fobianya terhadap suara bising, aku sudah lama mengundurkan diri dari pekerjaan di stasiun radio. Selama bertahun-tahun, aku tidak pernah memutar musik, aku juga tidak pernah lagi benar-benar mendengarkan suaraku sendiri. Aku hanya berharap dia menemaniku kembali ke Balleni, tempat pertama kali kami bertemu untuk mengadakan pernikahan tanpa suara. Sebelum kehilangan pendengaranku, aku ingin sekali mendengarnya membacakan janji pernikahan untukku. Menjelang pernikahan, teman masa kecilnya menelepon dan berkata bahwa dia kekurangan penerjemah, lalu dia berbalik pergi ke festival musik rock. Katanya, “Penampilan debutnya hanya ada satu kali.” Dalam siaran langsung, demi menerjemahkan lagu cinta untuknya, Adam menahan sakit sementara darah mengalir dari saluran telinganya. Lirik lagu itu adalah kalimat yang dia tulis untukku setelah begadang selama 3 malam. Aku melepas alat bantu dengarku dan mengirim pesan kepada pengacara, [Tolong bisukan juga pernikahan ini untukku.]

View More

Chapter 1

Bab 1

Sang MC menghampiriku dan menunjuk ke pintu masuk aula.

Dengan bahasa isyarat, dia bertanya apakah aku masih ingin menunggu sebentar.

Aku juga mengangkat tangan, “Tidak perlu menunggu lagi. Batalkan saja sesi kita.”

Gerakannya terhenti sejenak ….

Di dalam aula, duduk belasan pasangan pengantin baru.

Tidak ada musik, tidak ada suara ucapan selamat. Semua orang menggunakan bahasa isyarat untuk mengungkapkan cinta mereka.

Hanya kursi di hadapanku yang kosong.

Seorang petugas membawakan papan tulis dan bertanya apakah aku perlu menghubungi keluargaku.

Aku menggeleng, lalu melepas hiasan bunga yang seharusnya dipasangkan Adam untukku dan meletakkannya di atas nampan.

Sebelum pergi, aku kembali melirik siaran langsung.

Farah berdiri di bawah sorotan lampu yang menyilaukan dan mengangkat mikrofon ke arah kamera.

Bibirnya bergerak, kemudian muncul subtitle di layar.

[Terima kasih kepada penerjemah khususku. Tanpanya, aku tidak akan menjadi diriku malam ini ….]

Kamera beralih ke Adam. Darah di telinganya sudah dibersihkan, tetapi wajahnya masih pucat.

Farah mengulurkan tangan dan menyentuh daun telinganya. Dia tidak menghindar, hanya menahan pergelangan tangan Farah sambil berkata lirih ….

Aku tidak mengenakan alat bantu dengar, jadi tidak bisa mendengarnya. Namun, aku mengenali gerak bibirnya.

Dia berkata, “Jangan sentuh. Kotor ….”

Ketika pertama kali aku mengusap sudut bibirnya yang terluka akibat gigitan saat penyakitnya kambuh, dia juga mengatakan hal yang sama.

Saat itu, dia menggenggam tanganku erat-erat dan tidak mau melepaskannya, tetapi ujung jarinya gemetar.

Kupikir itu adalah kepercayaan yang hanya diberikan kepadaku. Karena itulah, kemudian aku membuat seluruh rumah menjadi sunyi selama 5 tahun.

Selama 5 tahun itu, aku mengganti semua peralatan yang mengeluarkan bunyi notifikasi dan memasang peredam pada setiap pintu.

Ketika acara radio terakhirku berakhir, aku melepas headphone dan keluar dari ruang siaran.

Dia sudah berdiri di luar dan berkata, “Keramaian yang tidak bisa lagi kamu dengar nanti, akan kugantikan untukmu.”

Kini, kalimat terakhir yang ingin kudengar justru dia berikan kepada orang lain.

Ponselku menyala. Pengacara mengirimkan draf awal dan menanyakan bagaimana harta bersama kami akan dibagi.

Aku mengetik balasan.

[Ambil saja yang menjadi hakku. Untuk proses selanjutnya di Balleni, tolong segera diurus ….]

Saat aku keluar dari aula, pesan Adam pun masuk.

[Masih ada yang harus kuselesaikan. Kamu pulang dulu ke hotel, kubawakan puff karamel untukmu ….]

Tidak lama kemudian, dia menambahkan satu pesan lagi.

[Sesampainya di hotel, balas pesanku. Kamu sendirian di Balleni, aku khawatir.]

Aku menatap kalimat itu selama beberapa detik, lalu menghapus lokasi bersama kami.

Mobil yang membawaku kembali ke hotel melewati Sungai Saint.

Sang sopir menyalakan radio. Aku tidak bisa mendengar apa pun dengan jelas, dan hanya bisa melihat tangannya yang mengetuk-ngetuk setir mengikuti irama.

Dulu, itu adalah gerakan yang paling kukenal.

Aku kembali mengenakan alat bantu dengar. Suara listrik yang samar mengalir ke telingaku, seperti hujan yang tidak kunjung berhenti.

Pengacara menelepon, dan aku berusaha keras mendengarkan seluruh prosedurnya.

Ketika dia bertanya apakah aku sudah yakin, kugenggam erat cincin pernikahan itu.

“Yakin. Bagi saja sesuai perjanjian pranikah. Yang belum sempat dia pilih, biar aku yang memilihnya ….”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status